
Raisa melihat ke arah Khan dengan tatapan ramah, senyum terbit di bibirnya. Dia menganggukkan kepalanya untuk menyapa. Dengan hati-hati pria itu membalas juga dengan anggukkan dan senyum sopan.
"Saya Raisa, Ibu Shanum. Mohon maaf Nak Khan, mungkin hari ini kami sudah bersikap kurang baik. Terutama apa yang telah dilakukan oleh suami saya. Dia hanya khawatir terhadap putri kesayangannya, harap maklum." Suara lembut wanita itu mengisi keheningan yang sebelumnya terjadi di ruangan itu.
"Tentang permasalahan kebakaran di rumah kami, tidak ada maksud untuk menuduh siapa pun. Namun tidak menutup kemungkinan, jika Nak Khan ingin membantu, saya sangat senang menerimanya. Termasuk bantuan untuk mempelajari kekuatan yang kini dimiliki oleh suami saya. Apakah Nak Khan masih bersedia membantu?"
Khan menatap wanita itu cukup lama, memikirkan setiap patah kata yang diucapkannya dengan berhati-hati. Ibu Shanum ternyata menguasai bahasa Inggris dengan fasih, ia juga memiliki sifat yang bertolak belakang dengan suaminya. Wanita itu lebih lembut, sabar dan santun. Permintaannya dikemas rapi tanpa memaksa. Tetapi justru karena sikapnya itu orang akan merasa bersalah jika tidak mengabulkan permintaannya.
Hal itu terjadi juga dengan Khan saat ini, ia tidak mungkin menolak permintaan wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu. Jadi ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Terima kasih, Nak Khan," ucap wanita itu ikut membalas senyum Khan.
Lalu ia menoleh ke arah Jullian. "Siapa namamu tadi, Nak?" tanya Raisa kepada pria itu.
"Jullian," jawabnya singkat. Muka pria itu masih tetap datar.
"Oke, Jullian. Mohon bantuannya ya," kata Raisa. Pria itu mengangguk seraya membungkuk hormat. Setidaknya meski minim ekspresi, pria yang bernama Jullian itu tetap sopan, pikir Raisa.
Sekarang Raisa beralih menatap ke suaminya. "Sudah diizinkan, Ayah bisa langsung bertanya soal kekuatan itu kepada pria yang ditunjuk Nak Khan tadi," kata wanita itu sembari tersenyum.
Dimas tidak menjawab, wajahnya semakin terlihat masam. Dia tidak fokus melihat ke arah istrinya lagi. Tatapan pria itu kini beralih kepada Jullian dengan ekspresi tak terbaca, lalu matanya berpindah ke arah Khan, dan menatapnya tajam dengan wajah kaku. Sepertinya Dimas masih menolak untuk berurusan dengan Khan dan kaki tangannya, jika dilihat dari reaksinya.
"Ayah..." Ibu Shanum mencoba memperingatkan pria itu dengan melemparkan semacam kode melalui tatapan matanya. Tapi Dimas tidak menggubrisnya. Pria itu mendesah keras, dan beranjak bangun dari duduknya, kemudian meninggalkan ruangan itu tanpa permisi, dengan wajah melengos ke arah lain.
Raisa menghela napasnya, melihat tingkah suaminya itu. "Tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Tolong berikan dia waktu untuk menelaah semua ini ya," katanya sembari meringis. Khan tidak menunjukkan reaksi yang berarti atas tingkah laku ayah Shanum itu.
Dia tidak ingin semakin memperkeruh situasi dengan amarahnya, meski sebenarnya ia merasa cukup tersinggung. Tidak ada yang pernah bersikap lancang secara terang-terangan seperti itu terhadapnya. Khan sudah terbiasa dihormati dan disegani karena gelar dan kekayaannya. Namun demi kekasih hatinya ia bersedia memberikan toleransi.
"Sebaiknya Ibu juga beristirahat. Hari sudah beranjak malam. Kita bisa melanjutkan percakapan ini besok. Aku juga ingin beristirahat, Bu. Hari ini sungguh melelahkan untuk kami." Shanum memotong percakapan itu agar tidak semakin berlarut-larut. Dia sudah merasa sangat penat, ingin segera menyentuh kasurnya yang empuk, dan mengistirahatkan matanya.
Terutama setelah mendengar penolakan ayahnya terhadap hubungannya dengan Khan. Otaknya mendadak macet dan hatinya terasa kebas. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Tenaganya seakan-akan terkuras habis.
