Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 53 Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Jasad yang dicarinya tidak ada di kamar itu. Sergei juga sudah membantunya menelusuri setiap serpihan puing-puing dan tidak menemukan jejak tubuh manusia yang terbakar.


"Apakah jasadnya bisa terbakar habis hingga menjadi abu?" tanyanya pada Sergei.


Sergei menghela napas, lalu wajahnya berubah sedih. "Mungkin saja, Shanum. Api sihir dapat membuat seorang manusia menjadi abu dalam waktu yang sangat cepat."


Shanum membeku, dalam keadaan syok, ia meluruh jatuh ke atas lantai. Seolah kakinya melemas, runtuh dalam duka.


Dia berlutut di lantai yang diselimuti abu, meraup segenggam abu yang berada di sana, dan mulai menangis. Dalam keadaan terpukul, gadis itu menatap ke abu dalam genggaman kedua tangannya.


"Ayah... Ibu, maafkan aku. Semua ini salahku. Aku sudah mencelakakan kalian," bisiknya dengan lirih.


Oh, Shanum benar-benar telah menghantarkan keduanya dalam maut. Semua keingintahuannya soal mimpi itu, kini menjeratnya. Dia seakan-akan telah membuka kotak Pandora, sebuah kotak yang berisi hal-hal yang buruk di dunia ini.


Shanum terisak, tiba-tiba merasa membenci dirinya sendiri yang memiliki kekuatan ini. Semua meninggalkan dirinya. Kedua orang tuanya, dan Khan. Orang-orang yang sangat berarti baginya.


Dia baru menyesali rasa kehilangan akan sesuatu, yang tidak sepenuhnya dihargai dan dipahaminya ketika hal itu berada dalam genggamannya. Ketika seluruhnya pergi dari dirinya, ia jadi mengerti kalau hidup ini sungguh mengerikan untuk dijalaninya.


"Lebih baik tidak mencintai siapa pun," bisiknya dengan suara serak sambil terisak.


"Tidak," bantah Sergei dengan pelan. "Jangan pernah berpikir begitu, Shanum. Jangan pernah merasa sia-sia untuk merasakan cinta. Cinta kedua orang tuamu akan tetap ada di dalam dirimu, karena kau terlahir dari ikatan cinta keduanya."


Sergei menarik Shanum berdiri dari posisi berlututnya. Dia membersihkan kedua telapak tangan gadis itu dari abu, lalu memegang kedua bahunya.


"Kau masih punya Diva, Farah dan aku. Kami semua menyayangimu, kau sudah seperti keluarga bagi kami. Jadi kau harus kuat dan jangan pernah menyerah. Aku akan membantumu mencari orang yang bertanggung jawab atas hal ini. Aku berjanji, Shanum!"


Sergei menatapnya dengan teguh dan penuh tekad. Matanya memancarkan kepercayaan bahwa ia bisa bangkit dari keterpurukan ini. Dia berusaha memupuskan rasa putus asa di diri Shanum.


"Ayo, kita harus keluar dari sini. Aku tidak bisa terlalu lama mengganggu waktu, karena dapat menguras kekuatanku."


Mereka lalu keluar, menemukan Diva dan Farah yang menatapnya dengan pandangan ingin tahu dan rasa cemas.


Shanum tidak bisa menjelaskan kepada mereka saat ini. Dia mengalihkan pandangannya, tidak dapat menatap mata Farah dan Diva.


Kebaikan akan membuat air matanya kembali bercucuran. Mereka pasti merasakannya, karena keduanya tidak bertanya lebih lanjut kepadanya.


Setelah itu Sergei mengatur segala sesuatunya. Setelah Shanum menaruh barang-barang di mobilnya. Mereka kembali ke tempat semula, posisi sebelum Sergei menghentikan waktu.


Pria itu lalu kembali merapal mantra. Cahaya biru kekuatannya yang menyelimuti masing-masing orang perlahan bergerak ke arah kepala, lalu meresap dan menghilang.


Sergei lalu menjentikkan jarinya kembali, dan waktu kembali bergulir. Orang-orang yang telah tersadar sesaat terlihat bingung. Namun kemudian mereka bergerak dan bersikap seperti biasa. Sugesti yang ditanamkan Sergei berhasil dengan gemilang.


Shanum melihat para petugas pemadam kebakaran membereskan peralatan mereka. Beberapa orang yang berkerumun juga kembali ke rumah masing-masing atau pun aktivitas mereka.


