
Saat Shanum terbangun beberapa jam kemudian, ia sempat membeku, kaget merasakan ada lengan yang membelit tubuhnya. Kemudian ia menoleh, segera berbalik, dan menemukan wajah suaminya sedang tertidur nyenyak. Shanum tersenyum, merasa lega, ternyata ia tidak sedang bermimpi.
Dia melayangkan lengan ke pipi suaminya, menyentuh dengan ujung jari. Seluruh permukaan kulit Shanum menjadi tergelitik, darahnya berdesir kencang dan berat.
Tayangan seluruh peristiwa sebelum ia terjatuh dalam tidur yang dalam dan melelahkan terbayang di pelupuk matanya. Wajah Shanum terlihat semakin memerah dan menghangat. Denyut nadinya bergetar dengan lembut, dan senyum malu terukir di bibirnya yang penuh.
Khan berkali-kali memberikan kesenangan tertinggi sebagai seorang suami kepada dirinya. Seolah-olah pria itu sedang membayar seluruh utang yang terpendam selama Shanum berada di sarang musuh.
Dan setelah mereka mulai lelah, pria itu menarik Shanum ke sisinya, memeluk wanita itu dengan posesif, dan dengan salah satu kaki kuatnya melingkari Shanum.
Kini, Khan berbaring dengan satu tangan di atas tubuh Shanum, lengan lainnya tergeletak bebas. Selimut penutup mereka tersibak dan Shanum dengan rakus menatap tubuh kokoh suaminya. Suami tercinta, yang akhirnya kembali berada disisinya.
Shanum bergerak sedikit dan meringis ketika merasakan nyeri di tubuhnya. Meski hal ini bukan kali pertama baginya, Shanum tetap merasakan nyeri seperti saat pertama kali dulu.
Dengan hati-hati ia memindahkan lengan Khan dan mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya. Diam-diam ia beranjak dari alas tidur dan memakai kemeja atasan milik Khan. Kemeja itu membungkus tubuhnya hingga ke paha. Cukup membuat tubuhnya tertutup untuk sementara, hingga ia bisa mendapatkan pakaian lain yang sesuai.
Shanum tidak bisa memakai pakaiannya sendiri, karena pakaian itu robek tak karuan, dirusak oleh suaminya yang sangat kaku dan dingin itu. Wajahnya kembali memerah teringat peristiwa mencengangkan itu.
Kemudian ia menggelengkan kepala, mencoba menjernihkan kepalanya agar tidak terus mengingat soal peristiwa itu. Ia menuju wadah berisi air yang berada di sudut tenda, membasuh wajahnya, dan menatap bayangannya di cermin, nyaris tidak mengenali diri sendiri. Matanya besar dan mengantuk. Rambutnya kusut dan berantakan di pundaknya, mulutnya membengkak karena ciuman Khan.
Dan seluruh tubuhnya terasa berbeda, berdengung dengan energi, tapi juga sangat rileks. Bermaksud membersihkan diri, Shanum meraih handuk kecil, mengusapkannya ke seluruh tempat yang membutuhkan.
Dia bertekad untuk meminta Khan mengantarkannya ke sungai terdekat dari tempat ini, agar dapat mencuci rambutnya juga. Memikirkan kerepotan harus pergi ke sungai, membuat Shanum menjadi merindukan kamar mandinya yang nyaman di rumah.
Setelah selesai dengan ritualnya membersihkan diri, Shanum mendekati Khan. Dia menatap pria itu, terlihat tidak tega harus membangunkan pria itu, karena tidur Khan tampak lelap.
Akhirnya Shanum memilih untuk mengusap bahu pria itu, sembari berbisik di telinganya dengan lembut. "Hei pangeran tampan, bangun!"
Khan bangun dengan kaget, dan untuk sesaat kehilangan orientasi. Sejak ia terpisah dari Shanum, ia menjadi jarang tidur. Jadi, ia kebingungan saat menyadari bahwa ia tertidur, dan lebih nyenyak dibandingkan tidur yang ia dapatkan selama ini.
Kemudian ia melihat Shanum, istrinya, pasangan jiwanya. Khan tersenyum dan merasakan keseimbangan dunianya kembali saat hasrat menyeruak dengan mudahnya.
Khan mengulurkan tangan, mengundang Shanum lebih mendekat. Shanum bergeming. "Kita sudah terlalu lama berada di tenda ini, Adri. Tidakkah orang-orang itu akan bertanya-tanya?"
