Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 103 Pria Cantik


__ADS_3

Shanum mengenakan gaun katun berwarna merah muda lembut, yang sesuai dengan suasana hatinya yang sedang bahagia. Dia merasa seolah-olah dapat menghadapi semua rintangan yang menghadang di depan asalkan bersama Khan.


Shanum membuka pintu kamar mandi dan melihat pria itu tampak serius memegang ponselnya. Kemudian pria itu mengerjap menatapnya, ketika menyadari Shanum sudah berdiri tak jauh darinya.


Senyum terbit dari bibir Khan. "Kau sangat cantik, Istriku. Rasanya aku ingin mengikat tanganmu dan tanganku menjadi satu. Agar kita tidak pernah lagi berjauhan."


Shanum memutar bola matanya. "Astaga. Kau sudah gila, Adri."


"Mungkin. Kaulah yang membuatku seperti ini, Shasha." Khan mendekati Shanum, lalu ******* bibirnya dengan dalam. Lagi-lagi bibir Shanum habis dijajah oleh bibir Khan. Dan gadis itu tidak bisa mengelak, dia selalu pasrah menerimanya.


"Aku tak bisa hidup tanpamu, Shasha. Aku bahkan tidak bisa membayangkan diriku mencoba hidup tanpa dirimu. Gagasan itu membuatku gila," ucap Khan setelah ia melepaskan pagutannya.


Shanum terengah, dia berusaha mengatur napasnya. Matanya juga ikut berkaca-kaca ketika mendengar ucapan pria itu. "Jangan membuatku menangis lagi, Adri. Nanti kita tidak jadi mengisi perut kita. Aku sudah sangat lapar."


Khan mengusap lembut bibir Shanum yang membengkak. "Baiklah, kita akan segera turun ke ruang makan." Pria itu menggenggam jemari Shanum dan mengajaknya keluar dari kamar.


Lima belas menit kemudian.


"Seharusnya aku meminta pelayan mengantarkan makanan kita ke kamar saja pagi ini. Jadi kita tidak perlu berputar-putar mencari ruang makan." Khan menghela napasnya.


"Dan mengapa aku tidak menemukan satu orang pun penjaga di kastil seluas ini. Sungguh lalai Chinua membiarkan tempatnya tanpa penjagaan yang ketat." Khan terlihat mengomel sepanjang langkah mereka mencari ruang makan.


Shanum terkekeh geli melihat suaminya yang tampak kesal karena mereka tersasar di kastil yang memiliki banyak lorong menyesatkan itu. Pria itu mendadak berubah menjadi pria cerewet yang bukan dirinya. Shanum sendiri tidak pernah melihat Khan mengomel hingga seperti itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Yang Agung?" Tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka seorang wanita pelayan. Shanum sempat memekik karena kaget dan Khan langsung bersiaga.


"Maaf, saya sudah mengagetkan." Pelayan itu menundukkan kepalanya semakin rendah di hadapan Khan dan Shanum.


Khan menghembuskan napasnya. "Mengapa tempat ini sangat kosong, kemana para penjaga?" tanya Khan dengan nada suara tegas.


"Mereka ada, Yang Agung. Tapi memang Ratu memberikan perintah untuk mengosongkan lantai tempat Anda berdua menginap. Para penjaga bersiaga dan berpatroli di titik lainnya."


"Sepertinya Chinua memberikan kita privacy," bisik Shanum sembari tersenyum.


"Tapi tidak juga sampai harus mengosongkan satu lantai tanpa penjagaan. Hal itu terlalu beresiko. Kita tidak tahu kapan komplotan penyihir hitam itu akan menyerang." Pria itu terlihat kesal.


"Kau, tolong antar kami menuju ruang makan!" perintah Khan dengan nada suara kaku. Pelayan yang berada di depan mereka itu terlihat menganggukkan kepala sembari gemetar. Dia tidak berani menatap Shanum dan Khan, kepalanya terus ditundukkan.


"Silahkan Anda berdua mengikuti saya, Yang Agung." Wanita pelayan itu melangkah di depan, mengarahkan mereka menuju ke tempat yang Khan perintahkan.


Sesampainya di ruang makan, Shanum melihat tempat itu kosong. Tidak ada satu orang pun yang berada di sana. Pelayan itu pamit undur diri untuk memberitahukan koki agar dapat menyiapkan makanan bagi mereka.


Khan langsung menarik bangku untuk Shanum, setelah itu dia duduk di sampingnya. Shanum memperhatikan wajah Khan masih terlihat kaku dan dingin. Shanum mendesah, lalu bangkit dari duduknya. Dia dengan agresif duduk di pangkuan Khan, membuat pria itu kaget.


"Hei, jangan berwajah dingin seperti itu. Aku tidak menyukainya, Adri," bisik Shanum sambil melingkarkan lengannya di leher pria itu.


