
Khan menatap Shanum dengan ekspresi tenang. Namun Shanum dapat mengetahui setitik keraguan tetap terbaca dalam pancaran matanya.
Dia sadar, resiko dari kembalinya Avraam, andaikata pria itu berhasil bangkit dari kematiannya. Pastinya akan terjadi kegemparan saat itu. Berdasarkan penuturan Chinua, hingga saat ini belum ada yang bisa keluar hidup-hidup dari jerat Padang Ilusi. Jadi, sudah dapat dipastikan pemeriksaan oleh Dewan Bangsawan secara menyeluruh akan dilakukan terhadap hal itu. Dan ia yakin semua yang ia tutupi perlahan akan terbuka.
Sanggupkah ia membawa suaminya ikut terseret masalah ini, mendapatkan hukuman dijatuhkan oleh Dewan dan juga masyarakat pada suaminya. Sebagai pemimpin klan tentunya hal itu akan menurunkan kepercayaan mereka.
"Bagaimana jika Avraam mengatakan aku yang membantunya?"
Khan tertegun. Pria itu tidak menjawab.
"Mereka pasti akan menghukumku kan?" tanyanya lagi. Mata Shanum menggelap ketika ia menatap Khan dengan putus asa.
Bibir Khan terlihat terbuka, lalu kembali menutup. Pria itu urung menjawab pertanyaan Shanum.
"Katakan, Adri. Jangan tutupi hal itu dariku."
Khan menyugar rambutnya. "Ya. Itulah yang akan terjadi. Tapi aku tidak akan membiarkannya, Shasha."
Dengan mudah Shanum merasakan pergolakan yang terjadi di dalam ikatan mereka, Shanum mengangkat tangan dan dengan lembut meletakkannya di pipi pria itu.
"Adri, jangan."
Bibir Khan menipis. "Aku akan melawan siapa pun yang akan menyakitimu."
"Kau tidak boleh menyakiti orang lain untukku, Adri."
Dengan perlahan Shanum memalingkan kepala dan memandangi batu yang menggelap. Sesuatu yang keras kepala dalam dirinya membuat ia menahan diri dari mengambil langkah terakhir yang beresiko. Shanum berkata, "Kau tidak boleh ikut campur jika nanti mereka mengetahuinya, Adri. Ini semata-mata karena..."
Khan menggeleng. "Tidak, kau tidak boleh menggunakan larangan itu sebagai alasan untuk menyelamatkanku dari hukuman juga, Shasha."
Air mata panas muncul di belakang mata Shanum. Ia berusaha keras menghentikan alirannya, tetapi pipinya basah sebelum ia bahkan menyadari ia tidak mampu menghentikan air matanya. Isak tanpa suara mengguncang tubuhnya.
Khan merutuk dan merengkuhnya ke dekapan, melingkarkan kedua lengan, memeluknya erat. Tidak melepaskan meskipun Shanum mengepalkan tinju di dadanya, seolah itu bisa menghentikan pria itu menghiburnya.
Khan berkata serak, "Tidak akan kubiarkan sesuatu terjadi padamu, Shasha. Sampai kapan pun. Aku akan selalu melindungimu."
Shanum merasa kedamaian membasuhnya. Penerimaan. Dan aliran deras rasa cinta yang begitu intens membuat ia berbalik, berjinjit, dan melingkarkan lengan di leher Khan.
Shanum tidak pernah bosan mengungkapkan kata-kata itu, dan akan terus mengumandangkan tiga kata itu seumur hidupnya. "Aku mencintaimu, Adri."
"Katakan lagi."
"Aku selalu mencintaimu."
Kegembiraan membanjiri dirinya saat rasa cinta yang ia rasakan terpantul di mata Khan. "Aku juga. Sangat... sangat mencintaimu."
Khan mendekatkan wajahnya. Pria itu berkata, "Maukah kau berjanji padaku? Untuk tidak pernah memutuskan sesuatu sendiri, mempercayaiku untuk membantumu?" Khan membelai rambut Shanum ke belakang dan kembali berkata, "Aku tahu, Sayang. Aku mengerti. Aku juga takut--percayalah. Aku hanya tidak mau ada lagi hal yang tak terkatakan di antara kita, dan hal itu bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak jahat yang berniat untuk memisahkan kita."
Shanum tersenyum di tengah air mata. "Ya, aku berjanji akan mengatakan kepadamu, Adri."
Risiko ketahuan untuk mereka ke depannya memang sangat besar, tetapi Shanum tahu imbalannya bahkan lebih besar lagi jika ia mereka bersatu untuk mencari solusinya.