Jika sedang dalam kondisi normal mungkin Khan akan mengatakan tidak dengan yakin, tapi sekarang dengan serak ia berkata, "Sayangnya, tentu saja. Mereka pasti akan bertanya-tanya apakah aku masih utuh berada di sini." Khan tersenyum menggoda.
Dan mendapatkan reaksi pukulan di bahu dari Shanum. "Harusnya yang berbicara seperti itu aku, jika menilai dari apa yang kurasakan saat ini," ucap Shanum dengan nada suara kesal.
Khan langsung menarik tangan istrinya. "Apakah kau terluka, Sayang? Aku terlalu kasar ya?"
Shanum menggeleng dengan wajahnya merona. Kemudian ia mendengus keras ketika melihat Khan tersenyum geli. Sungguh sikap bertentangan yang membuat Khan gemas. Ia mengecup bibir Shanum dengan cepat dan mendengar pekikan dari mulut Shanum. "Sudah cukup, Adri. Sekarang aku mau ke sungai. Tolong hapus mantranya, agar aku bisa menemukan pintu untuk keluar."
Shanum melotot ke arah Khan. "Dan kau juga harus mengantarkanku," tambahnya.
Mata Khan membulat. "Kau ingin melakukannya di sana? Di alam terbuka?" tanyanya dengan suara serak.
Shanum mengerutkan keningnya. "Tentu saja. Memangnya di sini tersedia kamar mandi. Jika bukan di sungai, di mana lagi aku mandi?"
Mendengar ucapan polos Shanum, Khan merasakan perasaan kecewa yang aneh, tapi pria itu menghalangi perasaan itu. Saat ini bukan waktu yang tepat, wanitanya pasti akan membantingnya ke tanah jika meminta hal itu. Kemudian ia terkekeh.
Shanum mengerutka keningnya. "Kenapa kau tertawa?"
Khan menggeleng. "Kau pasti akan memukulku lagi, kalau mengetahui apa yang kupikirkan mendengar permintaanmu tadi."
"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya heran.
Khan menyeringai. "Kau yakin ingin mengetahuinya?"
Shanum tampak ragu, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Menarik wanita itu untuk berbaring di sampingnya, Khan bertelekan ke satu sisi, dan harus menarik napas melihat betapa cantiknya istrinya itu, dengan rambut terserak di sekeliling kepala, dan tubuh Khan menegang ketika menangkap aroma eksotik yang menggiurkan.
"Mengapa kau diam, Adri?" Shanum menangkap gelagat aneh yang mencurigakan dari pria itu.
Khan berdeham. "Coba kau lihat melalui ikatan kita."
Shanum langsung memusatkan pikirannya. Dia membuka dirinya dan menggapai ikatan mereka. Shanum terkesiap lalu merona. Mendadak tubuhnya meleleh, dan ia secara tidak sadar menarik kemejanya ke bawah untuk menutupi tubuhnya.
Seakan-akan pria itu dapat melihat betapa dalam hasrat yang ditimbulkan oleh suaminya, bahkan saat ini, setelah percintaan mereka yang rasanya seperti berjam-jam.
Dan sekarang, pria itu membangkitkan kembali keinginan itu oleh gambarannya melalui ikatan mereka, memperlihatkan apa yang ingin dia lakukan padanya di sungai.
Shanum berdeham. "Sepertinya pergi ke sungai bukan ide yang baik, Adri..." Wanita itu mendorong tubuh Khan sehingga ia bisa bangkit ke posisi duduk.
Khan menahan tangan Shanum dalam genggamannya. "Mengapa? Bukankah kau ingin mandi?" Ekspresi pria itu terlihat menggoda.
Shanum mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak mau diterkam lagi olehmu di sana."
"Mengapa? Bukankah kau menyukainya?" goda Khan lagi.
Shanum menarik paksa tangannya dan menggumamkan sesuatu tentang pria mesum tak tahu tempat, sembari bangkit berdiri. Khan mengawasi istri dengan ujung matanya sambil tersenyum gembira.
"Sekarang, boleh tolong ambilkan pakaianku di tenda Chinua, Adri? Pakaianku yang tadi sudah tidak layak digunakan lagi."
Khan mengangkat alisnya. "Kau lebih cantik dan seksi seperti itu."
