Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 41 Arti Persahabatan


__ADS_3

Meskipun Shanum bangun kesiangan, dia masih sempat keluar pintu rumah dan sampai di kampus pada waktunya. Karena tak dibutuhkan waktu yang lama untuk mandi, berdandan secukupnya dan mencomot roti untuk di makan di dalam mobil.


Selama lima hari kemarin, dia tidak ingin pergi ke kampus. Dia sengaja menghindari kedua sahabatnya. Meski mereka tetap berusaha menghubunginya. Setelah ledakan emosinya di taman kampus tempo hari, dia tidak berani menampakkan wajahnya. Shanum tidak sanggup menatap pandangan kasihan yang diarahkan mereka kepadanya.


Hingga suara panggilan dari nomor tidak dikenal yang menghubunginya tadi malam, dan membuatnya sangat kaget. Ternyata yang meneleponnya adalah Pak Reno. Dia menanyakan kabarnya dan mengapa ia belum juga membuat janji untuk bimbingan selanjutnya. Suara Pak Reno terdengar lembut dan penuh perhatian.


Sungguh kejutan yang menyenangkan. Shanum tidak mengira dosen pembimbingnya itu begitu memperhatikannya. Pantas saja setiap mahasiswa di kampus ini berlomba-lomba mendaftar untuk bimbingan dengannya. Dan Pak Reno tahu nomor ponselnya. Seingat Shanum, ia tidak pernah memberikan nomornya pada pria itu.


Sesampainya di kampus, Shanum parkir di tempat biasanya, melompat keluar dari mobilnya, dan berlari melewati orang-orang yang berusaha menghindarinya agar tidak tertabrak oleh gadis itu.


Shanum menuju ruangan Pak Reno sesuai perjanjian mereka. Dia melirik jam tangannya, ia masih lebih cepat lima menit dari waktu yang dijadwalkan oleh dosennya itu. Shanum berusaha menormalkan napasnya yang ngos-ngosan efek berlari tadi.


Kemudian dia merapikan pakaiannya, mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan mengecek bedak serta pelembab bibirnya. Shanum merasa kurang puas dengan pelembab bibirnya yang menipis akibat makan roti saat di mobil tadi. Dia mengambil tube pelembab bibir dari tas, dan memoleskan kembali di bibirnya.


Sekarang dia sudah siap untuk bertemu dosen tampan itu. Dia tersenyum antusias untuk menjalani bimbingan hari ini. Shanum mengetuk dan langsung meraih gagang pintu, ia lalu menyelinap masuk.


Dia melihat Pak Reno mendongak dan tersenyum padanya. "Ah, Shanum, akhirnya kau datang juga. Ayo, silahkan duduk." Shanum mengernyitkan keningnya. "Apa saya terlambat, Pak? Seingat saya, kedatangan saya sudah tepat waktu."


"Oh, tidak. Kau tidak terlambat, Shanum. Aku yang datangnya terlalu cepat." Pak Reno lalu tersenyum gugup. "Aku terlalu bersemangat untuk bertemu denganmu. Jadi... lupakan." Dia tidak melanjutkan ucapannya. Pak Reno langsung menyuruh Shanum duduk dengan lambaian tangannya.


Shanum maju perlahan, tampak ragu-ragu untuk mendekati pria itu. "Duduk saja, Shanum. Aku tidak akan menggigit." Shanum membeku mendengar ucapan pria itu. Kata-kata itu pernah juga diucapkan oleh Khan. Oh tidak, jangan lagi mengingat pria itu, Shanum.


Shanum menggeleng. "Ada apa, Shanum?" Pak Reno bangun dari duduknya dan ingin menghampirinya. "Em, saya tidak apa-apa, Pak." Shanum tersenyum gugup. Lalu dia maju dan menghempaskan bokongnya di atas bangku.


Pak Reno kembali duduk. "Kenapa kau tadi melamun?" Dia mencondongkan tubuhnya ke dekat Shanum. Gadis itu mendongak, dia melihat wajah tampan Pak Reno tersenyum lembut padanya.


"Ah, itu... tidak Pak. Saya hanya tadi mendadak teringat habis ini harus bertemu dengan sahabat saya di kantin, yah... di kantin Pak." Lalu Shanum memandangi meja, mengatup bibirnya erat yang merupakan kebiasaannya saat merasa gelisah.


Pak Reno menatapnya dengan pandangan ingin tahu yang tidak ditutup-tutupi. Kemudian mendadak ada yang mengetuk pintu. Pak Reno menoleh dan mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke ruangannya.


