Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 27 Pukulan Telak


__ADS_3

Chinua terbangun di sebuah lapangan terbuka di sisi lain hutan. Napasnya terasa sesak saat dia mencoba mengangkat tubuhnya. Dia terengah, darah memenuhi mulutnya. Chinua meludahkannya.


Lengannya tertekuk saat dia berusaha bangkit, dan darah juga mengucur dari hidungnya, menciprat ke tanah. Bajunya terkoyak di sana sini. Rambutnya berantakan dan kusut, tampak menyatu di satu sisi, sedang di sisi lain berdiri tegak tidak beraturan. Jika dia manusia biasa, nyawanya sudah bisa dipastikan tidak terselamatkan.


Punggungnya melengkung, terasa sakit saat digerakkan. Akhirnya wanita itu kembali duduk bersila di tanah. Dia memejamkan matanya. Chinua melakukan meditasi penyembuhan. Dia menyalurkan kekuatannya untuk memindai lokasi-lokasi yang terluka dan patah. Wanita itu memiliki kemampuan penyembuh, sama dengan Shanum. Mereka berasal dari satu garis darah yang sama, tentunya memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda.


Cahaya biru menyelubungi wanita itu. Chinua merasakan hawa hangat menyebar dalam darahnya. Di sela-sela proses meditasi dan penyembuhannya ingatan-ingatan itu berdatangan. Kompilasi momen-momen terburuk dalam hidupnya, sebuah buku cerita tentang keputusasaan dan kegelapan. Saat ia mengetahui bahwa ia dibuang, dan tidak diinginkan.


Halaman keputusasaan muncul, dan dia menangis tersedu, tidak sepenuhnya merasakan sakit di tubuhnya ketika ia teringat kucing kecil kesayangannya, berdarah, sementara pisau milik Chinua menusuk lehernya. Pembunuhan pertamanya, nyawa pertama yang ia renggut. Xanadu berada di sana. Hanya terdiam mendengarkan rintihan kucing kecil itu sambil menyeringai bangga.


Lalu ingatan itu berganti, Chinua terbayang saat ia berusia lima tahun dalam keadaan kelaparan, putus asa, dikurung di loteng rumah. Menangis selama berjam-jam, menyadari bahwa tidak ada yang mempedulikannya dan mencintainya. Dia akan dihukum jika menunjukkan setitik rasa belas kasih pada apa pun.


Xanadu akan menyiksa Chinua sesuka hatinya, baik secara fisik maupun psikis. Pertanyaan gadis tadi terngiang-ngiang kembali di telinganya. Kenapa dia berusaha membunuh mereka semua? Kenapa? Dia hanya berusaha membalas semua rasa sakit hatinya. Dan mengklaim kembali hak lahirnya. Gadis itu tidak tahu bagaimana perasaannya. Semua orang tidak mengerti seperti apa rasanya menanggung siksa, putus asa dan kekejaman sepanjang hidup.


Chinua lalu mengingat pandangan Khan pada gadis itu. Pandangan yang membuat siapa pun yang melihat akan berdecak iri. Chinua membuka matanya, dia menatap hamparan rumput hijau, gemetar melihat tudung kabut yang berembus. Cinta, mendengar satu kata itu membuatnya ingin lari bersembunyi.


Dia pernah nyaris merasakannya, satu kali selama garis hidupnya yang panjang. Namun dia tidak berani mengakuinya, meski pada dirinya sendiri. Chinua tidak tahu apakah dia pantas dicintai. Dia sadar bahwa ia tidak bisa kembali setelah apa yang telah dia perbuat. Jiwanya sudah rusak dan membeku, bahkan untuk cinta. Suatu angan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam dan memudar seiringnya waktu.


Untuk sesaat mata biru Chinua berpendar lebih terang. Dia harus tetap melanjutkan misinya. Fokus melenyapkan gadis itu. Dia tidak boleh gagal dan harus membalas kekalahannya tadi. Namun dia juga tahu, kekuatannya belum benar-benar pulih. Dia masih butuh waktu untuk mengumpulkan seluruh kekuatannya.


Chinua mendengar sebuah suara. Dia bersiaga di tempatnya, bersiap dengan posisi menyerang. Seorang pria muncul dari balik kabut. "Ratuku, kau baik-baik saja?" Chinua melihat Osbert sedang berdiri dengan wajah khawatir bercampur gugup tidak jauh darinya. Wanita itu mengerutkan dahi, sungguh-sungguh tidak mengerti mengapa pria itu masih tampak normal. "Dari mana saja kau?" Chinua memicingkan matanya.


