Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 59 Pendatang Baru


__ADS_3

Khan mengangkat kedua alisnya. Dia tidak mengerti mengapa sebegitu gigihnya pria itu ingin mengalahkannya? Apakah pria itu masih ingin mengejar gadisnya, dan membuktikan bahwa dia yang lebih cocok untuk Shanum?


Padahal sebenarnya, semua tekadnya itu adalah suatu kesia-siaan belaka. Pria itu tidak akan pernah memenangkan apa pun. Termasuk mendapatkan hati dari kekasihnya. Karena hubungan pasangan jiwa Khan dengan Shanum tidak semudah itu untuk diputuskan.


Dan Khan juga bukanlah pria biasa. Dia hampir menguasai semua hal yang ada di dalam hidupnya yang sangat panjang. Semua cabang olahraga sudah pernah dicobanya.


Segala bentuk keahlian juga pernah dilakoninya. Hanya teknik pengobatan dan juga keahlian di bidang mekanik yang tidak menarik perhatiannya.


Namun Khan akan meladeni pria itu. Dia ingin sedikit berman-main dengannya. Sekaligus ia ingin membuat pria itu tahu bahwa dirinya bukan orang yang bisa diremehkan begitu saja.


"Oke, aku akan datang. Tapi setelah ini aku tidak mau ada lagi unjuk kebolehan yang diminta untuk dilakukan olehku. Sudah cukup, waktuku sangat berharga. Aku ingin menghabiskan lebih banyak hal bersama gadisku, daripada kegiatan lain yang tidak berguna." Khan berkata sembari melirik dan memberi senyuman penuh perasaan ke arah Shanum.


Jantung Shanum berhenti berdetak. Dia terpaku, otaknya berputar tersendat, dia tidak bisa menghentikan tatapan balasan yang ia arahkan kepada Khan. Mereka berdua saling berpandangan dengan dalam.


Tidak peduli bahwa banyak mata yang memperhatikannya, dan mengirimkan tatapan iri kepada keduanya.


Hanya satu orang di sana yang melihat dengan pandangan ingin membunuh ke arah Khan. Tatapannya penuh amarah dan terlihat cemburu. Pak Reno membenci pria yang mendapatkan pandangan penuh perasaan dari Shanum.


Dia masih belum bisa menerima kalau Shanum semudah itu melabuhkan perasaannya ke pria lain. Sedangkan dia setengah mati mencintai gadis itu.


Pak Reno tidak tahu jika Shanum tidak pernah berpaling dari satu orang pria. Dia terkecoh oleh sihir yang memang sengaja ditebarkan oleh Khan.


Akhirnya Pak Reno segera hengkang dari lapangan memanah itu. Pergi dengan rahang mengetat dan telapak tangan terkepal erat. Dia tidak mengatakan apa pun sembari berlalu dari hadapan semua orang.


Sergei memperhatikan semua gestur tubuh maupun ekspresi Pak Reno. Dia menyeringai, sembari merasa senang, Khan sudah membuat pria itu tidak berkutik. Seharusnya pria itu sadar diri, bahwa Shanum tidak akan pernah memilihnya.


"Oke, acaranya sudah selesai. Sebaiknya kita pergi dari sini, cuacanya sudah lumayan panas." Farah mengumumkan dengan keras, agar kedua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu segera tersadar.


"Ayo kita pergi, Hon. Wajahmu sudah memerah itu karena terbakar matahari. Tapi aku obati dulu sebentar." Sergei lalu mengusap seluruh wajah Diva dan menyalurkan sedikit kekuatan dinginnya, untuk meredakan panas di wajah gadis itu.


Diva tersenyum sembari menutup matanya. Dia menikmati sentuhan lembut dan dingin yang menjalar di kulit wajahnya. Namun saat dia merasakan sentuhan hangat di pipinya, dia langsung membuka matanya.


Diva melihat wajah Sergei yang sangat dekat. "Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Diva sembari mengerutkan keningnya.


"Aku hanya membantu meredakan rasa terbakar pada kulitmu, Hon." Sergei berkata sembari tersenyum gugup.


"Iya, dan dia mencium pipimu juga di saat-saat terakhir," sambung Farah sambil memutar bola matanya. Setelah itu terdengar gerutuan Farah tentang orang-orang yang tidak peka seenaknya saja bermesraan di depan orang yang masih jomblo.


