Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 46 Berita Mengejutkan


__ADS_3

Shanum telah selesai menyalurkan kekuatan penyembuhnya, waktu yang diberikan juga tersisa dua menit lagi. Hanya ini yang bisa kulakukan. Semoga Pak Reno segera sadar. Gadis itu berbisik di hadapan pria itu. Dia lalu menarik tangannya.


Dia kembali menatap pria itu. Terbesit rasa sedih untuk Pak Reno. Seandainya seluruh hatinya tidak dikuasai oleh Khan. Mungkin dia akan mempertimbangkan, untuk membuka hatinya kepada pria ini.


Sebelum bergerak menjauh, Shanum menoleh lagi ke belakang, melihat wajah Pak Reno yang mulai menampakkan warna. Shanum tersenyum, ia keluar dari ruangan yang sepi dan dingin itu. Dia yakin pria itu akan baik-baik saja.


Shanum melihat perawat pria yang membantunya tadi sudah berdiri di belakang meja khusus perawat. "Terima kasih, Mas," ucapnya sambil tersenyum. Perawat pria itu membalasnya dengan mengangguk, lalu kembali duduk di belakang meja.


Shunum menekan tombol di samping pintu, lalu dia keluar dari ruangan. Dia melihat kedua sahabatnya langsung berdiri tegak, wajah mereka tampak lega saat melihatnya. Shanum memandang isyarat untuk menutup mulutnya, dan petunjuk agar segera menghampiri keduanya.


Gadis itu langsung ditarik mendekat oleh Farah saat sudah mendekat. "Sttt... itu Mama dan Kakaknya Pak Reno," bisik Farah. "Jangan melihat secara terang-terangan, nanti mengundang kecurigaan," tambah Diva pelan.


Shanum melirik kepada kedua orang yang disebutkan Farah tadi. Dia memandang seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya. Dan dia memandang seorang pria yang memiliki kemiripan dengan Pak Reno. Bedanya pria ini memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dari Pak Reno.


"Ayo kita keluar dari sini. Perutku mulas berada di sini dari tadi," ajak Diva. "Iya, sudah lelah juga berdiri sejak tadi," sahut Farah. Mereka langsung bergegas keluar dari lorong ruang ICCU itu.


Sesampainya di dalam mobil Diva, ketiganya menghembuskan napas. "Ya ampun, tadi itu benar-benar memicu Adrenalin." Diva menempelkan keningnya pada kemudi.


"Kau tahu, Sha. Tadi itu jantungku rasanya mau copot waktu tahu keluarga Pak Reno juga datang ingin menjenguk." Farah memegang dadanya sambil menarik napas berulang-ulang.


"Berarti aku beruntung dong ya, tidak bertemu mereka di dalam kamar rawat," katanya sambil tersenyum.


"Yah, kau sungguh beruntung. Semoga sandiwara kita tadi juga tidak terbongkar ya," ucap Diva.


"Kalau sambil ketahuan, bisa-bisa kau langsung naik pelaminan, Sha," goda Farah sambil terkikik geli.


Shanum tertegun. Dia masih mencerna maksud Farah. "Hah... Oh, tidak mungkin! Aku tidak mau!" Shanum menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Astaga, iya benar. Kau mengakui menjadi kekasihnya, dan sedang hamil pula." Diva berkata sambil menyemburkan tawanya.


Kedua sahabatnya tertawa keras. Cuma Shanum yang tampak cemberut menahan kesal mendengar ledekan dan tawa mereka.


"Cukup, kalian berdua jangan menakut-nakutiku, dan membuatku tambah pusing dong."


"Aku...aku..." Diva tidak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Ya ampun, tadi itu kau luar biasa meyakinkan tahu. Kau bisa mendapatkan piala baru untuk menambah koleksi lemari pajanganmu di rumah. Tidak hanya piala kejuaraan karate, tapi juga piala dalam bidang seni peran," sahut Farah masih sambil tertawa.


Shanum tersenyum kecut. "Di bayar dengan dunia seisinya pun aku bakalan menolak."


