Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 44 Gelisah Tak Terkira


__ADS_3

Shanum menatap tajam pada ponsel di genggamannya. Dia melemparkan ponsel itu ke atas ranjang, seakan-akan ponsel itu membakar kulitnya. Dengan wajah ditekuk kesal, ia memukul bantal yang ada di hadapannya.


"Arghhh..." geramnya.


Shanum mengusap wajahnya, kemudian menutupinya dengan kedua tangannya. Ia menjatuhkan badannya ke atas kasur. Wajahnya terasa panas, dia menyadari seluruh wajahnya pasti sangat memerah saat ini.


Terjadi keheningan sesaat, gadis itu terdiam. Lalu bahunya tampak berguncang, terdengar suara tawa pelan. Semakin lama suara tawa itu kian kencang. Gadis itu membuka dekapan pada wajahnya, ia terbangun dari posisi terlentangnya, sambil tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya.


Shanum menghapus air mata tawa yang muncul di sudut-sudut matanya. Kemudian setelah tawa itu mereda, ia mencari ponselnya yang ia lemparkan secara asal tadi ke atas ranjang.


Shanum mengotak-atik ponselnya. Dia terlihat sedang menghubungi seseorang. Wajahnya muram, lalu mencoba lagi. Sepertinya ia mendapati panggilannya tidak di respon. Dia menghembuskan napasnya sambil berdecak kesal.


Kemudian Shanum bergeser ke ujung ranjang. Ia mengambil penyangga ponsel dari laci meja riasnya, dan meletakkan ponselnya di penyangga tersebut. Sebelumnya dia sudah menekan sebuah nomor, dan sedang menunggu panggilan itu diangkat.


Lalu layar ponsel memunculkan sesosok wajah. Wajah cantik sahabatnya, Diva, yang sedang terlihat menahan kantuk. Sambil menguap Diva berkata, "Ya, Shanum. Ada apa? Terus teleponnya harus pakai vicall lagi. Aku kan sedang tidur."


"Maaf mengganggu, Diva. Aku cuma mau cerita kalau aku sudah tahu siapa penelepon misterius itu."


Ekspresi Diva langsung waspada, berubah menjadi ingin tahu, dan wajah mengantuknya menghilang. "Ayo cerita, siapa?" tanyanya.


"Sebentar, aku cerita dulu dari awal ya. Jadi, tadi saat aku lagi rebahan, mendadak ponselku berbunyi. Terus setelah di cek ternyata yang menelepon nomor tidak dikenal itu lagi." Terdapat jeda, Shanum menarik napasnya.


"Aku kan tadi dapat saran dari Farah. Langsung deh, aku lakukan sesuai arahannya. Aku bilang begini : Pak Reno, kalau cuma mau dengar suara saya boleh kok. Besok saya akan datang ke ruangan, dan Pak Reno boleh bertanya apa pun. Saya pasti akan menjawab semuanya, tanpa terkecuali."


Shanum menghilang dari layar, dia bergerak mengambil gelas berisi air, lalu meneguknya. "Sha, ayo dilanjutkan dong," protes Diva. "Sebentar!" teriak Shanum. Diva memutar bola matanya mendengar teriakannya.


Shanum muncul kembali di depan layar. "Lalu terdengar sebuah suara..."


"Akhirnya," potong Diva. "Lanjutkan!" ucapnya lagi. "Ishh, main potong saja. Serius tidak ini mau dengar kelanjutannya," sewot Shanum.


"Iya, maaf. Teruskan!" sahut Diva sambil cengengesan.


"Mendadak terdengar suara seorang pria yang membalas ucapanku. Begini yang ia katakan, Kau janji... Oke, besok saya tunggu di ruangan saya ya. Kau bisa bayangkan bagaimana malunya aku. Bisa-bisanya dari sekian banyak kemungkinan, malah pria itu yang muncul." Shanum lalu menatap Diva, ia tidak melanjutkan ucapannya, dan ingin melihat reaksi sahabatnya itu.


Diva termangu. Wajahnya kaget dan ia kontan menggeleng. Kemudian Diva mulai terkikik. Dia menutup mulutnya dengan tangan, tapi suara kekehannya tetap terdengar semakin keras. Air liurnya sampai mengalir di sekitar jarinya. Diva melepas bekapan pada mulutnya, sambil tertawa kencang.


"Ihh, jorok!" teriak Shanum. Diva bergeser dari layar, sayup-sayup masih terdengar tawanya. Lalu dia muncul lagi sambil memegang tisu. Dia masih menyeka sudut-sudut jarinya yang belepotan air liur. Shanum mengerutkan hidung, tampak jijik.


