
Beberapa menit sesudah ia kembali dari berkelana di alam psikis, Shanum terlihat cemas dan mulai mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia masih memikirkan dinding pembatas yang menghalangi itu dan berusaha memutar otak mencari solusinya. Mengapa selalu muncul dinding penghalang?
Dalam mimpi tempo hari ia menemukan dinding tak kasat mata yang menghalanginya untuk menolong kekasihnya yang sedang menjerit-jerit kesakitan, lalu tadi ada dinding lagi yang mengeluarkan hawa dingin. Jika ke depannya ia harus menemukan kembali dinding atau apa pun itu yang menghalanginya, mungkin ia akan mengamuk hebat.
Suara ketukan di pintu membuyarkan emosi yang sedang menderanya. Shanum bergegas menuju pintu, membukanya dan menemukan Eej berdiri sembari tersenyum ke arahnya. Wanita itu langsung memberikan isyarat tanpa kata padanya untuk mengikutinya.
Dia membawanya ke sofa ruang tamu, di mana di sana sudah terdapat kedua sahabatnya. Eej memintanya duduk di samping wanita itu lalu mengedarkan pandangannya ke arah ketiga orang gadis itu.
"Kalian pasti bingung, untuk apa aku mengumpulkan kalian di sini." Wanita itu menatap ketiganya dengan serius. "Aku hanya ingin berpamitan, dan meminta bantuan Shanum untuk menjaga putraku, selama kepergianku. Tentunya kalian berdua juga boleh mendampingi Shanum," kata Eej sembari menatap ke arah Diva dan Farah.
Shanum tertegun mendengar kata-kata wanita itu, begitu juga dengan kedua sahabatnya. Melampaui akal sehatnya, ia diam-diam merasa heran ketika menyadari bahwa otaknya terasa akan mati karena bahagia mendengar akan menjaga Khan.
Seolah-olah seseorang telah memberikan tenaga yang berlebihan ke sistem utamanya, sirkuit demi sirkuit, dan seluruh sistemnya akan ikut mati karena kelebihan beban. Shanum merasa pusing.
Dia tidak boleh pingsan sekarang! Dia perlu tahu alasan wanita itu pergi dan mengalihkan tanggung jawab atas pria itu kepadanya. Tetapi tubuhnya, kewalahan akan apa yang telah dialaminya dari awal hari ini.
Bermula dari rasa takut kehilangan kekasihnya, kesedihan menemukan pria itu melupakannya, dan yang terakhir kecemasan tentang penghalang yang terdapat dalam ikatan mereka.
"Mengapa wajahmu memucat, Shanum?" Eej memanggilnya dengan pandangan khawatir. Shanum mengerjapkan matanya, berusaha menjangkau kesadarannya agar tidak menghilang.
Tiba-tiba ia merasakan ada yang menyodorkan sesuatu ke bibirnya. Dia langsung meneguknya dan menemukan rasa manis dan harum teh hangat yang terasa nikmat.
"Tadi aku membuat seteko teh manis untuk dinikmati bersama biskuit sebagai camilan," kata Diva sambil tersenyum. "Dan ternyata kau sekarang membutuhkannya juga," tambahnya.
"Sepertinya Shanum mengalami syok, Mam. Mungkin dia harus beristirahat. Apakah bisa untuk sisa hari ini ada orang lain yang menjaga putra Anda?" sahut Farah mengusulkan.
Shanum berdeham lemah. "Aku tidak apa-apa." Dia berusaha bangkit dari duduknya.
"Tidak. Kau harus beristirahat, Shanum. Aku akan menunda kepergianku menjadi esok hari," potong Eej, menarik gadis itu untuk kembali duduk. Dia lalu menepuk tangannya dengan lembut. "Sekarang kau masuk kamar, tidurlah yang nyenyak," perintah wanita itu.
Shanum membuka mulutnya untuk menyangkalnya. Gadis itu tidak akan bisa tidur dengan suasana hatinya yang sedang gundah seperti ini. Tapi pandangan Eej menyatakan, ia tidak ingin menerima bantahan apa pun darinya. Jadi dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya.