"Hadoh, yakin, Sha. Masa segitu tidak sukanya kau pada Pak Reno. Klise sekali, dibayar dengan dunia dan seisinya sok menolak." Diva melihatnya dari kaca spion tengah sambil mengerlingkan matanya.


"Eh, lagi pula mana bisa Pak Reno memberikan dunia dan seisinya. Kode itu, hanya Khan yang bisa. Dan ujung-ujungnya kembali ke Khan Adrian yang Sakti Mandraguna." Farah berkata sambil menyindirnya.


"Aku tidak benci pada Pak Reno. Aku hanya belum bisa melupakan Khan, titik..."


"Sha, aku rasa kau tetap harus memikirkan alibi yang tepat seandainya kita ketahuan," ucap Diva sambil menyalakan mobil. Gadis itu membawa kendaraan yang ditumpanginya keluar dari kawasan parkir rumah sakit.


Shanum menggigit bibirnya. Dia memikirkan kata-kata Diva barusan. Setidaknya dia harus bersiap untuk kemungkinan yang terburuk.


"Bagaimana? Sudah ada ide?" tanya Farah.


"Biasanya kau yang banyak ide, Farah," sahut Diva.


"Memang, saking hebatnya idemu, aku harus terjerumus ke dalam kekacauan dengan Pak Reno saat ini," sindir Shanum.


"Hei, aku hanya berusaha membantu. Mana aku tahu kalau penelepon misterius itu Pak Reno."


"Tapi sudahlah, itu sudah berlalu. Setidaknya kau ikut membantuku saat di rumah sakit dan di kampus, perihal CCTV," kata Shanum sambil mendesah.


Mendadak Shanum menegakkan duduknya, dia menatap ke arah Farah dan Diva. Keduanya masih asyik sendiri tidak menyadari ucapannya tentang CCTV tadi bisa memancing suatu kesadaran tertentu.


"Em... Ladies. Apa kalian sadar, kita melupakan satu hal saat di rumah sakit tadi?"


Farah langsung menengok ke belakang, dan Diva melihat ke spion tengah. Mereka memperhatikan Shanum.


Gadis itu terlihat meringis ngeri. "Ada apa? Jangan membuatku takut?" tanya Diva.


"Kita melupakan CCTV di depan pintu ICCU dan di dalam ruang rawat," ucap Shanum dengan pelan. Wajahnya terlihat keruh.


"Astaga..." Farah menepuk keningnya.


"Terus apa yang harus kita lakukan," tanya Diva lagi, wajahnya memucat.


Shanum menelan ludahnya. "Saat ini kita hanya bisa menunggu. Jika situasi semakin tidak terkendali, alternatif terakhir hanya meminta pertolongan Sergei."


"Kau benar, Sha. Nanti aku akan menceritakan kepadanya," sahut Diva cepat.


"Tolong ya, Luna. Jika tidak bisa-bisa kita mendekam di penjara."

__ADS_1


"Itu kau meledekku apa mau manakut-nakuti kita?"


"Keduanya," sahut Farah sambil tersenyum geli.


"Ishh, masih sempat-sempatnya kau bercanda. Ini tuh serius, Farah."


"Aku hanya yakin, kekasihmu itu akan bisa menyelesaikan kekacauan yang kita buat. Jadi tenang saja, dan jangan cemas! Agar kita bisa tidur nyenyak nanti malam." Farah menyeringai.


Farah lalu menoleh ke samping, ke arah Diva. "Tugasmu untuk merayu Sergei untuk segera kembali ke pangkuanmu, harus segera dilakukan, Diva," ucap Farah lagi. Diva mendengus tanpa menjawab, lalu kembali fokus mengemudi.


"Masalah itu sih, tidak perlu kau ingatkan lagi Farah. Tanpa dirayu pun pria itu akan segera datang jika Diva yang meminta," ungkap Shanum. Diva tampak tersenyum tipis ke arah Shanum, terlihat dari kaca spion tengah mobil, dan Farah hanya mendesah kalah.


