Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 102 Status Baru


__ADS_3

Shanum tahu, ia tidak bisa menghindari pertanyaan yang diajukan pria itu selamanya. Shanum membuka matanya, dan menoleh menghadap pria itu. Kecemasan yang terlihat di wajah suaminya itu membuatnya terenyuh.


Namun kemudian ia tersadar, tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun. Lantaran malu, ia otomatis menjauhkan tubuh dan segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Kau menangis. Aku menyakitimu..." ucap Khan dengan suara lirih.


Shanum menggeleng dan menyeka setitik air mata, merasa rapuh dan terbuka. Dia bahkan tidak menyadari dirinya menangis.


"Tidak..." Saat melihat raut tak percaya yang sangat kentara di wajah Khan dan gelagat yang mengarah pada menyalahkan diri sendiri, Shanum bangun, bertelekan pada satu lengan.


Selimut meluncur turun, dan dengan wajah bersemu ia menariknya kembali. "Tidak. Kau tak menyakitiku." Suara Shanum terdengar parau. Berbeda.


Khan menggeleng. "Lalu...?"


Shanum mendesah. Dia sendiri bingung bagaimana harus mengungkapkan perasaannya. Tapi ia tetap berkata jujur, "Aku tak tahu kalau rasanya bisa seperti itu. Tadi itu... sebuah kebahagiaan."


Shanum meringis dalam hati. Meski ada juga rasa tegang, dan sedikit sakit. Tapi secara keseluruhan Shanum merasa baik-baik saja.


Khan mengulurkan tangan dan menyentuh rahang Shanum, seolah ia mungkin akan pecah. "Apa kau yakin?"


Shanum mengangguk, menolehkan wajah ke telapak tangan Khan, menghidu aroma pria itu. Ia kembali menatap Khan. Shanum mendengar pria itu mendesis.


"Awalnya... saat kau..." Shanum merona, konyol sekali. "Um, rasanya sedikit sakit. Tapi tak lama, rasa sakit itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Terutama saat mantra ikatan itu terjalin sempurna. Aku merasa... utuh. Seolah aku pernah kehilangan sesuatu dan hal yang hilang itu telah kembali."


Khan berbaring telentang dan menarik Shanum, hingga ia terjatuh ke dada pria itu dengan rambut yang tergerai di sekitar bahunya. Shanum menjadi teringat kembali saat Khan menjelajahi tubuhnya, dan ia tersipu lagi.


Khan menyentuh pipi Shanum yang terasa panas sembari tersenyum simpul, "Apa yang kau pikirkan?"


Shanum membenamkan kepala, merasa malu karena sekarang ia merasakan kembali hasrat itu bergejolak dalam dirinya. "Bukan apa-apa."


"Pembohong," ujar Khan, dan Shanum bisa merasakan pria itu berkata sambil tersenyum. "Ingat, aku sekarang bisa membaca seluruh isi hatimu dan pikiranmu. Bahkan jarak kini tak bisa menjauhkan jiwa kita. Eej berkata, kita bisa saling merasakan jika salah satu dari kita terancam bahaya."


Kemudian Khan melarikan jemarinya ke bibir Shanum, mengusapnya lembut. Matanya menatap Shanum dengan panas. "Dan aku sangat senang untuk mengulang hal indah tadi."


Perut Shanum bergejolak wajahnya memanas. Astaga, berarti sekarang tidak ada sesuatu pun yang bisa disembunyikannya dari pria itu.


Khan menyeringai nakal. "Ya, kecuali kau menutup aksesnya. Tapi secara keseluruhan kita lebih terhubung dibandingkan sebelumnya, karena kau sekarang sudah memiliki bukti di lehermu. Tanda ikatan berpasangan kita berada di salah satu sisinya. Kau tidak menyadarinya saat mandi tadi ya?"


"Ya, aku tidak menyadarinya. Apakah tanda itu bisa disembunyikan?"


Khan kontan mendorong Shanum menjauh. Dia bergerak setengah bangun dan menatap Shanum dengan ekspresi setengah kesal dan curiga. "Mengapa kau ingin menyembunyikannya?"


Shanum dapat merasakan amarah yang berusaha ditekan oleh pria itu dan ia tersenyum. Shanum mendekati wajah Khan dan merangkumnya dalam kedua belah telapak tangannya.


