Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 29 Kebenaran


__ADS_3

Shanum berhasil berlari menghindari Chinua sebelum ratu itu menghadang kembali dan menyerang. Lelah menggunakan kekuatan sihir, wanita itu memukul wajah Shanum, begitu keras sehingga giginya menusuk bibirnya sendiri. Chinua kembali mencederainya sebelum Shanum sempat jatuh.


Dia meninju perutnya yang terasa menyedot udara dari paru-parunya. Shanum tersentak lalu membungkuk memegangi perutnya. Di belakangnya Roman berusaha melawan pasukan Chinua. Dia tidak bisa berbuat banyak, karena mereka hanya berdua. Sedang sang ratu memiliki banyak pasukan.


Sepertinya Shanum mendengar teriakan Roman. Sambil meringis sakit, dia menoleh dan melihat Taban bergerak lincah, akar pohon berwarna hijau melesat, membentuk sulur yang mengarah ke sang ratu. Shanum merasa lega akhirnya mereka mendapatkan bala bantuan.


Taban menyerang sang ratu dengan kekuatannya. Terakhir kali Shanum melihat pria itu masih tergeletak tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Kekuatan Taban baru kali ini Shanum lihat. Dia menebak kekuatan pria itu merupakan kekuatan alam. Sulur akar itu mengikat tangan dan kaki sang ratu.


Wanita itu berteriak marah saat dia di tarik terbalik di udara dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Chinua tidak dapat bergerak. Lalu dari posisi samping dia melihat cahaya merah api milik Khan. Menyumpal mulut wanita itu. Apinya tidak membakar bibirnya, tapi cukup panas sehingga pasti bisa membakarnya kalau Khan menghendaki.


Chinua masih berusaha melepaskan belenggu akar tanaman itu. Dia bergoyang-goyang di udara. Mulutnya ikut terbungkam. Situasi itu sungguh lucu di mata Shanum. Dia berusaha menahan tawanya.


Namun kegirangan yang meluap-luap di hati Shanum langsung menguap, berganti dengan kekhawatiran. Perasaan itu menjalari sekujur tubuhnya laksana racun yang melumpuhkan. Dia melihat wanita itu berhasil melepaskan satu persatu belenggu.


Kekuatan Chinua memercik dan menyebar di seluruh tubuhnya. Dimulai dari api merah Khan yang meredup, berlanjut sulur-sulur yang mengikat kaki dan tangannya mengering dan hancur. Wanita itu memutar tubuhnya di udara, lalu mendarat dengan mulus kembali ke tanah.


Chinua tertawa meremehkan. Dia langsung bergerak cepat ke arah Shanum. Gadis itu tidak sempat menghindar saat Chinua menarik rambut Shanun tepat di akar-akarnya. Cengkeramannya begitu brutal sampai matanya berair. Dia menyeret Shanum ke tengah-tengah pertempuran. Sungguh luar biasa nyalinya.


"Hentikan serangan kalian. Jika tidak gadis ini akan langsung mati," geramnya. Genggaman Chinua di rambut Shanum bertambah kencang. Pertempuran berhenti. Kemarahan yang mengerutkan wajah Khan tampak bisa membuat dunia kiamat. Mata coklat keemasannya beralih ke arah Shanum. Perintah tanpa suara. Pria itu sudah mengajarinya cara mengatur energi, pikiran juga tubuhnya. Dan Shanum juga memiliki kemampuan bela diri untuk melindungi dirinya dari serangan.


Shanum diam bukan berarti dia lemah atau menyerah kalah. Namun dia sedang mengembalikan energinya. Mengeluarkan kekuatan sangat menghabiskan energi. Seolah Khan tahu bahwa suatu hari hal ini akan sangat mungkin terjadi. Dia tahu kekuatan Shanum masih sukar dipahami dan belum bisa dikendalikan.


Chinua memang menggenggam rambutnya, namun kekuatannya juga mengunci tubuh gadis itu. Tapi Shanum masih bisa menyalurkan sebagian energinya secara perlahan ke jari-jari tangannya, ia harus bisa menggerakkannya. Jika tidak, harapannya untuk membebaskan diri akan kandas.


"Mengapa kau tetap bersikeras melenyapkanku? Aku tidak pernah merugikanmu?" tanya Shanum mencoba mengalihkan fokus Chinua. "Jawabanku hanya satu. Kau sial karena mewarisi darah kakakku." Chinua menjawab dengan kesal.


