Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 55 Mantra Kuno


__ADS_3

Shanum ikut memejamkan matanya, dia meresapi ungkapan cinta dari Khan. Gadis itu menarik napasnya dalam, di dadanya terasa ada sesuatu yang meluruh jatuh, dan sesuatu itu membuat sekujur tubuhnya bergetar.


Saat keduanya sedang serius menyelami getaran yang mereka rasakan, kalung yang dikenakan Shanum mendadak bersinar memancarkan cahaya berwarna keemasan, yang menyentak keduanya.


Mereka kontan membuka mata, dan secara refleks menjauh. Shanum melihat sinar itu menyelimuti keseluruhan tubuhnya.


Gadis itu tiba-tiba mendongak kaku, bola matanya ikut memancarkan cahaya keemasan. Lalu dia berkata seperti orang sedang merapal mantra,


"Мөрөөдөл бүх зүйлийг боломжтой болгодог.


Өнгөрсөн ба одоо үе нь уулзах боломжийг олгодог.


Нэгдэх тавилантай хоёр сүнс төгс байсан.


Үүрд ​​салшгүй."


Ketika Shanum selesai berkata-kata, Khan membungkuk, sekujur tubuhnya terasa sakit. Kilatan cahaya keemasan itu terlihat juga di tubuhnya.


Pria itu merasakan panas yang menyebar dan membungkusnya rapat. Dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata, dadanya terasa sesak, mendadak gelombang demi gelombang emosi menghantamnya, menyentaknya.


Shanum juga ikut tersentak, sama halnya dengan Khan. Gelombang perasaan yang hebat menghantam gadis itu hingga membuatnya terengah. Setelah guncangan itu mereda, dia menitikkan air mata.


Dia merasa ia baru saja mengucapkan sesuatu yang luar biasa indah, seolah-olah kata-kata itu melengkapi satu bagian dari hatinya yang menghilang.


Dia tertegun, dan bingung. Dia menatap Khan dengan pandangan membutuhkan penjelasan dari pria itu. Dia menganggap hal ini berkaitan juga dengan pria itu.


"Mengapa aku tadi mengucapkan kata-kata dalam bahasa Mongolia, Adri? Dan... dan aku tidak bisa menolaknya. Aku juga dapat mengerti arti setiap patah katanya."


Khan masih gemetar hebat. Dia menarik napas dan melangkah lemas menuju sofa. Pria itu duduk di sana dan memanggil Shanum dengan isyarat tangannya agar duduk di sebelahnya.


Dia mengikuti isyarat itu, dan menghempaskan dirinya, lalu duduk di sebelah Khan dengan pandangan tak lepas dari pria itu.


"Tadi itu adalah mantra kuno, yang bahkan aku juga tidak pernah tahu ada sebelumnya," jawabnya dengan suara serak sambil meraih jemari Shanum dan meremasnya.


"Aku tiba-tiba tahu begitu saja setelah mantra itu selesai dikatakan olehmu. Pengetahuan tentang itu mendadak muncul di pikiranku," tambahnya lagi.


"Untuk apa matra itu? Dan mengapa aku merasakan hal yang aneh? Seakan-akan aku pernah kehilangan sekeping hatiku, dan sekarang mendapatkan kembali kepingannya yang hilang itu," ungkap Shanum.


Mimpi membuat segala sesuatu menjadi mungkin.


Masa lalu dan masa kini memberikan jalan untuk bertemu.


Dua jiwa yang ditakdirkan untuk bersatu telah sempurna.


Selamanya tidak dapat dipisahkan kembali.


Gadis itu mengulang kata-kata itu di dalam hatinya. Masih terasa guncangan di dadanya, dan perasaan aneh di sana.


"Mantra itu adalah matra untuk menyatukan pasangan jiwa yang telah ditakdirkan. Sepertinya kalung itu membantumu untuk melakukan salah satu ritualnya. Atau bisa juga kau memang ditakdirkan untuk memulai mantra itu," bisik Khan.


Shanum terkesima, berarti kata-kata yang diucapkannya tadi itu adalah untuknya dan Khan.