"Jangan marah. Aku hanya takut tanda itu mirip kissmark. Tentu saja aku akan sangat malu membawa-bawa tanda itu setiap harinya, Adri. Orang-orang pasti akan berspekulasi, dan aku tidak ingin menarik perhatian mereka terhadapku."


Khan mendesah lega. "Bentuknya bukan seperti Kissmark. Tapi lebih seperti tanda lahir."


"Maksudmu seperti tanda di tanganku ini?" tanya Shanum memperlihatkan tanda lahirnya.


Khan terdiam, dia membeku. "Sekarang aku ingat di mana aku melihat tanda yang mirip seperti milikmu."


"Di mana?" ulang Shanum mengerutkan kening. Seharusnya tanda itu hanya dimiliki olehnya.


"Aku harap kau tidak marah atau cemburu, Sayang. Aku tidak bermaksud mengungkit tentang orang tersebut pada saat momen bahagia kita."


"Katakan!" desak Shanum.

__ADS_1


"Tanda itu juga dimiliki Sarnai, dan aku baru menyadarinya sekarang." Khan menjawab dengan ekspresi takut-takut. Tampaknya pria itu khawatir mendapatkan ledakan amarah dari Shanum.


Namun, Shanum tidak marah, bahkan ia tersenyum sangat manis. Khan mengerutkan keningnya tanda heran. Tidak menyangka reaksi yang ia dapatkan berbeda dengan yang ia pikirkan.


"Aku sudah tahu, Adri." Shanum mengecup pipi Khan.


Dan pria itu menjadi tambah bingung. "Kau tahu?" sahut Khan.


"Ya. Awalnya aku tahu dari Ulagan. Dia mengatakan padaku, adiknya memiliki tanda lahir yang mirip denganku. Kemudian dalam mimpiku saat sekarat terkena racun, kakek Chenghiz mengatakan padaku bahwa aku adalah reinkarnasi Sarnai."


Khan melongo. Dia terlihat cukup syok mendengar pengakuan Shanum. "Jika kau reinkarnasinya... berarti..." Khan terdiam.


"Siapa wanita yang muncul kemarin itu?" sambungnya lagi.


Shanum mengangkat bahunya sembari menggeleng. "Aku juga tidak tahu."


"Sial, aku ditipu mentah-mentah!" ucap Khan dengan marah.


Shanum mendekatkan tubuhnya ke arah Khan. "Hei, tidak baik marah-marah di hari bahagia kita," ucapnya sembari menguap.


"Aku mengantuk, Adri. Tolong peluk aku." Shanum mendorong tubuh Khan telentang kembali di atas kasur, sedangkan ia sendiri sudah meletakkan kepalanya di dada pria itu, dan mencari posisi nyamannya.


Khan menarik tubuh Shanum semakin rapat, mencium puncak kepala istrinya itu dan berkata, "Oke, kita akan membahasnya lagi besok. Sekarang beristirahatlah."


Shanum menutup matanya, tubuhnya terasa berat dan dipenuhi oleh perasaan senang serta ringan. Dia merasa detakan jantung Khan bagaikan musik pengantar tidur yang menenangkan. Khan mengusap lembut rambut Shanum, hingga akhirnya membuat istrinya itu jatuh tertidur.


***


Ketika Shanum terbangun keesokan paginya, tubuhnya tak seperti biasanya, terasa berat, tapi juga sekaligus lebih ringan. Ia mengernyit, matanya masih terpejam. Sensasi ini tidak biasa. Sekujur tubuhnya terasa nyeri dengan cara yang belum pernah ia alami. Sebuah pikiran lamat-lamat terbentuk di benaknya : apakah aku sakit?


Shanum mengerjap, menatap langit-langit, sadar bahwa ia sempat tertidur. Lalu aroma maskulin menyapa indra penciumannya dan seketika ia terjaga sepenuhnya. Ia tidak sakit. Khan, suaminya sedang tertidur di bawah tubuhnya. Tangan pria itu merangkul pundaknya. Dan kaki Shanum membelit kaki pria itu.


Shanum mengangkat kepalanya, dan melihat sekitarnya, menyadari sinar matahari pagi menyorot dari jendela. Normalnya, ia tidak pernah banyak tidur setelah fajar, jadi ini di luar kebiasaannya.


Shanum menoleh kembali ke arah Khan. Pria itu masih memejamkan matanya. Shanum bergerak, sekarang ia mendekati wajah pria itu.