Shanum lalu kembali ke kamar, diantar oleh kedua sahabatnya dan Eej. Mereka segera menutup pintu setelah melihat Shanum telah merebahkan tubuhnya. Gadis itu mencoba memejamkan matanya. Dan tidak sesuai dengan prediksinya, ia langsung terlelap tak lama setelah kepalanya menyentuh bantal.
***
Shanum bangun dari tidurnya dengan perlahan, muncul dari sekumpulan mimpi buruknya ketika dia berlari ke sana-kemari dengan panik, mengejar Khan, dan kehilangan pria itu lewat pintu yang lenyap sebelum dirinya dapat mencapainya.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya kembali, memilah-milah pikirannya. Dia pergi ke Astrakhan untuk menyelamatkan kekasihnya dari ambang kematian. Saat ia berhasil membuat pria itu pulih, ia malah mendapatkan kesakitan melihat pria itu kehilangan ingatan atas dirinya.
Kini ia harus memutuskan, apakah ia sanggup untuk melewati hari-hari menjaga pria itu, tanpa menjadi gila karena melihat pandangan dingin dan asing yang terpancar dari mata pria itu.
Apakah dia bisa menerima sikap kaku yang akan dilakukan pria itu terhadapnya? Setelah sebelumnya ia adalah pusat dunia pria itu, dan begitu juga sebaliknya.
Perlahan, Shanum membuka matanya. Walaupun cahaya di ruangan itu temaram, cahaya keemasan yang remang masih mengisi kamar itu, berasal dari cahaya pagi yang masuk dari celah-celah jendela. Dia memang lupa menutup tirai yang terdapat pada jendela itu kemarin, sebelum ia tertidur.
Shanum mengerjapkan matanya dan berusaha bangun dari tempat tidur. Dengan terhuyung-huyung ia menuju ke kamar mandi, langsung membersihkan dirinya di sana.
Setelah selesai dari kamar mandi, ia membuka kenop pintu, keluar dari kamar, menuju dapur untuk membuat makanan. Perutnya terasa lapar, karena kemarin ia melewatkan makan malamnya.
__ADS_1
Shanum melihat sarapan secara mengejutkan sudah tersedia di meja makan. Dia terpaku bingung, tak bisa memutuskan harus membuat makanan sendiri ataukah memakan apa yang sudah tersedia.
"Syukurlah kau sudah bangun, Shanum. Jadi aku tak perlu lagi membangunkanmu. Pagi ini aku harus segera pergi." Tiba-tiba sebuah suara terdengar menyapanya.
Gadis itu menoleh dan menemukan Eej sudah menarik bangku meja makan dan segera duduk. "Ayo kita sarapan dulu, Shanum. Sini, duduk di sebelahku!" Wanita itu menggeser bangku dan menarik tangannya. Gadis itu tak bisa menolak langsung duduk di sebelah wanita itu.
Mereka sarapan bersama dengan hening. Setelah Eej selesai, ia menatap Shanum. "Jangan lupa untuk menjaga putraku ya, Shanum. Aku harap kau dapat bersabar terhadapnya," katanya. Shanum tidak mengerti maksud bersabar yang diucapkan olehnya. Memangnya apa yang akan dilakukan Khan padanya?
"Berapa lama, Anda akan pergi, Eej? Maaf, jika aku lancang," tanya Shanum.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya. "Apakah kau akan kembali dalam waktu dekat ini ke negaramu?" tanyanya. Wanita itu malah bertanya balik kepadanya.
"Em, tidak juga sih. Tapi..." Shanum menjawab dengan keraguan yang terpancar dalam bola matanya.
"Kau tidak perlu khawatir, dia sudah tahu makna dirimu dalam kehidupannya. Aku sudah mengatakan kepadanya kau adalah kekasihnya," ucap Eej.
"Kau sudah katakan?" ulang Shanum dengan ekspresi kaget.
"Ya, dan reaksinya tentu saja sama seperti ekspresimu sekarang. Jika bukan aku yang mengatakannya sendiri, mungkin dia tidak akan mempercayainya. Harapanku dengan mengatakan tentang hubungan kalian, dia bisa lebih baik dalam memperlakukanmu."