Kemudian tidak terdengar lagi percakapan di antara mereka.


Shanum melihat pemandangan di luar jendela mobil. Matanya tampak menerawang. Dia yakin Pak Reno tidak akan mungkin menjebloskan mereka bertiga ke dalam jeruji besi. Semua hal yang dilakukan mereka tadi adalah murni untuk menyelamatkan nyawa pria itu.


"Sha, aku jadi sopir yang budiman nih hari ini. Kau, aku antarkan sampai di rumah ya."


Shanum menoleh, dan tersenyum. "Terima kasih, Diva." Diva membalas dengan anggukan kepalanya.


"Asyik, jadi aku juga diantar ya, setelah Shanum."


"Siapa yang bilang? Kau ikut sampai rumahku, terus lanjut dari sana naik kendaraan lain."


"Wah, kau pilih kasih sekali, Diva. Mengapa tidak sekalian kau mengantarku?"


"Tidak mau ah, rumahmu jauh. Kalau rumah Shanum kan dekat dari rumahku."


"Yaa... jangan begitu dong, Luna Cantik. Aku kan juga sahabatmu yang setia."


"Sudah untung aku tidak menurunkanmu di jalan," gerutu Diva.


"Ayo dong, nanti aku akan promosi ke Sergei deh soal kebaikan-kebaikanmu."


Diva memutar bola matanya. "Sergei tidak perlu promosimu. Dia sudah berada di bawah kuasaku."


"Wah, tidak kusangka. Ternyata kau hebat sekali. Memiliki kemampuan menghipnotis, sehingga Bapak Peri terlena."


"Fix, aku tidak mau mengantarmu."


"Yah, iya deh, maaf. Aku cuma bercanda, Diva. Kamu sensitif sekali sih."


Diva mengerucutkan bibirnya. Wajahnya terlihat kesal.


"Diva..." Wajah Farah terlihat memelas.


"Iya, nanti aku antar kau pulang," ucap Diva sambil cemberut, sepertinya dia merasa setengah hati mengucapkan kata-kata itu.


"Nah, begitu dong." Farah langsung merangkulnya dari samping.


"Hei, nanti tabrakan ini, ingat aku lagi mengemudi!" protes Diva.


"Maaf." Farah langsung melepas rangkulannya pada bahu gadis itu.


Mereka sampai di depan rumah Shanum. Dia membuka safe belt yang digunakannya, namun sebelumnya ia berkata, "Terima kasih ya, Diva--Farah. Kalian sahabatku yang terbaik. Selama Pak Reno di rumah sakit terpaksa aku libur bimbingan nih, tetap informasikan keadaan kampus ya."


"Nanti kita bisa bertemu di luar kampus kok, Sha. Aku akan segera telepon Sergei ya. Secepatnya aku kabari lagi," kata Diva sambil tersenyum.


"Sama-sama, Sha. Jangan lupa memikirkan alibi kalau kita ketahuan," ucap Farah mengingatkannya.


"Siap, Bos." Shanum lalu membuka pintu mobil. Dia menjejakkan kakinya di atas aspal, dan menghela tubuhnya keluar dari pintu belakang mobil.


Shanum melambaikan tangannya, saat mobil yang dikemudikan Diva mulai bergerak. Dia membalikkan tubuhnya menuju pagar rumah. Pak Dirman sudah membuka pintu pagar untuknya.


"Siang, Non. Mau dibantu membawakan tasnya?" Shanum tersenyum pada pria itu. "Siang, Pak. Tidak usah, terima kasih." Pak Dirman mengangguk mendengar jawaban Shanum. Lalu dia kembali ke pos jaganya.


Shanum membuka pintu rumahnya. Suasana terlihat sepi. Bi Inah tampak sedang membawa beberapa tumpuk pakaian di tangannya, menuju tangga. Wajahnya tersenyum dan mengangguk saat melihat Shanum.


"Ibu ada di rumah, Bi?" tanyanya. Bi Inah menghentikan langkahnya. "Nyonya pergi Non. Tidak lama setelah Bapak dan Non pergi tadi pagi."


