Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 121 Keterbukaan


__ADS_3

Shanum berdiri di depan perbatasan padang ilusi dan hutan tempat mereka berkemah. Kalau dalam istilah di dunia modern, tempat berkemah mereka itu adalah sebuah pangkalan militer. Di tempat itu terdapat markas mereka, untuk menggodok strategi, dan mempersiapkan perbekalan dalam peperangan ini.


Hari itu cukup sejuk, dengan langit biru jernih, cuaca yang umum di tempat ini. Shanum berbalik dan melihat ke perbatasan hutan di belakangnya, mengamati warna hijau membentang sepanjang pandangan dan tidak melihat adanya orang lain yang mengikutinya menuju ke tempat ini.


Bukannya ia bersikap egois, memilih untuk menyendiri sementara orang lain sibuk mempersiapkan peperangan. Ia hanya ingin merasakan ketenangan jauh dari hiruk pikuk kegiatan pemimpin klan beserta pasukannya.


Pagi-pagi tadi saja Chinua sudah diganggu oleh panggilan rapat darurat untuk para pemimpin klan beserta jenderal perang mereka, di tenda yang telah disediakan khusus untuk rapat oleh Khan Adrian.


Meskipun ia sempat ikut diajak oleh Chinua untuk ikut menghadirinya, yang tentunya dengan tenang ia tolak. Dengan alasan ia tidak memiliki keahlian dan pengalaman sama sekali terkait seni peperangan dan tidak mau hanya menjadi pengamat dalam rapat itu.


Pembohong.


Semua penolakan itu sebenarnya hanyalah dalih. Kenyataan yang sebenarnya adalah dia belum sanggup untuk bertatap muka dengan suaminya.


Desah dalam melandanya saat angin menepuk-nepuk rambut ke wajahnya. Ia melangkah dengan pelan di perbatasan itu, berhenti sesaat menghadap ke padang ilusi, berusaha mengabaikan kepedihan yang terus mengikuti setiap langkahnya.


Khan. Setiap kali terpikir akan suaminya itu, ia memaksakan diri untuk memikirkan hal lain. Akan tetapi, seperti kebiasaan yang sudah melekat, pikirannya terus membahas semua alasan mengapa ia begitu enggan bertemu Khan dan menyanggah seluruh pikiran buruk dari pria itu.


Khan yakin Shanum telah mengkhianati kepercayaannya, yang hanya menegaskan betapa picik anggapan pria itu terhadap dirinya.


Dan, lebih parah lagi, sekarang Shanum tahu kenapa Khan sangat memperhatikan Sarnai. Mereka semakin dekat selama Sarnai membantu Khan untuk mencari Shanum.


Chinua membeberkan seluruh hasil penyelidikannya kepada Shanum tadi malam. Wanita itu mencurigai Sarnai tepat sejak saat ia bertemu dengannya. Ada sesuatu yang aneh pada wanita itu, kata Chinua. Dan dia belum bisa menjelaskan apa keanehan itu. Makanya Chinua berusaha memata-matai Sarnai.


Shanum dan Chinua tidur satu tenda semalam. Lebih tepatnya, dia menumpang tidur di tenda wanita itu. Shanum terpaksa menolak untuk menginap di tenda yang terpisah. Di samping ia meragukan keselamatannya, ia juga khawatir suaminya akan datang kembali untuk mencarinya.


Shanum mengutuk diri sendiri karena membiarkan Khan menyakitinya. Menghancurkannya. Secara fatal hanya karena ia tidak suka Shanum dipilih oleh pedang ratu itu.


Tentang pedang ratu, Shanum baru mengetahui dari Chinua, pedang sakti yang sudah memilih pemiliknya, tidak akan dapat dipindahtangankan kepada pihak lain, hingga pemiliknya itu mati. Jadi pikirannya untuk mengembalikan pedang itu kembali kepada Avraam, dengan terpaksa dibuangnya jauh-jauh. Kini pedang itu menyatu dengannya hingga saat kematiannya datang.


Shanum hanya tinggal mencari cara lain untuk mengubah obsesi Avraam kepada dirinya. Agar ia dapat kembali ke negaranya, dan hidup dengan tenang di sana, sebagaimana layaknya manusia normal.