Jemari Khan diturunkan untuk menyentuh pipi Shanum. Ekspresinya melembut dengan kerinduan yang menyentuh hati Shanum. Lalu perlahan pria itu menundukkan kepala, mendekati bibir Shanum. Ia merasakan sapuan hangat napas Khan di bibirnya, pria itu memiringkan kepalanya, memperdalam ciumannya.
Khan mencium Shanum dengan lembut, merayunya dengan godaan seksi, mengambil napas, jiwa dan hatinya. Membuat kepalanya berputar-putar sementara ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha untuk menjaga keseimbangan di tengah gempuran yang hebat.
Dan saat Khan menarik bibirnya menjauh. Selama beberapa saat Shanum berjuang untuk menenangkan diri. Ia linglung dan sama sekali tidak yakin ia bisa menghadapi sensasi intens yang mengancam akan menguasai dirinya sepenuhnya.
Kemudian secara perlahan gelombang mulai reda dan Shanum pun bisa berkonsentrasi pada perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Ada kesadaran tentang Khan, tentu saja. Tapi sudah bukan kesadaran samar bahwa Khan ada di dekatnya. Khan bernaung di dalam benaknya secara jelas, begitu pula dengan kekhawatiran yang mencengkeram Khan erat-erat selagi pria itu mengamatinya. Akan tetapi, lebih dari apa pun, Shanum merasakan keindahan ikatan jiwa mereka yang teguh dan tak terbantahkan dari cinta Khan.
Senyum kagum mengembang di bibir Shanum.
"Oh. Aku..."
"Shasha, apa kau... baik-baik saja?" tanya Khan dengan suara parau, menggenggam tangan Shanum erat-erat.
__ADS_1
"Aku... utuh," jawab Shanum, masih terheran-heran karena menyadari bahwa jiwa mereka semakin terikat sepenuhnya.
"Kau tidak dapat merasakannya, Adri? Ikatan kita sekarang terasa..."
"Lebih erat," potong Khan meraih tangan Shanum dan mengangkatnya, mencium telapaknya selagi percikan terasa di dalam jiwa mereka.
"Kau tidak lagi bisa mengunci pintu dalam benak dan hatimu, Adri. Karena aku pasti akan bisa membukanya tanpa kunci," bisik Shanum, dengan berani mencondongkan badannya ke depan untuk memagut bibir Khan.
Khan menggeram pelan. "Jangan memancingku lagi, Shasha. Aku harus kembali ke tenda rapat untuk membicarakan tentang nasib klan Avraam."
Setelah Avraam masuk ke balik kabut Padang Ilusi kemarin, setelah Nekhii menyatakan aman dan pertarungan serta peperangan sudah benar-benar berakhir. Shanum memang membiarkan Khan jauh dari jangkauan penglihatannya untuk mendata siapa yang hidup dan siapa yang tewas, dan menentukan perintah yang harus diberikan.
Meski sebelum Duongan Sakhai mereka sudah sempat mengobati pasukan yang terluka. Tapi menentukan lebih lanjut dari itu belum sempat mereka lakukan.
"Apa tepatnya yang akan kalian lakukan terhadap klan itu, Adri?" tanya Shanum, sembari mengerutkan kening.
"Kau boleh ikut untuk mengetahui hasil akhirnya," jawab Khan mengangkat sebelah alisnya.
Shanum bertanya dengan hati-hati, "Jadi aku boleh ikut?"
"Tentu saja boleh. Tanpamu peperangan ini tidak akan pernah berakhir dengan cepat, Sayang."
Shanum tersipu sembari membuka selubung pelindung yang dibuatnya, lalu mereka berjalan ke arah hutan.
"Semua itu bukan hanya karenaku. Kau dan kerjasama semua yang terlibat ikut andil juga, Adri."
"Tapi tetap saja kau, sebagai yang terkuat di antara kami yang menyelesaikan segalanya," sahut Khan dengan lembut.
Shanum berhenti melangkah dan menoleh ke arah Khan. "Tidak, Adri. Kau sekarang juga memiliki kekuatan yang setara denganku."
Khan merangkul bahu Shanum sewaktu mendengar kegusaran dalam suaranya. "Meski aku menyerap kekuatanmu, belum tentu seluruh kekuatanmu itu ikut berpindah juga kepadaku."
Khan menarik dagu Shanum dan menatapnya lekat. "Dan aku sangat berharap tidak semuanya kumiliki. Aku takut mantra pesonaku yang menawan semakin besar hingga membuat banyak wanita bertekuk lutut di kakiku," ujar Khan sesumbar sambil tersenyum jahil.
Shanum mendengus keras-keras karena keangkuhan Khan. "Menurutku pesonamu kurang menawan, Adri."