"Maaf, Your Majesty. Tadi aku sedang mengintai kediaman Khan. Saat kembali ke tenda, aku melihat keadaan di sana sudah porak-poranda," jelas Osbert. "Apa kau melihat yang lainnya?" tanya Chinua. Osbert menggelengkan kepalanya.


Mengabaikan pakaiannya dan dandanannya yang tidak layak, Chinua memperhatikan sekelilingnya. Dia melihat tanah berbukit luas nan hijau di hadapannya. Sungguh luas tanah milik Khan Adrian di pinggir kota ini. Selama dia berada di sini Chinua sudah melihat hutan-hutan lebat dan danau-danau jernih tanpa dasar, kini dia melihat bukit luas di bawah naungan langit.


Mengalihkan perhatiannya pada suasana sekitar menjadi kepada Osbert dengan ekspresi waspada, sebuah senyum dingin menghias bibir Chinua. "Kau bisa membangun tenda di sini, Osbert." Sambil berlutut, pria itu menundukkan kepalanya.


"Baik, Ratu. Aku akan memanggil yang lainnya, yang kemarin ikut denganku. Kami hidup untuk melayanimu." Bibir Chinua mencibir saat bergerak maju untuk menangkap dagu Osbert dengan kasar. Menyentak kepala pria itu, Chinua menikmati ketakutan yang terpancar dari mata indahnya.


"Mulutmu begitu manis tapi aku tahu kau seorang pengecut." Chinua tampak memicingkan matanya. "Aku sudah membuktikan kesetiaanku tempo hari tentang informasi bahwa Sergei berkhianat. Dan aku bukan pengecut, aku sudah berhasil mencuri selembar rambut Khan, untuk kau jadikan mantra pembuka segel perlindungan tempat ini."


Kemarahan Chinua menderanya. Ia tidak akan melupakan keteledoran Osbert hingga Batu terbunuh. Jika dia mematuhi tugasnya untuk mendampingi Batu mungkin pria itu masih hidup saat ini, bukannya malah sibuk berkencan dengan para wanita.


Tapi, Chinua cukup bijaksana untuk menyadari bahwa saat ini Osbert adalah alat yang bisa digunakannya untuk keuntungannya. Osbert adalah satu-satunya yang bisa menyamar dengan baik. Dan ia dengan baik mengingatkan pria itu pada rasa sakit yang bisa dibuatnya. Pria itu sudah pasti tidak akan mengecewakannya lagi.

__ADS_1


"Jika kau mengacaukan atau mencoba untuk kabur dariku, aku akan mengoyak jantungmu dari dadamu dan menyantapnya untuk makan malam." Chinua mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau mengerti?" Napas putus-putus Osbert terdengar jelas. "Dengan sempurna." Osbert menelan ludah, tubuhnya gemetar.


"Bagus." Membebaskan genggamannya pada dagu Osbert, Chinua berbalik. Kemudian ia mulai merapal mantra untuk memanggil Xanadu dan para anak buahnya yang tersapu angin kencang tadi. Dia masih bisa merasakan Xanadu dan beberapa orang yang masih hidup. Ada beberapa yang bersembunyi di balik kegelapan, semua siap untuk melindunginya pada saat diperintah. Mereka mungkin tidak mencintainya, tapi mereka tahu betul untuk tidak mengecewakannya.


Tidak seperti kakaknya yang tolol, Chinua mengerti betapa kuatnya rasa takut. Kenapa ia menghabiskan waktu merendahkan diri untuk kesetiaan warganya jika ia bisa menuntutnya.


Senyum tipis yang angkuh menghias bibir Chinua saat merasakan pertemuan dengan keturunan dari kakaknya. Akhirnya. Setelah berabad-abad bersembunyi dari jangkauannya, Chinua akan segera memutuskan garis darah kakaknya. Lalu dia akan bebas. Bebas untuk berkuasa dan menikmati hak lahirnya sebagaimana seharusnya.


Meski gadis itu dilindungi oleh penguasa klan Altan sendiri, namun Chinua tidaklah takut. Dasar orang-orang bodoh. Mereka mau saja mengorbankan diri demi gadis ingusan itu. Senyum terbit di bibir Chinua, saat merasakan kesenangan sombong jika ia dapat menaklukkan Klan Altan. Apalagi jika dia dapat menguasainya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Aku dapat merasakan energimu meluap-luap. Apakah kau sedang bahagia? Padahal seingatku kau kalah oleh serangan gadis itu." Xanadu tiba-tiba merusak momen khayalannya. Chinua mendengus, lalu berkata ketus, "Kau hanya bisa merusak dengan kata-katamu itu, Tukang Sihir Buta."


