
Tenda telah didirikan di bawah naungan pepohonan itu. Ternyata dalamnya lebih besar daripada yang Shanum sangka. Chinua mengajaknya masuk untuk beristirahat, setelah mereka berjalan bersama dalam diam menyusuri jalan setapak di antara pepohonan.
"Aku tidak menyangka kalian sudah mempersiapkan tenda di tempat ini," kata Shanum sembari matanya menyesuaikan diri dari cahaya yang makin redup di luar ke cahaya keemasan yang memancar dari banyak lilin. Langit memang sudah mulai menggelap. Memunculkan lembayung senja yang temaram.
"Ya, tenda ini sudah dipersiapkan oleh pengawalku. Sedangkan untuk tempat, Khan dan pasukannya yang menentukan lokasi, karena mereka sudah terlebih dahulu berada di tempat ini."
Chinua membungkuk mengambil segelas minuman dari meja pendek berisi hidangan makanan dan minuman. Kemudian ia berdiri menghadap pintu.
Shanum memperhatikan pengaturan posisi dan isi tenda, ada satu alas tidur di sudut, besar dan mewah, dengan selimut bertahtakan permata.
Shanum mengerutkan keningnya melihat permata pada selimut itu dan berkata, "Apakah tidurmu bisa nyenyak berselimutkan barang mahal seperti itu?"
Chinua menoleh, ia memperhatikan selimut yang ditunjuk Shanum sembari tersenyum tipis.
"Oh itu. Aku justru tidak akan bisa tidur tanpa selimut itu."
Shanum memutar bola matanya. "Yang benar saja."
"Memang konyol sih. Tapi, selimut itu pemberian seseorang yang sangat berarti bagiku. Jadi, tentu saja aku sangat menyukainya," jawab Chinua dengan senyum merekah di bibirnya yang mungil.
Shanum melongo. "Siapa orang yang berani memberikanmu selimut semahal itu, hingga bisa mendatangkan pencuri di sekeliling ranjangmu."
Chinua terkekeh geli. "Tidak akan ada yang punya nyali mencurinya dariku, Shanum. Soalnya, selimut itu sudah diberi mantra."
"Halah, yang aneh-aneh saja, sampai selimut pun harus diberi mantra segala," decak Shanum tak habis pikir.
"Kau pasti penasaran mau tahu tentang mantra itu kan, Shanum?"
Shanum tampak berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk dengan antusias.
"Mantranya gampang kok. Kau tinggal sebutkan kata cinta tiga kali setelah itu nama orang yang kau cintai." Mulut Chinua melebar membentuk seringai.
Sadar ia sedang dikerjai, Shanum membuka mulutnya untuk protes. Namun, belum sempat ia mengeluarkan kata-kata, Chinua telah mengangkat tangannya, memberikan isyarat padanya untuk berhenti.
Binar geli memancar dalam netra mata Chinua, berikut ******* yang dilontarkannya. "Kau pasti tak percaya aku bisa mengucapkan kalimat absurd seperti tadi kan. Aku sendiri juga heran, pada diriku yang biasanya kaku ini."
Lalu Chinua terkikik, kali ini wajahnya ikut bersemu merah.
Shanum hanya mendengus, sembari memutar bola matanya mendengar ucapan Chinua yang menggelikan itu.
"Kau tahu orang yang memberikan selimut itu, Shanum," bisiknya pelan. Wajah Chinua terlihat bersinar di antara senyuman yang terulas oleh bibirnya. Shanum sempat terpana, mengagumi kecantikannya.
"Memangnya siapa?" tanya Shanum antusias bercampur penasaran.
"Astaga Shanum. Kau tidak tahu?" seloroh Chinua tak percaya. "Harusnya kau mudah menebak orang tersebut. Kau kan berada di sana saat ia mengorbankan dirinya untukku."
"Sebentar..."
Shanum menatap Chinua lekat dan sibuk berpikir.
"Itu Dario?"
Chinua mengangguk dengan wajah berseri-seri.
"Ah, ternyata pria itu," sahut Shanum.
Kemudian tatapan takjub terlihat di mata Shanum. Dia menggelengkan kepala, masih setengah percaya Dario mampu memberikan barang yang berharga berupa selimut bertabur permata seperti itu. Biasanya pria kaku seperti tipe Dario, bahkan tidak ingat untuk menberikan hadiah indah bagi pasangannya.