Diva berdeham, tapi saat melihat wajah Shanum ia kembali tertawa geli. "Astaga, aku tidak bisa berhenti tertawa." Diva menepuk-nepuk pipinya. "Maaf ya, Sha. Sumpah, ini lucu sekali." Gadis itu berkata sambil tersengal-sengal.


"Yaa... silahkan tertawa sepuasnya. Setelah itu kau harus bantu aku mencari jalan keluarnya. Terutama Farah, dia biang keladi peristiwa memalukan tadi. Dan dia tidak mengangkat panggilanku." Shanum tersenyum kaku.


Shanum menepuk dahinya. "Aduuuh... aku baru ingat, tadi menggunakan suara ******* manja segala." Shanum menggeleng-geleng, sambil memperlihatkan wajah muak.


Diva terkekeh kembali. Wajahnya sampai memerah. "Ya ampun, Sha. Sudah cukup. Aku jadi ingin ke belakang ini. Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu. Jangan ditutup sambungannya!" Diva pura-pura melotot sambil tertawa.


"Iya, cepat sana!" Shanum membalas pelototan gadis itu.


Diva sudah kembali ke layar. "Maaf, tadi ada jeda iklan sejenak." Dia tersenyum geli sendiri, sedangkan Shanum hanya mendengus.


"Oke, terus bagaimana ke depannya?" tanya Diva tersenyum lebar.


"Em, boleh tidak ya, aku ganti dosen pembimbing lagi, atau tiba-tiba mengajukan cuti," kata Shanum.


"Hah, yang benar saja. Itu namanya kau menyia-nyiakan waktumu. Seharusnya kuliahmu sudah selesai, malah jadi mundur. Hanya gara-gara kau tidak berani menghadapi Pak Reno," ucap Diva sambil menatap tajam dirinya.


"Benar sih, tapi aku tidak berani lagi menunjukkan wajahku di hadapannya. Bagaimana dong?"


"Satu-satunya cara ya, kau harus tetap menemui dosen itu. Memang kenapa sih, Sha? Pak Reno itu kan tampan dan jenius. Kalau memang dia suka denganmu manfaatkan saja. Hitung-hitung sebagai kompensasi memuluskan bimbingan skripsimu." Diva menawarkan solusi yang terlihat menggiurkan.


"Kau gila! Aku bukan orang seperti itu, Diva. Aku sangat tahu betapa pedihnya berharap dan bergantung pada rasa yang belum pasti kejelasannya," ungkap Shanum sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Ini berkaitan dengan Khan Adrian kan. Kau belum bisa move on dari pria itu."


"Ya. Pria itu memenuhi kepala dan hatiku," jawabnya terus terang.


"Oh, so sweet..." Diva tersenyum lembut.


"Sha, boleh aku bertanya lagi. Tapi mungkin sedikit berandai-andai ini ya. Bagaimana jika seandainya, Pak Reno serius?" tanya Diva.


Shanum menghembuskan napas. "Aku tetap tidak bisa. Pak Reno bukanlah pelampiasan untuk melupakan pria lain. Dan aku tidak sekejam itu, Diva."


"Jika kau memang mencintai Khan, mengapa tidak kau kejar saja pria itu?"


"Aku masih belum siap, Diva," jawab Shanum lirih.


Kening Diva tampak mengkerut. "Maksudnya?" tanyanya lagi.


"Yah, aku masih belum siap jika dia menolakku saat aku mengejarnya."


Diva menepuk keningnya. "Dia tidak mungkin menolak, Sha. Astaga, kau ini ternyata bebal juga ya," cemooh Diva.


Sekarang giliran Shanum yang mengerutkan keningnya.


Diva menatap Shanum. Ia melihat pandangan bingung di mata sahabatnya itu. "Khan itu memujamu. Dari perilakunya yang selalu lembut padamu, tatapan matanya yang tak lepas darimu, ekspresi wajahnya yang biasanya dingin dan kaku, akan menghangat jika ditujukan padamu. Di saat-saat terakhir kita di Astrakhan, ia juga cemburu pada Ula, benar kan?"


Shanum terdiam, pandangannya tidak fokus. Mendengar ucapan Diva secara tidak langsung telah memukulnya telak. Seakan-akan semua perlakuan manis Khan lenyap tak berbekas oleh setitik kesalahan yang dilakukannya.


"Dan kemarin juga Sergei pernah tak sengaja mengatakan padaku, Khan berwajah seakan-akan seperti pria yang sedang patah hati. Dan dia masih cemburu saat Sergei mencoba memanas-manasi dengan berkata bahwa kau sedang dekat dengan seorang pria. Bahkan dia sampai meminta Sergei untuk menjauhkanmu dari pria itu," ungkap Diva lagi.