"Aku menyatakan kebenaran. Selama ini kau tidak pernah mendengarkan ucapanku. Jangan-jangan kematian Chenghiz pun hanya isapan jempol belaka," ejek Xanadu. Chinua secara naluriah bergerak mundur. "Apakah...itu berdasarkan penglihatanmu?" tanya Chinua gugup. Xanadu tertawa terbahak-bahak merasakan ketakutan Chinua.


Chinua menyipitkan matanya. "Jangan bercanda denganku, Wanita Tua Buta!" bentaknya. Tidak mungkin Chenghiz masih hidup. Itu mustahil. Kakaknya itu sudah mati. Mati dan dikubur.


"Aku tidak tahu, karena hanya kau yang ada di sana," sindir Xanadu. Sialan, wanita tua buta itu berani meragukannya. Dengan sebuah desisan Chinua mengeluarkan kekuatannya, melempar wanita tua itu ke pohon yang berada di dekat mereka dan menahannya di sana.


"Dia sudah mati," geram Chinua, berusaha meyakinkan dirinya dan juga wanita tua pengganggu di hadapannya. "Aku melihatnya mati." Chinua meningkatkan tekanan hingga tubuh wanita tua itu membungkuk dan menggeliat kesakitan.


Chinua berbalik meninggalkan Xanadu dan para bawahannya. Wanita itu berjalan menuju bukit di hadapannya. Kegelisahan yang menakutkan menusuk jantung Chinua. Dia terngiang-ngiang sindiran Xanadu tadi, ia yakin kakaknya tidak mungkin bangkit dari kematian. Pria itu lemah. Sepertinya ada cacat dalam darah kakaknya.


Chenghiz bersikeras memainkan peran penguasa yang penuh kebaikan, selalu bertekad untuk melihat keadilan ditegakkan. Sangat mudah untuk jatuh ke tangan para musuh-musuhnya. Chinua sudah membantu pria itu mengakhiri mimpinya yang menyedihkan. Jika bukan dia, orang lain yang akan melakukannya.


Saat dia kembali dari jalan-jalannya, tenda sudah berdiri. Chinua langsung masuk ke dalam tenda tersebut dan menemukan semua barang-barang keperluannya sudah di susun dengan rapi. Pelayan wanitanya sudah menantinya dengan berdiri di pojok ruangan.


"Aku sudah menyiapkan air mandimu, Your Majesty." Chinua melirik bak mandi dengan uap mengepul. Wangi lavender tercium di udara. Chinua mengangkat kedua tangan ke samping tubuhnya dan membiarkan pelayan tersebut melucuti pakaian yang ia kenakan.


Chinua sedang duduk di atas matras tidurnya sementara rambutnya disisir oleh pelayan wanitanya, ketika Xanadu berjalan terhuyung-huyung ke dalam kamar dan berlutut di depannya bersama dengan Osbert yang mendampinginya.


Pelayan wanitanya mengeluarkan suara melengking waspada saat mata wanita tua itu memancarkan sinar yang mengerikan, tapi Chinua dengan cepat berdiri dan mendorong ke samping pelayan wanitanya yang penakut.


Sudah berabad-abad sejak terakhir kali, tapi Chinua bisa mengenali ketika peramalnya itu mendapatkan penglihatan.


"Ada apa, Xanadu?" tanya Chinua. "Apa yang kau lihat?" "Api berwarna keemasan," rintih Xanadu, memeluk dirinya sendiri saat berguncang ke depan dan ke belakang. "Api itu akan mengelilingimu."

__ADS_1


"Api berwarna keemasan?" Chinua mengerutkan dahi. "Apakah itu api sihir?" tanya Chinua. "Api itu akan mengelilingimu." "Ya, kau bilang begitu, dasar wanita tua menyebalkan. Apa artinya?"


Xanadu merintih, menggelengkan kepalanya. "Api... membakar. Bisa membakar." Rasa takut membuat dada Chinua sesak. Melangkah ke depan, Chinua menampar Xanadu pada pipinya yang keriput. "Sialan kau, apa maksudmu?" Mata hitam kosong Xanadu yang berkilauan beralih memandang Chinua, buta namun penuh dengan pengetahuan yang mengerikan.


"Gadis itu," kata Xanadu parau, jarinya menunjuk ke arah Chinua. "Dia akan mengalahkanmu. Dia akan membungkammu selamanya." Pelayan wanitanya mendesah ketakutan, tapi wajah Chinua mengerut karena marah ketika gadis ingusan itu disebut. Tidak ada yang lebih meyakinkan untuk membangkitkan kemarahannya daripada penyebutan gadis yang sudah mengalahkannya itu.