__ADS_1
"Adri...." Shanum melotot marah sembari berkacak pinggang.
"Oke... oke, aku ambilkan," jawab Khan sambil tertawa geli.
Mendadak suara dentuman dan gesekan keras terdengar di telinga mereka. Tenda itu bergoyang, Suara tawa berhenti tiba-tiba, Khan refleks melompat dan meraih Shanum dalam pelukannya. Mereka merapat erat sambil tiarap di lantai.
Kemudian suara dan goyangan itu berhenti. Mereka terdiam. Napas memburu terdengar dari bibir dada Shanum. "Apa yang sebenarnya terjadi, Adri.
Khan menarik mereka ke posisi duduk di lantai sambil berangkulan. "Sepertinya ada yang mencoba mematahkan paksa mantraku." Khan mengecup rambut Shanum. "Tenang, tidak terjadi apa-apa. Aku di sini akan menjagamu," bisik Khan lembut.
"Sialan, Khan! Berapa lama lagi kami harus menunggu kalian bercinta di dalam sana? Kita ini sedang mempersiapkan perang, Woii..."
Suara menggelegar Chinua terdengar dari luar tenda. Wanita itu berhasil membuat suaranya terdengar hingga ke dalam tenda. Terlihat jelas siapa yang bertanggung jawab menerobos mantra Khan.
"Itu... Mereka... Oh tidak, betapa malunya aku." Shanum masuk kembali ke dalam pelukan Khan, menyembunyikan kepalanya semakin dalam. Seolah saat ini dia sudah berada dalam radius pandangan mata orang-orang itu.
Sepertinya aku tidak berani memperlihatkan wajahku sekarang kepada mereka, Adri. Bagaimana kalau kau membuka portal, dan kita pulang saja sekarang ke mansionmu?
Shanum berbicara dalam ikatan mereka sembari mengetatkan pelukannya hingga membuat napas Khan sedikit sesak.
Khan mengusap rambut Shanum sembari terkekeh geli. "Hei, tidak perlu malu, Sayang. Kita tidak melakukan hal terlarang. Lagipula, masa kau mau melarikan diri seperti seorang pengecut."
Shanum menarik wajahnya, mendongak. "Yah, kau benar. Kita tidak boleh melakukan itu." Tiba-tiba Shanum mencoba mundur, matanya memancarkan kesadaran yang baru muncul, pipinya memerah karena malu.
"Yang Agung... maaf, sepertinya Anda harus segera keluar. Situasi mulai memanas ini di luar." Kali ini suara Dario terdengar memanggil Khan. Sepertinya mereka hanya bisa menembus mantra Khan untuk mengirimkan pesan suara saja. Tidak dapat menembus hal lainnya.
Khan mendesah kesal. "Sepertinya aku memang harus keluar untuk menemui mereka. Kau tunggu di sini, Shasha. Jangan pergi kemana pun. Aku akan membawa seluruh pakaianmu."
Shanum memutar bola matanya.
Yang benar saja bagaimana mungkin aku bisa keluar dari tenda dengan penampilan seperti ini.
Lalu Khan membaca mantra pembatalan. Tirai pintu tenda perlahan terlihat, dan suara-suara perdebatan di luar tenda terdengar nyaring. Sepertinya ucapan Dario soal situasi yang semakin panas di luar adalah benar.
Khan melepaskan pelukannya lalu menepuk lembut bokongnya. "Sekarang sembunyikan dirimu dibalik selimut. Aku tidak mau ada yang melihatmu dalam keadaan seksi seperti ini."
Shanum menjulurkan lidahnya. "Itu kan menurutmu, belum tentu orang lain menganggapku seksi," selorohnya sembari melenggang ke arah kasur.
Khan berpura-pura menampilkan wajah galak. "Ingat! Jangan bergerak dari dalam selimut sebelum aku kembali," ucapnya sembari melangkah menuju tirai pintu.
"Iya. Jangan lama-lama."
Khan tidak menjawab, ia sudah terlanjur berada di luar tirai. Shanum mendengar ada suara-suara perdebatan yang menyebutkan namanya. Namun karena matanya terasa berat sesaat setelah kepalanya menyentuh bantal, ia tidak terlalu memperhatikan perdebatan itu. Wanita itu perlahan menutup mata dan kembali terlelap dalam tidurnya.