Shanum meregangkan tungkai lengannya, lalu menutup mulutnya berusaha menahan kuap. Khan memperhatikan gadis itu dari posisinya dengan ekspresi lembut.
"Kau belum makan, Shasha. Setidaknya perutmu harus diisi meski cuma sedikit," seloroh Khan. Shanum mengendikkan bahunya, lalu menyandar di kursi sambil berusaha menahan matanya yang terasa berat untuk dibuka. Melihat reaksi gadisnya Khan segera memanggil Jullian dengan isyarat tangannya, ia berbisik di telinga pria itu. Jullian menjawab dengan anggukan kepalanya, kemudian segera menghilang dari ruangan itu.
Raisa yang melihat menghilangnya Jullian dalam sekedipan mata seketika melongo kaget. Meski ia sudah pernah mengalaminya sendiri, tetapi melihat di depan mata secara langsung cukup membuatnya terpana.
"Jullian sedang membeli makanan untuk kita," kata Khan. Tak lama Jullian kembali dengan membawa beberapa bungkusan di dalam sebuah kantong plastik. Khan memberikan perintah kepada Jullian untuk mengatur barang yang dibawanya itu di ruang makan. Pria itu mengangguk patuh, lalu bergerak keluar dari ruangan itu diikuti oleh Abdan.
Khan menatap ke arah Shanum dan Raisa sembari tersenyum tipis lalu berkata, "makanan sudah tersedia di ruang makan. Jika Anda berkenan dapat menikmatinya bersama kami." Khan beranjak mendekati Shanum yang terlihat tertidur sembari menyandar di kursinya.
"Maaf, Mam. Saya harus membawa putri Anda ke ruang makan. Dia harus mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum beristirahat." Khan mengusap pipi gadis itu. Merasakan ucapan hangat, Shanum membuka matanya sedikit, berusaha bangun, dan tersenyum.
Khan tidak mengatakan apa-apa. Dia membalas senyum gadis itu, kemudian mengangkat Shanum, ia menggendongnya dalam pelukan. Dia tidak menunggu ucapan persetujuan dari Raisa. Dengan yakin ia bertindak secara otomatis untuk membantu kekasihnya itu.
"Adri, aku masih bisa jalan, tidak perlu digendong. Lagipula malu kan ada Ibu," protes Shanum sambil bergerak-gerak dalam gendongan pria itu minta diturunkan kembali.
Namun Khan semakin mengetatkan gendongannya. "Aku tidak mau kau tersandung karena mengantuk. Matamu saja sudah tinggal segaris itu. Biarkan aku membawamu dalam pelukanku," bisik Khan lembut. Shanum tidak bisa menolak lagi, dia segera menyandarkan kepalanya di lekukan pundak Khan. Gadis itu sebenarnya senang berada di kehangatan rengkuhan pria itu. Hati dan pikirannya yang gelisah mendadak tenang. Jika boleh, Shanum ingin selamanya berada dalam pelukan Khan.
__ADS_1
Raisa yang melihat seluruh adegan itu terpaku di tempatnya, ia mengamati perilaku Khan terhadap putrinya. Betapa perhatian dan sayangnya pria itu terhadapnya. "Mari, Mam, kita ke ruang makan," ajak Sergei sambil tersenyum ke arah Raisa.
Wanita itu langsung tersadar dari keterpakuannya, mengangguk sebagai balasan terhadap ucapan Sergei. Mereka berdua bergegas menuju ke ruang makan. Meninggalkan ruang tamu yang ternyata sudah kosong, hanya menyisakan mereka berdua.
Raisa memasuki ruang makan dan mendapatkan kejutan kembali dari Khan. Pria itu terlihat sedang melepaskan satu-persatu daging sate dari tusukannya, lalu menyatukannya dengan lontong ke dalam piring. Sementara Shanum duduk manis di sebelahnya memperhatikan Khan dengan wajah mengantuknya. Raisa menatap sambil menarik kursi, dan duduk di ujung meja agak jauh dengan putrinya itu.
"Ayo dimakan, Mam," kata Sergei. Pria itu duduk di sebelah Raisa. Memberikan piring dan sendok untuknya, sementara pria itu mulai menyendokkan lontong ke dalam piring miliknya sendiri.