"Belum terlambat, kau tahu," gumam Shanum dengan enggan, sambil meringis merasakan pedih di kulit kepalanya. Dia tidak tahu jika ia mampu mengalahkan Chinua bahkan dengan kekuatan penuh, tapi perasaannya untuk bertarung dengan adil menuntut bahwa ia setidaknya mencoba untuk meyakinkan wanita ini, untuk menghindari pertarungan berdarah yang mematikan.


"Terlambat?" Chinua menyeringai, tangannya yang satu lagi terangkat untuk melingkari leher Shanum dengan tekanan udara yang menghukum. Shanum merintih kesakitan, tapi menolak untuk mundur. "Kukira kau bisa berubah jika kau sungguh-sungguh menginginkannya," ucap Shanum tersengal. Chinua tertawa geli. "Maksudmu aku bisa menjadi ratu baik hati, yang penuh kasih?"


"Semacam itulah," kata Shanum serak "Dan kurasa itu termasuk tidak membunuhmu?" Chinua menatap tajam. "Itu bisa menjadi langkah pertama," ujar Shanum mencicit. Tekanan udara perlahan semakin kencang, memunculkan rasa sesak dan sakit yang amat sangat. Wanita itu lalu sedikit melonggarkan tekanannya. Tampaknya Chinua tertarik dengan kata-katanya, ia memberinya kesempatan untuk berbicara.


"Kau bodoh." Chinua mendengus. "Bukan, hanya seseorang yang mengerti bahwa dikejar rasa dendam seumur hidup tidaklah menyenangkan. Dan hidup tanpa rasa cinta akan membuatmu sengsara." Mata biru yang luar biasa itu menyala-nyala, seolah kewalahan untuk menghentikan kata-kata lembut Shanum.


"Sebaiknya kau lepaskan gadis itu, Chinua." Seseorang muncul dari balik pohon. Menghentikan tekanan pada leher Shanum. Chinua tercengang, "Dario," sebutnya. "Ya ini aku, seharusnya aku tidak berada di sini. Tapi aku tidak bisa, Chinua. Aku harus membantu menyadarkanmu."


Konsentrasi Chinua terbagi. Shanum memanfaatkan kesempatan itu. Dia menggeliat, berputar di atas tanah, dan menghantamkan kakinya yang sudah terbebas dari belenggu ke sela-sela kaki Chinua. Ratu itu ambruk, membungkuk sambil menggeram. Shanum mengepalkan tangannya dan mengarahkan tepat ke hidung Chinua. Tulangnya berkeretak dan rambutnya terlepas bebas dari cengkeraman. Shanum berguling, membebaskan diri. Khan sudah bersiap menariknya. Dia memeluk dan membawa Shanum ke tempat yang aman, di sisinya.


Chinua mengusap hidungnya yang berdarah, lalu kembali berdiri tegak. Dia menggeram marah. "Laki-laki berengsek, kau mengacaukan konsentrasiku." Dario tampak tersenyum getir. "Menyerahlah Chinua dan tinggalkan tempat ini, kami akan membiarkan kau dan pasukanmu pergi."


"Hanya ada dalam mimpimu. Serang!" Chinua berteriak lantang memberikan aba-aba kepada prajuritnya untuk kembali menggempur musuh mereka. Pukulan besi dengan besi berdentang ke seluruh penjuru. Para prajurit ratu itu ada yang melepaskan panah-panah kayu dan sihir, tapi terpental ketika mengenai penangkal merah Khan.


Dario melawan Osbert dengan pedangnya. Sergei bergerak lincah menembakkan sihir cahaya birunya. Sedang Khan dan Shanum saling bahu-membahu memasang penangkal.

__ADS_1


Banyak korban berjatuhan. Termasuk Taban dan Roman yang terluka. Mereka segera menyingkir dari medan perang. Khan dan Shanum berhasil menembus pertahanan Chinua dengan efisiensi yang brutal. Dan Chinua berteriak ketika pedang Khan menusuk perutnya. Darah Chinua menodai tanah. Wajah wanita itu memucat kaget.


Sesaat Khan lengah, karena merasa sudah berhasil melukai ratu itu. Namun Chinua begitu licik, dia berpura-pura lemah dengan membungkukkan tubuhnya. Tapi wanita itu mempersiapkan sihirnya dan cahaya biru itu menerjang Khan. Pria itu terlempar dan jatuh menghempas tanah. Shanum menggeram marah.


"Tidak akan kubiarkan kau melukai kami lagi," teriaknya muak. Gadis itu melepaskan seluruh energi yang berada di tubuhnya, dan api berwarna keemasan menyala-nyala di sekujur tubuhnya. Chinua menelan ludahnya, api keemasan itu, seperti ramalan Xanadu. Bola mata Shanum yang tadinya berwarna hitam kini dikelilingi oleh cahaya keemasan.