Beberapa jam kemudian Shanum terbangun saat merasakan usapan ringan di permukaan kulit wajahnya. Dia refleks mengangkat tangan dan ingin menepis usapan itu, karena terasa mengganggu tidurnya.
Tangannya ikut terulur untuk menyentuh bidang di hadapannya. Dan saat menemukan dada Khan yang hangat berada di sana, ia perlahan bangun dan bersandar di kehangatan tersebut. Shanum mendengarkan detak jantung Khan yang menenangkan, ia bahagia dapat bangun dan menemukan pelukan hangat dari suaminya.
Jemari Khan menelusuri rambut Shanum, menangkup kepalanya sebelum menatap keseluruhan wajah Shanum. "Kau sangat cantik." Khan menggeleng-gelengkan kagum, dan sesuatu dalam diri Shanum tergerak. Tangan pria itu meluncur ke bahu Shanum lalu turun ke lekukan perutnya dan membuat Shanum menahan napas.
Khan berhenti dan berkata, "Kau harus makan. Aku tidak mau kau sakit."
Shanum meringis kecil. Dia sedikit merasa kecewa, mengira sentuhan itu akan hinggap di tempat yang berbeda. "Mau minum dulu," ucap Shanum dengan suara serak mencoba mengalihkan pikirannya berkelana kemana-mana.
Khan bergeser dan mengambil gelas berisi air. Shanum meminumnya hingga habis, lalu menyodorkan kembali gelas tersebut kepada pria itu. Khan menerimanya, lantas meraih sepiring makanan yang sudah dipersiapkannya.
"Mau disuapi atau makan sendiri."
Shanum tersenyum manja. "Suapi."
Khan melemparkan senyum tipis. "Oke. Sekarang buka mulutnya." Pria itu menjulurkan tangannya, membawa sendok berisi nasi dan secuil lauk ke depan mulutnya.
Shanum membuka mulut dan mulai mengunyah makanannya dengan tatapan bahagia ke arah Khan. Wanita itu tidak menyangka dapat bercengkerama dengan Khan saat ini. Meski peperangan sudah di depan mata, pria itu masih dapat melayaninya penuh kelembutan dan kehangatan.
"Maafkan aku, sudah membuatmu kelelahan," ujar Khan lembut, sesuai dengan sorot matanya juga.
Shanum menelan makanannya dengan susah payah, tenggorokan mendadak tercekat. "Tubuhku memang cukup lelah, tapi tidak apa-apa..."
"Hmm... sudah dapat kuperkirakan. Menilik dari perbuatan kita sejak siang tadi. Kuharap kau tidak trauma bersamaku, Sayang."
"Berapa lama aku tertidur, Adri?" tanya Shanum berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia masih belum terbiasa membicarakan hal seintim itu, meskipun dengan suaminya sendiri.
"Aku tidak memperhatikan waktu. Tapi saat aku membawa pakaianmu tadi, kau sudah terlelap, dan aku tidak tega membangunkanmu. Jadi, aku meninggalkanmu beristirahat dan melanjutkan pertemuan dengan perwakilan Klan Bataar yang akan ikut perang bersama kita."
"Klan Bataar? Maksudmu Sofia datang membantu kita?" tanya Shanum dengan kaget.
"Ya. Sofia datang bersama Zuunaa." Khan menyorongkan sendok kembali. Shanum menggelengkan kepalanya, menolak melanjutkan makan. "Zuunaa itu mantan tunanganmu, bukan?"
Khan menaruh kembali sendok ke dalam piring sembari menatap Shanum dengan ekspresi tenang. "Ya, dia mantan tunanganku."
Shanum mengalihkan pandangannya, dan mencoba bangkit dari duduknya. Wanita itu melihat pakaiannya sudah tersedia di atas meja, lengkap dengan pakaian dalamnya. Mendadak wajahnya kembali menghangat.
"Tolong, kau menghadap ke arah lain, Adri. Aku ingin berganti pakaian."
Khan mengangkat alis. "Masih saja malu-malu kepadaku. Aku kan sudah melihat semuanya, Sayang."
__ADS_1
"Pokoknya jangan lihat. Aku masih belum terbiasa," desak Shanum.
Khan mendesah, namun ia mengikuti kemauan Shanum. Pria itu menatap kaku ke arah lain.
"Jangan mengintip." Shanum membuka kancing kemeja, meraih pakaian tersebut dan mengenakannya dengan cepat.