Dia melihat Pak Dirman berbicara dengan beberapa orang, yang diketahuinya dari Mang Jali adalah petugas dari kepolisian setempat. Selebihnya dilaluinya dengan otomatis bagaikan robot. Shanum tidak ingin berpikir. Perasaannya pun seakan-akan mati rasa saat itu.


***


Saat ini Shanum menempati apartemen yang dibelikan oleh ayahnya saat ulang tahunnya yang kedua puluh tahun. Apartemen itu berada di pusat kota. Shanum tidak pernah menggunakannya, karena ia lebih suka tinggal dengan kedua orang tuanya.


Apartemen itu tetap bersih dan rapi, karena setiap bulan ayahnya mengeluarkan uang untuk membayar jasa yang merawat dan membersihkannya. Jadi ketika ia membuka pintu, ruangan dan perabotan di hadapannya terlihat tetap terawat, gadis itu merasa lega.


Waktu terus berlalu, selama satu bulan ini dia banyak ditemani oleh kedua sahabatnya. Mereka bersikeras menginap di apartemennya, dan membantunya melewati masa-masa sulitnya.


Keduanya tidak pernah membiarkannya melamun atau bermuram durja. Mereka berbincang-bincang, belajar bersama, menonton film, dan memasak bersama.


Mereka sudah mengetahui kejadian di dalam rumahnya dari Sergei. Jadi dia tidak perlu menceritakan kembali apa yang terjadi di dalam rumahnya saat itu.


Tentang tubuh orang tuanya, dia masih menunggu hasil olah TKP dari pihak kepolisian. Dan meskipun dia tidak berani terlalu banyak berharap, tetap saja di hati kecilnya masih meyakini, bahwa orang tuanya masihlah hidup.


Menurut pihak kepolisian, jika tidak ditemukan bukti abu atau pun sisa jasad dari kedua korban. Mereka akan mengembangkan penyelidikan menjadi pencarian korban penculikan. Sebab bisa saja kedua korban diculik sebelum kebakaran itu terjadi.


Pak Dirman sebagai orang yang bertemu terakhir dengan kedua korban juga tidak bisa memastikan melihat keduanya secara terus-menerus. Ada saatnya dia harus meninggalkan pos jaga.

__ADS_1


Skripsinya tetap berjalan dengan lancar. Shanum bersikeras mengerjakannya agar menjaga pikirannya tetap waras. Dan Pak Reno sekarang sudah kembali ke sikapnya yang biasa.


Dia sempat mengucapkan turut prihatin atas kemalangan yang menimpanya, dan meminta maaf karena dia sudah menghindarinya. Dia tidak akan memaksakan perasaannya pada Shanum.


Dia berkata cinta yang tulus tidaklah egois. Dia merasa bahagia jika Shanum bisa menemukan kebahagiaannya, meski bukan dengannya.


Gadis itu tidak menaruh dendam, dia mengerti dan tidak mempermasalahkannya lagi. Pak Reno orang yang baik, dan Shanum beruntung dicintai oleh pria sebaik dirinya, meski ia tidak bisa membalasnya.


"Hei, kau yakin sudah bisa ditinggal sendiri?" tanya Diva lagi memastikan. "Iya, jangan sampai aku tiba-tiba mendengar kau bunuh diri ya," tambah Farah.


Diva langsung melotot. "Kalau bicara itu jangan sembarangan."


"Tenang saja, aku tidak seputus asa itu kok. Kalian boleh tenang," kata Shanum sambil tersenyum.


"Oke, kalau begitu kami akan kembali ke rumah. Jaga diri baik-baik ya. Ingatlah, kami selalu ada untukmu." Diva menepuk pundaknya dengan lembut.


"Terima kasih ya, kalian telah menjagaku selama satu bulan ini," ucapnya.


Tiba-tiba terdengar suara bel pintu. "Itu pasti Sergei," kata Diva. Dia melangkah menuju pintu.


"Pasti mau kencan lagi deh." Farah mendengus sambil memasang wajah tidak sukanya.


"Makanya cari pacar. Jadi kan tidak perlu iri melihat Diva berkencan," sindir Shanum.


"Aku bukannya tidak mau punya pacar. Tapi pria yang cocok dengan seleraku itu susah ketemunya."


"Ih, masih saja pilah-pilih. Itu namanya kesusahan dicari sendiri," sahut Shanum.