Diva langsung tersipu malu sembari mencubit pundak Sergei dan berkata, "Jangan lakukan lagi di depan umum. Malu tahu!"


"Oh, jadi kalau bukan di depan umum boleh ya?" tanya Sergei dengan senyum nakal di wajah bak malaikatnya.


Diva mendengus dan melotot. "Tetap tidak boleh."


Sergei mengerang kecewa. "Aku kan juga mau seperti Shanum dan Khan. Mereka sungguh mesra, Hon."


"Dan tadi itu cuma di pipi. Aku belum menciummu di bibir," tambahnya sembari berbisik di telinga Diva dengan senyum seksinya.


Diva tertegun, lalu dia segera tersadar. "Sudah, Tuan Otak Mesum! Lebih baik kita segera pergi dari sini. Wajahku kembali panas ini." Gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan.


Dia langsung menarik tangan Sergei untuk pergi dari sana. Padahal kenyataan sebenarnya wajah Diva memanas, adalah karena dia malu mendengar segala ucapan Sergei soal ciuman itu. Tidak ada sangkut pautnya dengan efek teriknya matahari.


"Hei, sampai kapan kalian mau saling bertatapan seperti itu?" tanya Farah dengan suara keras. Mendengar suara Farah keduanya pun mulai pulih dari euforia mereka. Shanum melihat ke sekelilingnya.


Sebagian besar orang sudah pergi kembali ke gedung kampus. Shanum tidak menyangka mereka sudah melewatkan banyak waktu dengan pembicaraan lewat ikatan mereka.


Dan Khan tanpa banyak bicara langsung merangkul bahu Shanum dan melangkah meninggalkan lapangan memanah itu.


Sesampainya di parkiran mobil, Diva mengusulkan kepada mereka untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Gadis itu juga mengusulkan mereka makan di salah satu restoran yang biasanya dijadikan tempat ketiganya berkumpul.


Saat ini mereka sudah duduk sambil menikmati makan siang sesuai pesanan mereka masing-masing dengan lahap. Mereka membahas tentang pertandingan basket three on three yang diminta Pak Reno.


"Jadi, siapa yang akan kau pilih untuk mendampingimu dalam pertandingan basket nanti, Yang Agung?" tanya Sergei.


"Kami sudah membahasnya tadi berdua. Aku dan Shanum sudah sepakat kau, Sergei akan ikut sebagai pemain. Dan juga nanti ada dua orang lagi yang akan ikut serta membantu. Keduanya merupakan pengawalku," jawab Khan.


"Pengawal? Mengapa aku tidak melihatnya, Sir?" Diva melihat sekelilingnya dengan bingung. Dalam pikiran Diva seorang pengawal akan mengikuti majikannya, kemana pun majikannya itu pergi.


"Para pengawalku itu tidak akan terlihat kecuali aku mengizinkannya. Mereka hanya mengawasi dari kejauhan, karena memang perintahku seperti itu."


"Apakah mereka ada di sini sekarang?" tanya Diva lagi.


"Astaga, sungguh pertanyaan bodoh. Tentu saja mereka ada di sini sekarang, dan mengawasi dari jauh." Farah menjawab pertanyaan Diva sambil mendengus.


"Iih, aku kan cuma ingin tahu. Siapa tahu saja hari ini mereka bebas tugas," kata Diva sembari cemberut.


"Terus kalau mereka ada di sini sekarang, apa yang mau kau lakukan?" desak Farah.


"Em, aku cuma ingin tahu yang mana orangnya."


"Mengapa kau jadi penasaran dengan pengawal Yang Agung, Hon?" Sergei bertanya sambil memicingkan matanya.


"Ah, cuma sekedar ingin tahu saja kok. Tidak ada maksud lain." Diva terlihat tersenyum cengengesan.


"Halah, paling Diva mau tahu tuh, seberapa tampannya para pengawal itu," sindir Farah.


Sergei mengangkat kedua alisnya. "Apa aku ini masih kurang mempesona dan tampan untukmu, Hon? Jadi kau masih suka melirik pria tampan lainnya." Nada suara Sergei terdengar kecewa.


"Bukan begitu, Igei!" Diva lalu melotot kepada Farah. Dia kesal sahabatnya yang satu itu malah makin memperkeruh keadaan.


"Daripada terjadi perang di sini, sebaiknya kau panggil saja kedua orang itu, Adri," kata Shanum sembari tersenyum geli.