Namun, mendadak Shanum membeku, teringat satu pria lagi yang bertipe sama dengan Dario. Pria itu adalah Khan Adrian, suaminya sendiri. Harusnya ia tidak perlu heran, karena suaminya sendiri pernah bertingkah sama dengan Dario.
Shanum tersenyum.
"Aku turut bahagia melihatmu sekarang sudah berani menerima cintanya," ucap Shanum sembari membungkuk menuju meja untuk mengambil segelas air.
Setelah menandaskan air dalam gelas, Shanum ikut duduk di samping Chinua. Matanya membola, merasakan keempukan karpet tempat alasnya duduk. "Ternyata karpet ini sangat empuk dan nyaman ya."
"Tentu saja. Aku tidak pernah mau menolak kenyamanan selama hal itu masih bisa kudapatkan."
"Ya. Orang tua kan memang seharusnya tidak boleh duduk atau tidur di tempat yang keras," celetuk Shanum dengan wajah polos.
Tangan Chinua yang sedang memegang gelas seketika berhenti di udara. Chinua meletakkan gelasnya kembali, lalu memicingkan mata.
"Jangan bilang kau sedang mengatakan aku ini sudah tua renta, Shanum."
Shanum menyeringai dengan wajah tak bersalah. Sepertinya dia membuat wanita itu tersinggung. Shanum lupa, bahwa kata-kata tua sama dengan umur, pantang disebut-sebut pada wanita. Karena memiliki kadar sensitivitas yang tinggi.
Guna menghindari masalah yang tanpa sadar sudah ia buat, Shanum berpura-pura tertarik memperhatikan air yang berada di dalam gelasnya dengan serius.
Tak berapa lama, Shanum mendengar rapalan mantra diucapkan, lalu suara gumaman.
"Tidak keriput. Masih mulus dan kencang kok."
Tertarik untuk melihat dan merasa penasaran, Shanum melirik ke arah Chinua. Dan dia langsung melongo. Setelah tersadar dari rasa kagetnya, Shanum membekap mulut. Mencoba mengatur napas agar tidak langsung tergelak.
Terlebih saat melihat tingkah Chinua selanjutnya, yang menurutnya sangat lucu. Wanita itu menepuk-nepuk kedua pipi, memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, serta mematutkan wajah pada kaca sihir yang dibuatnya sendiri sambil bergumam.
Akhirnya, tawa berderai terlepas begitu saja dari mulut Shanum. Dia tertawa terbahak-bahak sambil menunduk memegangi perutnya.
Chinua mengangkat alisnya, namun ia tidak berkomentar, hanya memperhatikan Shanum tertawa hingga berhenti sendiri.
Beberapa saat kemudian, sambil tersengal-sengal, Shanum menoleh ke arah Chinua dan menemukan senyum geli telah terbit di mulut wanita itu.
"Aku senang dapat menghiburmu saat ini, Shanum. Setidaknya wanita tua renta ini bisa menghapus jejak kesedihan yang tadi sempat hadir di matamu."
Ekspresi Shanum langsung berubah total. Matanya tidak lagi berbinar oleh tawa, bibirnya langsung mengatup erat, dan netra matanya kembali menjadi redup.
Chinua berdecak keras. "Oh, maafkan aku. Sudah membuatmu teringat lagi pada tingkah pria bodoh itu."
Ekspresi Shanum semakin sendu mendengar ungkapan terus terang Chinua. Meski ia sudah dapat menebak orang yang disebut bodoh itu, tapi ia tetap bertanya, "Siapa yang kau sebut bodoh?"
"Siapa lagi selain suamimu yang tampan itu," jawab Chinua dengan nada suara kesal.
Shanum menghela napas dalam. "Jangan katakan hal seperti itu tentangnya, Chinua. Semua ini sepenuhnya adalah salahku."
Chinua mengangkat alisnya. "Mengapa harus menjadi kesalahanmu?" katanya meminta penjelasan.
Dan akhirnya, mengalirlah kebenaran yang selama ini Shanum sembunyikan dan tutup rapat dalam benaknya. Ia terpaksa mengungkapkannya agar tidak ada lagi kecurigaan dari Chinua. Toh wanita itu adalah keluarganya, tentunya ia tidak akan membocorkannya kepada orang lain.
