
Pria bertopeng itu menatapnya lekat. Menunggu jawabannya. Suasana di sekitar mereka masih mencekam. Tidak ada yang berani melakukan gerakan sedikit pun. Bahkan Chinua ikut diam membisu. Shanum terus berpikir dengan keras. Dia belum bisa menemukan solusi atas pertukaran yang di minta oleh pria bertopeng itu.
Jangan lakukan, Shasha.
Shanum mendengar ucapan Khan bergema dalam ikatan mereka.
Aku tidak bisa mengorbankan para sahabatku, Adri. Bukankah jika aku mengikuti pria itu, aku dapat menjadi mata-mata yang menyusup di dalam kumpulan mereka?
Itukah solusi yang kau pikirkan saat ini, Shasha?
Ya, Adri.
Tapi itu hal yang berbahaya untuk kau lakukan, Sayang. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada dirimu.
Aku tidak akan apa-apa. Kau hanya harus percaya padaku. Di sana nanti aku akan memberikanmu informasi lokasi persembunyian mereka, Adri. Kau dapat menghimpun orang-orang dengan kekuatan sihir tinggi yang dapat mengikutimu untuk menghancurkan kelompok ini, sekaligus membebaskanku. Kalaupun rencanaku ini gagal, aku akan mencari cara untuk melarikan diri dari mereka.
Tetap saja hal itu penuh resiko. Aku tidak akan sanggup memikirkan apa yang akan terjadi pada dirimu.
Tapi tidak ada solusi lain. Bagaimana? Kau setuju dengan rencanaku ini, Adri?
Shanum mendengar geraman keras Khan di kepalanya. Dia tahu suaminya itu pasti sedang tersiksa menahan amarah.
Sejujurnya aku tidak rela dan tenang melihatmu berada di bawah cengkeraman mereka, Sayang. Kau bisa saja tidak akan berhasil melepaskan diri dari mereka. Dan kita baru saja menikah. Masa aku sudah harus terpisah darimu. Pria itu benar-benar membuatku muak. Aku ingin sekali menghabisinya saat ini juga, jika tidak ada kedua sahabatmu sebagai sandera.
"Bagaimana, Sweetheart? Kau harus putuskan saat ini juga. Jangan mengulur-ulur waktu lagi, karena akan percuma. Pilihannya cuma ada dua, dirimu ikut denganku atau kedua orang ini mati," desak pria bertopeng itu memotong percakapan antara Shanum dan Khan.
Arghh...
Pria kurang ajar. Aku ingin sekali menghancurkan mulutnya yang lancang itu.
Shanum mendengar kata-kata penuh amarah lagi dari Khan di dalam ikatan mereka.
Shanum mendesah keras. Kepalanya semakin pening didesak dari berbagai arah. Dia benar-benar berada di jalan buntu kali ini.
Shanum melihat ke arah pria bertopeng itu dengan kesal. "Baiklah, aku ikut denganmu," jawab Shanum dengan nada suara membentak.
"Tapi dengan satu syarat," tambah Shanum.
"Tidak ada negosiasi lagi, Cantik. Aku sudah katakan tadi. Cuma ada dua pilihan."
"Kalau kau tidak mau, aku juga tidak bersedia ikut denganmu," tantang Shanum dengan ekspresi galak. Dia meraih pedang di tangan Khan.
Pria bertopeng itu mengetatkan rahangnya. "Kau ingin menggertakku ternyata. Oke." Pria itu mendekati Farah, lalu dia mendekatkan pisau lain dari sakunya dan mulai mengusapkannya di pipi Farah. Kegelapan pekat bergerak di sekeliling aura pria bertopeng itu.
Farah memejamkan matanya, menarik napas cepat, bibirnya gemetar, namun berusaha menyembunyikan ketakutan yang mulai mengusainya.
Shanum menarik napas cepat, matanya penuh kekagetan dan kebencian, menatap ke arah pria bertopeng itu.
"Jangan... jangan pedulikan aku, Sha." Perhatiannya berpindah-pindah antara belati itu dan wajah Shanum. "Kumohon," ucap Farah dengan suara tersendat.
Tangan Shanum yang memegang pedang bergetar, dia menggenggamnya lebih erat. Dia menggeleng ke arah Farah, mata gelap Shanum meredup, seolah-olah kepasrahan sudah mulai mendominasi keputusannya.