"Iya, Bu. Ayo makan," sambung Shanum, menoleh ke arah Raisa sambil mengunyah sate berikut lontong yang disodorkan oleh Khan ke dalam mulutnya. Wajahnya bersemu merah mendapatkan wajah terpana dari ibunya.
Gadis itu sesungguhnya merasa malu. Tapi dia tidak bisa menolak perilaku manis pria itu. Sebelum nanti ayahnya kembali memisahkan mereka, sebaiknya dia memanfaatkan kesempatan yang ada.
Pria itu makan sepiring berdua dengan putrinya. Sungguh mencengangkan!
"Mam..." Sergei memanggil wanita itu lagi. "Eh.. i-iya," jawab Raisa dengan terbata. Wanita itu masih terpana melihat kemesraan yang dilakukan oleh Khan terhadap putrinya, hingga menjadi linglung sendiri.
Raisa memperhatikan reaksi Shanum dalam membalas perhatian pria itu. Putrinya terlihat lebih lepas dan bahagia, meski sedikit malu-malu. Raisa bertanya-tanya, sudah sejauh mana hubungan keduanya selama ini?
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang berada di seputar meja makan. Mereka semua terlihat biasa saja melihat tingkah kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu. Tidak ada yang tampak kaget seperti dirinya.
"Anda mungkin sedang bertanya-tanya soal mereka berdua kan. Tenang saja, Mam. Hubungan mereka tidak sejauh apa yang kau pikirkan. Khan sangat menjaga putrimu. Dia serius dengan putri Anda." Sergei menoleh ke arah Raisa dan menatapnya dengan senyum.
"Ceritakan padaku," sahut Raisa dengan wajah penasaran. Walau bagaimanapun Raisa harus tahu sejauh mana perkembangan hubungan mereka berdua. Yang dia tahu terakhir kali mereka bertengkar. Shanum memang tidak bercerita secara detail, hanya garis besarnya saja. Tapi dari cerita itu, Raisa bisa menyimpulkan bahwa putrinya itu dibuat sakit hati oleh pria itu.
Sergei terdiam, pria itu sedang menimbang-nimbang dan memikirkan apa yang harus ia katakan soal hubungan mereka kepada wanita di sebelahnya ini.
Raisa terlihat kecewa. "Katakan saja yang kau anggap pantas untuk kuketahui. Aku harus mendengarkan juga dari kacamata orang lain. Dan aku berjanji untuk tidak mengatakan kepada siapa pun tentang informasi yang kudapatkan darimu," desak Raisa.
Sergei tersenyum tipis mendengar kata-kata ibu Shanum itu. Dia berhadapan dengan wanita yang ternyata sangat pintar bernegosiasi. Ketajaman pikirannya tidak sesuai dengan kelembutan sikap yang diperlihatkannya. Sergei melihat wajah penuh keingintahuan yang dalam terpancar di sana.
"Baiklah! Aku hanya bisa mengatakan bahwa mereka berdua ditakdirkan untuk bersama. Anda dan suami tidak akan bisa memutuskan ikatan di antara mereka, semudah membalikkan telapak tangan. Saranku, sebaiknya Anda dan suami memikirkan matang-matang jika ingin memisahkan mereka." Sergei mengungkapkannya dengan nada suara santai namun penuh makna.
"Jika kami mendukung hubungan mereka, apakah kau yakin putriku tidak akan mengalami sakit hati lagi seperti tempo hari?" tanya Raisa dengan ekspresi ragu.
"Aku tidak bisa menggaransi putrimu tidak akan mengalami hal itu kembali, Mam. Karena setiap hubungan pasti akan mengalami lika-liku, baik yang manis maupun yang pahit. Tinggal seberapa jauh keduanya serius dalam menghadapinya. Dan dibutuhkan banyak kepercayaan serta ketangguhan jika ingin mendampingi Khan Adrian, Mam. Pria itu bukanlah pria biasa."
"Ya, aku tahu, dia pengusaha kan. Shanum sudah pernah mengatakannya kepada kami," sahut Raisa.
"Itu betul." Sergei tersenyum penuh rahasia.
Raisa mengernyit. Dia menatap dengan pandangan mata menyelidik ke arah pria itu.
"Sebentar, menilik dari kata-katamu, mengapa seakan-akan pria itu memiliki status lain?" tanyanya sembari memicingkan matanya. "Jangan katakan pria itu seorang Mafia atau pria yang memiliki banyak istri," ucapnya lagi.