Seiring langkahnya, Shanum memperhatikan tanah yang ia pijak. Menikmati keheningan alam di sekitarnya. Ia mendongak ke atas, memperhatikan batas cakrawala penyejuk jiwa. Meski raganya terasa lelah, hatinya sedikit lebih ringan. Seolah salah satu beban akhirnya terangkat dari pundaknya, di saat menikmati keheningan itu.


"Shasha."


Shanum berhenti.


Ia mendesah keras, merasa yakin dirinya tidak sedang menyeberang ke padang ilusi.


"Please, Shasha."


Shanum tidak ingin berbalik. Karena ia sangat tahu siapa pemilik suara yang memanggilnya itu. Dan juga menyadari, siapa yang biasa memanggilnya dengan sebutan itu. Ternyata ia tidak sedang berilusi, tidak memasuki padang ilusi yang terlarang itu.


Shanum berbalik. Khan berdiri satu meter darinya dalam pakaian berwarna gelap. Pria itu tetap tampak seindah dan seseksi biasanya, dan hal itu membuatnya sedikit kesal.


Namun, saat Shanum menatap lekat wajah pria itu, dan menemukan bayangan gelap di bawah matanya, hatinya cukup merasa puas. Setidaknya pria itu juga memiliki kesulitan untuk tidur seperti dirinya tadi malam.


Shanum gugup. "Apa yang kaulakukan di sini?Bagaimana kau tahu, aku berada di sini?"


Khan maju mendekat selangkah. Shanum mundur, refleks melindungi diri sendiri. Ia melihat rahang pria itu menegang dan sontak merasa perlu meminta maaf meskipun tahu itu konyol.


"Kita perlu bicara, Shasha."


Shanum bisa merasakan dirinya bereaksi terhadap kedekatan Khan. Mendadak jaringan ikatan jiwa yang ia blokir, seolah runtuh dengan paksa dari sisi lain.


Shanum mengernyit, saat merasakan ia ingin menarik kepala Khan ke bawah, dan merasakan mulut seksi itu di mulutnya. Sekujur tubuhnya meremang dan ia mulai bertanya-tanya apakah itu ada hubungannya dengan ikatan jiwa mereka.


Tidak.


Shanum belum siap untuk mengalah. Tidak disaat sebagian luka dalam hatinya masih berdarah-darah. Namun, sisi lain dari hatinya yang masih utuh juga merasakan rindu.


Dengan putus asa, Shanum bertanya, "Kenapa kita perlu bicara? Kupikir kau sudah mengatakan semua yang perlu kau katakan tadi malam."


Khan menyugar rambutnya. "Tadi malam itu adalah kesalahan."


Shanum diam, tidak memberikan reaksi. Ia memalingkan wajah, dan berbalik, meneruskan langkahnya, meninggalkan pria itu yang terpana di tempatnya.


Tanpa peringatan, lengan Shanum ditarik dan ia berputar, kehabisan napas. Mata coklat keemasan itu berserobok dengan mata hitam berkilau yang menyorotkan kepanikan.


"Mencoba menghindariku, Shasha?"


Khan menyibak rambut yang menutupi dahi Shanum. Melarikan tangannya dengan lembut di antara helaiannya.


Jantung Shanum seolah berhenti berdegup, sebelum berdetak kembali dalam ritme yang semakin cepat. Shanum merutuki desiran halus dalam dadanya. Tentu saja ia takkan bisa menghilangkan desir itu. Tidak pernah bisa mengabaikan ketertarikan yang selalu terjadi kepada suaminya.


Tatapan Khan menyapunya bagai gelombang di bibir pantai, mengombang-ambing perasaannya hingga meragu.


Shanum menarik bebas lengannya, sadar bahwa ia seharusnya menolak sentuhan pria itu.


"Aku tidak menghindarimu. Aku hanya mencoba menjauh. Karena aku sadar, diriku sudah tidak pantas lagi berada di dekatmu. Aku ini seorang pengkhianat, ingat! Seperti yang dituduhkan oleh wanita yang setengah mati kau khawatirkan semalam." Mata Shanum berkilat menahan amarah.


"Tapi kau boleh tenang, Yang Agung. Setelah perang ini berakhir, kalau aku masih bernapas, diriku yang hina ini tidak akan pernah lagi menampakkan diri di hadapanmu," sambungnya.


Wajah Khan memucat, lalu ia merutuk pelan.


Kemudian Shanum melangkah mundur.


"Tinggalkan aku sendiri, Khan."