Khan tidak menjawab, namun perlahan senyum tipis terbit di bibirnya. Pria itu menghela napasnya dan menatap Shanum dengan lembut.


Maafkan aku, Sayang. Aku merasa kesal pada Chinua hingga tanpa sadar berimbas kepadamu. Aku hanya tidak ingin kecolongan lagi. Kejadian anak panah kemarin saja aku belum berhasil menemukan pelakunya.


Pria itu berkata dalam ikatan mereka. Khan memang harus bersikap waspada, musuh mereka masih belum diketemukan. Dia tidak mau ada hal membahayakan yang muncul di tempat ini karena kelalaian.


Shanum menangkup pipi Khan dengan telapak tangannya seraya menggelengkan kepalanya.


Tidak perlu emosi, Adri. Chinua pasti sudah mempersiapkan penjagaan yang ketat. Tidak mungkin dia merelakan daerah kekuasaannya diserang dengan mudah. Kau tahu bagaimana sikap wanita itu.


"Astaga, kalian pengantin baru. Dari tadi sibuk saling bertatapan mesra dan enak sekali duduk saling berpangkuan. Yang masih single kan jadi iri melihatnya." Mendadak suara cempreng Farah terdengar di ruang makan itu, membuat Shanum dan Khan serentak menoleh.


Shanum melihat Farah serta Diva memasuki ruang makan sembari menyeringai. Mereka menuju meja, menarik bangku dan duduk di seberang mereka.


Pipi Shanum langsung terasa panas. Dia pikir tidak ada lagi yang akan makan bersama mereka. Karena waktu sarapan seharusnya sudah lewat lama. Tapi kedua sahabatnya ternyata juga terlambat menikmati sarapan mereka.


Shanum bergerak, dia ingin bangun dari posisinya saat itu. Tapi Khan menahannya dengan mencengkeram lengannya.


Lepaskan aku, Adri. Malu dilihat Farah dan Diva.


Shanum berkata dalam ikatan mereka sembari melotot ke arah Khan. Tapi pria itu tetap menguncinya dengan kuat. Bahkan Shanum merasa pria itu menggunakan kekuatan sihirnya untuk membuatnya tetap berada di pangkuan pria itu.


Adri...

__ADS_1


Tidak, Sayang. Kau tetap harus duduk dipangkuanku.


Tapi mengapa, Adri? Bagaimana aku bisa makan dengan posisi seperti ini?


Shanum menatap Khan dengan tajam. Dia merasa risi menjadi tontonan kedua sahabatnya.


Tiba-tiba Khan mengangkat Shanum, merubah posisinya menjadi duduk menyamping, namun tetap berada di pangkuan pria itu.


Shanum mendesah lelah.


Sekarang lebih mudah kan untuk makan.


Shanum mencubit paha Khan. Tapi pria itu tetap bergeming. Dia hanya menampilkan senyum tipis ke arah Shanum. Sepertinya cubitan Shanum kurang keras hingga tidak berakibat apa pun pada pria itu.


Dan ketika Shanum akan mencubitnya kembali, Khan langsung menangkap tangan Shanum.


Kau cubit aku lagi, maka aku akan langsung mencium bibirmu di hadapan kedua sahabatmu.


Khan mengangkat alisnya, pria itu menantangnya.


Awas ya! Kau akan lihat pembalasanku nanti.


Shanum melotot sembari mengerucutkan bibirnya.


Oh, aku akan menunggu pembalasanmu itu, Sayang. Lakukan saja, aku akan meladeninya. Sekarang kau duduk manis saja di pangkuanku, biarkan aku melayanimu makan.


Kontan wajah Shanum semakin memerah. Dia tidak menyangka ternyata sikap Khan setelah menjadi suaminya lebih parah dibandingkan saat masih berstatus kekasih.


Shanum melirik ke arah kedua sahabatnya dan melihat wajah keduanya melongo. Shanum meringis malu.


"Kalian boleh melanjutkan makan, hiraukan saja kami. Anggap saja tidak ada," ucap Khan.


Kata-kata Khan yang aneh itu dilakukannya sambil mengambil roti bakar yang baru saja diletakkan pelayan di hadapannya. Lalu ia beralih mengoleskan mentega dengan gaya anggunnya seperti biasa, dengan tenang.


Shanum mengedarkankan pandangannya dan melihat kedua sahabatnya semakin syok. Dia ingin tertawa keras melihat ekspresi mereka.


"Apa?" tanya gadis itu ketika Khan tidak berkata apa-apa. Matanya seolah mengatakan gadis itu sungguh menyebalkan.


Senyum Shanum memudar. Dia mulai cemas melihat roman wajah Khan. Dan Farah bukannya diam malah semakin menatap penuh tantangan kepada Khan. Nyalinya memang patut diancungi jempol.