"Kita pasangan jiwa, Adri," katanya pelan dengan nada ragu. Shanum menggeleng, wajahnya masih sangsi atas ucapan pria itu.


"Би чамайг миний сэтгэлийн хань гэдгийг мэднэ. Хэдийгээр эдгээр шившлэгүүдийн аль нь ч намайг сэрээгээгүй."


Khan mengucapkan kembali kata-kata dalam bahasa Ibunya. Seolah-olah mengajak Shanum untuk mengulangi setiap ucapannya.


Shanum terpana. "Aku tahu kau pasangan jiwaku. Meski tidak ada mantra itu yang menyadarkanku," ucapnya mengulang kata-kata Khan. Pria itu tersenyum menanggapi jawaban Shanum.


Aku mengerti yang kau ucapkan barusan, Adri. Bagaimana bisa? Dan bagaimana kau bisa tahu?" Rasa kagum masih menguasai dirinya.


Khan memperhatikan banyak ekspresi berkelebatan di wajah gadisnya. Ekspresi takjub, bingung, dan penuh kasih.


"Мэдээж та чадна, учир нь бид одоо нэг сүнс болсон."


Khan kembali berkata-kata dalam bahasa Mongolia.


"Tentu saja bisa, karena kita sekarang satu jiwa." Shanum kembali mengulangnya sambil ikut tersenyum tipis.


"Itu masih belum bisa menjawab, Adri. Katakan sejujurnya mengapa kau mengetahuinya dari sebelum mantra kuno itu muncul?" desak Shanum.


"Sebenarnya aku sudah menduganya. Karena sejak aku mengungkapkan rasa cintaku, aku sudah bisa merasakan perasaanmu. Begitu juga saat kita bertengkar, dan tidak berkomunikasi satu sama lain. Aku dapat merasakan kesedihanmu dan amarahmu."


"Iya, saat kau menyatakan cinta aku juga dapat merasakan getar kebahagiaan dalam dirimu, Adri," akunya.


"Oh... dan satu lagi, aku juga baru ingat, kalau aku pernah mendengar samar-samar isi pikiranmu saat di Astrakhan. Sebelum kau pergi meninggalkanku untuk urusan bisnis yang berujung kebohongan itu." Teringat hal itu Shanum kembali merasa jengkel.


"Shasha, sudahlah. Tolong jangan mengingat terus kesalahanku itu. Aku kan sudah minta maaf," jawab Khan dengan nada memelas. Pria itu menyadari kalau Shanum masih kesal perkara kebohongan itu.


"Oke, itu sudah berlalu. Aku sudah berjanji pada diriku untuk memaafkanmu." Shanum menghela napasnya.


"Dan, sekarang aku ingin bertanya lagi, bagaimana dengan ritual lainnya? Tadi kau bilang hal itu masih salah satunya saja. Pastinya ada ritual lain untuk menggenapinya kan." Shanum bertanya dengan nada penasaran.


"Ada. Ritual terakhir adalah kita menikah dan bersatu, Sayang. Hal itu akan melengkapi ritual tersebut," jawab Khan sambil menyeringai.


Shanum berkedip, berusaha mencerna ucapan pria itu. Dan saat ia sudah mengerti maknanya, wajahnya kontan memerah.


Ia lalu melepaskan genggaman tangan pria itu sambil cemberut. "Jangan mengatakan hal yang vulgar seperti itu. Sungguh membuat risih, tahu!"


"Shasha, hal itu tidak vulgar. Bukannya hal itu memang normal dilakukan oleh sepasang suami istri," sahut Khan sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


"Sudah, cukup. Untuk saat ini aku tidak mau mendengarnya lagi. Pembicaraan tentang itu membuatku malu. Kita bicarakan saja hal lainnya ya." Shanum menatap Khan dengan pandangan penuh permohonan, dengan wajah yang bersemu merah.


Khan terkekeh geli. Tapi dia mengerti. Gadisnya ini meski terlihat dewasa, namun masihlah seorang gadis yang polos. Khan beruntung memilikinya. Berarti dia adalah yang pertama dicintai olehnya, dan ia juga berharap menjadi yang terakhir.