Setelah menyelesaikan ceritanya, Shanum tersenyum gugup. Ia menantikan komentar dari Chinua. Baik atau buruknya komentar wanita itu akan diterimanya dengan lapang dada.
__ADS_1
Namun, Shanum tidak menemukan komentar apa pun. Chinua diam membisu, sembari menatap lekat ke arahnya.
"Tidak ada yang ingin kau katakan?" desak Shanum.
Chinua berdeham. "Aku tidak akan memberikan banyak kalimat, cukup hanya satu kalimat saja, yaitu: suamimu itu benar-benar pria tolol." Bukannya menghakimi Shanum, Chinua malah memaki Khan.
Shanum mendesah. "Sudahlah, jangan ditambahi lagi. Tadi bodoh, sekarang tolol, setelah ini mungkin kau akan mengatainya dungu."
"Ya. Itu benar. Aku akan mengatainya seperti itu. Karena dia memang dungu, Shanum. Astaga, suamimu itu--arghh... aku gemas jadinya."
Habis menggeram kesal, Chinua memukul karpet sekuat tenaga dengan kepalan tangannya, hingga tanah di bawah mereka terasa mulai bergetar dan tenda itu juga ikut bergoyang.
"Woa...hentikan itu. Kau mau membuat kita terkubur hidup-hidup di sini." Shanum refleks berdiri.
Chinua menyeringai, kemudian ia memejamkan mata, menempelkan telapak tangannya kembali pada karpet. Sinar biru berkilau perlahan menyebar di lantai dan guncangan itu mendadak berhenti.
Shanum menghela napas lega sambil meletakkan salah satu tangan di dada. "Kau benar-benar ya. Membuat jantungku nyaris copot."
"Kalau kau takut, mengapa tidak langsung kabur keluar?" ejek Chinua.
"Terus, meninggalkanmu sendiri di sini? Terus, kalau terjadi apa-apa pada dirimu, aku akan merasa bersalah seumur hidup pada Dario," balas Shanum.
"Ah... kau mengkhawatirkanku. Manis sekali."
Shanum memutar bola matanya.
"Omong-omong tentang Dario, di mana dia sekarang?"
"Sebentar lagi juga dia pasti ke sini."
Baru saja Chinua melemparkan kalimat tersebut, mereka mendengar suara ribut-ribut dari tirai pintu.
Shanum terkejut, saat melihat Dario benar-benar melongokkan kepalanya ke dalam tenda. Sesuai ucapan Chinua, pria itu muncul di hadapan mereka.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dario dengan wajah cemas. Pria itu menghampiri Chinua, memeriksa tubuh wanita itu dengan seksama.
Chinua memutar bola matanya. "Aku baik-baik saja, Io."
Dario langsung mendekap Chinua dengan erat sembari mengecup cepat bibirnya. "Aku khawatir tahu."
Chinua tersenyum, meraih dan mengusap rahang pria itu. "Aku bisa menjaga diriku."
"Aku tahu, tapi tetap saja aku cemas."
Shanum tersenyum geli melihat tingkah mesra mereka. Istilah dunia serasa milik berdua, yang lain hanya mengontrak, sungguh cocok untuk menggambarkan tingkah kedua sejoli itu saat ini.
"Em, ada Shanum, Io," bisik Chinua sembari tersipu malu. Dario langsung menoleh ke arah Shanum dan tersenyum, sembari menganggukkan kepala.
Shanum membalasnya dengan senyum juga dan berkata, "Silahkan dilanjutkan, aku keluar saja dari sini ya."
"Eh, jangan!" cegah Chinua. Wanita itu menghadap Dario lalu berbisik, "Aku masih ingin berbicara dengan Shanum, Io. Boleh kan?"
Senyum terkulum dari bibir Dario. "Tentu saja boleh." Dario melepaskan pelukannya.
Pria itu berdeham dan terlihat salah tingkah. "Baiklah, aku tinggalkan kalian kembali."
Dario mengecup punggung tangan Chinua, lalu melangkah menuju pintu tenda.
Dario menoleh. "Ya, Shanum."
"Apakah tenda lain baik-baik saja, Dario?" tanya Shanum.
"Hanya ada dua tenda yang roboh. Tenda Yang Agung Khan Adrian dan tenda Nona Sarnai. Sedangkan tenda lainnya tetap berdiri kokoh."