"Tidak mungkin," desis Chinua. Xanadu menggelengkan kepalanya. "Tidak mustahil. Bahkan sekarang dia sudah bergerak, kekuatannya tidak akan bisa kau lawan. Akhir akan segera tiba."


Dengan gerakan karena marah, Chinua memukul peramalnya dengan kekuatannya hingga membentur penopang tenda. Tenda bergetar nyaris roboh. Pelayan wanitanya langsung berlari keluar dan mencari bala bantuan. Osbert mencoba menahan salah satu tiang penopang yang miring. Dan Chinua mengeluarkan kekuatannya agar tenda tersebut tidak ambruk. Para bawahannya berdatangan dan menahan penopang tenda. Tenda berhasil diperbaiki dan berdiri kokoh seperti sediakala.


"Bawa dia keluar dari sini." Chinua menunjuk pada tubuh Xanadu yang sedang tak sadarkan diri. Dengan tatapan ketakutan ke arah Chinua, para kaki tangannya itu tergesa-gesa mengambil Xanadu dan membopongnya keluar ruangan. Chinua menunggu sampai mereka melewati pintu tenda sebelum menggeram dengan keras.


Xanadu sialan. Wanita bodoh itu tidak punya siapa-siapa untuk disalahkan kecuali dirinya sendiri karena membuat Chinua marah.


Apa gunanya memiliki penglihatan jika hanya memberikan peringatan-peringatan tidak jelas yang tidak masuk akal? Terutama jika ramalan itu adalah kekalahan yang tidak ingin di dengarnya. Semua itu tak lain hanya omong kosong. Chinua tidak akan menyerah kalah.


"Your Majesty," kata Osbert dengan suara lembut penuh ketakutan. Chinua memutar tubuhnya dan menatap Osbert tajam dengan tidak sabar. "Apa?"


Osbert menjilat bibir tebalnya, terlihat seolah membutuhkan seluruh keberaniannya supaya tidak terlempar keluar dari pintu. Hanya beberapa orang yang bertahan hidup saat kekuatan Chinua mulai memenuhi ruangan.


"Mungkin kita harus pergi dari sini," akhirnya pria itu mengaku, tersandung karena kata-katanya sendiri. "Jika peramal itu mengatakan yang sebenarnya..."


Chinua melangkah ke arah Osbert, matanya menyipit waspada. "Kau ingin aku melarikan diri dari seorang gadis biasa? Seorang gadis yang tidak mengetahui tentang kekuatannya sendiri?"


Osbert dengan bijaksana berlutut, kepalanya menunduk memberi hormat. "Dia tidak bisa mengikutimu ke Abbasid," ucap Osbert. "Aku tidak mau kembali tanpa kemenangan," geram Chinua, rambutnya melayang-layang oleh kekuatannya. "Tidak saat aku sangat dekat dengan kejayaan."


"Tapi peramal itu..."


Chinua mendekati wajah Osbert, menatapnya dengan tajam. "Aku telah membiarkan Xanadu dan penglihatannya yang menyedihkan untuk membuatku gelisah sangat lama." Chinua meraih bahu pria itu dan mencengkeramnya dengan erat sampai ia hampir menghancurkan tulang pria itu.


Karena darah kakak laki-lakinya yang busuk, Chinua lelah dikejar-kejar rasa takut. Ia adalah seorang ratu. Pemimpin kuat yang harus dipuja oleh siapa pun. Ramalan sialan. Ia akan membuat takdirnya sendiri. "Setelah Gadis Ingusan itu tewas, aku akan bebas untuk menyebarkan kekuatanku ke seluruh dunia."


Osbert mengerang pelan kesakitan. "Tapi kita bicara tentang gadis keturunan Chenghiz. Bagaimana jika Chenghiz masih hidup?"


"Kakakku sudah mati dan berada dalam kuburannya," desis Chinua."Aku tahu karena aku sendiri yang menguburkannya." Sesuatu yang mungkin kelegaan memancar melalui mata Osbert. "Kalau begitu aku akan memanggil prajurit. Kau tidak bisa menghadapinya sendiri."

__ADS_1


"Ah, ya, prajurit-prajuritku." Melepaskan cengkeramannya pada bahu Osbert, Chinua melambaikan tangan untuk mengusir pria itu keluar dari tendanya. Chinua butuh strategi baru untuk melawan gadis itu dan Khan Adrian. Dan dia yakin akan menang kali ini.


__ADS_2