Shanum mulai melangkah melewati Khan, mengubah arah langkahnya menjadi menuju hutan, kembali ke pemukiman. Dia sudah kehilangan selera untuk menyendiri.


"Aku tahu kau sakit hati padaku, Shasha. Maafkan aku. Aku hanya... Dengar, bisa kita bicarakan hal ini dengan pikiran jernih? Kumohon, beri aku waktu," ucap Khan dari belakang Shanum.


Shanum berhenti melangkah.


Napasnya tersengal-sengal seolah dia baru saja berlari. Suasana di sekitar mereka tetap hening. Shanum menyerap apa yang Khan katakan.


Namun, dirinya masih belum bisa melupakan rasa sakit hatinya.


Dan ia tidak ingin pria itu melihatnya. Jadi, Shanum tidak berbalik, ia terus berjalan.


Geraman teredam lain terdengar dari belakangnya dan sebelum Shanum sempat bereaksi, Khan sudah berada di depannya dan membungkuk.

__ADS_1


Shanum baru sadar apa yang pria itu lakukan ketika dunianya jungkir balik dan ia tersentak saat Khan baru saja melemparkannya ke atas bahu.


Tangan Khan menahan bokongnya. Shanum begitu terkejut dan marah sampai-sampai ia hampir tidak bisa bernapas, apalagi berbicara.


Khan membawa Shanum dengan langkah cepat menuju ke sebuah tenda. Sebelum masuk ia mengusir pengawal yang berjaga di depan tenda, mengucapkan sebaris mantra, dan cahaya merah langsung bergerak mengelilingi tenda. Menyelubungi tenda.


Di dalam tenda, Khan mendudukkan Shanum di atas karpet empuk berwarna coklat muda. Dengan dada berdebar-debar dan merasa benci diperlakukan sekasar itu, Shanum tetap tidak bisa marah. Seluruh sel tubuhnya malah menjeritkan nada bahagia.


Aku memang sudah gila.


Shanum mendongakkan kepalanya dan menatap pria itu dengan tajam. "Untuk apa kau membawaku ke sini? Bukankah sudah kukatakan tadi tinggalkan aku sendiri."


Shanum berusaha bangkit dan berbalik menuju tirai pintu, tempat ia bisa segera keluar.


Tapi Khan berkata dengan nada tenang dari belakang, "Kau tidak akan bisa keluar dari sini, Shasha. Aku sudah memberikan mantra penutup terhadap tempat ini. Tidak ada seorang pun yang dapat menerobos, menguping, atau pun menghancurkan tempat ini."


Shanum berhenti, langsung meradang mendengar ucapan Khan. Dia mengutuk pria itu dalam hati.


Namun, rasa tidak percaya menguasai benaknya. Bisa saja hal itu hanya akal-akalan pria itu untuk menahannya di tempat ini.


Dengan percaya diri, Shanum kembali melangkah menuju tirai pintu mencoba menyibaknya, dan tercengang.


Tirai itu tidak bisa disibak. Kain penutupnya melekat keras ke tanah, tak bergeming sedikitpun. Shanum merabanya, dan menemukan tirai itu menjadi kaku, dan kokoh bagaikan tembok.


Merasa frustasi, Shanum mengucapkan mantra pembatalan dan menemukan mantranya dimuntahkan kembali ke arahnya. Mantranya gagal.


"Arghh..."


Merasa kesal, Shanum menendang tirai itu dengan keras, sampai-sampai ia terjengkang ke belakang. Namun sebelum ia jatuh dengan posisi mengenaskan, punggungnya ditahan oleh tangan hangat seseorang.


Shanum tercekat dan terdiam kaku ketika tubuhnya ditarik mendekat. Dia sangat tahu, tubuh siapa yang sedang menempel di belakangnya saat ini.


"Lepaskan aku," bisik Shanum dengan nada gusar.


Khan menarik pegangannya saat Shanum berbalik. Ia menangkap tatapan pria itu dan membuang muka dengan terang-terangan.


Khan tahu Shanum pasti sangat marah. Ia dapat merasakannya, sekuat rasa akan kehadiran istrinya itu di setiap sel tubuhnya. Penyesalan dan sikap menyalahkan diri sendiri memburu di perut Khan. Ia tidak menyalahkan Shanum karena memendam amarah. Ia telah menyakiti wanita itu dalam cara paling buruk.