Gadis itu menerjang Chinua hingga dia terpental jatuh. Kemudian Shanum mengarahkan api yang berkobar di tangannya ke tubuh Chinua yg sedang tergeletak di tanah. Sebelum wanita itu berhasil bangun, Shanum melepaskan api keemasan itu. Namun mendadak satu sosok tubuh berdiri di hadapan Chinua, menghadang laju api. Dia mengeluarkan tameng sihir berwarna putih berkilau.


Tetapi tameng tersebut tidak dapat menahan kekuatan api Shanum. Pria itu terseret mundur sambil berusaha menahan laju kekuatan api. Kekuatan tameng itu tidak dapat bertahan lama, lalu meledak di udara bagaikan kaca yang hancur menjadi serpihan berkilauan. Shanum bergerak mundur, wajahnya tampak pucat pasi. Api keemasan tersebut mengenai tubuh orang itu. Dia tersentak dan menjerit saat tubuhnya mulai terbakar. Orang itu jatuh tersungkur ke atas tanah dengan tubuh masih berselimut api.


"Tidaaak!" Chinua menjerit kencang. Suara teriakannya menggetarkan tempat itu. Chinua langsung melepaskan sihir birunya agar api segera padam pada tubuh orang tersebut. Api langsung padam, tapi kerusakan sudah terjadi. Chinua mencoba bergerak menuju orang itu. Dia beringsut sambil memegangi perutnya yang terluka.


Shanum jatuh terduduk, air mata tampak berderai di pipinya. Khan menghampiri gadis itu dan menariknya berdiri, lalu memeluknya. Semua yang berada di sana berhenti bertempur. Mereka semua mematung melihat adegan itu. Pasukan Chinua berkumpul di sekeliling Chinua. Mereka melindungi sang ratu.


"Jangan lakukan ini, Dario. Aku tidak pernah memintamu melakukannya. Kau pria sialan! Kenapa kau harus muncul kembali dalam hidupku!" Wanita itu menggeram marah. "Aku tidak akan pernah bisa melihatmu mati, Chinua." Dario berkata sambil terengah.


"Kau boleh menyiksaku sesuka hatimu, tapi tidak akan pernah bisa menghancurkan apa yang kurasakan terhadapmu," ucapnya lagi. Darah memenuhi mulutnya, menetes di antara bibir Dario. Wajah pria itu melepuh, begitu juga sekujur tubuhnya. Pakaiannya mengering terbakar. Namun Chinua tidak peduli, dia tetap memeluk pria itu.


"Tolong jangan bicara lagi." Mata wanita itu berkaca-kaca. Chinua terus menyalurkan energi penyembuhnya, meski dia sendiri juga membutuhkan energi itu.


Dario tersenyum dan memandang wajah Chinua. Tangannya menggapai ke wajah Chinua dengan susah payah. Chinua menarik tangan pria itu dengan lembut dan mengusapkannya ke pipinya. Napas Dario memburu, namun dia tersenyum lemah. Kemudian tangannya melunglai, tubuhnya melemas dan dia menutup matanya.


Chinua tertegun, air mata berkilau muncul dari matanya, dan mulai menetes ke wajah Dario. Chinua tidak kuasa menahan lagi air matanya. Shanum mendengar isakan gemetar meledak darinya. Ratu bengis itu merintih pilu, sambil memeluk tubuh sang pria. Dada Shanum terasa sesak, wanita itu ternyata masih memiliki setitik rasa kasih. Bukan seperti iblis betina yang selalu haus darah.


Shanum mengangkat kepalanya. "Kau tidak apa-apa," tanya Shanum serak. Gadis itu baru sadar tadi pria itu juga sempat terhempas jatuh. Khan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Apakah Dario masih hidup, dan apa kita bisa menghampiri mereka?" tanya Shanum kembali. "Dario masih hidup. Aku dapat merasakan energinya, meski sangat lemah. Tapi Chinua berusaha menyalurkan kekuatan penyembuhnya. Aku rasa dia akan selamat."


"Dia memiliki kekuatan itu juga?" potong Shanum. "Ya, kalian satu garis darah, kekuatan itu bisa jadi warisan milik klan kalian."


Khan terdiam cukup lama. "Untuk kita dapat mendekati mereka atau tidak semua terserah padamu. Yang pasti wanita itu masih berbahaya, meski aku tidak menyangka melihatnya bisa seperti itu." Khan menarik napasnya. "Seperti manusia normal," jawab pria itu lagi.