Namun Shanum mengerti. Gadis itu benar-benar mengerti apa yang dibicarakan oleh pria itu dengan lawan bicaranya. Meski sudah mengetahui bahwa ia sekarang bisa menguasai bahasa tersebut tanpa harus mengikuti kursus khusus, ia masih tetap belum terbiasa menerima semua keanehan yang terjadi ini.


"Mereka akan masuk ke dalam sebentar lagi," kata Khan setelah selesai menutup pembicaraan melalui ponselnya.


Tak berapa lama dari pintu restoran muncul dua sosok pria tegap dan tampan. Yang satu berambut sangat pendek model ala tentara, dengan warna coklat gelap, dan bernetra coklat juga. Wajahnya terlihat campuran antara wajah Asia dan Eropa. Hidungnya mancung, dengan mata sipit dan bibir tipis. Tingginya paling tidak seratus delapan puluh lima sentimeter.


Yang satu lagi kebalikannya, rambutnya panjang. Rambut itu berwarna hitam sekelam malam, yang disisir dengan lembut ke belakang hingga ke tengkuk, dari wajah yang keras dan maskulin. Tingginya tidak berbeda jauh dari pria yang satu lagi.


Bibirnya sensual dan seksi, bibir bawahnya lebih penuh dibanding bibir atasnya. Hidungnya tidak terlalu tinggi, namun tetap pas terlihat di wajahnya. Struktur rahang pria itu juga terpahat dengan sempurna. Dan dengan sepasang mata hitam yang terlihat berkilat tak berdasar, pria itu terlihat lebih berbahaya dari rekannya yang satu lagi.


Shanum mendengar seseorang terkesiap saat melihat kedua pria itu masuk melewati pintu. Dia menoleh dan memperhatikan Farah menatap tajam pria berambut panjang itu. Sepertinya ada yang tertarik dengan salah satu pria pengawal Khan.


Sedangkan Diva malah terlihat biasa-biasa saja. Dia tidak merespon seperti Farah. Namun Shanum melihat Sergei mengawasi Diva dengan pandangan setajam elang miliknya. Pria itu bertindak bagaikan pria yang sedang menjaga teritorinya dari serangan musuh. Dan hal itu membuatnya ingin terkekeh geli.


"Yang Agung," ucap kedua pria itu serempak sembari membungkukkan tubuh mereka tanda memberi hormat kepada Khan.


Khan menganggukkan kepalanya. "Perkenalkan diri kalian," ucap Khan dengan nada tegasnya.


"Baik, Yang Agung. Saya Abdan dan ini rekan saya Jullian." Pria yang berambut pendek memperkenalkan diri sekaligus berbicara mewakili rekannya.


Pria bernama Abdan tersenyum tipis sembari menganggukkan kepala kepada Sergei, Diva, Farah dan Shanum. Sedang rekannya hanya mengangguk dengan kaku tanpa senyum sama sekali.


"Kalian persiapkan pakaian basket untuk besok sore. Kalian akan ikut denganku dalam pertandingan besok. Oh, sekalian belikan juga pakaian basket untukku."


Kedua pria itu tidak bertanya apa pun. Bahkan mengangkat alisnya pun juga tidak. Mereka hanya menganggukkan kepala dengan tegas tanda patuh kepada perintah Khan.

__ADS_1


"Oke, kalian boleh kembali ke tugas kalian." Khan memberi isyarat dengan tangannya untuk mengembalikan kedua pria itu kembali pada pekerjaannya. Dan mereka langsung melangkah keluar dari restoran, setelah Khan mempersilahkannya.


"Jadi itu yang akan ikut bertanding basket besok. Oke, cukup tinggi juga. Cocoklah untuk bermain. Asalkan mereka pernah bermain basket, aku rasa kita pasti akan menang," ucap Diva.


"Dan aku mau ke toilet dulu ya. Setelah ini kita pulang kan. Oh iya Igei, wajahmu jangan ditekuk terus. Tetap saja bagiku masih lebih mempesona dirimu dibandingkan pria mana pun," tambah Diva sembari mengusap salah satu pipi pria itu dengan tekanan lembut telapaknya. Kemudian ia langsung melepaskannya kembali sambil tersenyum menggoda.


Sergei terpaku mendengar ucapan Diva. Dia tampak linglung. Tapi Diva tidak menunggu respon dari Sergei, gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menuju toilet seperti yang sudah dikatakannya barusan.


