Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 30 Mengakui Kekalahan


__ADS_3

Saat cuplikan gambar itu berhenti, Shanum merasa lega, setidaknya ia tidak perlu melihat terlalu lama tayangan memuakkan itu. Gadis itu menoleh ke arah Chinua, menilai reaksinya. Sejak awal hingga tayangan selesai, wanita itu tetap mengepalkan tangannya.


Wajahnya semakin dingin bagaikan suhu di Antartika. Rahangnya mengeras dan isi pikirannya tidak terbaca. Suasana hening, tidak ada yang berani membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu. Setiap orang memiliki pendapat mereka sendiri. Yang pasti tatapan kasihan banyak terlihat di mata sebagian besar orang.


Sergei membuka matanya, dia sedikit terhuyung. Waktu kembali berjalan, setiap orang sudah bisa menggerakkan tubuhnya seperti sediakala. Pria itu menghela napasnya. Butir-butir keringat tampak di keningnya dan di atas bibirnya, wajahnya terlihat lelah.


Sergei sudah mengeluarkan banyak energinya. Khan bergerak maju mendekati Sergei. Setiap prajurit Chinua bersiaga. Namun Sergei tidak mengacuhkannya, dia mengambil sesuatu di saku bajunya. Sebuah botol berisi cairan langsung diteguknya dengan rakus.


"Sebaiknya aku mengikat wanita tua ini. Khawatir dia melarikan diri." Khan mengikat tangan dan kaki Xanadu dengan kekuatannya. Wanita tua itu terlihat linglung dan lemas. Dia sudah terduduk di tanah. Proses penarikan ingatan masa lalu tadi dengan kekuatan Sergei juga berpengaruh terhadapnya.


"Sebenarnya tanpa kau ikat pun dia tidak akan bisa melawan, Yang Agung. Dia akan seperti itu sampai besok," ungkap Sergei.


"Biarkan, ikat saja. Aku akan mencoba menyalurkan energiku kepadanya agar dia segera pulih," potong Chinua datar. Wanita itu mendekati Xanadu, lalu memberikan energi penyembuhnya. "Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya. Masih ada yang belum terjawab."


Sergei menjauh dari kerumunan itu. Dia berdiri di sebelah Shanum. "Apa yang kau minum tadi?" tanya Shanum ingin tahu. Sergei tersenyum, wajah tampannya sudah tidak terlihat pucat. "Hanya ramuan turun-temurun untuk memulihkan energi sihir."


"Ada ya ramuan seperti itu?" Shanum pikir minuman energi hanya ada di dunia normal, bukan dunia sihir. "Ada. Kau mau mencobanya?" Sergei menyodorkan botol ramuan itu.


Shanum terlihat ragu-ragu. Namun dia tetap mengambil botol itu. "Apakah aman?" Shanum membuka tutupnya dan mengendus isi botol, ia masih curiga pada ramuan itu. Gadis itu sontak menutup hidungnya dan menjauhkan botol.


Wajahnya memucat. Perutnya langsung berontak ingin muntah. Dia buru-buru mengembalikan botol itu kepada Sergei. "Kenapa? Baunya tidak enak ya." Sergei bertanya sambil tersenyum mencurigakan. "Huek, baunya bikin mual. Terbuat dari apa ini?" Shanum terlihat ngeri menatap ke arah botol yang dipegang Sergei.


Sergei terkekeh geli melihat ekspresi Shanum. "Isinya hanya beberapa tanaman yang dicampur menjadi satu. Rasanya lebih baik, tidak seperti baunya." "Bagaimana caranya kau bisa tahan meminumnya? Jangan-jangan kau punya sihir untuk membuat hidungmu Anosmia." Sergei kembali tertawa sambil memegangi perutnya. "Tidak ada sihir seperti itu, Shanum."


"Terus kok bisa kau tahan. Baunya sungguh busuk, tahu." Wajah Shanum mulai memucat lagi saat mengingat bau busuk ramuan itu. "Sumpah, aku masih tidak percaya perutmu tidak apa-apa." Shanum menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa heran.


Mereka masih asyik tertawa bersama, saat Khan muncul di samping Shanum. Wajahnya dingin dan kaku. Keduanya langsung berhenti tertawa, mereka merasakan hawa dingin yang terpancar dari Khan.