"Urusan memilih itu hukumnya wajib. Masa mau main comot saja. Kalau nanti dapatnya zonk bagaimana?" Farah memutar bola matanya.


"Ya tidak begitu juga sih. Tapi setidaknya kan kau bisa coba penjajakan dulu. Contohnya Roni, dia sudah mengejar-ngejarmu sejak semester tiga. Wajah lumayan, harta juga lumayan, dan otak juga lumayan. Apalagi sih yang dicari?"


"Cih, dalam kamusku itu tidak ada penilaian lumayan yang masuk kriteria. Yang bisa diperhitungkan cuma penilaian sempurna," ucapnya dengan sinis.


Jika sudah tertarik dengan pria, dia tidak sungkan untuk mengejar, meski ujung-ujungnya ditolak. Baginya, pria itu banyak, jadi gagal satu masih ada yang lain. Dan lucunya tidak pernah ada satu pun pria yang mengejarnya itu cocok dengan seleranya.


Selalu saja pria yang dia sukai tidak berbalas menyukainya, malah cenderung menghindarinya. Kalau kata Diva, Farah itu salah dilahirkan sebagai wanita. Harusnya dia menjadi pria, agar bisa menjadi pihak yang mengejar.


"Shanum, bagaimana keadaanmu?" sapa Sergei sambil menggandeng tangan Diva. Mereka memang tidak pernah bertemu lagi sejak kejadian kebakaran sebulan yang lalu. Sergei langsung pergi untuk mengurusi pekerjaannya.


"Aku baik, Sergei. Terima kasih sudah bertanya," jawabnya sambil tersenyum. "Dan bagaimana keadaanmu juga?"


"Seperti yang kau lihat, secara fisik aku baik. Hanya hatiku saja yang sedikit kurang baik, karena merindukan Lunaku." Sergei melirik ke arah Diva, sambil mempererat genggamannya. Diva ikut melirik balik dan tersenyum malu-malu ke arah pria itu.


"Astaga, kita menjadi Nyamuk di sini, Shanum. Sebaiknya aku segera pergi. Terlalu lama di sini nanti kasihan pikiran dan hatiku, pastinya akan semakin merasa teraniaya."


"Hmm... sungguh sadis kata-katamu, Farah. Secara tidak langsung kau sudah ikut menohok hati dan pikiranku," protes Shanum.


Farah terkekeh geli sambil mengendikkan bahunya. "Selamat datang di dunia percintaan yang sadis, Sis. Oke, aku permisi, Ciao...." Gadis itu lalu berjalan menuju pintu.


"Dasar, Farah!" Diva menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sepertinya aku harus mencoba menjodohkan Farah dengan salah satu kolegaku yang berada di sini. Siapa tahu saja berhasil," ucap Sergei sambil memegang dagunya.


"Jangan!" sahut Diva cepat.


"Kenapa tidak boleh?" Sergei mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mau kau nanti bertengkar dengan kolegamu. Farah itu gadis yang susah diprediksi. Dia bisa bertingkah luar biasa mengesalkan hingga menyiksa orang lain jika dia tidak suka," jawab Diva.


"Benar, tapi menurutku tidak ada salahnya dicoba asalkan kau bisa bermain cantik, Sergei," timpal Shanum.


"Oke, nanti aku atur dulu strateginya." Sergei menyeringai.

__ADS_1


"Dan kalau ada masalah di kemudian hari, aku tidak mau ikut campur loh ya. Karena aku sudah memperingatkanmu." Diva menatap pria itu dengan pandangan serius.


"Tenang saja, Hon. Masalah itu tentunya sudah menjadi tanggung jawabku."


"Oke, Shanum, kami harus pergi. Terima kasih sudah menjaga Lunaku selama satu bulan ini," tambah pria itu.


"Yang ada juga aku yang berterima kasih, sudah dihibur oleh para sahabatku. Terima kasih ya, Diva."


Diva maju dan memeluk Shanum. "Sama-sama. Aku pulang ya. Kalau kau butuh aku lagi untuk menemanimu, jangan sungkan, hubungi aku, oke," bisiknya.


Shanum membalas pelukan Diva dan berkata, "Pasti. Sudah sana pergi. Kasihan, kekasihmu sudah merana karena rindu tuh."


Diva terkikik mendengar ucapan Shanum. Lalu dia melepas pelukannya dan keluar dari apartemen Shanum bersama Sergei.