Pria bertopeng itu tersenyum lebar dengan kemenangan liar dan riang. Lukai orang yang paling lemah dan dicintai oleh Shanum, kemudian paksa wanita itu untuk mengikuti keinginannya. Sungguh brilian dan keji, dan dia tahu betul itu.
"Kau masih ingin bernegosiasi denganku?" Pria bertopeng itu tertawa kecil.
__ADS_1
"Berengsek! Dasar kau... kau...!" Shanum memaki pria itu dengan geram.
"Lakukanlah." Khan bersuara dengan tenang.
"Adri!" Shanum membentak pria itu.
Khan tidak menggubris Shanum. Wajah pria itu dingin membeku, tatapannya terpaku ke arah pria bertopeng itu.
"Aku ingin melihat sejauh mana kau melakukannya, Pengecut," tantang Khan lagi.
"Ah... kau menganggapku hanya menggertak, Yang Agung. Baiklah..." Lalu pria itu menggoreskan belatinya cukup dalam di kulit pipi Farah. Membuat gadis itu terkesiap, dan mulutnya mengatup menahan sakit. Air mata mulai menetes dari kedua sudut matanya. Namun Farah tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Gadis itu sangat berani dan tegar menerimanya.
Shanum ingin ambruk berlutut untuk memohon maaf kepada Farah, untuk mengatakan bahwa dia menyesal. Dia ingin meneriakkan kata-kata itu, tetapi kini ada semacam retak yang membuka di dalam dirinya sehingga dia nyaris tak bisa merasakan hatinya yang terkoyak. Apa yang telah suaminya itu perbuat... Dia memprovokasi pria jahat itu.
Ekspresi Shanum terlihat bersalah dan kesedihan bergelayut di matanya, ia terhuyung menjauh dari Khan. Shanum sangat kecewa kepada suaminya itu. Jika dia tidak memberikan ucapan bernada tantangan itu, Farah tidak akan terluka.
Pria bertopeng itu menatap Shanum semakin lekat. "Apa aku perlu melukainya kembali, agar kau segera memutuskan, Cantik? Atau apa kali ini perlu leher indahnya yang kugores agar semakin terlihat menakjubkan?" Ucapan mengerikan yang sungguh gila tercetus dari mulut pria itu.
Dan pandangan puas tercermin dari netra hitam matanya, saat melihat kengerian dan kegundahan terpancar dari tatapan mata Shanum. Pria itu mulai memindahkan pisaunya ke leher Farah yang masih mulus. Di sisi lain pedang yang tadinya berada di sana, diturunkan, tidak lagi mengancam leher Farah.
Orang-orang yang berada di sana mulai resah--gelisah, banyak bisikan dan tangisan. Termasuk Diva, Shanum melihat sahabatnya itu menangis tersedu ketika melihat adegan itu.
"Bagaimana jika kau membawaku saja?" Shanum mendengar suara Chinua memecahkan suasana tegang di tempat itu.
Pria bertopeng itu mengerutkan keningnya, lalu tertawa keras. Dia menatap Chinua dengan dingin. "Sayangnya bukan kau yang kuinginkan, Your Majesty."
"Hentikan! Jika kau menyakitinya lagi, aku tidak akan ikut denganmu," teriak Shanum tak sabar. Sepertinya Shanum sudah memutuskan.
Dia mendekati pria bertopeng itu. "Kau menang. Aku ikut denganmu. Turunkan pisau itu."
Semua menjadi kacau, Shanum syok. Dia menoleh melihat sahabatnya yang melayang di udara dan langsung ditangkap oleh Osbert sebelum menghantam tanah. Osbert meneriakkan nama Farah, berteriak seolah-olah dia peduli.
Shanum memicingkan matanya ketika tangannya ditangkap oleh pria bertopeng itu dan menguncinya dalam dekapan pria jahat itu.
"Kau penipu kotor. Memangnya kau pikir sahabatku itu sampah, main dilempar saja," maki Shanum dengan marah.
"Aku memang sengaja. Ingin mengalihkan perhatian Suamimu itu, agar aku dapat mengambilmu dalam pelukanku," jawab pria bertopeng itu dengan tenang.