Pintu pun di buka, muncul wajah seorang gadis dari baliknya. Shanum ikut menoleh ke arah pintu. Dia adalah salah satu temannya juga yang sedang mengerjakan skripsi, namanya Cantika. Gadis itu memiliki wajah cantik sesuai dengan namanya. Pak Reno tersenyum pada Cantika. "Ada apa, Cantika?"

__ADS_1


"Maaf Pak Reno, saya mau menyerahkan bab yang kemarin harus dikoreksi." Cantika masuk ke dalam ruangan masih dengan senyum manisnya. Pak Reno memandang sekilas pada Cantika, mengangguk singkat, dan tersenyum kecil.


"Letakkan saja di situ. Dan jika sudah selesai tolong tutup pintunya kembali. Nanti kau akan dihubungi oleh asisten saya untuk jadwal bimbingan selanjutnya." Pak Reno menunjukkan meja kecil di dekat pintu.


Kemudian ia kembali memusatkan perhatiannya pada Shanum. Dan meskipun Shanum tahu ini terdengar aneh, tapi selama sekejap saat matanya teralih darinya, dia merasa senyum Pak Reno terlihat hanya sebagai senyum basa basi saja. Senyum itu tidak sampai ke matanya. Tapi begitu pandangannya kembali padanya, semua terasa hangat dan baik kembali.


Begitu pintu kembali terdengar tertutup, Pak Reno berkata, "Baik sampai di mana tadi pembicaraan kita." Dia tersenyum. "Ah, kalau begitu kita langsung saja bimbingan ya. Boleh saya lihat bab perbaikannya."


Shanum menghembuskan napasnya, tampak lega karena Pak Reno tidak bertanya-tanya lebih lanjut. Ia mengambil bab revisi tersebut dari dalam tas jinjingnya, dan meletakkan sekumpulan kertas yang sudah dijadikan satu itu dengan penjepit kertas, di hadapan Pak Reno.


Akhirnya bimbingan itu selesai. Shanum permisi dengan Pak Reno, sambil berjanji akan kembali dua hari lagi untuk menyerahkan bab selanjutnya. Pak Reno tersenyum sambil mengangguk. Dan Shanum keluar dari ruangan itu dengan banyak pertanyaan yang bercokol di pikirannya.


Sayup-sayup dia mendengar suara ponselnya, ia langsung merogoh tas, memegangnya, dan melihat layar ponsel. Ternyata Diva yang menghubunginya. Shanum tahu, dia sudah tidak bisa lagi menghindar. Walau bagaimana pun mereka bersahabat dekat. Tidak mungkin selamanya ia mengacuhkan mereka.


"Ya Diva. Oh, aku di kampus." Shanum diam mendengarkan kata-kata Diva. "Oke, aku ke kantin sekarang," lanjutnya. Kemudian dia menutup panggilan itu, dan melangkah menuju kantin.


Saat dia sampai di kantin, Farah dan Diva sudah berada di sana. Diva memanggilnya dengan lambaian tangannya. Keduanya sudah memesan makanan dan minuman.


"Duduk, Sha. Ayo sini." Diva menarik bangku di sebelahnya untuk Shanum. "Aku mau pesan makanan dan minuman dulu," jawabnya. Gadis itu lalu menuju tempat pemesanan.


Setelah Shanum menjauh, Diva tampak melotot kepada Farah. "Kenapa sikapmu jadi sekasar itu? Itu bukannya menyelesaikan masalah, tapi membuatnya makin runyam, tahu."


Farah memutar bola matanya. "Habis, aku gemas melihat sikap menghindarnya itu. Kalau memang ada masalah, kenapa tidak diselesaikan. Bukannya malah bersembunyi menyakiti diri sendiri," cemooh Farah.


Diva menggeleng sambil tersenyum kecut. "Mungkin dia punya pertimbangan tersendiri kenapa bersikap seperti itu. Lagipula bukan porsi kita untuk terlalu dalam ikut campur kan."


"Iya juga sih," jawab Farah sambil manggut-manggut. "Pokoknya sekarang kita hanya bisa mendukung Shanum. Jika dia membutuhkan saran kita baru deh kita ikut campur, oke." Diva menepuk bahu Farah. "Ya saja deh," jawabnya sambil memgangkat bahunya.


Shanum lalu kembali ke meja itu sambil membawa baki yang berisi semangkuk bakso dan es teh. Dia tersenyum kaku. Masih merasa sungkan, ia meletakkan baki di meja dan duduk bersama kedua sahabatnya.


"Maaf soal yang tadi," kata Farah. Shanum terdiam dan menatap wajah Farah. Dia melihat Farah sudah tidak berwajah judes seperti tadi. Shanum lalu mulai merekahkan bibirnya. Dia tersenyum tipis sambil melihat ke arah Farah. Dan gadis itu membalasnya dengan senyum yang sama.