Shanum melanjutkan langkah sembari terkekeh geli. "Kau itu sedingin Kutub, Adri. Dimananya efek kekuatan pesona itu. Yang terjadi bukanlah terbius oleh pesonamu, orang-orang malah menggigil kedinginan dan berlari menjauh andaikata melihat pesona itu."
"Hei, kalau bukan karena pesonaku, tidak mungkin kau jatuh cinta setengah mati kepadaku." Khan mengungkapkan protesnya dengan keras.
Shanum berhenti dan menoleh, menatap Khan dengan ekspresi serius. "Ya kau benar. Dan aku berharap hanya diriku yang menyadari pesonamu itu, Adri."
Selama sesaat mereka saling bertatapan tanpa berkata apa-apa.
Dengan perlahan Khan tersenyum sambil mengulurkan tangan. "Kemarilah, Shasha."
Hati Shanum melonjak begitu ia mendengar kata-kata Khan. Panggilan itu diselimuti oleh gairah yang begitu pekat. Hingga Shanum harus menahan ******* yang nyaris keluar dari bibirnya.
Shanum menghampiri Khan, bahkan membiarkan Khan mendekatkan tubuh mereka. Tidak yakin tentang apa yang akan terjadi, Shanum kaget sewaktu Khan tidak bergerak untuk menyentuhnya selain membelai rambutnya.
"Maafkan aku, Adri. Tadi itu aku hanya menggodamu."
"Jadi, kata-kata terakhirmu tadi tidak serius?"
Shanum menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Tentu saja semua ucapan tentang pesona Khan itu adalah kebenaran. Shanum tidak rela kalau ada wanita lain yang mengetahui betapa mempesonanya suaminya itu. Ia tidak akan mengizinkan pria itu merubah pesona dinginnya menjadi hangat dan penuh kelembutan.
"Tentu saja itu serius, Adri."
"Kalau begitu, pesonaku itu kuperlihatkan hanya untuk dirimu, Shasha." Khan menangkup wajah Shanum dengan lembut, mata keemasannya menatap Shanum dalam-dalam. "Karena aku tidak ingin yang lain. Hanya kau yang berada di sini." Khan meraih telapak tangan Shanum dan mendekatkannya ke dadanya.
"Ah, manis sekali."
Suara mengejutkan yang terdengar dari belakang mereka membuat Shanum dan Khan menolehkan kepala dan mengangkat tangan serentak, bersiaga dengan sihir mereka.
Setelah melihat wanita yang sedang tersenyum puas dengan ganjil itu, barulah Khan dan Shanum mengendurkan kewaspadaan mereka.
"Nenek," gumam Khan seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu dua sejoli yang akan memberikan seorang cicit luar biasa hebat untukku. Tapi berhubung kalian sudah ditunggu oleh yang lainnya, jadi aku terpaksa menginterupsi pembicaraan intim kalian," ujar Nekhii dengan senyum penuh rahasianya.
Khan meringis, tahu kalau mereka sudah membuat orang lain menunggu lama. Sekarang mereka harus bergegas menuju tenda rapat. Sedangkan Shanum mengerutkan kening, ia menyerap hal yang berbeda dari maksud kata-kata Nekhii tadi. Ia menegang sewaktu mendengarnya, namun tidak bertanya lebih lanjut. Menurut pemikirannya, semua pertanyaannya lebih baik disimpan untuk sementara waktu, sampai semua kekacauan ini telah dibereskan.
"Kami sebenarnya sedang menuju ke sana," kilah Khan.
Nekhii menganggukkan kepala dengan perlahan, ekspresinya memancarkan rasa geli, tapi tidak menyanggah ucapan Khan.
Kemudian wanita itu memberikan isyarat kepada keduanya untuk bergegas. Dan mereka melangkah cepat mengikuti wanita itu.
Selagi mereka berjalan ke tenda rapat, Nekhii bercerita tentang wanita yang menyamar menjadi Sarnai--bagaimana ia berhasil membuka semua hal yang disembunyikan wanita ular itu, bagaimana ia membunuh Sarnai asli tak lama setelah peristiwa kebakaran yang menimpa rumahnya. Dan betapa Nekhii turut bersedih atas peristiwa itu. Apalagi setelah ia melihat ekspresi tegang yang terlihat pada wajah Khan.
Meski tidak mengatakan satu patah katapun, Shanum merasa Khan menyimpan sedikit kesedihan untuk wanita yang pernah dicintainya itu, dan ia juga merasakan hal yang sama.
Kini semua misteri menghilangnya wanita itu sudah terpecahkan. Shanum merasa lega sudah berhasil membalaskan dendam Sarnai, dengan membawa wanita jahat itu kepada penegak hukum klan.