"Em, apakah dia memberikan reaksi lainnya juga, Eej?" tanya Shanum lagi dengan wajah penasaran. Shanum menunggu dengan sedikit harapan bahwa pria itu mengingat sedikit hal tentangnya.
"Hmm, sepertinya tidak ada reaksi lainnya. Entahlah, aku juga tidak yakin, apa yang dirasakannya saat itu. Yang kulihat hanyalah dia langsung menutup diri dengan ekspresi dinginnya yang tak terbaca itu," jawab Eej seraya mendesah. Harapan dalam diri Shanum langsung meredup mendengar kata-kata Eej barusan.
"Tapi dia sudah berjanji untuk bersikap baik kepadamu, Shanum," ucap wanita itu lagi. Dia berusaha membuat ekspresi sedih di wajah Shanum sedikit berkurang.
"Kau membuatnya berjanji seperti itu?" beo Shanum dengan wajah tak percaya. Eej menganggukkan kepalanya dengan senyum terbit di sudut bibirnya.
Wanita itu segera bangkit, dan mengambil tas tangannya dari atas bangku di sebelahnya. Kemudian kembali melayangkan senyum tipis ke arah Shanum, sembari berjalan menuju pintu keluar.
Shanum membalas senyumannya dan melambai. Setelah ibu Khan itu keluar dari penthouse, dia menghela napas dalam. Sekarang dia harus menunaikan tugasnya menjaga pria itu. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Dia akan mulai mempraktekkan saran dari kedua sahabatnya kemarin, untuk mendekati Khan kembali. Meski terasa miris, sekarang posisinya menjadi terbalik, ia yang harus mengejar pria itu.
Shanum bangkit dari duduknya, lalu merapikan meja makan dan mencuci piring kotor bekas sarapannya dan Eej tadi. Tak lupa ia menutup kembali makanan yang masih tersisa di meja makan. Agar nanti dapat dinikmati oleh kedua sahabatnya.
Setelah semua urusan di meja makan dan dapur beres, ia mengambil tas selempangnya dari kamar. Gadis itu juga mengambil ponselnya, ia mengetikkan sederet kata-kata pesan untuk kedua sahabatnya yang masih tertidur lelap.
Shanum menuju kamar rawat Khan. Gadis itu tampak ragu, ketika hendak membuka pintu kamar tersebut. Dia termenung di depan pintu. Entah mengapa perasaan gelisah menderanya saat ini. Shanum lalu menggelengkan kepalanya, mengangkat kepalanya, dan menegakkan tubuhnya. Dia harus berani, tidak boleh menjadi takut. Pria itu hanyalah Khan, orang yang ia cintainya.
Shanum perlahan membuka pintu, ia melihat cahaya ruangan sudah menyala terang. Dan di sana, menghadap ke pintu, duduklah pria yang menjadi kekasihnya itu. Atau sekarang hanya dia yang menganggapnya kekasih. Sedangkan pria itu, belum dapat dipastikan bagaimana perasaannya terhadap Shanum.
Apa pun statusnya, pria itu menatap Shanum yang berdiri di depan pintu, ekspresinya tak terbaca, kecuali seseorang yang sedang menatap lekat-lekat matanya.
Mata coklat keemasan itu, terlihat mirip dengan mata harimau. Terlihat mematikan dan penuh misteri. Tatapannya melucuti Shanum, pelan dan sengaja, seolah menganggapnya rendah. Sorot mata tenang pria itu seolah membakarnya, menimbulkan gelenyar dari dada sampai perut Shanum.
Shanum balas menatapnya. Dia merasa kembali ke saat ketika bertemu dengan pria itu di bandara. Pandangan meremehkan itu kembali muncul. Namun nyalinya tidak pernah menciut, ia tak takut menerima tatapan mengintimidasi dari pria itu.
Shanum menutup pintu, ia mengangkat dagu dan terus berjalan, sadar bahwa tatapan pria itu terus mengikutinya. Setelah berhadap-hadapan dengan Khan, ia sadar pria itu jelas terlihat sudah lebih sehat. Wajah tampannya sudah kembali memunculkan ronanya.