Khan berdeham. "Oke sekarang ada satu hal lagi yang ingin kucoba. Tolong kau fokus dan buka pikiranmu. Jangan melawan, jika ada sesuatu yang merayap di pikiranmu."


Aku semakin mencintaimu, Shasha. Jika kau bisa membaca pikiranku ini berarti kau adalah jodohku yang sebenarnya. Kau ditakdirkan hanya untukku, dan begitu juga sebaliknya.


Gadis itu tertegun. Matanya membulat sempurna. Dia membekap mulutnya, tampak syok.


"Coba jawab aku, tapi jangan diucapkan. Aku ingin mendengarnya dari pikiranmu. Kita coba lagi ya."


Kau tahu, aku tidak menyangka kau berani menciumku tadi. Tapi tidak apa-apa aku sangat mensyukurinya. Karena sebenarnya sudah sejak lama aku juga ingin menciummu.


Wajah gadis itu kembali memanas. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi kemudian dia membeku, dan matanya berkilat aneh saat melihat senyum menggoda yang terbit dari bibir pria itu.


Kau menggodaku ya, Adri. Lain kali jika kau melakukannya lagi aku akan membalasmu.


Aku menantikannya, Shasha. Sangat-sangat menantikannya. Aku ini benar-benar sudah takluk padamu. Kau pasti sudah bosan mendengar aku mengatakannya.


Khan menarik telapak tangan Shanum, dan dia mengecup jemari gadis itu.


Gadis itu mendesah keras menerima perlakuan Khan.


Adri, kasihanilah aku. Dari tadi jantungku sudah cukup banyak bersalto di dalam sana. Perlakuan manismu ini lama-kelamaan bisa membunuhku, Adri.


Khan kontan tertawa geli, dia mengusap lembut pipi Shanum.


"Kau akan terbiasa, Sayang. Ini adalah salah satu sikapku yang sudah lama terkubur. Kau memunculkan semuanya ke permukaan. Jika ingin menyalahkan, salahkan saja dirimu," goda pria itu.


"Enak saja. Kau itu yang ternyata sungguh mengerikan, Adri. Sepertinya aku butuh jauh-jauh darimu. Karena kau banyak menghabiskan pasokan oksigen di sekitarku. Aku selalu mendadak kehabisan napas," sindirnya.


Khan mengangkat alisnya. "Waw, aku dibalas dengan telak. Tidak apa-apa. Apa pun kata-kata darimu akan aku terima, Sayang. Yang pasti aku akan terus mengikutimu, dan tidak akan pernah mau jauh-jauh darimu. Meski kau akan bosan dan protes terus-menerus, aku akan terus membayangimu."


Shanum mengendikkan bahunya sambil memutar bola matanya. Namun kemudian gadis itu kembali tersenyum sambil berbisik di telinga Khan.


"Omong-omong, aku menganggap kekuatan membaca pikiran ini juga sungguh fantastis, dan romantis, Adri."


"Memang fantastis. Tapi untuk sisi romantisnya mungkin hanya berlaku untukmu. Karena di duniaku, kekuatan ini tidaklah aneh. Ada beberapa orang yang juga memilikinya, Shasha."


"Betulkah? Kalau begitu aku sangat kecewa, ternyata kekuatan ini tidak eksklusif milik kita saja," kata Shanum sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hei, jangan cemberut. Tetap saja masih lebih fantastis kekuatan kita ini. Karena kita tidak hanya bisa berkomunikasi lewat pikiran. Tapi juga dapat ikut merasakan, apa yang perasaan kita sedang rasakan. Contohnya saat ini kau sedang kesal. Betul kan."


Shanum mendengus. "Itu sih mudah sekali ditebak. Dari roman wajahku saja kau sudah pasti tahu."


Khan lalu terkekeh geli. "Hei aku serius. Oke, kita lihat. Hmm... oh, ada lagi nih. Saat tadi aku mengucapkan kata-kata manis dalam pikiranku. Aku juga merasakan darahmu mendesir, jantungmu berdentam, dan perutmu tergelitik. Aku merasakan kau tersanjung dan bahagia."