Shanum masih memikirkan semua yang diceritakan Nekhii saat masuk ke tenda rapat. Dia mulai kembali fokus setelah mendengar ada suara-suara yang menyambut dari dalam.
Banyak suara, salah satunya adalah lontaran kalimat godaan dari Chinua kepada dia dan Khan. Shanum melangkah masuk dengan wajah tersipu mendengar kalimat Chinua, namun berusaha menahan rasa malunya dengan mengambil tempat duduk di atas bantal di samping wanita itu.
Semua pemimpin klan sudah berkumpul, begitu pula dengan para perwakilan tetua dan dewan. Tampaknya mereka dipanggil dan datang melalui portal.
Shanum menatap ke sekeliling, melihat Khan duduk di ujung ruangan, bersiap memimpin rapat. Diapit oleh Sergei, perwakilan Tetua dan Dewan. Eej berada di sebelah Nekhii, sedang bercakap-cakap pelan bersama wanita itu. Dan yang duduk di bantal di sebelah Sergei adalah seorang wanita cantik, rambut gelapnya yang lurus dan bercahaya jatuh di punggungnya. Dia menatap lurus ke arah Shanum.
Armaa.
Wajah tersenyum Armaa lebih terkesan penuh kekaguman. Dan wanita itu lantas menganggukkan kepalanya, saat Shanum membalas tatapannya.
Shanum terpaksa membalas senyum itu, meski sebagian hatinya masih terasa ada yang sedikit mengganjal. Sebuah ganjalan yang berhubungan dengan perasaan sahabat baiknya, karena Armaa adalah tunangan Sergei. Dan Shanum masih belum menerima perasaan cinta sahabatnya di sia-siakan.
"Baik, kita akan mulai membahas perihal nasib Klan Erebos," ucap Khan membuka rapat. "Ada yang memiliki saran, apa yang harus kita lakukan?"
Shanum memberikan isyarat mengangkat sebelah tangan dan menatap serius ke arah Khan.
"Sebelum kalian memutuskan nasib klan tersebut, aku ingin bertanya sesuatu yang penting?"
"Silahkan," jawab Khan.
"Bolehkan aku membantu untuk memilah mana orang yang memiliki niat jahat dan tidak jahat di klan itu?"
"Bagaimana caramu mengetahuinya? Wanita sepertimu belum tentu memiliki pengalaman untuk itu. Meski kau memiliki sihir yang kuat, kau dibesarkan di dunia manusia fana dan tidak mengetahui hukum antar klan," sahut sebuah suara bernada sinis.
Wajah Shanum sekejap terlihat datar mendengar ucapan meremehkan yang dilontarkan pria itu.
"Hentikan, Batu! Aku tidak suka kau meremehkan pasanganku." Khan menatap tajam ke arah pria itu dengan rahang mengetat.
Biar aku yang mengatasi ini, Adri.
Khan menatap dalam ke arah Shanum, keduanya bertelepati melalui ikatan mereka.
Kemudian Shanum melarikan pandangannya ke arah Batu. "Aku memang tidak banyak mengetahui tentang hukum klan. Tapi aku tahu rahasia yang coba disembunyikan oleh setiap orang. Termasuk rahasia kotormu yang sering menyiksa para wanita dan anak kecil di ruang bawah tanahmu itu."
Suara kesiap terdengar dalam ruangan itu. Dan wajah Batu kontan memucat.
"Kau mencoba memfitnahku, Wanita Sialan!" geram pria itu dengan tubuh sontak berdiri.
Shanum mendengus kasar. "Hanya seorang yang bersalah yang sanggup melemparkan kata-kata seperti itu. Jadi diamlah. Aku akan memperlihatkan dosa-dosamu di sini."
Pria itu langsung terdiam, tubuhnya pun terlihat menjadi kaku. Shanum mengangkat tangannya dan sembari tersenyum manis dia menjentikkan jemarinya.
Dalam waktu singkat orang-orang yang berada di ruangan itu melihat kilasan adegan demi adegan dengan pemeran utama di dalamnya adalah Batu.
Suasana langsung terlihat mencekam. Beberapa orang menolehkan kepala ke arah Shanum dengan ekspresi tercengang bercampur takut.
"Kalian tidak perlu kaget. Wanita ini adalah seseorang yang diramalkan itu. Jadi tentunya ia memiliki kekuatan yang belum pernah ada," celetuk Chinua seraya menyeringai.
Kemudian Chinua tertawa keras. "Ah... Ekspresi kalian semua sungguh lucu. Seolah kalian cemas sewaktu-waktu Shanum akan melucuti rahasia terkelam kalian."
__ADS_1