Shanum melotot. Jika pandangan bisa membunuh, pria itu pastinya sudah tamat hanya dengan tatapan Shanum yang mematikan. Pria bertopeng itu menyeringai, lalu mengusap rambut Shanum dengan lembut, membuat gadis itu merinding.
Sialan pria itu! Dia menyentuh milikku.
Shanum mendengar sumpah serapah Khan dalam ikatan mereka. Namun dia diam saja, tak menggubrisnya.
Kau harus melawan pria itu, Shasha...
Jangan pasrah ikut dengannya.
Shanum mendengus keras sebelum menutup hati dan pikirannya dari suaminya itu. Dia semakin kesal mendengar kata-kata bernada cemburu dari Khan. Sekaligus dia juga sedikit berniat menghukum pria itu atas perilaku provokasinya tadi, sehingga Farah mendapatkan goresan di wajahnya.
Andaikata dia bisa melawan, tak perlu disuruh sudah dari tadi dia membunuh pria jahat ini. Tapi seluruh tubuhnya kini terkunci rapat, bahkan ototnya terasa membeku. Entah mantra apa yang diberikan pria itu kepadanya.
Shanum lalu menatap Chinua, dan memberikan isyarat melalui matanya untuk menyembuhkan Farah. Tampaknya wanita itu mengerti. Dia menganggukkan kepalanya.
Dia beralih melirik sekilas ke arah Khan, dan melihat suaminya itu mengepalkan tangan, wajahnya kian dingin membeku. Netranya tidak bergerak, pandangannya lekat kepada Shanum.
__ADS_1
Shanum tersenyum miris saat merasa ada yang berusaha menggedor-gedor ikatan mereka. Dan dia sudah tahu pasti, yang melakukan itu adalah suaminya sendiri tidak mungkin orang lain.
"Kita harus pergi, Cantik. Tapi setelah kelompokku yang tersisa pergi." Pria bertopeng itu bersiul panjang. Lalu dia menoleh ke arah Chinua. "Batalkan mantra yang menutup akses portal," perintahnya ke arah wanita itu.
Chinua menghembuskan napasnya, dia setengah hati menganggukkan kepala. Lalu mulai merapal mantra yang diminta. Dan Shanum melihat satu persatu pasukan pria bertopeng itu menghilang melalui portal. Pria bertopeng itu memperhatikan tapi tidak merenggangkan pelukannya dari Shanum sedikitpun. Dia memerintah kelompoknya sambil merengkuhnya.
Shanum meringis, tidak sanggup lagi menahan tekanan dalam dadanya, saat Khan mulai mengirimkan amarah, rasa tersiksa dan putus asa ke dalam ikatan mereka. Shanum memang memblokirnya, tapi entah mengapa pria itu masih bisa menyusupkan semua rasa itu kepadanya.
Shanum membuka blokirnya, dan dia diserbu oleh hantaman yang sangat kuat dari seluruh isi hati Khan. Jika dia tidak berada dalam genggaman pria bertopeng itu mungkin dia sudah jatuh berlutut saat ini, merasakan guncangan demi guncangan yang menguasai jiwanya.
Shanum bisa merasakannya amarah dan kepedihan yang tak terkira mengalir dari Khan. Suaminya itu tidak rela melihat Shanum dipeluk oleh pria lain, dan kesedihan yang pekat harus menyerahkan Shanum ke dalam bahaya tak berujung, serta rasa putus asa karena ia tak kuasa melakukan perlawanan.
Akhirnya Shanum mengarahkan pandangannya kepada Khan. Dia tidak mengatakan apa pun. Dia tak kuasa mengucapkan satu kata pun. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah mencoba memberikan gelombang hangat lewat ikatan mereka. Berharap pria itu ikhlas melepasnya, dan percaya kepadanya.
Shanum tak bisa lagi menyimpan rasa kesal kepada Khan. Kekecewaannya memudar seiring hantaman rasa yang dialami suaminya itu dan tersampaikan kepadanya.
"Sudah waktunya." Pria bertopeng itu benar-benar menunggu hingga pasukannya yang terakhir menghilang dari pandangan, baru kemudian dia mengedipkan matanya, dan pandangan Shanum terasa mulai memudar. Sebelum dia kehilangan orientasi akan ruang dan waktu, Shanum sempat mendengar jeritan Khan dalam ikatan mereka.