"Astaga, Mam! Anda salah besar." Sergei tersenyum geli mendengar kata-kata Raisa. Pria itu ingin tertawa keras membayangkan Khan Adrian memiliki banyak istri. Wajah sekaku papan dan sedingin musim dingin itu bagaimana bisa memiliki banyak istri. Shanum mau dengannya saja sudah merupakan suatu mukjizat.
Dan tentang sebagai seorang Mafia. Meski ada benarnya juga prediksi ibu Shanum itu. Mereka semua yang berada di dalam suatu klan, terkadang suka bertindak bar-bar mirip dengan tingkah organisasi Mafia. Apalagi di dalam dunia sihir, membunuh dan terbunuh sudah merupakan suatu hal yang biasa.
Tapi wanita itu tidak perlu tahu. Sergei tidak mau kedua orang tua Shanum mengetahui tentang hal itu dari mulutnya. Biarkan saja mereka mengetahuinya sendiri dari putrinya atau mengalaminya sendiri. Sergei tidak ingin disebut sebagai orang yang merusak hubungan Khan dengan calon mertuanya itu.
__ADS_1
"Jadi, siapa Khan Adrian itu, Nak Sergei?" Desakan ibu Shanum barusan mengembalikan Sergei berkelana dalam lamunannya. Dia berdeham pelan, lalu menoleh ke arah wanita itu.
"Anda yakin ingin mengetahuinya, Mam?" tanya pria itu sembari tersenyum simpul. Sergei menduga wanita itu pasti akan langsung menyetujui hubungan mereka jika tahu bahwa yang akan mempersunting putrinya itu adalah seorang berpengaruh kuat, seperti seorang raja, dan sangat kaya raya.
Bukannya Sergei berprasangka buruk dengan mengatakan ibu Shanum itu adalah seorang wanita yang gila harta. Tidak juga sebagai wanita yang haus akan kekuasaan. Namun berdasarkan pengamatannya, bukankah biasanya para wanita memang lebih menyukai pria yang membawa atribut demikian di dalam dirinya.
Raisa mengangguk. Sergei lalu kembali tersenyum. "Pria itu adalah Yang Agung dari Klan Altan. Salah satu Klan terbesar di dalam dunia sihir kami, Mam. Dia sangat berpengaruh dan kaya. Anda tentu sudah tahu tentang dunia sihir kan. Putri dan suami Anda memiliki darah sihir itu berikut kekuatan yang menyertainya."
Raisa terkesiap kaget, bahkan sebelum Sergei selesai dengan kata-katanya. Demi Tuhan, pria itu seorang Raja. Putriku mencintai seorang Raja. Oh, Putriku yang malang!
"Mam..." Sergei menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Raisa. Dia tampak khawatir melihat ekspresi syok yang tergambar di wajah wanita itu.
Raisa menggelengkan kepalanya. "Kau tidak sedang bercanda kan, Nak Sergei?" tanyanya dengan wajah penuh harap. Sepertinya wanita itu ingin pria itu hanya bertingkah konyol dan mengerjainya saja.
"Tidak, Mam. Aku tidak sedang bercanda," jawab pria itu.
Raisa membekap wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Dia terdengar mendesah lelah, wajahnya terlihat sedih.
Sergei mengangkat alisnya, dia bingung menilai reaksi ibu Shanum itu. Wanita itu bertingkah seakan-akan mendengarkan berita duka atas kematian seseorang. Apakah seburuk itu mengetahui bahwa calon menantunya itu adalah seseorang yang setara dengan raja dan sangat kaya?
"Mengapa harus putriku?" gumamnya dengan suara lirih.
"Kau tidak suka putrimu berpasangan dengan Khan?" Sergei bertanya kembali kepada Raisa dengan nada suara heran bercampur bingung.
Wanita itu menghela napasnya lalu mengambil gelas berisi air dari meja. Dia meneguknya, kemudian meletakkan lagi di tempat semula. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
Dia lalu menoleh, dan berkata, "aku tidak mau hidupnya semakin sulit, Nak Sergei. Putriku itu sudah banyak mengalami mimpi buruk. Jika dia harus berhadapan lagi dengan segala kerumitan yang terjadi di dalam hubungannya, aku tidak tahu apakah dia akan sanggup menjalaninya." Wanita itu mengalihkan pandangan ke arah putrinya. Menatap wajahnya yang cantik sedang tersenyum ke arah Khan.