Sergei tersadar dari keterpakuannya. Pria itu mendesah lalu bangun dari duduknya. "Sepertinya aku harus menyusul gadis nakal itu ke toilet," ungkapnya kepada tiga orang yang berada di meja itu.


Ketiganya memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap tingkah laku kedua orang tersebut. Farah tampak mendengus sembari memutar bola matanya, Shanum dengan senyum gelinya. Sedangkan Khan hanya mengeluarkan senyum tipisnya. Khan melirik Shanum, dia sedang berbicara melalui ikatan mereka.


Pria itu perlahan sedang dibuat gila oleh Diva. Semoga kegilaan itu berujung bahagia.


Oh jadi, kau juga sama dong, sudah dibuat gila olehku, Adri.


Betul, aku malah bukan hanya dibuat gila olehmu, Shasha. Aku juga pernah dibuat kehilangan sebagian nyawaku karenamu.


Oh ya, kapan itu?


Saat kau membenciku dan melarikan diri dariku.


Terdapat jeda, Shanum tidak langsung menjawabnya. Gadis itu menghela napasnya sembari menatap Khan dan menggenggam jemari pria itu di bawah meja.


Adri... sudahlah. Itu semua sudah berlalu. Tidak perlu diingat-ingat lagi, oke. Yang penting sekarang aku bersamamu.


Khan tersenyum sembari balas menggenggam erat jemari gadis itu.


"Psst, Shanum..."


Gadis itu langsung melirik ke samping, saat dia mendengar panggilan dari sahabatnya Farah.


"Ya, ada apa?" jawab Shanum pelan.


"Tolong kau tanyakan pada kekasihmu ya. Pria yang tadi bernama Jullian itu apakah sudah memiliki pasangan atau tidak?"


Mendengar ucapan Farah, seketika senyum terbit di bibir Shanum. Dia menatap Farah dengan pandangan menggoda. "Wah, ternyata seleramu itu yang lebih seksi dan dominan ya. Kau tidak takut nanti diterkam olehnya. Pria itu terlihat seperti seorang predator loh."


"Keduanya tidak terlihat lembek. Tapi pria yang kuincar itu memang tampak lebih berbahaya dari yang satunya. Dan itu membuatku sangat penasaran," sahut Farah sambil tersenyum smirk.


Shanum seketika tersenyum geli sembari menepuk pundak Farah dan berkata, "Oke, nanti aku tanyakan pada Adri. Semoga berhasil, Farah. Jangan sampai kali ini tidak tertangkap."


Farah mengacungkan jempolnya ke arah Shanum. Dan matanya terlihat berbinar-binar. Shanum menggelengkan kepalanya. Dia sudah tahu, sebentar lagi Farah akan memulai pengejarannya.


Tidak ada kamus menunggu dikejar untuk gadis itu. Jika kau tertarik, maka akan sah-sah saja untuk mengejar. Dan semoga pria yang bernama Jullian itu tidak keberatan untuk dikejar oleh wanita.


"Ada apa, Sayang? Kenapa keningmu berkerut begitu? Aku tidak dapat membaca pikiranmu, karena kau menutupnya." Khan bertanya langsung kepada Shanum, hingga memecahkan pemikirannya soal Farah.


"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir soal Farah," bisik Shanum, lalu ia menceritakan kepada Khan tentang ucapan Farah tadi melalui ikatan mereka.


Dan Khan hanya menyeringai setelah Shanum selesai menjelaskan kepadanya.


Farah akan sangat terkejut jika memang dia tertarik dengan Jullian.


Mengapa bahasamu terdengar mencemaskan begitu, Adri?


Tidak ada yang perlu dicemaskan, pria itu belum memiliki pasangan. Tetapi...


Lanjutkan, Adri! Jangan membuatku tambah khawatir.

__ADS_1


Yah, pria itu jauh lebih kaku dan dingin dariku, Shasha. Dia tidak pernah terdengar dekat dengan wanita. Tidak banyak bicara dan sangat misterius. Dia senang menyendiri, sampai-sampai tidak ada satu pun rekannya yang pernah bergaul akrab dengannya.


Oh, sungguh malang nasib Farah. Dia membutuhkan tekad sekeras baja jika ingin mendekati pria yang dua kali lebih dingin dan kaku seperti itu.


__ADS_2