Tapi saat mendengar kata-kata tajam Shanum kepadanya tadi, mendadak ia panik.


Tanpa berpikir panjang, Khan bersikap seperti seorang pria yang ketakutan akan ditinggalkan selamanya. Khan membawa paksa wanita itu dan mengurungnya di dalam tenda.


Khan mendesah lelah. Dia tidak suka menerima pandangan benci yang terlihat saat ini dari mata indah istrinya. Semua ini harus segera diselesaikan, sebelum menjadi permasalahan yang berlarut-larut.


"Apakah sakit?"


"Hah..." Shanum terlihat bingung.


"Kakimu." Pria itu mengarahkan pandangan ke kaki Shanum.


Shanum menampilkan ekspresi galak. "Aku tidak butuh basa-basimu. Bisakah kau langsung memberitahuku apa pun yang kau inginkan? Agar aku dapat segera keluar dari tenda ini."


Khan tersenyum sendu. "Aku hanya sedang mengkhawatirkanmu, Shasha."


Kepedihan mengancam akan menenggelamkan Shanum, saat kata-kata khawatir mengingatkannya pada reaksi Khan terhadap Sarnai kemarin malam.


Seolah ia tidak terlalu peduli, Shanum mengatakan, "Terserah."


Di dengarnya Khan menghembuskan napas, lalu menyugar rambut. Dengan agak terlambat, Shanum menyadari rambut Khan lebih panjang. Wajahnya terlihat lelah, dengan rahang penuh cambang. Pria itu kelihatan tak terurus. Tusukan kekhawatiran menderanya. Lalu buru-buru meniadakannya.


"Sejujurnya, aku merasa cemburu. Aku tidak menyukai kau terpilih oleh pedang ratu itu. Lalu aku sangat kesal melihat pria itu tergila-gila padamu dan benci mendengar kau menjanjikan sesuatu padanya."


Gumpalan terbentuk di tenggorokan Shanum. Sesungguhnya ia malas menjelaskan. Hatinya sudah terlanjur kecewa. Tapi, jika dia bersikap masa bodoh, selamanya ia akan terkurung bersama pria itu.


"Kenapa kau menyalahkanku untuk semua hal itu? Aku tidak meminta pedang ratu itu memilihku. Aku juga tidak membalas perasaan pria itu. Dan aku hanya bersandiwara menerimanya, semata-mata hanya agar aku dapat terbebas darinya."


Shanum melangkah menjauhi Khan. Dia menatap ke arah panji Klan Altan yang terdapat di sudut ruangan. Panji itu mirip dengan bentuk panji di berbagai film perang Tiongkok.


Teringat penjelasannya yang belum selesai, ia melanjutkan, "Aku merencanakan semua sandiwara ini saat aku tanpa sengaja menguping muslihat mereka untuk menghancurkan seluruh klan. Cara itu begitu licik dan sadis. Singkat kata, aku sengaja mengembalikan kalung, cincin pernikahan kita, dan pakaian yang kukenakan terakhir sebelum aku ikut bersama mereka, dengan harapan Avraam percaya. Kalung itu sebelumnya disita oleh pria itu. Jadi daripada berada di tangannya, lebih baik barang berhargaku berada di tanganmu."


"Jadi itu alasan sesungguhnya kau mengirimkan ketiga barang itu kepadaku?"


Shanum berbalik. "Ya," jawabnya singkat.


"Kau membuat hidupku sengsara sejak saat itu, Shasha. Kau menghancurkan hatiku. Ketika itu aku mengira kau... kau..." Khan tidak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya terlihat tersiksa.


Jantung Shanum mencelos, memandang roman pria itu. Kemudian dia sedikit berdeham, sembari melanjutkan ceritanya.


"Aku terpaksa melakukannya, karena hanya itu yang terpikirkan olehku pada saat itu. Setelahnya aku berusaha bersikap menerima kehadiran Avraam. Menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, meski batinku tersiksa. Bahkan aku sanggup melakukan tindakan berbahaya, seperti memotong urat nadiku sendiri hanya agar pria itu tidak curiga dan menunda serangan pertamanya."


Khan melonjak kaget. "Aku melihatmu saat itu. Kau berada di tempat tidur dan menangis. Titik koordinat itu juga kau berikan padaku, di masa itu."