"Kehidupan kaum bangsawan tidaklah mudah. Aku tahu, Nak Sergei. Karena adikku menikah dengan pria dari kalangan itu. Aku menjadi tempat keluh kesahnya yang tak berujung dengan kebahagiaan itu selama ini. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi dengan putriku," ucap Raisa sedih.
Sergei mendesah. Akhirnya dia tahu alasan wanita itu bermuram durja. "Berarti Anda harus percaya kepada putri Anda, Mam. Jika memang Khan Adrian adalah pilihannya, berarti Shanum sudah siap dengan segala kerumitan yang menyertainya. Aku yakin, Shanum adalah gadis yang kuat. Putri Anda itu menyimpan kekuatan dan ketegaran yang tidak dimiliki orang lain. Dia juga memiliki cinta tulus dan tanpa pamrih untuk orang-orang di sekitarnya. Putri Anda seorang pejuang, Mam. Darah pejuang itu diturunkan oleh nenek moyangnya yang juga merupakan salah seorang Raja dari Klan lain. Anda harus bertanya padanya soal itu, jika belum mengetahuinya," kata Sergei.
Sergei mencoba membuka pikiran wanita itu. Karena wanita itu harus tahu bahwa putrinya itu seorang yang tidak bisa diremehkan. Sergei sudah sering melihat dengan mata kepalanya sendiri, gadis itu menyimpan suatu kekuatan dahsyat dalam dirinya. Gadis itu adalah orang yang ditakdirkan untuk mendampingi Khan Adrian. Bahkan dia juga diramalkan akan memimpin seluruh Klan di dalam kuasanya.
Raisa tidak menjawab. Dia berada dalam dunianya sendiri, memikirkan seluruh ucapan Sergei barusan. Wanita itu belum bisa mengambil keputusan, harus berbuat apa terhadap hubungan Shanum dan Khan. Selain itu dia juga harus memikirkan tindakannya terhadap suaminya yang sedang merajuk. Kepalanya terasa penuh menerima informasi bertubi-tubi yang mengejutkan ini.
"Aku sudah kenyang. Sisanya buatmu saja, Adri." Shanum menolak sendok yang disodorkan oleh pria itu untuk yang kesekian kalinya. Khan langsung memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri. Dan mengambil gelas berisi air di meja untuk diserahkan kepada Shanum. Gadis itu mengambil gelas dari tangannya dan mensesapnya perlahan.
Khan menatap gadis di hadapannya dengan pandangan lembut. Dia menggenggam erat jemari gadis itu di pangkuannya. Khan senang hari ini berakhir dengan baik. Dia masih bisa berdekatan dengan Shanum. Untungnya ibu Shanum tidak menghalang-halanginya untuk berada di sisi gadis itu. Masalah ayah gadisnya akan ia pikirkan besok saja. Khan tidak mau pusing memikirkan kebencian pria itu terhadapnya.
"Kau mau langsung ke kamar?" tanya pria itu kepada gadisnya. Shanum mengangguk. Dia mulai menguap kembali. "Ayo, aku antar ke kamar." Khan menarik Shanum untuk berdiri dengan lembut. Kemudian dia menoleh ke arah Raisa.
"Aku izin mengantar Shasha ke kamar, Mam. Apakah boleh?" tanya Khan. Raisa melihat ke arah pria itu. Ia tampak ragu, namun kemudian saat ia melihat sekelebatan pandangan memohon dan kesungguhan di mata pria itu, Raisa kontan menganggukkan kepalanya. Dia tidak kuasa menolaknya.
"Anda tidak melarang Khan mengantarkan Shanum ke kamarnya. Bukannya hal itu berbahaya, Mam?" pancing Sergei sembari terkekeh geli.
Raisa mendesah kalah. "Aku tidak bisa Nak Sergei. Pria itu terlihat menyayangi putriku. Dan entah mengapa hatiku berkata, dia akan selalu melindungi Shanum. Baik dari orang lain yang berniat jahat, maupun dari dirinya sendiri."
Mendengar jawaban wanita itu, Sergei tersenyum. "Aku senang mendengar jawaban Anda. Semoga Anda tetap akan mendukung putri Anda kedepannya, Mam. Dia perlu dukungan penuh untuk menggapai takdirnya."
__ADS_1