Shanum terpana. Dia melirik ke arah Chinua. Dan wanita itu tidak melihat ke arah Shanum. Matanya fokus kepada Dario.
"Sebaiknya kau segera pergi, Sayang. Bukankah tugasmu adalah membantu Khan. Tadi kau bilang tendanya roboh kan," kata Chinua sambil tersenyum manis.
Merasa diusir secara halus Dario mengangguk. "Setelah membantu Khan, aku akan kembali," kata pria itu sambil bergegas meninggalkan mereka.
Mata Shanum terarah ke Chinua, saat melihat tirai kembali tertutup rapat. "Aku yakin kau pasti sengaja. Katakan, bagaimana caramu melakukannya?"
Chinua tidak menjawab. Dia membungkuk mengambil kue-kue kecil dari meja, ia membelakangi Shanum.
Merasa diacuhkan, Shanum berdiri di depan Chinua, menarik sikunya, dan memaksa wanita itu menghadap ke arahnya dengan wajah memelas. "Katakan, Chinua. Please..."
Chinua mengangkat alisnya sebelah, lalu tersenyum smirk. "Hem, rahasia."
Wanita itu kembali memasukkan kue ke dalam mulut dan tampak menikmatinya. "Hem, kue ini enak."
"Ishh..." Shanum mengerucutkan bibir, terlihat kesal. Dia merampas kue dari genggaman Chinua dan menjejalkannya ke dalam mulut.
Mata Shanum seketika membola, "Iya, enak."
Chinua berdecak kesal. "Main rampas saja. Itu punyaku tahu," protesnya.
Shanum langsung menoleh ke arah meja, mengambil kue yang sama, dan menyodorkannya kepada Chinua. "Ini aku kembalikan kuenya."
Chinua memutar bola matanya. "Jorok. Makan sendiri saja." Wanita itu mendorong kembali kue yang disodorkan Shanum. Lalu menghempaskan bokongnya di alas tidur miliknya.
"Dan perihal tadi, aku mengaku, kekuatan peredamku melewati tenda mereka. Jadi, hanya tenda mereka yang pastinya akan roboh. Tapi tidak perlu khawatir, mereka pasti baik-baik saja," terang Chinua sembari mengusap permata-permata pada selimutnya.
Shanum tersedak kue yang sedang ia makan, matanya sampai mengeluarkan air mata dan terbatuk-batuk keras. Chinua membantu meraih gelas terdekat, lalu menempelkannya ke bibir Shanum.
Shanum berdeham, menghela napas dalam. "Kau..."
Ucapannya terputus, ia kembali berdeham, dan terbatuk-batuk kecil lagi.
Chinua mengisi gelas Shanum dengan air, kembali memberikannya kepada Shanum.
"Aku kehilangan kata-kata." Shanum menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mulai bisa menguasai efek tersedaknya tadi.
Hening.
Shanum menatap Chinua sembari tersenyum simpul, lalu berkata, "Aku sayang padamu, Chinua. Terima kasih sudah melakukan hal itu." Kontan Shanum memeluk Chinua.
Chinua tertegun, tubuhnya menjadi kaku. Dia tidak pernah diperlakukan sehangat ini, kecuali oleh Dario. Wanita cantik itu tersenyum, tubuhnya seketika menjadi rileks dan membalas pelukan hangat Shanum.
"Tidak menyangka kau ternyata pendendam juga, Shanum." Chinua merenggangkan pelukan mereka, sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian ia terkekeh geli.
__ADS_1
Shanum ikut terkekeh bersama Chinua dengan pandangan sedikit malu. Sebenarnya, sebagian hati Shanum merasa canggung, karena ikut senang Sarnai mendapatkan musibah. Tapi, berhubung ia juga kesal pada wanita itu, jadi rasa canggung itu akhirnya hilang begitu saja.
"Aku bahagia menjadi keluargamu, Shanum." Chinua berkata dengan lembut.
Hati Shanum menghangat, setidaknya di antara sekelumit masalah yang menderanya, ia menemukan kasih sayang dari Chinua.
"Aku juga. Tak pernah menyangka bisa memiliki seorang leluhur yang cantik, sakti dan juga baik hati."