Shanum menggigit bibirnya, dia masih ragu. Tiba-tiba terdengar bunyi pukulan. Mereka semua menoleh ke tempat asal suara. Terlihat Xanadu memukul wajah Chinua. Ratu itu tersentak, tangisnya kontan mereda. Dia mengusap wajahnya sambil mengertakkan giginya.


"Tidak perlu menangis, tinggalkan pria itu. Jangan seperti ayahmu yang lemah karena cinta," hardik Xanadu.


Chinua menyipitkan matanya. "Apa maksudmu? Mengapa kau tahu soal pria terkutuk itu?" geram Chinua. Xanadu memucat. Dia bergerak mundur, berusaha mengelak. "Mau kemana kau, Wanita Tua?" Xanadu ingin melarikan diri.


Namun dia dihadang oleh Sergei. "Katakan Xanadu, dia perlu tahu," sahut Sergei. Xanadu masih diam, wajahnya mengeras. "Ini bukan urusanmu, pengkhianat!" ucap Xanadu berang.


"Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya, aku yang akan bilang. Xanadu adalah bekas tunangan ayahmu," jelas Sergei. "Diam!" bentak Xanadu. Chinua mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya pada Sergei.


"Aku pernah tidak sengaja menyentuhnya dan melihat masa lalunya," jawab Sergei sambil tersenyum licik. Wajah Xanadu terlihat gelagapan. Dia mencoba mengecoh Sergei agar dapat kabur.

__ADS_1


"Oh tidak, jangan coba-coba." Sergei menjentikkan jarinya. Lalu waktu berhenti sesaat. Semua terdiam kaku, namun masih dapat mendengar dan berbicara. Hanya orang-orang pilihan yang masih dapat bergerak normal.


"Hei, jika kau memiliki kemampuan ini kenapa tidak kau hentikan dari tadi waktunya. Jadi aku tidak perlu melawan orang-orang ini," protes Taban. "Jika aku langsung melakukan itu di mana serunya." Sergei menjawab sambil tersenyum smirk. "Dasar Pria Gila!" gerutu Taban.


Shanum memicingkan matanya, dia menatap Sergei tajam. "Dia tidak bisa sembarangan menggunakan kekuatan itu, Shasha." Khan berkata sambil melihat ke arah Sergei. "Kekuatan itu menyedot habis energinya," tambah Khan. Shanum menoleh ke arah Khan dan mengerutkan alisnya. "Bagaimana kau tahu?"


"Aku pernah mendengar dari para tetua klanku. Ada beberapa orang dari Klan Batzorig yang dapat menghentikan waktu. Dan biasanya mereka keturunan bangsawan."


"Maksudmu, Sergei itu memiliki darah biru?" Khan mengerutkan keningnya. "Darah biru itu artinya sama dengan bangsawan di negaraku," jelas gadis itu. "Oh, artinya sama. Ya, hal itu mengalir di darahnya," katanya.


"Oh tidak, akan semakin sulit untuk Diva," bisik Shanum. Khan menarik tangan gadis itu. "Tidak ada yang bisa menentang takdir, Shasha. Jika takdir berkata mereka adalah jodoh, maka tidak ada satu manusia pun yang bisa menghalanginya."


"Sejak kapan kau jadi bijak seperti ini, Adri," goda Shanum. Khan menatap Shanum dengan lembut. "Sejak bertemu denganmu, Shasha," jawabnya. Shanum terdiam, dia kehilangan kata-kata. Hatinya berdenyut bahagia mendengar ucapan pria itu.


"Mengapa kau masih diam, Penyihir Tua?" Mata Chinua memicing curiga. Xanadu melihat ke arah Chinua dengan mengangkat dagunya, seolah dia menolak mengatakan apa pun. "Katakan, Xanadu!" Jika tidak aku akan memotong lehermu," bentak Chinua.


Xanadu menutup matanya, lalu membukanya lagi, dia masih mempertimbangkan berapa banyak informasi yang perlu diberitahukannya. "Ya, aku bekas tunangan Ayahmu," akunya.


"Apakah ada lagi?" tanya Chinua. Xanadu menggelengkan kepalanya. "Dia berbohong," potong Sergei. Xanadu menggeram, dia berusaha memberontak. Namun sia-sia, badannya tetap tidak bisa digerakkan. Chinua langsung menyambar ucapan pria itu. "Baiklah, kalau begitu kau katakan padaku, apa yang kau tahu." Chinua menyuruh Sergei mengatakan padanya.