"Dia tidak pernah berarti untukku, Shasha," ucap Khan tiba-tiba.
"Hah..." Shanum terdengar bingung. Dia tidak merespon dengan benar, karena masih berkutat dengan pakaiannya.
"Ya. Aku malah pernah membencinya, karena kesalahannya, Ayahku terbunuh," tambah Khan.
"Oh, ini tentang Zuunaa." Shanum melihat Khan sudah membalikkan tubuhnya, pandangannya tampak muram.
"Reaksimu sungguh aneh. Tadi kau mendadak bungkam dan kesal saat aku menyebutkan nama Zuunaa. Namun kini, kenapa kau malah bersikap santai. Aku menjelaskannya, karena tidak mau ada kesalahpahaman lagi di antara kita, Shasha."
Ketegangan melingkupi Shanum, ketika pria itu mengingatkannya kembali dengan reaksi jengkelnya tadi. Dia berjalan menghampiri Khan dengan langkah pelan sembari menatap mata pria itu. Khan terpaku oleh sorot mata hitam berkilau yang memancarkan kepemilikan tegas atas dirinya.
"Tadi itu, saat aku pertama kali mendengar kau menyebut namanya, yang muncul dalam diriku adalah rasa jengkel akibat cemburu. Sepertinya aku memendam sifat posesif terhadap suamiku. Tidak suka melihat dia dekat-dekat dengan wanita lain, apalagi dengan para mantannya," ungkap Shanum jujur, seraya melingkarkan tangannya di leher Khan.
Khan terdiam. Kejujuran manis melingkupi Khan bagaikan mantra. Tanpa sihir pemikat, istrinya itu sudah mengambil seluruh akal sehat dari pikirannya. Merubah dirinya yang biasanya sangat logis, menjadi bertindak di luar nalar.
Khan mendekatkan wajahnya. Shanum nyaris tidak dapat bernapas sekarang, terhipnotis mata coklat keemasan pria itu, terhipnotis suasana memabukkan kedekatan mereka, serta aroma maskulin yang intens.
Shanum dapat melihat pria itu mengencangkan rahang, seakan-akan berusaha mengerahkan kendali. Dan di dalam ikatan mereka, dengan bergetar Shanum merasakan sebuah percikan, ia berpikir pria itu harus mengerahkan kendali karena dirinya. Shanum merasa seperti terbakar perlahan-lahan. Pandangannya beralih ke mulut Khan dan penasaran apakah pria itu akan segera ******* bibirnya.
Napas Khan terdengar berat, sebelum dengan suara serak ia berkata, "Dan sepertinya sang suami juga memiliki sikap yang sama. Bahkan mungkin lebih ekstrim. Jika diperbolehkan, dia lebih suka menyekap istrinya itu di dalam kamar mereka untuk selama-lamanya."
Shanum mengerjap dan menyambut ucapan yang membuyarkan mantra yang menggoda itu, membuatnya menyadari bahwa ternyata pria itu lebih posesif dari dirinya.
"Astaga, Adri. Kau gila," sahutnya dengan nada suara kaget.
Mata Khan berkilat dalam. "Ya, pria ini memang tergila-gila pada istrinya. Hingga mengaburkan batas antara kegilaan dan kewarasan dalam dirinya."
Sebelum Shanum dapat membalas ucapan Khan, secara mendadak pria itu menyapukan bibirnya di bibir Shanum. Ciuman itu dimulai dengan pelan dan lembut, penjelajahan sensual yang membuat tubuh Shanum kembali gemetar.
Tangan Khan bergerak menuju ke kepala Shanum, jemarinya menbelai kepalanya. Shanum dapat merasakan rambutnya semakin berantakan terurai lepas.
Khan membuka bibir Shanum, menjelajahi mulut terbukanya dengan intim. Gairah Khan semakin berkobar akibat erangan nikmat yang mengalir dari mulut Shanum ke mulut Khan.
Pria itu berkata pada diri sendiri, ia tidak pernah mencium wanita mana pun sedalam ini. Hanya Shanum satu-satunya. Cuma pasangan jiwanya yang membuatnya bersikap tidak bisa mengekang hasratnya. Setiap berciuman, tekanan bibir mereka yang saling mereguk laksana menyalakan sumbu kembang api di dalam jiwa mereka. Membuat jiwa mereka luluh latak, dalam terjangan badai gairah.