"Shasha, ayo ikut aku." Khan langsung menarik Shanum menjauh dari Sergei. Gadis itu mengikuti tarikan Khan, namun kepalanya tetap menoleh ke arah Sergei sambil memutar bola matanya. Sergei meringis dan tersenyum maklum. Dia mengerti Khan Adrian tidak suka ada pria yang dekat-dekat dengan gadisnya.


Sore hari mulai datang, suasana di lokasi pertempuran itu masih sama. Kedua belah pihak tetap melakukan gencatan senjata mereka. Chinua menunggu dengan sabar reaksi kekuatan penyembuhnya bereaksi terhadap Xanadu. Sedang Shanum dan Khan sejak tadi sudah membantu beberapa orang yang terluka.

__ADS_1


Dario juga sudah di bawa ke mansion. Setelah Chinua menganggukkan kepalanya, ketika Khan bertanya padanya bahwa ia akan memindahkan tubuh pria itu. Khan membuka portal ke mansion untuk membawa korban yang terluka parah. Di mansion sudah menunggu dokter dan perawat yang akan menangani mereka.


Beberapa pengawal ada yang membawakan makanan dan minuman untuk mereka semua. Begitu juga dengan pasukan Chinua, sudah ada yang bertugas untuk mengurus kebutuhan mereka sendiri. Chinua sudah mempersiapkan semuanya. Kebutuhan logistik tidak boleh sampai terlupakan.


Kedua belah pihak seakan-akan sedang merasakan sore hari yang cerah sambil menikmati teh dan kudapan yang disediakan. Masa rehat itu betul-betul dimanfaatkan oleh semua pihak. Karena mereka masih belum mendapatkan kepastian masih berlanjut atau tidak pertempuran itu. Meski begitu keduanya tetap bersiaga. Mereka tidak mau kecolongan, jika tiba-tiba ada yang menyerang.


"Mengapa wanita tua ini lama sekali pulihnya? Aku sudah banyak menyalurkan energiku," tanya Chinua pada Sergei. Chinua terlihat kesal. "Seharusnya dia sudah pulih. Kecuali dia berpura-pura." Sergei mengerutkan keningnya sambil memperhatikan Xanadu.


"Kalau begitu hanya ada satu cara untuk mengetahuinya." Chinua langsung mencekik leher Xanadu dan memberikan tekanan kekuatannya.


Mata Xanadu terbelalak. Bola matanya nyaris melompat keluar. Dia juga megap-megap kehabisan napas. Sergei mencoba menahan Chinua. "Jika kau melakukan itu dia akan mati, Your Majesty," bisik Sergei. "Tidak akan, kita lihat saja," balas Chinua dengan pelan. "Mau berapa lama lagi kau berpura-pura, Wanita Buta?"


Chinua melonggarkan tekanan kekuatannya. "Sekarang katakan! Kenapa kau menculikku? Aku tidak butuh omong kosong lagi darimu." Chinua mendelikkan matanya pada Xanadu. Sudah menjadi kebiasaannya untuk langsung ke pokok permasalahan. Wanita tua itu terlihat gugup, terbaca dari gerak gerik tubuhnya. Sergei mengernyitkan keningnya. Dia kagum, Chinua bisa menebak dengan tepat kepura-puraan Xanadu.


"Apa lagi yang kau tunggu, Xanadu?" Wanita tua itu menelan ludahnya. Udara terasa memanas. Saat emosinya mulai terpancing, Chinua benar-benar sanggup menghangatkan udara di sekitarnya. "Kau ingin tahu. Baik, aku akan mengatakannya!" geram Xanadu.


"Pria itu perlu merasakan sakit yang aku derita karena dia telah memilih Ibumu. Kami sudah dijodohkan sejak kecil. Aku bahkan sampai mengorbankan penglihatanku untuknya. Tapi apa balasannya, dia malah memilih wanita terkutuk itu untuk menjadi ratunya." Xanadu membiarkan rasa dendamnya yang mendidih membuat parasnya tegang.


Xanadu tertawa seperti orang gila. Suara kekehnya terdengar mengerikan. Orang-orang menjadi merinding dibuatnya. "Jadi kau menyesal? Bukankah kau sendiri yang menginginkannya. Aku hanya menebar umpan, jika kau menangkapnya seperti yang kau lakukan selama ini, berarti bukan salahku."


Chinua ingin meremukkan leher wanita tua itu. Dia tidak ragu dia mampu memuntir leher itu menjadi serpihan dalam sekali genggam. Namun dia tidak akan memberikan kematian yang mudah untuk wanita itu. Tidak, setelah apa yang dia perbuat padanya.