Shanum kontan menoleh, matanya berkilat, dan wajahnya terlihat penuh harapan. Dia tersenyum kecil. "Betulkah?" tanyanya.


"Tapi sebentar, untuk apa Sergei mengucapkan hal yang tidak benar itu. Aku tidak sedang dekat dengan seorang pria. Justru pria itu yang mendekatiku," protes Shanum.


"Jadi, selamat berjuang ya, dan ditunggu kabar baiknya," ucap Diva sambil tersenyum geli.


Shanum mendengus, lalu berkata, "Oke, sampai besok."


***


Shanum berdiri di depan pintu ruangan Pak Reno dengan tubuh gemetar menahan gugup. Dia tidak pernah merasa tak berdaya hingga seperti ini. Tidak juga saat dia harus berperang melawan Chinua, yang seharusnya jauh lebih mengerikan.


Mungkin bagi sebagian orang dia akan dianggap tidak waras. Lebih takut menghadapi seorang pria yang tampan dan menarik, daripada peperangan dengan segala atribut sihir, yang melebihi nalar manusia biasa.


Shanum menghembuskan napasnya, telapak tangannya terasa dingin, dan berkeringat. Dia mengusap-usapkan telapak tangan itu di atas celana Khaki yang ia kenakan.


Dia memutar tubuhnya menjauhi pintu, dan memantapkan dirinya dengan mengepalkan tangannya ke atas sambil berkata pelan penuh tekad. Dia tidak jelek, tidak perlu takut. Semangat, Shanum!


"Aku sangat senang kau menganggapku tampan, Shanum."


Sebuah suara menarik perhatiannya. Tangannya yang masih mengacung ke atas perlahan diturunkan. Shanum menoleh, dan dia meringis menahan malu.


"Eh, Pak Reno," ucapnya pelan.


Pak Reno menatapnya hangat dan menggoda. Sebentuk senyum geli terlihat di bibir penuhnya. "Sedang apa di situ? Mengapa tidak langsung masuk?"


Shanum membeku, dia menelan ludahnya dengan susah payah. Sepertinya saat ini dia selalu sial jika berhubungan dengan pria ini. Ya, Tuhan, mengapa menjadi kacau seperti ini?


"Ayo masuk, tidak perlu sungkan. Saya juga terpesona padamu, Shanum. Tidak hanya suaramu, tapi keseluruhan dirimu. Jadi, mari kita bicarakan soal itu." Pak Reno memberikan isyarat pada Shanum untuk masuk ke ruangannya.


Shanum yang mendengar ucapan penuh percaya diri Pak Reno barusan merasa semakin gugup. Perutnya terasa mual dan wajahnya semakin memucat. Shanum merasa seakan-akan di dalam ruangan Pak Reno ada banyak jebakan, yang akan melukainya. Dan kakinya gatal ingin melarikan diri dari sana.


"Kok diam saja, ayo masuk!" Pak Reno kembali mengingatkannya sambil tersenyum lembut. Shanum masih tidak bergeming dari posisinya.

__ADS_1


"Shanum..."


Pria itu mendekatinya, dan menarik salah satu tangan Shanum. Gadis itu tersentak kaget, dan secara refleks mengunci pria itu lalu menghempaskannya ke lantai.


Pak Reno memucat, lalu merintih kesakitan, dia tergeletak di lantai. Shanum terperanjat, dia tampak menutup mulutnya. Shanum sudah membanting pria itu. Astaga, apa yang sudah ia lakukan?


"Ya, ampun, Pak Reno. Apa yang terjadi?" Tiba-tiba Bu Anna muncul dari dalam lift. Di belakangnya muncul Cantika dan Tedy yang ikut kaget melihat Pak Reno terbaring di lantai.


"Eh, Shanum apa yang kamu lakukan kepada Pak Reno?" kata Cantika dengan pandangan tajam dan suara menuduhnya. Shanum tidak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu. Tedy dan Bu Anna langsung membantu Pak Reno untuk berdiri.


"Aku tadi terpeleset. Tolong jangan salahkan Shanum. Dia tidak bersalah, ini murni kelalaianku sendiri," ucap Pak Reno. Pria itu menutupi kesalahan Shanum.


"Masa sih, Pak. Kalau Shanum tidak bersalah mengapa dia tidak langsung menolong. Malah membiarkan saja Pak Reno di lantai." Mata Cantika menyipit curiga.


"Aku... aku..." Shanum menoleh ke arah Pak Reno. Wajahnya penuh dengan rasa bersalah yang tidak bisa ditutupi.