Cukup, Adri. Kau sudah tahu bagaimana usilnya mulut Farah. Jangan diambil ke dalam hati ucapannya itu.


Shanum berusaha meredam ekspresi dingin membekukan yang terlihat di wajah Khan. Dia tidak ingin pria itu marah kepada Farah.


Lalu perlahan bibir Khan melebar. Dia tersenyum sangat manis ke arah Farah. Gadis itu tersedak air yang sedang ia minum tatkala melihat senyuman itu. Senyum Khan yang sangat jarang itu terlihat bagaikan lampu bohlam seribu watt yang memancarkan sinar menyilaukan.


Khan menundukkan kepala, ia mengecup lembut pipi Shanum lalu berkata, "Ya, aku meleleh oleh cintanya dan semakin meleleh menerima kehangatan darinya," sahut Khan dengan tatapan lekat ke arah Shanum.


Farah terbatuk-batuk semakin keras. Dan Shanum juga mendengar suara tawa ditahan yang muncul dari mulut Diva. Shanum tidak tahu lagi bagaimana harus bereaksi. Wajahnya sudah bolak-balik panas sejak tadi.


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan keras. Mereka semua menoleh mencari asal suara. Yang ternyata berasal dari seorang pria.


"Wow, luar biasa. Aku merasa tersanjung bisa mendengar ucapan tentang cinta yang muncul dari mulut Yang Agung Khan Adrian dari Klan Altan."


Seorang pria yang sungguh tampan namun juga berwajah cantik berkomentar sembari bertepuk tangan dan mendekati meja makan. Pria itu memiliki rambut ikal berwarna coklat keemasan. Netra matanya memiliki warna yang unik, warna biru cenderung ungu yang dapat membuat siapa pun yang melihatnya terbius oleh tatapannya.


"Kemunculan yang dramatis, Osbert. Sungguh tipikal dirimu." Mendadak Chinua muncul di belakang pria itu sembari memutar bola matanya.


"Maafkan asistenku ya. Dia memang rajanya drama. Jadi tidak perlu heran melihatnya."


"Aku tidak seperti itu, Ratuku. Aku hanya senang melihat pasangan yang penuh cinta ini hingga rasanya ingin menitikkan air mata jadinya," ucap Osbert dengan wajah terlihat lembut.


Chinua mendengus dan memberikan isyarat seolah dia berkata, "See... Raja Drama kan."


Semua orang yang berada di sana menjadi paham maksud ucapan Chinua barusan. Pria itu memiliki tubuh pria tapi perilaku mirip wanita.


"Jadi bagaimana pengantin baru kita. Apakah kamarnya nyaman?" tanya Chinua.


"Ya, sangat nyaman," jawab Shanum dengan malu-malu sembari mengunyah makanan yang disodorkan Khan.

__ADS_1


"Dan, tolonglah Khan. Biarkan Shanum duduk di bangkunya sendiri. Untuk apa kau memangkunya seperti itu. Tidak akan ada yang berani mengambilnya darimu. Dia sekarang milikmu." Chinua kembali memutar bola matanya.


"Aku masih belum rela jauh-jauh darinya," jawab Khan dengan ekspresi datar.


"Ohh... so sweet." Osbert menyahut dengan tangan ditangkupkan di tengah dadanya dengan gerakan sedikit gemulai.


"Harusnya pria itu memakai rok," desis Farah dengan pandangan jijik yang tidak ditutup-tutupi. Meski bersuara pelan, semua orang yang berada di ruangan itu dapat mendengarnya.


Wajah Osbert langsung memerah. Pria itu terlihat kesal. "Hei, kau gadis jelata. Apa maksud ucapanmu tadi?" Osbert menatap angkuh kepada Farah.


Farah terlihat muak. Gadis itu tidak suka melihat ekspresi meremehkan yang dilayangkan oleh Osbert. Memangnya siapa pria itu? Seperti orang penting saja. Hanya seorang kacung Ratu klan ini saja sudah merasa besar kepala.


"Maksudku, kau lebih cocok memakai rok, Pria Cantik," ulang Farah tanpa takut membuat Osbert semakin kesal. Padahal mulut usilnya itu bisa mendatangkan masalah untuk dirinya.


Shanum menepuk dahinya. "Waduh, Farah. Mulutmu itu," gumam Shanum.


"Sialan! Kau menghinaku!" Pria itu mulai tampak menahan amarah. Wajah jijik yang diperlihatkan Farah membuatnya semakin emosi.


Farah mengendikkan bahunya. "Tergantung. Dan memangnya aku peduli. Tak kenal ini," sahutnya ketus.


"Kau harus menghukumnya, Ratuku. Tidak mungkin gadis kurang ajar itu lolos setelah menghinaku, asistenmu yang tampan tak terkira ini."