Shanum mereguk profil sempurna prianya. Wajah tampannya tampak rileks ketika sedang tidur. Shanum tersenyum, dia menggelengkan kepalanya. Potongan-potongan adegan semalam berputar ulang. Pria itu menepati janjinya untuk bersikap lembut selama penjelajahan mereka yang berulang. Dan hal itu membuat perasaan cinta Shanum semakin dalam kepadanya.


Shanum melarikan jemarinya ke rambut pria itu, mengusapnya dengan pelan. Dan mata coklat keemasan itu langsung terbuka. Khan tersenyum dan berkata, "Morning, sweetheart ." Suara seksinya terdengar serak.


"Hmm, morning." Shanum ikut tersenyum, dia semakin mendekat dan mencium bibir pria itu dengan cepat.


Khan tertegun. Lalu ketika sadar bahwa Shanum mencuri ciuman, dia menyeringai. Khan menarik lengan Shanum dan membalikkan posisi mereka. Kini istrinya itu jatuh telentang dengan Khan yang menjulang di atasnya.


Shanum sempat memekik kecil karena kaget. Dan ia lebih kaget lagi saat Khan menggigit bibir bawahnya dengan lembut. Membuat denyut nadi Shanum semakin cepat, menyadari bahwa pria itu sudah membalas ciumannya tadi dengan ciuman yang lebih memabukkan.


"Itu baru namanya ciuman, Sayang."


Matanya yang coklat keemasan menatap Shanum dengan tajam, pipinya merah dan bibirnya yang indah terbuka. Khan tidak mencoba menyembunyikan pengaruh diri Shanum terhadapnya, tidak berpura-pura mengendalikan reaponsnya pada Shanum, sama seperti dia tidak bisa mengendalikan responsnya pada Khan.


Dada Shanum mengencang. Masih tidak percaya, pria itu adalah miliknya, bahwa ia bisa melihatnya seperti ini, begitu terbuka dan lapar dan sangat seksi. Dia pernah nyaris kehilangan pria itu. Nyaris berpisah dengannya.


Khan menopang tubuh dengan kedua tangan dan menunduk menatap Shanum, dengan lembut menyapu rambutnya dari kening. Matanya menatap Shanum dengan dalam.


Shanum membalas dengan menangkupkan jemarinya di pipi pria itu. "Aku mencintaimu, Adri. Tak sanggup jika kali ini kau melupakanku lagi."


Khan memejamkan mata dan tubuhnya bergetar. Ia merangkul Shanum dan mendekapnya dengan begitu erat sampai Shanum nyaris tidak bisa bernapas.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Shasha," bisiknya. "Amat sangat."


Pernyataannya yang berapi-api bergema di tubuh Shanum. Gadis itu membenamkan wajahnya di bahu Khan dan menangis. Entah mengapa kepedihannya sebelum peristiwa serangan panah beracun itu muncul ke permukaan.


"Sayang." Khan mengusap rambut Shanum.


Shanum mengangkat kepala, mencium pipi, dan keseluruhan wajah Khan, ciumannya terasa asin karena air matanya. Bibir Shanum bergerak putus asa, seolah-olah Khan akan segera menghilang dan ia tidak punya waktu untuk bersamanya.


"Shasha. Biarkan aku..." Khan menangkup wajah Shanum, mengecup keningnya. "Biarkan aku mencintaimu."


"Please," bisik Shanum, jemarinya bertautan di tengkuk Khan untuk menahannya. "Jangan berhenti."


"Takkan pernah. Aku tidak bisa berhenti."


Khan menjauh, mulutnya mulai membisikkan godaan-godaan. Pria itu membisikkan kata-kata dalam ikatan mereka.


Sangat membutuhkanmu... harus memilikimu... maaf sudah pernah melukaimu...


Shanum merasakan sesuatu yang panas dan basah membelai kulitnya dan melihat bahwa Khan juga menangis, wajahnya yang tampan dipenuhi emosi yang juga membanjiri diri Shanum. Shanum membaca kepedihan Khan saat pria itu melihatnya sekarat karena panah beracun itu.


Mereka memang belum sempat membicarakannya. Setelah Shanum sadar dan kembali pulih, mereka disibukkan oleh persiapan pernikahan. Jadi baru saat ini, Shanum mengetahuinya. Kata-kata Shanum tentang dilupakan oleh pria itu sebagai pemicu, untuk mulai membuka semua ketakutan dan kesedihannya.