"Kau bukannya tidak bisa, hanya sedang tidak berkonsentrasi. Jika kau bisa memfokuskan dirimu lebih serius, pasti bisa."


"Tapi sudahlah, lama-lama kau akan lebih pandai lagi, Shasha. Semuanya memang butuh proses. Kau harus belajar tidak membentengi pikiran dan hatimu dariku. Meski jika kau menginginkan privasi hal itu boleh-boleh saja sih dilakukan," tambahnya.


Shanum mengangguk, lalu mereka terdiam. Keduanya tampak menyelami pikiran masing-masing. Lalu mereka saling melirik. Dan mendadak Khan terkekeh.


"Mengapa kau tiba-tiba tertawa?" tanya Shanum dengan heran.


"Tidak, aku hanya geli sendiri. Kita berdua sungguh bisa membuat orang dengan mata yang normal terheran-heran. Kita pasti terlihat aneh, dan mencurigakan bagi mereka."


Shanum mengerutkan keningnya. Dan ketika ia mulai mengerti maksud dari ucapan Khan, ia mengangguk. "Iya betul. Kita harus lebih berhati-hati, Adri. Jangan sampai nanti orang-orang mengira kita pasien dari rumah sakit jiwa yang sedang melarikan diri," ucap Shanum sambil ikut terkikik geli.


Lalu suasana menjadi kembali hening. Suara tawa keduanya tidak terdengar lagi. Khan menatap Shanum dengan serius. Shanum mengedipkan matanya, dan dia ikut membalas tatapan pria itu dengan serius juga.


"Shasha..."


"Ya."


"Bagaimana kau bisa mendapatkan kalung itu?" tanya Khan.


"Ceritanya panjang, Adri," jawabnya sambil menghela napas. Shanum sebenarnya sedih harus menceritakan kembali kejadian yang menyedihkan itu. Tapi Khan harus tahu.


"Kalau begitu ungkapkan, aku ingin mendengarnya," kata Khan dengan tidak sabar, sembari menangkup wajah Shanum dengan kedua tangan.


"Baiklah. Aku akan mengatakan semuanya padamu. Tolong dengarkan sampai selesai, dan jangan berani memotong." Shanum menatap dengan pandangan galak pada pria itu.


Gadis itu lalu mulai bercerita tentang mimpinya bertemu dengan Nekhii, meski tidak semuanya ia ungkapkan, dan terbangun dengan kalung itu sudah terpasang di lehernya.


Gadis itu juga mengungkapkan tentang kebakaran rumahnya dan kalung itu yang ternyata melindungi kamarnya. Kata-kata Sergei tentang kalung itu, tentang Nekhii.


Semuanya dikisahkan oleh gadis itu. Tidak ada satu pun yang ditutupinya dari pria itu. Khan mendengarkannya dengan serius. Tidak pernah satu kali pun ia memotong kata-kata Shanum. Setelah Shanum menyelesaikannya, gadis itu langsung berdiri.


"Adri, aku mengambil makanan kecil, teko dan gelas dulu di dapur ya. Sepertinya kita akan banyak bercerita, dan kita butuh camilan serta air minum."


Khan mengangguk. Dia tidak lagi melarang gadis itu menuju dapur, dan bersikap seperti pria yang haus perhatian.


Shanum memperhatikan wajah Khan. Tampak kerutan di keningnya, bibir tipisnya terlihat mengetat. Pria itu seperti sedang berpikir keras.


Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya, dan bergerak menuju dapur. Kembali ke keinginannya yang sebelumnya, untuk menyiapkan minuman dan sedikit makanan kecil untuk mereka nikmati.


Shanum mempersiapkan es teh manis dalam teko, air mineral dalam kemasan serta camilan keripik singkong yang telah dipindahkannya ke dalam mangkuk besar.