Shanum menghela napasnya. Apartemennya terasa sepi setelah kepergian para sahabatnya. Dia langsung menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Tenggorokannya mendadak terasa kering. Saat sedang asyik menyeruput airnya dari gelas, dia mendengar suara bel kembali berbunyi.


Shanum mengerutkan keningnya. Apakah Diva meninggalkan sesuatu, sehingga harus kembali? Gadis itu bergegas mendekati pintu dan membukanya.


"Apakah ada yang ter... tinggal?" ucapnya terbata. Shanum terbelalak kaget. Dia bereaksi secara naluriah, sehingga bergerak mundur. Dan dia nyaris jatuh terjengkang sebelum sepasang tangan menangkapnya agar tidak jatuh.


Matanya yang berwarna keemasan menatap Shanum dengan dalam. Dan debar jantung Shanum berpacu, bibirnya terbuka supaya bisa bernapas lebih cepat. Aroma pria itu seperti biasa sangat menggoda dan tetap menggiurkan.


Gadis itu mengembuskan napas dengan gemetar, nadinya melonjak ketika merasakan tangan hangat pria itu yang membantunya agar dapat kembali berdiri tegak.


"Apakah kau baik-baik saja?"


Suaranya yang seksi, dengan nada serak tetap membuat perutnya jungkir-balik. Bibirnya mendadak terasa kering kembali. Padahal baru saja dia meminum segelas air sebelum membuka pintu.


Tapi kemudian Shanum menggelengkan kepalanya. Dia langsung menghentakkan tangan pria itu. Gadis itu membalikkan badannya.


"Apa yang kau lakukan di sini, brengsek?" Suara Shanum pecah, air matanya tumpah. "Kau tidak bisa dihubungi dan tidak membalas pesan-pesanku. Aku... aku benci padamu!"


Khan langsung menangkap bahu Shanum, membalikkannya menghadap pria itu. Cengkeramannya di bahu gadis itu memastikan bahwa ia tidak bisa kabur.


"Jangan pernah katakan itu. Karena aku tidak bisa menanggungnya. Aku selalu mencintaimu, Shasha." Khan memeluk gadis itu dengan erat, bibirnya menempel di rambut Shanum. "Jangan menangis. Aku minta maaf."


Shanum lalu meninju dada pria itu, sambil terisak. "Kau tidak mencintaiku. Jika kau mencintaiku mengapa kau terus menyakitiku?"


"Shasha." Khan menangkup bagian belakang kepala Shanum dengan satu tangan dan menempelkan pipinya ke pelipis gadis itu. "Itu semua aku lakukan untuk mempersiapkan kedatanganku ke sini."


"Aku tidak percaya. Mengapa kau tidak memberi pesan singkat atau hal apa pun yang akan membuatku tenang?"


"Sayang..." Bibir Khan bergerak mengecup pelipis gadis itu dan mengusap sisa airmata dari pipi Shanum.


"Aku tidak bisa melakukan itu, karena aku harus memberikan pelatihan yang intens kepada orang yang akan menyamar menjadi aku. Dia tetap harus berlatih, meski dia bisa merubah penampakkan wajah dan suaranya menjadi aku."


Shanum mendongak, dia menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. "Kau berbohong kan, bagaimana ada hal semacam itu?"


Khan menangkup wajahnya dan menempelkan keningnya ke kening gadis itu. "Aku serius, Shasha. Pria itu memang memiliki kekuatan yang seperti itu."


Shanum menghela napasnya, lalu dia berjinjit. Gadis itu menangkup kedua pipi Khan dengan telapak tangannya. Lalu secara mendadak dia mencubitnya dengan keras. "Aku masih kecewa padamu, saat aku kehilangan orang tuaku, aku tidak bisa mencarimu sebagai penopangku."


Khan meringis, merasakan efek rasa sakit cubitan Shanum. "Aku tahu, Shasha. Maaf, aku tidak bisa datang lebih cepat."


"Kau tahu? Dari mana kau mengetahuinya?" Shanum menyipitkan matanya dengan curiga.


"Em... itu aku..." Khan terlihat gelisah.


"Cepat katakan!" Shanum melotot sambil berkacak pinggang.


"Sebenarnya dari awal kau kembali ke negaramu, aku sudah mengirim orang yang selalu memantau keadaanmu."

__ADS_1


__ADS_2