Shanum mencoba bersikap ramah, ia mengangguk dan tersenyum ke arah pria itu. "Selamat pagi, bagaimana keadaanmu?" tanya Shanum dengan suara lembut.
__ADS_1
Gelombang kebencian memancar dari pria itu dan menyambar Shanum. Hal itu membuatnya merasakan remasan erat pada jantungnya. Pria itu tak berkata apa-apa, tapi ia melihat tatapan yang menusuk tajam saat otot rahang pria itu bergerak-gerak, seolah-olah menggigit lidahnya sendiri.
Shanum balas menatap Khan. Apakah pria ini menjadi bisu? Dan apa yang menyebabkan ia harus mendapatkan pandangan permusuhan dari pria itu?
"Bagaimana keadaanmu?" ulang Shanum. Pria itu masih tidak mengindahkannya. Ia bergerak mendekati meja, ingin menaruh kembali baki sarapannya, yang sudah selesai ia habiskan. Shanum mencoba membantu, tapi pria itu menepis tangannya. Gadis itu tersentak kaget menerima perlakuan itu.
Hmm, baiklah. Shanum baru mengetahui bahwa sikap kasar ternyata sekarang muncul dalam perilaku pria itu. Shanum menghela napasnya. Kesabarannya mulai diuji saat ini.
"Dengar, jika kau tidak suka aku berada di sini katakan saja dengan baik. Aku hanya berusaha menunaikan janjiku kepada Eej untuk menjagamu," ucap Shanum.
"Aku bukan anak kecil, tidak perlu dijaga." Akhirnya pria itu bicara. Dia bersedekap dan kembali menatap Shanum dengan pandangan menusuknya. Astaga! Pria itu mengesalkan.
"Menurutku kau sangat mirip dengan anak kecil, memandang dari tingkah lakumu sejak tadi," sindir Shanum.
Rahang pria itu semakin mengetat, matanya semakin tajam. "Aku tidak mengenalmu. Jadi jangan harap aku akan bersikap baik kepadamu. Lebih baik kau tinggalkan saja aku sendiri. Dan sebelum kau keluar, katakan kepada dokter jaga kalau aku ingin pulang hari ini."
Shanum mendongak menatapnya, ia bisa melihat sikap keras di mata pria itu, merasakan hawa dingin terpancar darinya. Ada sesuatu yang sangat kelam pada diri pria itu, sehingga dia yakin tak ada kebajikan sedikit pun dalam dirinya.
Apakah pengaruh sihir hitam itu belum benar-benar hilang darinya? Ia benar-benar berubah menjadi pria yang tidak Shanum kenal. Pria seolah-olah tidak menyukainya. Gadis itu tidak sanggup memikirkannya--sekujur tubuhnya gemetar.
"Mengapa kau belum enyah dari hadapanku? Segera pergi!" Tangannya melambai dengan gerakan mengusir yang kasar.
Wajah Shanum memucat menerima pengusiran itu. Dia merasakan hatinya sakit dan matanya mulai berkaca-kaca. Shanum menggigit bibirnya, berusaha menahan agar dia jangan sampai menangis di hadapan pria itu.
"Hapus pandangan tersakiti itu dari wajahmu! Aku tidak suka melihatnya!" bentak pria itu dengan suara keras. Pria itu tahu, dia dapat melihat kesedihannya. Gadis itu menunduk, ia masih berusaha menata perasaannya yang hancur lebur.
"Jangan berharap aku merasa kasihan kepadamu. Meski Eej mengatakan banyak hal konyol, tetap saja diriku tidak pernah mempercayai bahwa kau adalah kekasihku. Mulai hari ini hapus rasa itu dari pikiranmu. Tidak perlu bermimpi aku akan meneruskan hubungan yang diragukan pernah ada itu," kata Khan lagi dengan ekspresi dingin dan kakunya.
Kalimat kasar pria itu membuat wajahnya seketika mendongak, hatinya tiba-tiba mengeras. Tangannya mengepal menahan amarah. Emosinya meroket menerima seluruh hinaan itu, dan tidak terima dihina seperti itu olehnya. Tidak peduli walaupun pria itu memiliki ikatan jiwa dengannya, atau ia sudah berjanji kepada ibu pria itu sekali pun. Shanum ingin menghajarnya.