Maafkan aku, Sayang... Tunggu aku.
Ruangan itu mulai memadat kembali. Shanum mengerjapkan matanya. Dan dia merasa pelukan yang membelitnya sudah terlepas. Dia berdiri di sebuah ruangan luas yang penuh dengan perlengkapan perang. Kepalanya terasa sedikit pusing. Pria bertopeng itu membawanya dengan berteleportasi. Pria jahat itu memiliki kekuatan itu.
Shanum menegang ketika merasakan pria bertopeng itu berdiri di belakangnya, berbau kegelapan dibungkus bau rumput sehabis hujan, lebih tajam dari yang pernah dia sadari. Shanum baru mengetahui ternyata dia memiliki kemampuan untuk membaui seseorang.
"Kini kau berada di Klanku, Cantik."
Shanum mendengar suara gesekan, seperti suara orang yang sedang melepaskan jubah. Kemudian dia mendengar suara suatu benda diletakkan di atas bidang keras. Shanum tidak bisa berbalik untuk melihatnya, dia tidak bisa... tidak berani bergerak.
Shanum merasa gugup. Dia berada di sarang musuh. Dan takut memprediksi yang akan dialaminya selanjutnya di tempat ini. Dia bisa mendengar pria bertopeng itu menahan napas dan saat ia mengembuskannya. Dia mendengar bisikan dan isakan serta perayaan lirih dari semua orang yang berada di aula, yang masih mengawasi Shanum dengan pandangan curiga serta benci.
"Hanya ini satu-satunya cara bagiku untuk membawamu pergi dari Khan Adrian. Dan jangan berani mengeluarkan kekuatanmu, apa pun itu di tempat ini, karena aku pasti akan tahu. Dan akan bisa menyakitimu karenanya. Jadi jangan memancingku untuk melukaimu." Pria bertopeng itu berkata dengan tegas.
"Termasuk untuk menghubungi Khan Adrian dengan telepati atau apa pun itu yang menghubungkan kalian. Karena di tempat ini aku pasti dapat mendeteksinya," ucap pria itu lagi.
Shanum tercengang. Tidak menyangka pria itu dapat membaca keinginannya. Jika sudah begini, sia-sia saja ia mengikuti keinginan pria itu.
"Siapa kau?" geram Shanum. Dia marah karena mendapatkan rencananya sudah terpatahkan bahkan sebelum dimulai.
"Lihat saja sendiri," kata pria bertopeng itu. Shanum berputar. Di sana, di atas meja, tergeletak topeng hitam yang menatapnya dengan lubang mata yang kosong.
"Shanum Qamira. Akhirnya aku bisa memilikimu," ujar pria itu. "Bagaimana wajahku? Apakah memang jelek seperti tuduhanmu itu?" Pria itu tersenyum menggoda.
Shanum tersentak kaget. Napasnya tercekat, mulutnya terasa kelu.
Pria itu masih tersenyum, seluruh wajahnya cerah menyinarkan kegembiraan tenang. Kontur tulang pipinya yang tinggi dan hidung lurusnya yang indah, alisnya yang sedikit melengkung yang membingkai mata yang seharusnya hitam kini berubah menjadi berwarna biru.
Wajah bak malaikat itu tentu saja sangat familiar di mata Shanum. Apa yang telah dilakukan olehnya sehingga mendapatkan momen ini, bisa berdiri di sini... diinginkan oleh pria ini. Sedangkan seseorang di tempat lain sedang mencari dan merindukan pria itu.
Shanum masih membeku. Dia diam saja saat pria itu meraih jemarinya dan menaruh tangan Shanum di dadanya, dan detak cepat jantung pria itu ikut menggema ke dalam tulang-tulang Shanum. Dia sangsi dengan perasaannya saat ini. Semua rasa campur aduk berada di dalam hati dan pikirannya.
"Kau rasakan, aku berdebar merasakan dirimu ada di dekatku." Pria itu tersenyum lembut ke arah Shanum.
"Namaku Avraam," kata pria itu lagi. "Dan aku adalah pemimpin Klan Erebos. Klan yang terbuang."
Shanum membelalakkan matanya. Dia menelan ludahnya. "Jadi, namamu bukanlah Sergei?"
__ADS_1