Mata Chinua berkaca-kaca. "Kau tahu Shanum. Dirimu lebih baik dariku. Aku ini bukan apa-apa. Aku tahu hal itu, sejak kau menasehatiku, membuatku menyadari, bahwa mencintai dengan tulus itu bukanlah kelemahan. Dan kebencian itu hanyalah wujud dari kesia-siaan."
Mata Shanum ikut berkaca-kaca. "Aku merasa tersanjung, Bibi."
"Boleh kan aku memanggilmu Bibi? Soalnya kalau memanggilmu nenek leluhur, kesannya kok tua sekali," tambahnya.
Chinua tergelak. "Tentu saja sangat boleh, Shanum."
Suara perdebatan di depan tirai pintu memotong tawa mereka. Kedua wanita itu saling bertatapan dengan ekspresi heran.
"My Queen, Yang Agung memaksa untuk bertemu." Salah seorang pengawal Chinua menyibak pintu tenda sembari memberi hormat.
"Izinkan masuk," jawab Chinua sambil bangkit dari duduknya, diikuti oleh Shanum.
Hal pertama yang muncul di kepala Shanum ketika Khan muncul dari balik tirai adalah masalah. Masalah itu terpancar dari ekspresi dingin pada pria itu.
Shanum melirik Chinua, ia melihat wajah kaku yang sama. Sepertinya Chinua dapat merasakan ada yang tidak beres dari kedatangan Khan ke tendanya.
Khan mengacuhkan Shanum. Dia berjalan dengan langkah kaku ke arah Chinua. Jika situasi tidak sedang tegang seperti ini, ingin rasanya Shanum keluar dari tenda. Segala hal yang serba kaku ini, membuatnya cemas, dan berpikir pasti akan ada yang akan berakhir patah di akhir pertemuan.
Dario tampak menyusul dengan langkah tergesa setelah Khan sudah berdiri di posisinya. Wajah Dario terlihat keruh. Entah apa yang membuat wajah Dario menjadi seperti itu.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Chinua tanpa basa basi. Matanya melirik juga ke arah Dario sembari memberikan kode tanya. Dan dibalas dengan ringisan kecil yang muncul di bibir Dario.
"Apa yang sedang kau lakukan, Chinua?" Suara Khan terdengar menggelegar.
Shanum tersentak. Sedangkan Chinua tidak terlihat kaget sama sekali. Wanita itu malah tersenyum tipis. "Tidak ada yang kulakukan. Apa maksudmu tiba-tiba muncul dan bertingkah tanpa sopan santun seperti ini?"
Mata Khan memicing tajam. "Pembohong."
Rahang Chinua mengetat tajam mendengar tuduhan itu. Namun ia tetap mengangkat dagunya dengan angkuh, tidak terima diintimidasi oleh Khan.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Khan. Aku sedang tidak suka melihat wajahmu saat ini."
Pria itu menggertakkan giginya. "Katakan, Sialan! Tidak perlu berkelit lagi."
Shanum langsung waspada, ketika melihat gestur tubuh kedua pemimpin klan itu. Hawa panas mulai merebak di udara, menandakan adu kekuatan dari keduanya akan segera dimulai.
Oh Tuhan, apa yang harus ia lakukan, untuk mencegah pertikaian di antara mereka.
Shanum sibuk berpikir hingga tidak menyadari Khan menggebrak meja.
Shanum kaget, tangannya langsung terangkat, bersiap memisahkan kedua orang yang sedang mengumbar amarah di hadapannya itu.
"Tidak ada yang perlu aku katakan padamu, Bajingan."
Dario maju selangkah, mencoba masuk ke arena perdebatan itu. Namun Chinua seketika mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Dario untuk berhenti, berikut menatapnya dengan tajam, yang berarti: 'tetap ditempatmu, jangan ikut campur'.
"Ada. Kau pasti dalang dari gempa yang barusan terjadi," tuduh Khan.
Chinua tersenyum sinis. "Kalau memang aku yang melakukannya, terus kau mau apa?" tantangnya.
Shanum mengamati wajah Khan, tidak pernah ia melihat pria itu semarah ini hanya karena tenda yang roboh. Pasti ada hal lain yang melatarbelakangi amarahnya itu. Dan hal itu membuat perutnya mendadak merasa nyeri.
"Kau sudah membuat Sarnai terluka. Kepalanya tertimpa tiang penopang tenda," kata pria itu dengan nada suara dingin.