Sialnya, dia tidak akan bisa melakukan hal itu saat ini. Dia masih harus menyelesaikan peperangan. Semua masalah itu bercampur aduk dan membuatnya merasa seolah akan meledak. Chinua tidak yakin ia masih mau membunuh gadis itu. Sepanjang hidupnya yang kelam belum pernah dia merasakan keraguan seperti ini.


"Apa yang akan kau lakukan pada bedebah itu?" Suara ketus Shanum terdengar di telinga Chinua. Chinua menarik cengkeramannya pada Xanadu dan mengikatnya dengan tali sihir. Matanya menelusuri ekspresi tajam Shanum pada Xanadu. "Dan apakah kau masih berniat membunuhku?"


Chinua tidak langsung menjawab, pandangannya mengamati dengan dingin. "Aku masih memikirkannya." Alis Shanum melengkung di keningnya. Jawaban Chinua membingungkannya.


"Itu untuk kedua pertanyaanmu," jelas Chinua. Shanum menganggukkan kepalanya. Lalu dia menoleh kembali. "Apa kau baik-baik saja?" Ingatan Shanum tentang penyiksaan yang dialami Chinua muda sudah terpatri di otaknya, jantungnya menyempit dengan penuh penyesalan.


"Tidak perlu iba padaku. Aku ini sudah melukaimu, ingat," jawab Chinua dengan ketus. "Aku juga sudah banyak melukaimu. Jadi kita impas." Shanum tersenyum tipis. Chinua tertegun. Gadis ini begitu mudahnya memaafkannya. Denyut nyeri tiba-tiba muncul di hati Chinua. "Sikap itulah yang akan membuatmu terbunuh nantinya," kata Chinua. Shanum mengernyit bingung. "Apa?"

__ADS_1


"Aku sudah menghabiskan berabad-abad dengan membinasakan musuh yang lemah sepertimu." Chinua berjalan menuju sepetak kebun tak jauh darinya, tatapannya berhenti pada salah satu tanaman jenis Honeysuckle. Wanita itu sudah menghabiskan waktunya untuk memupuk dendam dalam kegelapan hatinya.


Chinua pikir itu membuatnya kuat. Dia terlambat menyadari bahwa ia malah sudah menciptakan kerusakan yang siap meledak, dan ditakdirkan untuk meledak tepat di depan wajahnya. "Cepat atau lambat aku pasti akan menuai apa yang sudah kutabur. Aku cuma tidak pernah menduga kebenaran ternyata sungguh menohok jiwaku."


"Sejak kapan kau percaya pada karma?" tanya Shanum. "Sejak karma itu meninjuku tepat di wajah. Dan rasanya bagaikan dilucuti luar-dalam." Chinua mengendikkan bahu. Sampai saat ini dia masih tidak percaya bahwa ia bisa dibohongi habis-habisan oleh Xanadu. "Semua orang pastilah pernah melakukan sesuatu yang buruk," ucap Shanum.


"Tapi tidak semua orang memilih untuk hidup tanpa hati nurani," jawab Chinua singkat. Ada keraguan ketika Shanum mencari cara yang diplomatis untuk meyakinkan Chinua bahwa tahun-tahun hidupnya menjadi seorang yang jahat bukanlah murni kesalahannya.


"Kau dibesarkan dengan kekerasan. Di doktrin untuk membenci keluarga kandungmu dengan kebohongan." Shanum mengingatkan Chinua. "Alasan yang bagus." Bibir Chinua melengkung dalam senyum datar. "Semua orang yang berada di sini tahu, aku adalah wanita yang keji dan kejam. Sangat susah untuk merubah stigma itu."


"Itu tidak sepenuhnya benar," protes Shanum. "Itu sangat benar." Chinua meringis. Ini bukan soal mengasihani diri sendiri. Hanya introspeksi diri yang sudah lama seharusnya dilakukannya. "Aku sudah menyakiti terlalu banyak orang."


Ada keheningan panjang ketika Shanum mencoba memahami rasa bersalah Chinua yang berusaha ditutupi wanita itu. Setelah berdeham, wanita itu memberikan pernyataan yang tidak diragukan lagi sangat diharapkan oleh Shanum. "Sebaiknya aku dan pasukanku kembali ke Abbasid. Kau bisa bernapas lega Shanum. Karena aku tidak akan mengganggumu lagi." Dengan mulus Chinua berbalik, seolah sedang menatap pantulan dirinya yang menyedihkan. Emosinya sedang terancam, dan tidak mudah baginya untuk mengakui kekalahannya.