"Aku tak tahu apa maksudmu mengucapkan kata-kata kasar itu kepadaku? Seandainya bisa hari ini juga aku sangat ingin melepaskan ikatan jiwa kita," desis Shanum dengan mulut dirapatkan. Masih tetap berusaha menahan gejolak amarahnya.
Ucapan Shanum jelas mengejutkan Khan, ia melihat ada yang memancar dalam diri pria itu, dan satu alisnya perlahan terangkat. "Tidak menyangka ternyata mulutmu terlalu berani untuk berkata bohong," geramnya. Mata Khan berubah, tatapannya mendadak menyusuri tubuh Shanum dengan berani, sehingga ia dapat merasakan kulitnya memanas akibat tatapan pria itu. Pandangan mata pria itu terkesan menjadi tidak senonoh.
"Kau sedikit menarik. Tapi tetap saja belum sesuai dengan kriteriaku. Dan tadi apa katamu, pasangan jiwaku?! Kau... tidak mungkin!" pria itu lalu tertawa kencang. Nada tawanya terdengar setengah menghina setengah meremehkan.
Shanum menahan diri untuk tidak langsung keluar dari kamar itu, meski sangat ingin melakukannya. Ia berjalan dengan tenang mendekati pria itu kendati jantungnya berdebar kencang. Punggungnya tegak, dagunya terangkat tinggi. Dia dapat merasakan tatapan tajam pria itu mengikuti langkahnya. Pria itu akan terkejut dengan apa yang saat ini akan ia lakukan. Dan bukan Shanum namanya kalau dia hanya diam saja saat diinjak-injak, karena hal itu tidak mungkin terjadi.
Shanum semakin mendekat lalu tiba-tiba ia menonjok wajah pria itu dengan keras. Tubuh Khan tersentak ke belakang. Kepalanya membentur tiang penyangga tempat tidur, dan tergeletak di kasur. Shanum merasa jemarinya seakan-akan rontok, tapi dia berusaha menahannya.
Pria itu perlahan bangun kembali. Matanya kelihatan tidak fokus, bibirnya robek, hidungnya patah hanya dengan satu kali pukulan. Khan terpana, dia mengusap darah yang mengalir dari hidungnya dan bibirnya.
"Dengar kau, Bajingan! Andaikata bisa, aku juga ingin memukul kepalamu berkali-kali, agar otakmu yang sakit itu kembali ingat. Di dalam tubuhmu itu ada darahku. Jika bukan karena darahku, kau sudah mati mengenaskan. Aku tidak pernah meminta balasan atau ucapan terima kasih darimu. Semua aku lakukan karena sebelumnya kau adalah pria yang berarti bagiku." Shanum menatap Khan dengan tajam, matanya berkilat marah dan seluruh tubuhnya memancarkan hawa dingin yang membekukan.
"Tapi sepertinya aku salah memilih. Jika kau tahu cara untuk memutuskan ikatan jiwa ini, hubungi aku. Tidak perlu dirimu, cukup Dario atau Taban yang menghubungiku. Karena aku sudah tidak berminat dan tak ingin berurusan lagi dengan pria yang kasar, tukang hina dan merasa dirinya yang paling benar," sambung Shanum dengan suara keras.
Kemudian Shanum menegakkan tubuhnya. Gadis itu mengangkat dagunya dengan angkuh. "Oh tentang pukulan yang tadi itu, bagiku adalah sebagai sebuah ungkapan untuk semua ketakutan, kesedihan, dan kesakitanku selama dua bulan lebih ini," ucapnya sembari tersenyum sinis.
"Seharusnya aku memukulmu tiga kali, sesuai dengan tiga rasa yang kualami. Tapi aku masih punya rasa kemanusiaan, aku tidak ingin membuat Ibumu sedih, karena sudah membuat putra tersayangnya kembali sekarat."
__ADS_1
Gadis itu menatap wajah Khan yang babak belur untuk yang terakhir kalinya dengan pandangan dingin. Mencoba menutupi hatinya yang patah. Kemudian dia menuju pintu, membukanya dan menutup kembali tanpa keraguan.