Khan mulai mendekat, semakin mendekat, dia mencondongkan tubuh ke depan, menatap dengan pandangan penuh luka. Shanum mengalihkan pandang, tetapi tindakan itu sama buruknya, karena ia tidak bisa berpaling dari mata Khan.


"Kau membuatku malu. Seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu sebelum menarik kesimpulan. Aku takut dengan adanya pedang dan janji itu, kau akan ikut bersamanya, Shasha."


"Aku ini istrimu," ujar Shanum getir. "Tidak mungkin aku meninggalkan suamiku dan pergi bersama pria lain hanya karena sebuah pedang."


Khan berdiri tegak, mulai mondar-mandir. Ketika berbicara, dia terdengar frustasi. "Aku tahu itu. Tapi kecemburuan membuat seluruh logikaku menghilang."


Shanum menarik napas dalam. "Dengar... aku sudah membuka sandiwara yang kulakukan. Terima kasih atas permintaan maafmu. Padahal kau tidak perlu repot-repot. Aku tahu ini tetap akan berakhir."


Khan terlihat syok. "Berakhir? Apa maksudmu?"


"Bukankah kau sudah memilih Sarnai, Khan?"


Rahang Khan mengetat tajam. "Apa hubungan Sarnai dengan kita?"


"Banyak hubungannya. Pertama; kau terlihat mencemaskannya. Kedua; aku mendengar selama aku tidak ada, kau banyak menghabiskan waktu dengannya. Dan yang ketiga; kau tidak menyanggah tuduhannya kepadaku kemarin. Jadi dari sana dapat aku simpulkan, kau lebih memilih dia daripada aku." Shanum menjawab dengan lugas.


Khan menggeleng tak percaya. Tapi perlahan mulutnya membentuk seringai. "Kau sedang cemburu, Sayang."


Jantung Shanum serasa berhenti berdetak.

__ADS_1


Sial, pria itu dapat menebaknya.


"Tidak. Siapa juga yang cemburu?" bantahnya.


"Aku hanya mengungkapkan fakta, bukan mengada-ada. Dan semua itu bukan bentuk dari kecemburuan."


"Ya, kau cemburu. Akui saja, jangan berbohong."


Khan meraih tangan Shanum. "Kau masih mempercayai aku memiliki perasaan khusus kepada Sarnai, setelah selama ini kita bersama?"


Shanum terlihat gugup. "Mungkin saja. Bukankah selama ratusan tahun kebelakang kau meratapi wanita itu?"


Wajah Khan tampak lebih muram daripada yang pernah ia lihat. "Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya, Shasha. Sudah beberapa kali aku mengatakannya. Sekarang ini aku hanya menganggapnya teman meski..."


"Padahal aku sudah pernah memperingatimu, wanita itu mencurigakan. Mengapa kau masih saja menganggapnya teman?" potong Shanum dengan kesal.


Khan mendesah. "Awalnya aku sempat marah kepadanya ketika dia merayuku..."


"Dia merayumu? Dan kau masih menerimanya sebagai teman? Yang benar saja!" Shanum menarik paksa tangannya dalam genggaman Khan.


Frustasi, kemarahan, cinta, kepedihan bercampur menjadi satu dan mengancam akan tumpah meluap dalam hati Shanum.


"Aku semakin membencimu karena hal ini," ucap Shanum dengan geram.


"Aku belum selesai, Shasha. Kau selalu memotong ucapanku." Khan menatap Shanum.


Di saat tidak ada protes darinya, Khan melanjutkan perkataannya, "Jadi, setelah aku marah waktu itu, Sarnai dengan gigih berusaha datang mencariku untuk meminta maaf. Ia berjanji hanya menganggapku sebagai teman saja. Bahkan dia rela ikut membantuku mencarimu, Shasha."


Shanum mendengus keras. "Hanya pencitraan."


Khan mengerutkan kening, bingung.


"Maksudnya, dia itu hanya ingin mencari muka di depanmu. Menarik perhatianmu lagi, agar kau bisa menerimanya secara perlahan. Ujung-ujungnya tetap saja, dia berharap kau kembali kepadanya."


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"


"Sebut saja naluri sebagai sesama wanita. Aku bahkan sudah bisa menebak harapannya sejak pertama kali melihat wajahnya. Kau saja yang bebal, tidak memperhatikan."


"Oke, aku menyerah. Kalau kau sudah berkata seperti itu. Sekarang beritahu aku, bagaimana aku harus bersikap terhadap Sarnai?"