"Kau yakin ingin mendengar kata-kataku." Sergei memastikan kembali. "Ya, aku ingin tahu. Cepat katakan," sahut Chinua. "Hentikan! Jangan coba-coba kau mengatakannya, bedebah! Aku akan membalasmu." Xanadu bersikeras menghalanginya. Chinua mendengus jijik. "Dia sendiri bedebah."


Sergei tidak mengomentari ancaman wanita tua itu. "Sebetulnya ini bukan urusanku. Tapi hati kecilku tergelitik." Ia membiarkan kata-katanya terserap, kemudian mendekat selangkah demi selangkah hingga wajahnya dan wajah Xanadu hanya berjarak beberapa senti.


"Dia merasakan kebencian yang teramat dalam pada ayahmu. Jadi dia menculikmu saat bayi dan membesarkanmu dengan mengisi sampah kebohongannya dalam pikiranmu. Seakan-akan orang tuamu telah membuangmu dan tidak mencintaimu," kata Sergei.


Ucapan Sergei menghantam Chinua begitu dahsyat sampai dia membalas dengan sengit," Bagaimana aku tahu kau tidak berbohong?" Sergei tertawa kasar dan meremehkan. "Jika kau tidak percaya aku akan menunjukkannya padamu."


"Tunggu sebentar, aku memulihkan diri dahulu." Chinua lalu memejamkan matanya, dia bermeditasi untuk menyembuhkan luka-lukanya. Mereka menatap Chinua dan menunggunya. Semua orang lebih penasaran melihat reaksi wanita itu, meski mengetahui lanjutan pengungkapan Sergei juga lumayan menarik.


Shanum juga bertanya-tanya sihir apa lagi yang akan dilakukan Sergei. Pria itu memiliki segudang sihir yang luar biasa, hingga membuat Shanum kagum. Lalu Chinua membuka matanya. Dia bangkit dari posisi duduknya. Luka di perutnya telah tertutup, menyisakan robekan di pakaiannya.


"Aku sudah siap. Apa yang harus kulakukan?" Chinua melintasi jarak yang ada di antara dia dan Sergei. Pria itu menoleh ke arah Xanadu. "Sebaiknya aku menutup mulutnya dahulu. Dia bisa jadi berisik, dan akan merusak konsentrasiku. Silahkan kau boleh duduk atau berdiri, kita semua akan menonton sebuah film." Sergei menyeringai lalu dia memejamkan matanya. Jarinya melebar, memegang ubun-ubun Xanadu. Lalu mulai merapal mantra.


Perlahan muncul kabut berwarna putih di hadapan mereka. Kabut itu mulai memadat membentuk bidang segi empat yang cukup lebar. Mereka semua terkesiap, saat muncul gambar di bidang padat kabut tersebut. "Ini luar biasa, aku bagaikan menonton film bioskop, meski layarnya lebih kecil." Shanum mendesah terkesima.


Gambar yang muncul membentuk cuplikan-cuplikan cerita. Shanum mengusap tengkuknya saat melihat cuplikan Xanadu menculik Chinua saat bayi. Kemudian kesedihan kedua orang tuanya, karena kehilangan putri kecil mereka. Lalu muncul perlakuan Xanadu selama ini terhadap Chinua. Perlakuan yang sungguh brutal untuk dilakukan pada seorang anak kecil yang polos.


Shanum membekap mulutnya, dia menoleh ke arah Chinua. Dia melihat Chinua mengepalkan tangannya, wajahnya dingin. Jantung Shanum berdebar kencang. Oh Tuhan, jika dia menjadi Chinua dirinya mungkin akan hancur, tak sanggup menampung semua penyiksaan yang dia alami.


Shanum melihat Chinua berdiri di bawah langit tak berawan dengan sinar matahari menyengat kepala, tidak ada apa-apa disekitarnya kecuali pepohonan, tidak ada bayangan yang bisa dijadikannya tempat bersembunyi, tidak ada apa-apa untuk berpegangan.


Shanum mengetatkan pelukannya pada Khan, gadis itu mengerjapkan matanya. Mencoba menahan kesedihan yang melanda batinnya. Biar bagaimana pun wanita itu adalah leluhurnya, mereka memiliki ikatan darah yang sama. Dia merasa marah juga pada Xanadu. Wanita tua itu begitu keji.

__ADS_1


Dia melihat wajah Chinua yang kusut. Kepedihan dan kelelahan bersemayam di sana. Wajah yang tak pernah diperlihatkannya kepada siapa pun. Kecuali tadi saat dia melihat Dario terbakar. Shanum memperhatikan wanita itu lebih dalam. Sungguh rumit hidup Chinua. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu sekarang. Saat seluruh kebenaran terkuak di hadapannya.


__ADS_2