
Shanum mencoba mencerna kata-kata Khan. Meski ia masih saja bingung. Karena ia tidak mengerti mengapa mereka harus terjebak di sana hingga mati karena kelaparan.
Bukankah mereka bisa kembali ke jalan setapak itu dan membahas strategi untuk memadamkan api. Dan jika di perjalanan nanti mereka harus bertemu dengan musuh, tentunya mereka bisa melawan dengan kekuatan penuh. Dia dan keempat pria itu memiliki kombinasi sihir yang tidak bisa diremehkan.
Pikiran Shanum terpecah saat melihat Jullian tiba-tiba berjongkok di dekat serumpun tanaman perdu. Ia menyentuh salah satu tanaman dan memejamkan matanya dengan wajah serius.
"Apa yang Jullian lakukan?" tanya Shanum sembari menoleh ke arah Khan. Pria itu juga sedang memperhatikan tingkah laku Jullian. "Dia sedang berkomunikasi dengan tanaman itu," jawab Khan.
"Maksudmu dia bisa berbicara dengan tanaman?" tanya Shanum lagi dengan takjub. "Ya, Jullian memiliki kekuatan elemen alam. Dia bisa berbicara, menumbuhkan dan menggerakkan tanaman sesuai kehendaknya."
Shanum melongo kaget. Gadis itu terkesima karena menemukan satu hal lagi yang mengagumkan dari dunia kekuatan elemental ini.
"Aku berbincang sebentar dengan Sergei ya," kata Khan kepada Shanum seraya bangkit dari duduknya. Pria itu menghampiri Sergei yang sedang memandang serius ke arah hutan.
Shanum hanya mengangguk mendengar ucapan Khan. Pandangannya tetap terpaku ke arah Jullian. Gadis itu tampak tertarik memperhatikan tingkah pria itu. Sekarang pria itu sedang berkomat-kamit. Seakan-akan dia sedang berbincang-bincang langsung dengan tanaman itu.
Pria itu akan diragukan kewarasannya jika dia berbuat seperti itu di hadapan manusia biasa. Shanum tersenyum geli sendiri, karena mereka semua yang ada di sini juga akan sama dianggap tidak warasnya jika melakukan perilaku yang berhubungan dengan sihir.
Mendadak Shanum mengernyitkan kening. Dia teringat Jullian bukannya memiliki kekuatan teleportasi. Mengapa mereka tidak meminta pertolongannya saja untuk keluar dari sini? Dan mengapa pria itu diam saja saat semua orang sedang pusing memikirkan jalan kembali yang aman?
Seolah merasakan Shanum sedang melihatnya dengan tajam, Jullian mendongak dan matanya memancarkan sorot tak terbaca ke arah Shanum.
"Jullian, boleh aku bicara denganmu?" panggil gadis itu.
Jullian mengangguk sebagai reaksi, dia bangkit dari posisi jongkok lalu menepuk kedua belah tangannya. Pria itu menghampiri Shanum.
"Anda membutuhkan saya, Yang Mulia?" tanyanya. Shanum memutar bola matanya lalu berkata, "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggil saja Shanum."
"Aku tidak bisa, Yang Mulia," kata Jullian singkat.
"Aku memaksa! Kau hanya boleh memanggilku seperti itu jika aku sudah sah menjadi pasangannya, tapi tidak saat ini." Shanum berkata dengan tegas seraya tetap tersenyum ramah. Jullian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Omong-omong apakah ada masalah dengan kekuatan teleportasimu?" tanya Shanum.
"Tidak." Pria itu menjawab sembari menatap Shanum dengan wajah tidak terbacanya.
"Berarti kau bisa membawa kami keluar dari sini dengan berteleportasi?"
"Bisa," jawabnya lagi. Wajah pria itu masih tetap terlihat datar. Jawabannya pun sedatar wajahnya. Shanum sungguh heran, apa yang dilihat Farah dari pria ini, sehingga gadis itu mengincarnya.