Kilasan-kilasan yang dialami Khan berkelebatan di kepala Shanum. Sungguh luar biasa ikatan mereka kini. Keduanya bagaikan buku terbuka untuk satu sama lain. Tidak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi dan disembunyikan.


Dengan jari gemetar, Shanum menyentuh pipi pria itu, mencoba menghapus air mata di sana yang langsung muncul kembali begitu dihapus. Khan menyurukkan wajahnya ke tangan Shanum dengan erangan lembut dan menyerah, dan Shanum tidak tahan. Rasa sakitnya lebih sulit dihadapi Shanum daripada rasa sakitnya sendiri.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," kata Shanum kepada Khan.


"Shasha." Khan berlutut dan bangkit, pahanya terentang di antara paha Shanum.


"Milikku," kata Shanum serak, mendorong tubuhnya ke atas dan menghampiri pria itu dengan cepat, semakin mendekat ke arah Khan. "Kau adalah milikku, Adri." Rasa malu Shanum mendadak menghilang dan ia berubah menjadi seseorang yang berbeda. Lebih berani dan agresif.


"Sayang." Khan mencium Shanum dengan keras dan penuh gairah. Kemudian pria itu kembali mengklaim miliknya. Membuat Shanum menjerit dan mencengkeram bahunya. Mereka kembali mendaki, menelusuri dan meraih puncak dari hubungan yang membahagiakan itu.


Dan setelah semuanya mereda, Khan menangkap pergelangan tangan Shanum dan mengangkat jarinya ke bibirnya untuk di cium. "Sepertinya kita butuh makanan, Sayang. Perutku berbunyi sangat nyaring." Khan meringis sembari menatap perutnya.


"Ya, aku juga sangat lapar." Shanum bergerak bangkit dari atas ranjang. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Khan dan memakai kembali bathrobenya.


"Mau kemana?" tanya Khan.


"Aku mau berendam. Kau membuat tubuhku remuk hanya dalam waktu semalam, Adri." Shanum memberengut menatap pria itu.


Khan tersenyum maklum. "Maafkan aku. Sini, aku bantu kau ke kamar mandi." Pria itu lalu melemparkan selimut ke samping. Pria itu bangkit dari kasur, memakai celana tidurnya lalu menggendong Shanum. Khan menurunkan Shanum di dekat bathtub. Dia segera menunduk, mengisi bathtub dengan air hangat.


"Kau berendam saja. Aku akan mandi di bilik shower." Pria itu mengambil handuk bersih di salah satu lemari yang berada di kamar mandi.


"Oke. Tapi jangan tinggalkan aku. Kita ke ruang makan bersama-sama. Tempat ini terlampau besar, aku takut tersesat," kata Shanum.


"Siap, Nyonya," ledek pria itu sembari menyeringai. Shanum memutar bola matanya. Lalu gadis itu melihat Khan masuk ke dalam bilik shower sembari melepaskan celana tidurnya. Shanum memalingkan wajahnya. Sepertinyanya dia tidak akan pernah sanggup melihat tubuh polos seseorang, sekalipun itu adalah suaminya sendiri.


Gadis itu mendesah, lalu menggelengkan kepalanya. Ia beranjak untuk menyiapkan garam mandi, dan keperluan lainnya untuk berendam. Setelah dirasa airnya sudah cukup hangat dan penuh, Shanum segera masuk ke dalamnya.


Shanum keluar belakangan dibandingkan Khan. Saat ia membuka pintu kamar mandi, pria itu sudah memakai pakaian santai lengkap. Pria itu mendongakkan wajahnya sembari tersenyum lembut. "Pakaianmu sudah tersedia, Nyonya. Kau tinggal memakainya," ucap pria itu.


Shanum melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Khan. Dan ia menemukan satu set lengkap pakaian santai miliknya. "Terima kasih, suamiku."


Shanum mengambil pakaian itu dan kembali ke kamar mandi, ia memakainya di sana. Sebelum gadis itu masuk ke dalam tempat tersebut, dia sempat mendengar celetukan Khan yang diucapkan dengan nada menggoda. "Masih malu saja berganti pakaian di depanku. Padahal aku sudah melihat semuanya, Sayang."

__ADS_1


Shanum tidak menggubrisnya, dia tetap melangkah menuju kamar mandi sembari memutar bola matanya.


__ADS_2