"Oke, Bi. Terima kasih." Shanum tersenyum kepada Bi Inah. Wanita itu membalas senyum Shanum lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Shanum menghela napasnya. Dia meletakkan sepatunya di rak sepatu. Kemudian menuju kamarnya di lantai dua.


Malamnya, saat Shanum sedang menonton film petualangan kesukaannya di televisi, ia dikejutkan oleh suara dering ponselnya. Shanum menekan tombol berhenti pada remote TV dan mengambil ponselnya.


Dia melihat panggilan dari nomor Pak Reno. Shanum membeku. Gadis itu ragu untuk menjawab panggilan yang terus menerus berbunyi dari ponselnya.


Akhirnya Shanum menekan tombol terima. Dia berusaha menahan debar jantungnya yang bertalu-talu. Shanum sangat gugup. Dia tidak berani memprediksi siapa yang menghubunginya. Bisa saja itu bukan Pak Reno tapi orang lain.

__ADS_1


Meski tak dapat dipungkiri juga, bagaimana bisa orang itu tahu namanya secepat ini. Dan bagaimana dia tahu, kalau namanya ada di daftar phonebook di ponsel Pak Reno.


"Halo..."


"Betul ini dengan Shanum."


"Ya, saya sendiri. Maaf, ini siapa ya?" Shanum berpura-pura tidak menyimpan nomor ponsel Pak Reno.


"Saya, Elvano Adara Adhiguna. Saya kakaknya Reno Axelle Adhiguna. Apakah kau mengenal adik saya tersebut?"


"Ya, saya mengenalnya. Beliau dosen bimbingan skripsi saya. Ada yang bisa saya bantu, Pak Elvaro?"


"Saya diminta adik saya untuk memanggilmu ke sini."


"Ke sini? Maksudnya Pak?"


"Ya, ke rumah sakit tempat adik saya dirawat."


"Pak Reno sudah sadar, Pak?"


"Ya, dia sudah sadar. Tapi masih dalam masa pemulihan."


"Apa saya tidak menganggu Pak? Jika Pak Reno belum pulih benar..."


"Tidak! Pokoknya kau harus ke sini besok!"


"Anda yakin Pak Elvano?"


"Seratus persen yakin. Kami sudah lelah diteror olehnya. Saat sadar yang dicarinya adalah dirimu. Dia memaksa untuk bertemu denganmu. Malah fia minta kau datang hari ini juga. Tapi setelah proses negosiasi yang cukup alot, dia mau mengalah. Kau boleh datang besok pagi."


Shanum mengerutkan keningnya, tampak bingung. Namun dia merasa senang, pria itu sudah sadar.


"Kau bisa datang ke sini kan, Shanum. Nanti aku kirim pesan nomor kamar beserta lantai tempat adikku yang keras kepala itu dirawat."


"Iya, saya bisa Pak. Besok pagi saya akan ke sana."


"Oke, terima kasih, Shanum. Ingat, besok jangan sampai tidak datang!"


"Iya, Pak Elvano. Saya pasti datang." Kemudian sambungan diakhiri. Tak berapa lama, Shanum mendengar suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dia sudah bisa menebak dari siapa pesan itu berasal.


***


Shanum berlari di sepanjang jalan dari parkiran mobil menuju ke lobby rumah sakit. Dia tidak tahu seberapa pagi dia harus tiba di rumah sakit ini. Jadi berangkatlah dia pukul sembilan pagi dari rumah. Dan ternyata hal itu salah besar untuk seorang Reno Axelle Adhiguna.


Dia ingin Shanum sampai di kamar rawatnya pukul lima pagi, tidak boleh lewat dari itu.Yang benar saja! Masa dia harus pagi-pagi sekali pergi ke rumah sakit. Memangnya dia pasien yang sedang sakit, dan harus dilarikan ke IGD pagi-pagi buta.