Dia juga membuat roti isi selai kacang, dan roti isi selai coklat dengan sedikit parutan keju. Ia memotong-motongnya menjadi dua bagian, lalu menyusunnya dalam piring saji.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau buat? Mengapa lama sekali mengambil minuman dan makanan kecilnya?" Khan bertanya sambil mencolek pipi Shanum.


"Iya, ini sudah selesai, Adri. Tolong bantu aku membawanya ke meja di samping sofa ya."


"Oke, sini aku saja yang bawa semuanya. Kau langsung duduk manis saja di sana."


"Oke, terima kasih ya, Tampan," goda Shanum.


Khan mengangkat alisnya dan menyeringai. "Tentu saja, Sayang. Aku memang Tampan. Tidak mungkin kau baru menyadarinya kan."


Shanum memutar bola matanya sambil mendengus. Prianya ini memang memiliki kadar percaya diri yang tinggi.


Jika tidak, mungkin dia tidak cocok menjadi pemimpin klan sekaligus pengusaha sukses. Kharisma Khan memang tidak bisa dianggap remeh.


Setelah Khan meletakkan camilan dan minuman di atas meja, dia ikut duduk di samping Shanum.


"Shasha..."


"Hem..." Gadis itu mendongak, dia masih mengunyah roti yang barusan dimasukkannya ke dalam mulut.


"Kau yakin tidak salah mendengar nama?"


"Maksudmu?" tanya Shanum sambil mengerutkan keningnya.


"Nama wanita itu betul Nekhii. Kau yakin."


Shanum langsung bersidekap. "Maksudmu kupingku tuli begitu, hingga salah dengar," desisnya. Gadis itu tersinggung dengan pertanyaan Khan.


"Bukan begitu. Aku hanya memastikan saja. Jangan kesal begitu dong." Khan beringsut mendekat, lalu mengusap pipi Shanum.


"Habisnya kau meragukanku, kan aku jadi emosi. Lagipula kalau aku mengada-ngada, tidak mungkin juga aku bisa tahu nama itu kan. Apa perlu aku jabarkan lebih detail sosok Nekhii ini?"


Khan tersenyum cerah dan menganggukkan kepalanya. Dia perlu tahu, apakah memang benar yang mendatanginya adalah seorang Nekhii yang sama dengan yang ada dalam pikirannya.


"Oke. Wanita itu bertubuh mungil. Usianya sekitar lima puluh hingga enam puluh tahun. Senyumnya sangat meneduhkan. Matanya sedikit sipit, bibirnya tipis, dan dia memiliki tahi lalat kecil di sudut pipi kanannya. Kemudian..."


"Ya, itu Nekhii," potong Khan dengan wajah sumringah.


"Nekhii itu Nenek buyutku. Dan usianya, anggap saja sudah jauh lebih banyak dari itu," tambahnya lagi sambil tersenyum lebar.


Shanum melongo. "Nenek buyut," cicitnya.


Khan mengangguk sembari menatap Shanum dengan gembira.


"Berarti usianya..."


"Di atas seribu tahun," jawabnya tanpa berkedip.


Shanum terkesiap. Dia membekap mulutnya. "Maksudmu... dia itu. Oh, aku sungguh tidak bisa menduganya. Pantas saja Sergei bilang wanita itu legenda." Shanum masih terkesima, pandangannya menerawang.


"Ya, beliau adalah legenda. Nekhii itu peramal yang hebat, kekuatannya banyak. Aku sampai tidak bisa menyebutkannya satu persatu. Yang kutahu dia menguasai sebagian besar kekuatan elemental."


Shanum langsung menoleh. "Kau tahu di mana dia berada saat ini, Adri?" tanyanya.


"Andai aku tahu, Shasha. Nenek buyutku itu orang yang misterius. Aku bertemu dia terakhir kali saat terjadi peperangan besar dengan orang-orang yang berkhianat pada Ayahku, yang berakhir dengan terbunuhnya beliau. Nekhii mendadak muncul dan membantuku menumpas, dan menemukan orang-orang yang bermuka dua itu. Dia tahu siapa saja yang lawan dan siapa yang kawan."