Kemudian Khan melepas bibirnya dengan tiba-tiba. Napas keduanya menderu, dengan jemari gemetar Khan mengusap bibir Shanum yang membengkak.
"Sebaiknya aku tidak meneruskannya. Aku tidak ingin hal ini berlanjut ke tahap selanjutnya dan membuatmu kembali lelah," ucapnya serak. Suaranya terdengar lebih mirip geraman penuh hasrat.
Shanum terdiam. Otaknya seolah masih penuh oleh kabut dan jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa lepas dari rongganya. Ia belum dapat mencerna, bahwa ternyata suaminya itu sangat perhatian dan lembut memperlakukannya. Shanum merasa dicintai sepenuhnya, dan bahagia dapat bersanding di sisi pria itu.
"Ayo kita ke sungai, agar kau dapat menyegarkan dirimu. Setelah itu ada yang akan kubicarakan denganmu terkait perang besok."
"Besok kita sudah akan berperang?" tanya Shanum dengan ekspresi kaget. Dia tidak menyangka waktu sungguh cepat berlalu.
"Ya. Tadi pihak musuh sudah mengirimkan sinyal pertanda peperangan akan dimulai di udara."
Khan melepaskan pelukan mereka setengah hati, lantas menggandeng tangan Shanum untuk keluar dari tenda.
Dalam perjalanan menuju sungai mereka bertemu Sarnai. Wanita itu terlihat sangat jelas menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Shanum.
"Mengapa kau masih saja bersikap mesra dengan wanita pengkhianat itu? Kau benar-benar mengecewakanku, Khan," ucap wanita itu dengan sinis.
Shanum maju selangkah, namun tubuhnya disentak mendekat ke tubuh Khan, tangannya dicengkeram lebih erat.
Shanum menoleh, dan ia mendengar bisikan pelan pria itu untuk membiarkannya menangani wanita itu.
Khan memindahkan lengannya, beralih menjadi melingkari pinggang Shanum.
Tatapan Khan menyorot tajam dan dingin ke arah Sarnai. "Wanita ini bukan pengkhianat. Dia istriku. Dan aku tidak peduli dengan pemikiranmu tentang diriku atau pun dia. Jika kau tidak bisa menghormatinya sebagai pasanganku, sebaiknya kau pergi tinggalkan tempat ini."
Ucapan Khan menyentak Sarnai. Wajah wanita itu memucat, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia tidak membalas ucapan ketus Khan. Wanita itu hanya mengangguk hormat setengah hati, lalu bergegas berbalik meninggalkan mereka.
Shanum menoleh, ia meraih wajah Khan lalu mengecup bibirnya cepat. "Aku sangat memujamu, Adri. Terima kasih."
Khan terpaku, lalu ia menggeram keras. "Jangan memancingku, Shasha. Bisa-bisa kita tidak jadi ke sungai, dan aku akan tergoda untuk membawamu kembali ke tenda."
Shanum mendengus keras. "Aku tidak memancingmu. Dasar pria aneh! Masa ciuman ringan dan kata-kata manis dari istri sendiri dianggap pancingan. Aku kan hanya memperlihatkan kebahagiaanku, karena kau sudah membelaku tadi."
"Oh ya, bagaimana kalau aku ingin membalas ciumanmu tadi."
"Tidak sekarang, Adri. Nanti kita batal pergi ke sungai." Shanum menolak sambil tertawa, ia menaruh telapak tangannya di bibir pria itu, menghindari bibir Khan untuk mendekati bibirnya.
Tidak mendapatkan bibirnya, telapak tangan Shanum pun menjadi korbannya, Khan mencium tangannya dengan suara kecupan keras, menggoda wanita itu.
Keduanya saling bercanda dan menggoda dengan mesra seperti itu selama beberapa menit. Tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengawasi mereka dengan wajah menahan amarah dari balik bayangan kegelapan malam.
Setelah kembali dari sungai, Khan menjelaskan seluruh strategi perang yang akan dilancarkannya besok kepada Shanum. Mereka berbicara hingga tepat tengah malam, sebelum akhirnya Shanum sibuk menguap, tidak dapat lagi menahan kantuk.
__ADS_1
Wanita itu menarik Khan untuk merebahkan diri di atas alas tidur mereka, memejamkan mata, dan mulai merasa jerat-jerat rasa ingin tidur menjalin di sekelilingnya.