"Hei, saya tidak apa-apa. Tolong bantu saja saya ke sofa di ruangan ya, Tedy." Pak Reno meminta bantuan kembali pada Tedy.


Tedy membantu memapah Pak Reno ke sofa yang berada di ruangannya. "Shanum, sebaiknya bimbingannya harus saya tunda. Sepertinya saya harus pulang. Tubuh saya sakit semua." Pak Reno tampak meringis menahan sakit, tapi dia tetap tersenyum lembut pada Shanum.


"Tapi Pak, saya..." Shanum tak kuasa meneruskan ucapannya.


"Pak, nanti saya bantu ya. Saya dan Tedy bisa mengantar Pak Reno pulang, atau jika mau ke rumah sakit juga boleh," potong Cantika dengan wajah penuh perhatiannya.


"Tidak perlu, saya akan telepon Sopir saya saja. Tolong ambilkan ponsel saya di meja itu."


Cantika langsung sigap mengambilkan ponsel yang diminta oleh Pak Reno sambil terus tersenyum. Pak Reno mengotak-atik ponselnya, lalu menempelkan ponsel tersebut di salah satu telinganya. Ia tampak menghubungi seseorang.


Setelah Pak Reno menyelesaikan panggilannya, Bu Anna menghampiri. "Pak Reno, benar tidak apa-apa?" tanya Bu Anna lagi untuk memastikan.


"Saya tidak apa-apa, Bu, dan terima kasih ya," balas Pak Reno sambil meletakkan ponselnya di dalam saku.


"Baik, kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu ya Pak, permisi." Bu Anna lalu bergerak keluar dari ruangan itu.


Kini tinggal Shanum, Tedy dan Cantika yang berada di ruangan menemani Pak Reno. Wajah Shanum masih terlihat keruh. Dia berdiri di dekat pintu, tidak berani mendekat.


"Sebaiknya kalian tinggalkan saya dan Shanum. Ada yang mau saya koordinasikan lebih lanjut dengannya. Saya juga tidak mau mengganggu kegiatan kalian. Sebentar lagi Sopir saya akan datang, dan terima kasih atas bantuan kalian," kata Pak Reno.


Tedy memberi isyarat pada Cantika untuk segera bergerak keluar dari sana. Namun wajah gadis itu seakan-akan tidak rela. Dia masih mencoba melirik ke arah Pak Reno. Lalu Tedy menarik siku Cantika, dia menariknya menuju pintu.


"Oh, tolong tutup kembali pintunya ya," teriak Pak Reno. Setelah pintu tertutup, Pak Reno menarik napasnya, lalu kembali meringis. "Aduh, bahkan menarik napas pun sakit," ungkapnya.


"Maafkan saya, Pak Reno." Shanum berkata sambil menundukkan wajahnya.


"Angkat kepalamu, Sayang," tutur Pak Reno lembut. Shanum mengangkat kepalanya ragu-ragu. Mendengar kata-kata sayang dari Pak Reno ia merasa jengah.


"Tidak perlu merasa bersalah. Karena saya yang lebih bersalah di sini." Pak Reno lalu tersenyum geli sendiri.


"Ternyata selain hati, tubuh saya juga ikut dihempaskan oleh seorang gadis. Gadis yang sangat menarik menurut saya. Dia membuka mata saya. Hingga saya menyadari perasaan saya yang sesungguhnya, saat melihatnya tersenyum bahagia meraih kemenangannya dalam Turnamen Karate." Pria itu lalu menatap Shanum dengan dalam.


Shanum tidak tahu harus menjawab apa? Perasaannya tumpang tindih tidak karuan. Kemudian terdengar suara ketukan di pintu, di susul oleh suara handle pintu yang di tekan. Pintu terbuka, muncul sebuah wajah melongok ke dalam ruangan itu.


"Masuk saja, Pak Asep."


Pria yang dipanggil Pak Asep itu lalu bergerak masuk sambil sedikit membungkukkan badan. "Maaf Pak, jika Bapak sudah siap pulang, mari saya bantu."


"Tolong ambilkan tas saya dulu di meja, Pak Asep," perintahnya. Pak Asep menuju meja kerja Pak Reno.


Pak Reno lalu menoleh ke arah Shanum. "Kau boleh pergi, Shanum. Nanti saya akan menghubungimu lagi untuk pertemuan kita selanjutnya."


Shanum mengangguk pelan, sambil pamit keluar dari ruangan. Sepanjang langkahnya, gadis itu tampak menunduk. Banyak hal yang terjadi hanya dalam satu hari. Semuanya terbayang-bayang dalam benaknya, dan membuatnya semakin gelisah tak terkira.

__ADS_1


__ADS_2