Shanum terpana, wanita itu menyebutkan namanya. Meski pertemuan awal mereka penuh dendam dan kebencian. Tapi akhirnya kebenaran tetaplah yang memegang kunci penyelesaiannya. Shanum mengerti, sungguh berat bagi wanita itu untuk mengalah dan mengubur dendamnya.


"Bagaimana dengan Dario?" Pertanyaan itu tercetus begitu saja dari bibir Shanum. Ups... Shanum merasa bersalah saat melihat rasa gusar terlihat di wajah Chinua. Kemudian wanita itu menghela napasnya dalam-dalam. Chinua menggeleng. "Dia bagian dari klan ini. Dan aku selamanya berutang nyawa padanya. Hanya itulah arti Dario untukku," kata Chinua sambil mengangkat bahu.


Chinua sekilas merasakan keinginan untuk membawa Dario ke Abbasid. Tapi segera disingkirkannya keinginan yang menyedihkan itu. Chinua tidak ingin terlihat mengemis perhatian pada pria itu. Dan belum tentu dia bisa membalas sepenuhnya hal yang diinginkan Dario. Hatinya masih bingung menentukan bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap pria itu.


"Kau tidak ingin melihatnya dahulu sebelum pergi?" tawar Shanum. Chinua terpukau. Gadis ini sungguh cantik. Tidak hanya fisiknya, namun juga hatinya. Sungguh beruntung Khan Adrian jika mendapatkan cinta gadis ini. "Tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu waktu pemulihannya."


Chinua lalu memberikan isyarat pamit pada Shanum dan bergegas menghampiri Khan. Selama percakapannya dengan Shanum, Khan tetap mengawasi dari jarak yang cukup. Dia memberikan Shanum kesempatan untuk berbicara dengan Chinua. Walau bagaimanapun mereka sebenarnya memiliki ikatan keluarga. Khan tidak merasakan aura jahat di tubuh Chinua. Karena itu dia bisa melepaskan Shanum mendekati sang ratu.


"Khan... aku mengaku kalah. Jadi kita tidak akan melanjutkan pertempuran ini," kata Chinua datar. "Sungguh ucapan luar biasa yang jarang muncul dari bibirmu, Chinua." Khan menjawab dengan dingin. Chinua mendengus. "Itu bukan berarti aku lemah, Khan." Pria itu mengerutkan hidung. "Siapa yang bilang kau lemah? Orang yang berani berbesar hati mengakui kekalahannya adalah orang yang kuat. Itu menurutku." Chinua tersenyum tipis. "Terima kasih." Khan menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Chinua.


Wanita itu lalu kembali ke pasukannya. Dia mengucapkan mantra untuk membuka portal. Kilauan cahaya yang mirip cermin itu muncul di hadapan Chinua. Satu per satu pasukannya masuk ke dalam portal. Xanadu juga ikut di seret oleh dua orang pria berbadan kekar. Wanita tua itu masih dalam posisi tangan terikat oleh sihir, dan dia tampak merepet. Ocehannya tidak digubris oleh kedua pria itu. Keduanya menarik kasar Xanadu, dan wanita tua itu berjalan terseok-seok mengikuti langkah mereka. Entah apa yang akan dilakukan Chinua. Shanum berharap Xanadu di hukum sesuai dengan kejahatannya.


Sekarang tinggal Chinua yang akan masuk ke dalam portal. Sebelum melangkahkan kakinya, ia menoleh ke arah Shanum. Chinua menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Namun Shanum tahu, wanita itu mengucapkan pamit tanpa kata. "Sampai jumpa, Leluhur," teriak Shanum. Chinua terpaku mendengar ucapan gadis itu. Dia memutar bola matanya sambil tersenyum lembut. Tubuh Chinua masuk ke dalam portal. Lingkaran cahaya itu perlahan meredup lalu hilang sepenuhnya.


Shanum tertegun. Ekspresi tak percaya Shanum mendadak menguap, Chinua mengungkapkan ekspresi lembut yang membuat sebagian besar orang terkejut. Siapa yang akan percaya wanita yang disebut "Iblis dari neraka" itu ternyata punya hati?

__ADS_1


__ADS_2