Shanum sontak melangkah mundur, seolah ucapan Khan barusan memukul batinnya dengan telak. Mata Shanum mencari-cari emosi tertentu yang tersembunyi pada Khan. Mencari rasa lain di luar sekadar kecemasan.
Namun pria itu tak terbaca, yang tergambarkan hanyalah seraut wajah dingin penuh amarah. Shanum mencoba mencari kembali melalui ikatan mereka. Namun sulit, Khan menutup rapat dirinya.
"Oh, jadi semua tuduhan ini adalah karena wanita ular itu. Terus, urusannya denganku apa?" Mata Chinua semakin berkilat menahan amarah.
"Kau harus meminta maaf padanya," jawab Khan dengan mudah. Seakan Chinua adalah seorang anak kecil yang perlu ditegur karena telah melakukan kesalahan.
Mendengar ucapan Khan, Chinua tertawa kencang. "Hei, kau pikir wanita itu siapa?! Aku bahkan tidak peduli padanya. Biarkan saja dia terluka, dan mati sekalian saja kalau perlu."
"Kau..."
Khan mengulurkan tangannya membentuk kepalan, namun mendadak genggaman itu ditahan oleh Dario.
"Sudah cukup, Yang Agung. Anda tidak perlu mempermalukan diri Anda lebih jauh lagi."
"Biarkan saja dia, Io. Agar kita tahu belang yang berusaha ditutupi olehnya selama ini," potong Chinua.
Chinua bergerak mengitari Khan. Dibayangi oleh penjagaan ketat Dario.
"Huh, tak kusangka, ternyata kecemasan beberapa bulan terakhir ini untuk istrinya itu adalah dusta. Kalau kau memang peduli pada istrimu, harusnya yang kau cemaskan adalah Shanum, bukannya malah wanita yang bukan siapa-siapa itu."
Khan bimbang sejenak mendengar sindiran Chinua. Dia mengepalkan tangan erat di kedua sisi tubuhnya. "Aku tidak perlu mencemaskan dirinya. Dia pasti baik-baik saja dengan pedang ratu klan lain."
Jantung Shanum terasa berhenti berdetak. Matanya menatap nanar ke arah Khan. Kedua kakinya lunglai. Ia jatuh terduduk di atas karpet dengan kepala menunduk lesu. Terlalu mati rasa untuk memproses secara tenang ucapan Khan barusan.
Shanum berusaha menarik napas dalam, namun rasa sakit di hatinya kian tajam. Semua akal sehat yang selama ini membimbingnya hilang begitu saja, meninggalkan rasa sesak sedemikian rupa, membuatnya kewalahan.
Shanum mengangkat wajah. Melihat ketiga orang itu membeku tidak bergerak.
Shanum tidak memperhatikan ekspresi Dario dan Chinua, fokus tatapannya kali ini adalah pada Khan.
Dan betapa sedih dirinya, ketika melihat ekspresi datar serta dingin suaminya itu diarahkan kepadanya. Semua sandiwara, harapan dan niat baiknya selama ini ternyata sia-sia.
Shanum tidak sanggup mengucapkan satu patah kata pun. Lehernya terasa tercekik oleh kekecewaan. Perlahan air mata mulai menetes satu demi satu dari ujung matanya. Saat ia merasa tak sanggup lagi menahan seluruh beban berat di pundaknya itu, Shanum terisak.
Dari balik kabut air matanya, ia melihat Khan memucat. Dan Chinua melesat menuju ke arahnya. Wanita itu ikut duduk sembari mendekapnya erat tanpa permisi.
"Kau keluar, tinggalkan kami!" Tunjuk Chinua pada Khan.
"Bawa dia pergi, Io. Sebelum aku menyerangnya di sini."
Dario mengangguk dan menarik bahu Khan. Pria itu sempat menolak beberapa kali tarikan tangan Dario. Mata Khan hanya fokus menatap kepada Shanum. Namun akhirnya Dario bersikeras, ia kembali menarik dengan lebih memaksa.
Tatapan Khan otomatis berubah, ia mengalihkan pandangan pada bahunya. Keberatan yang sempat ingin Khan lontarkan kepada Dario, ia urungkan. Semua itu karena Khan melihat kilat permohonan terpantul pada netra mata Dario.
__ADS_1
Akhirnya Khan mengalah, ia melangkah dengan gontai, keluar dari tenda mengikuti Dario.