__ADS_1


"Jadi tadi kau bimbingan ya?" tanya Diva memecahkan keheningan di antara mereka. Shanum menganggukkan kepalanya sambil mengunyah baksonya. "Eh, bagaimana bimbingan dengan dosen tampan yang terkenal itu?" Diva mengerdip-ngerdipkan matanya.


Shanum mengambil es tehnya lalu meneguknya. "Dia baik dan perhatian. Tapi ada hal yang membuatku cemas," jawab Shanum. Alis Farah melengkung mendengar ucapan Shanum. Sedangkan Diva tampak mengerutkan keningnya.


"Maksudmu apa, Sha?" Shanum lalu menceritakan kejadian saat bimbingan tadi kepada para sahabatnya. Diva dan Farah terlihat melongo saat Shanum selesai bercerita. "Jangan katakan..." Diva menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Astaga, Sha. Lepas dari pria tampan satu kau mendapatkan pria tampan lainnya sepertinya," kata Farah sambil mendengus. "Tidak mungkin, ah. Jangan terlalu berlebihan dalam menilai perlakuannya itu." Shanum menggeleng.


"Dari gelagatnya saja sudah bisa tertebak, Sha." Farah masih bersikeras dengan pendapatnya. "Kita lihat saja kalau begitu, Sha. Pasti sebentar lagi akan ada pendekatan lainnya," sambung Farah.


"Wow, aku tidak menyangka. Jika hal ini diketahui publik. Bisa-bisa geger dunia perkuliahan di kampus ini." Diva berdecak kagum. "Aku tidak mau berkomentar," sahut Shanum.


Diva lalu berdeham. Dia menatap gadis itu. "Sha, jangan tersinggung ya. Ada yang mau kutanyakan. Tapi, please, aku tidak punya maksud apa-apa. Hanya ingin tahu." Terjadi jeda, Diva terdiam. Shanum mengangkat alisnya. "Ya, katakan saja. Aku tidak keberatan." Shanum tersenyum.


"Janji tidak akan baper," ucap Diva. Shanum mengangguk. Diva kembali berdeham. "Begini, jika Pak Reno benar mendekatimu, bagaimanakah dengan Khan?" Diva menatap takut-takut pada Shanum.


Walau bagaimana pun Diva tidak ingin menyakiti Shanum. Namun dia harus mengeluarkan pertanyaan yang terbersit di pikirannya. Setidaknya agar Shanum juga dapat memikirkan soal itu.


Shanum memejamkan matanya dan menggeleng, tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan Diva. Hal ini lebih rumit, dan dia tidak berani berandai-andai.


Shanum tahu, dia tetap harus mengeluarkan seluruh keluh kesahnya sebelum mulai meracuni seluruh pikirannya. Mungkin dengan bercerita, dia dapat merasa lebih tenang.


"Aku tidak tahu." Dia membuka mata dan menatap kedua sahabatnya dengan pandangan sedih. "Tentang Khan, aku... aku sudah mencoba menerima kebohongannya itu. Tapi ternyata sulit. Terkadang--terkadang rasa sakit itu menusukku begitu saja, kau tahu? Dan, rasanya tidak jadi semakin lebih mudah."


Tenggorokan Shanum tercekat, matanya mulai berkaca-kaca. Diva mendekati Shanum. Dia meremas bahunya. "Sudah, Sha. Jangan diteruskan. Maafkan, aku..." katanya.


Shanum menggeleng. "Tidak, aku harus mengeluarkannya. Segala unek-unek yang menyesakkan ini." Farah memandangi Shanum, wajahnya melembut saat berkata, "Aku tidak yakin ini akan jadi lebih mudah. Kukira kau hanya akan terbiasa menghadapi perasaan itu, kekosongan, kehilangan, dan entah bagaimana belajar untuk hidup di sela-selanya." Farah tersenyum, menyeka air mata yang tanpa sadar menetes di pipi Shanum.


Dan mereka melanjutkannya di rumah Farah, dalam naungan kamarnya yang menenangkan. Mereka membiarkan Shanum melanjutkan ceritanya, mengeluarkan unek-uneknya. Ikut merasakan deritanya, ketakutannya, sampai keduanya bercampur semua, nyata dan dalam, tanpa awal dan akhir.


Mereka bertahan seperti itu, menangis, bercerita, dan berbagi yang semestinya sudah mereka lakukan sejak lama. Andai saja sejak awal Shanum membiarkan para sahabatnya masuk. Andai saja dia tidak mendorong mereka menjauh. Dia mungkin lebih cepat merasakan beban berat di hatinya terangkat seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2