Shanum tak bisa berkata-kata karena terlalu tercengang. Emosi yang timbul dalam dirinya oleh pertanyaan Khan terlalu besar dan membingungkan.


Pada akhirnya ia bertanya, "Kau yakin, membiarkanku mengaturmu?"


Khan tersenyum. "Ya. Aku tidak mau kau merasa cemburu lagi, dan membuatku merana menerima amarahmu. Jadi katakan, bagaimana aku harus bersikap?" ulang Khan dengan pertanyaannya.


Shanum tidak menjawab. Dia masih terkesima.


"Aku hanya mencintaimu, Shasha. Sarnai cuma masa lalu. Kau jauh lebih berharga untukku dibandingkan dia. Aku lebih baik kehilangan dia, daripada kehilanganmu," tambahnya.


"Adri..."


"Ah, akhirnya aku mendengarkan sebutan itu lagi."


Shanum menatap Khan. Ia melihat kebenaran tertulis di wajah pria itu dan di matanya.


Dia dengan berani meraih tangan Khan. Menautkan jemari mereka. Untuk kali pertama dalam beberapa bulan yang kelam, Shanum merasakan kedamaian mengalir di dalam dirinya.


Tidak melepas pandangannya, Shanum melilitkan tangan di leher Khan. Dan membuat ekspresi kaget terpancar di wajah tampannya.


"Kau harus menjaga jarak minimal dua meter dari wanita itu. Bicara hanya boleh seperlunya saja. Bahkan lebih baik kau bersikap kaku dan dingin, seperti saat kau bersikap kepada orang asing," bisik Shanum di telinga Khan.


Seketika bibir Khan membentuk segaris senyum, lalu ia mengangguk. "Siap laksanakan, Mam."


"Good," sahut Shanum.


"Hem, Adri... Aku punya satu pertanyaan yang sangat penting..."


Khan membingkai wajah Shanum dengan tangan.


"Katakan," ucap Khan lembut.


"Di mana aku harus tidur malam ini?"


Gairah bangkit, kental dan mendesak.


"Kau boleh memilih," jawabnya dengan suara serak.


Shanum mengangkat alisnya sebelah. "Kau yakin?"


"Ya. Tapi hanya boleh ada aku yang menemanimu tidur."


Sukacita meluap keluar dari mulut Shanum dalam tawa spontan saat Khan mengangkatnya, lalu menjatuhkannya di alas tidur.


Pria itu menatapnya dalam dan Shanum bisa melihat kerapuhan terpampang di wajah pria itu.


Khan mengusap pipi Shanum.


"Aku kira akan kehilanganmu lagi. Semalaman aku tidak bisa tidur. Menyesali kebodohanku sendiri. Dan berpikir dengan keras, bagaimana caranya aku dapat memperbaiki kesalahanku, hingga kau mau memaafkanku."


Seandainya Shanum memiliki sisi keraguan, perasaan itu langsung tersapu habis pada saat itu juga.


"Aku ada di sini, Adri. Sudah memaafkanmu. Dan kita sama, semalaman aku juga tidak bisa tidur. Sibuk mencari cara untuk membuatmu bersujud di kakiku."


Mata Khan membola. "Kau ingin aku melakukan itu?" Khan ingin bangkit dari posisinya, namun tubuhnya ditahan oleh Shanum.


"Lupakan. Selanjutnya yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya memenangkan perang ini dengan semua personil kita selamat tanpa ada kematian," kata Shanum.


Khan mengangguk. Lalu menunduk dan mencium Shanum dengan kelembutan serta gairah yang membuat wanita itu gemetar.


Ketika Khan menarik diri, Shanum berkata terengah-engah, "Aku merasa akan memilih tenda ini saja sebagai tempatku tidur, Adri."


Khan mengulas senyum penuh godaan yang menjadi ciri khasnya jika bermesraan dengan Shanum. "Aku lebih senang lagi kalau kita mulai menikmati alas tidur di tenda ini dari sekarang."

__ADS_1


Shanum melongo. "Tapi ini... Ini masih siang, Adri." Shanum merasakan debaran bercampur gugup dalam dadanya.


Khan terkekeh pelan. "Aku tidak peduli, Sayang. Mari kita lanjutkan bulan madu kita yang tertunda."


__ADS_2