"Setelah perang itu berakhir, dia kembali menghilang. Tanpa pamit, tanpa kata-kata perpisahan sedikit pun. Tapi kami semua sudah mengerti. Memang seperti itulah Nekhii." Khan menjelaskan tentang Nenek buyutnya yang eksentrik itu kepada Shanum.


"Kalau begitu, kata-katanya itu benar dong ya. Aku adalah em... jadi ragu mau mengatakannya." Shanum menggaruk-garuk kepalanya sambil meringis.


"Apa yang kau sembunyikan, Shasha?" Khan bersedekap sambil menatapnya dalam. Seakan-akan dia tahu ada yang disembunyikan oleh gadis itu.


"Katakan! Aku perlu tahu, sebab kata-kata Nekhii bisa jadi ramalan di masa depan," kata Khan dengan tenang.


"Hmmm... Nekhii bilang aku adalah wanita yang terpilih..." Shanum menelan ludahnya.


"Ya, kau sudah mengatakan itu tadi," sahut Khan.


"Kemudian..." Shanum tidak meneruskan kata-katanya. Ia bergeser menjauh dari Khan dengan canggung.


Khan memberikan isyarat baginya untuk meneruskan ucapannya dengan ekspresi tidak terbaca.


"Hanya wanita yang memiliki darah keempat klan yang akan menjadi ratumu. Dan itu adalah aku. Katanya aku sudah ditakdirkan untukmu," ucap Shanum pelan.


Khan masih diam, tidak bereaksi. Benar-benar membuat gadis itu semakin gugup. Dia baru mau membuka mulutnya untuk mengoceh kembali saat Khan menghentikannya dengan isyarat tangan.


Pria itu tersenyum manis, lalu berkata, "Kalau tentang itu aku sudah tahu. Kau memang belahan jiwaku. Mengapa kau masih saja ragu untuk mengatakannya padaku, Shasha?"


Shanum tidak yakin apakah dia mendengar sedikit nada meremehkan dalam suara Khan. "Aku ragu, karena jika aku memang ditakdirkan untuk menjadi ratumu. Untuk apa lagi kalian mengadakan Seleksi? Dan mereka dengan susah payah mengamati gerak-gerikmu," kata Shanum dengan bibir terkatup.


Khan menarik napasnya. "Mereka tidak tahu, Shasha. Dan aku juga baru tahu pasti tentang hal itu hari ini. Untuk masalah Seleksi itu nanti akan aku pikirkan jalan keluarnya. Yang harus kita cari tahu lebih dalam adalah tentang warisan darah dari keempat klan itu. Sebab yang aku tahu kau hanya memiliki warisan darah dari Klan Batbayar."


Shanum mengendikkan bahunya, sambil kembali mencomot keripik singkong dari mangkuk. "Kau mau, Adri," tawarnya. Dia melihat Khan memperhatikannya dengan dalam.


Khan menggeleng. "Dia mengambil roti berisi selai kacang dan mengunyahnya." Pria itu menghabiskan roti dalam diam. Sepertinya otaknya sedang bekerja keras untuk memikirkan sesuatu hal.


"Omong-omong, Adri, kau tidur di mana malam ini? Mau menginap di sini saja, atau bagaimana?" tanya Shanum dengan polos. Khan mendadak menoleh sembari terbatuk-batuk keras. Dia tersedak roti yang sedang dikunyahnya.


Shanum tampak khawatir dan segera meraih air. "Ini minumnya, Adri. Hati-hati makanya kalau lagi makan." Shanum membuka air mineral dalam kemasan itu, dan menyodorkannya kepada Khan.


Pria itu meminumnya hingga tandas. Tenggorokannya masih terasa perih efek dari tersedak tadi. Setelah selesai, secara mengejutkan, Shanum mengusap sisa-sisa air di sudut bibir pria itu dengan jarinya dengan perlahan.

__ADS_1


Khan duduk mematung di sofa itu. Matanya berkilat dan wajahnya terlihat aneh. "Shasha..." geram pria itu sembari mencekal lengan Shanum.


__ADS_2