Ya, ampun! Chinua memungut pria narsis itu dari mana sih, Adri?


Shanum menggelengkan kepalanya sembari menahan ekspresinya agar tidak tertawa geli.


Aku tidak bisa berkomentar, Sayang. Karena Chinua sendiri pun juga narsis.


Adri... Jangan katakan hal itu! Biar bagaimanapun Chinua itu keluargaku.


Aku hanya mengungkapkan kenyataan, Sayang. Bukan isapan jempol belaka. Chinua memang narsis, sebelum dia tobat, wanita itu tidak suka jika melihat ada wanita yang dapat menyaingi kecantikannya di dalam klan. Wanita yang cantik itu pasti akan celaka di tangannya. Makanya kebanyakan penghuni pulau ini adalah pria atau sekumpulan wanita yang tidak menarik.


Roman wajah Shanum terlihat kaget. Dia tidak menyangka sungguh banyak kejahatan yang sudah dilakukan oleh wanita itu. Shanum menggelengkan kepalanya sambil menerima roti yang disodorkan oleh Khan.


Shanum memperhatikan Chinua tetap diam. Ekspresinya tak terbaca. Namun kemudian, Shanum melihat kilat aneh di mata wanita itu. Jangan katakan wanita itu akan berbuat hal yang diminta oleh asistennya itu.


"Hmm, Osbert. Aku tidak bisa menghukum gadis itu. Dia adalah tamuku, sahabat dari Shanum. Kau dan dia baru bertemu kan," kata Chinua sembari tersenyum tipis.


Kemudian wanita itu mengedarkan pandangannya ke arah Farah dan Diva. "Apakah kalian betah berada di sini?" tanyanya.


"Tentu saja, Ratu," jawab Farah. "Ya, Ratu." Diva ikut menjawab.


Chinua kembali tersenyum. Kilat di matanya semakin terang terlihat oleh Shanum. Dan Shanum menjadi curiga kepada Ratu Klan Batbayar itu.


"Oke, sudah kuputuskan. Osbert, kau temani para sahabat Shanum saat berada di sini. Kau ajak mereka mengelilingi pulau ini dan harus menjadi tuan rumah yang baik untuk mereka. Jangan membuatku malu!" Chinua menoleh dan memperlihatkan ekspresi kaku, tidak mau dibantah.


Osbert yang baru saja ingin memprotes perintah itu mendadak mengurungkan niatnya. Dia tampak menelan ludah. Pria itu menganggukkan kepalanya dengan setengah hati, dan hal itu membuat Shanum kembali menggigit bibir, menahan tawa yang hendak keluar dari bibirnya.


Ternyata Chinua malah menugaskan pria cantik itu untuk menemani kedua sahabatnya. Shanum menjadi tak sabar untuk melihat keseruan yang akan terjadi di antara Farah dan pria itu.


Jangan gigit bibirmu, Shasha. Aku tidak rela melihatnya. Karena yang boleh menggigit bibir itu sekarang hanya diriku.


Shanum memalingkan wajahnya, dia menatap ekspresi Khan yang memandangnya dengan lekat hingga membuat darahnya mendesir panas.


"Oke, kami akan kembali ke kamar." Khan menggeser tubuh Shanum. Mengajaknya berdiri, dengan lengan ikut merangkul pinggang Shanum.


Khan ingin segera kembali ke kamar guna menuntaskan hasratnya yang mulai menggelora.


"Em, tapi aku mau ikut mereka mengelilingi pulau ini, Adri." Shanum menatapnya dengan ekspresi memohon.


"Boleh kan Chinua aku ikut mereka juga?" tanya Shanum dengan tatapan mata kini mengarah ke wanita itu.


"Tentu saja boleh. Yang menjadi masalah di sini bukan izinku, tapi izin suamimu itu, Shanum. Sebab sepertinya dia masih ingin bermesraan denganmu di kamar," balas Chinua seraya tersenyum geli.


"Adri, boleh ya?" Shanum menarik tangan Khan dan mengusapnya. Dia ingin menjelajahi keindahan pulau ini, sekaligus menyelami cikal-bakal leluhurnya berada. Shanum penasaran dengan wilayah Klan Batbayar ini.


Khan sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Shanum. Rasanya dia selalu merasakan dahaga yang mendalam terhadap Shanum. Dia selalu menginginkan Shanum berada di ranjangnya, gadis itu bagaikan candu.


Dan tempat yang nyaman tanpa gangguan untuk melakukan seluruh aktivitas itu tentunya hanyalah di kamar mereka. Tapi melihat wajah memohon dan rasa antusias istrinya itu untuk ikut tour keliling pulau, dia akhirnya mengalah.

__ADS_1


__ADS_2