Karena ponselnya sengaja dia matikan saat tidur, dan baru ia nyalakan kembali saat dia akan bersiap-siap. Maka dia menemukan puluhan panggilan tidak terjawab dan lima pesan yang isinya memintanya segera ke rumah sakit, dan menjelaskan permintaan Pak Reno. Karena menurut kakaknya, Pak Reno sudah bersikap uring-uringan seperti anak balita berusia di bawah lima tahun saat Shanum tak kunjung tiba di sana.


Alhasil, setelah membaca banyak pesan itu, dia langsung mandi super kilat dan berdandan seadanya. Sampai-sampai sarapan pun dilakukannya di mobil, sambil mengemudi. Sungguh mengawali hari yang sangat melelahkan menurutnya. Tapi karena biang keladinya masih berstatus pasien, dia cukup memakluminya.


Shanum berdiri di depan kamar rawat Pak Reno. Dia belum berani mengetuk pintu, karena masih terdengar suara berisik dari dalam kamar rawat. Shanum sungkan mengganggu kegiatan yang mungkin terjadi di dalam.


Mendadak ponselnya pun bergetar. Shanum mundur ke arah jendela besar yang berada di dekat kamar. Letak kamar rawat Pak Reno memang berada di ujung koridor, terdapat jendela besar yang menuju sebuah balkon.


"Di mana kau, Shanum?" tanya Elvano.


"Em, saya sudah di luar kamar, Pak."


"Loh, kok tidak langsung masuk. Ini bocah besarnya sudah tidak sabar menunggumu."


Shanum mendengar suara pintu di buka. Dia menoleh, dan melihat Pak Elvano tersenyum ke arahnya. "Ayo masuk, Shanum. Kau sangat diharapkan." Pria itu berkata sambil memutar bola matanya.


Shanum memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan ikut tersenyum. Pintu di buka oleh Elvano agar dia dapat lewat dengan leluasa. Setelah gadis itu masuk, Elvano menutup kembali pintunya.


Shanum mengerjapkan matanya. Dia melihat Pak Reno sedang duduk di pinggir ranjang rawatnya. Senyum merekah di bibirnya yang penuh.


Pak Reno menatap Shanum dengan pandangan dalam. "Shanum, akhirnya kau datang juga. Ayo sini, mendekat padaku." Wajah Pak Reno sudah tidak sepucat kemarin saat Shanum melihatnya di ruang ICCU.


Shanum menoleh ke Pak Elvano, ia tampak gugup. "Mengapa kau malah melihat ke arahnya?" Rahangnya mengeras dan matanya berkilat, ia terlihat kesal.


"Sebaiknya kau ikuti saja kemauannya, Shanum. Aku sendiri tadinya mau memasukkannya ke ruang rawat untuk pasien yang mengalami gangguan psikis. Habis, perilakunya sejak sadar dari koma menjadi bukan seperti adikku yang waras."


"Hentikan omong kosongmu itu, Kak. Sebaiknya kau keluar saja dari ruangan ini."


"Oh, tidak bisa, Dik. Aku tidak mau membiarkan kau berdua dengan gadis manis ini. Apalagi dengan perilakumu yang aneh ini." Pak Reno mendengus, lalu dia mengalihkan perhatiannya kepada Shanum.


"Shanum..." Pak Reno menatap gadis itu dengan wajah memelas.


Shanum menghela napasnya, dia perlahan melangkah mendekat ke tempat Pak Reno duduk. Pak Reno tidak lepas menatap kedua bola matanya. Dia melihat pandangan penuh kasih terlihat di sana. Dan itu membuatnya gelisah.

__ADS_1


Shanum sudah berdiri di dekat pria itu. Pak Reno masih menatapnya, tangannya terkepal di pangkuannya. Seakan-akan dia menahan diri untuk tidak merengkuh Shanum ke dalam pelukannya.


Matanya berkilat aneh, lalu dia berkata, "Shanum, kau harus menjadi kekasihku. Aku tidak menerima penolakan. Jawabanmu hanya boleh satu macam saja, yaitu bersedia. Tidak boleh ada kata-kata yang lain."


__ADS_2