Shanum lalu berdecak seraya menghembuskan napasnya. "Terus mengapa kau tidak mengatakannya kepada mereka? Itu di sana, mereka sedang sibuk mencari jalan keluar dari sini loh." Shanum menunjuk Khan dan Sergei yang masih terlihat berdiskusi dengan serius.
"Kalian tidak bertanya padaku." Jullian masih dengan ekspresi tidak bersalah. Dan Shanum rasanya ingin mengacak-acak wajah datar yang tampan itu.
"Adri, boleh aku minta waktunya sebentar." Shanum memberi isyarat kepada Khan untuk mendekat ke arahnya. Gadis ini sudah bangkit dari duduknya.
"Ada apa, Shasha?" tanya Khan.
"Jullian bisa membantu mengeluarkan kita dari sini dengan teleportasinya." Shanum mengatakannya dengan bersemangat. Dia senang akhirnya ada solusi untuk masalah mereka.
"Aku tahu. Tapi kita tidak bisa melakukan itu," jawab Khan tenang.
Shanum berdiri kaku mendengar ucapan pria itu. Wajahnya terlihat bingung. "Mengapa tidak bisa?" tanyanya heran.
"Karena kita akan meringkus komplotan itu. Bukan melarikan diri." Khan menatap Shanum dengan pandangan serius.
"Mengapa berteleportasi dianggap melarikan diri? Bukankah kita memang berniat keluar dari sini?" tanya Shanum tidak sabar.
"Ya, kita memang akan keluar dari sini. Tapi dengan menangkap para pengacau itu dengan menyergapnya. Jika mereka membahayakan kita berarti hanya kematian yang akan terjadi." Mata coklat keemasan pria itu terlihat berkilat tajam dan berbahaya.
__ADS_1
Shanum tiba-tiba menyadari kalau mereka akan membunuh seseorang bukan dalam pertempuran atau pertarungan yang adil, melainkan mengecoh musuh, dengan diam-diam, dan orang itu tidak akan memiliki kesempatan.
Shanum ragu apakah ia bisa melakukannya? Dia bukan petarung berpengalaman seperti keempat pria itu, yang sudah terbiasa menyergap musuh dan membunuhnya. Pembunuhan pertama yang dilakukannya di Astrakhan saja hingga saat ini masih menyisakan rasa pahit di tenggorokan dan mual hebat di perutnya, jika ia mengingatnya.
Ibarat manusia, Shanum adalah balita di antara sekumpulan orang-orang dewasa. Dia masih memiliki rasa tidak tega, meski itu dengan musuh sekalipun. Jika bisa, ia ingin semua berakhir damai tanpa pertumpahan darah.
Sergei mengangkat alisnya. "Apakah kau punya saran, Shanum? Bagaimana caranya kita menangkap orang-orang ini? Karena aku melihat keraguan di wajahmu."
Shanum mendesah keras, dia menatap resah ke arah mereka. Dia berpikir dengan keras bagaimana cara yang terbaik untuk menyelesaikan problem ini dan menyakinkan kedua pria itu?
"Aku tetap tidak mau terjadi pembunuhan yang tidak perlu. Apakah bisa kita menyergap mereka tanpa membunuh?" desaknya pada keempat pria itu.
Sergei menggeleng mendengar kata-kata Shanum. "Pasanganmu ini memiliki hati selembut kapas, Yang Agung. Sepertinya kau harus melindunginya dengan ketat jika nanti mengikuti Seleksi. Karena dia akan berada di sekumpulan hiu yang haus darah, dan ia akan segera tercabik-cabik jika tetap bersikap seperti ini."
Shanum langsung memicingkan matanya seraya menatap Sergei. "Aku bukan pengecut, dan pasti akan melawan. Hati nuraniku saja yang tidak terima jika harus membunuh dengan tangan dingin tanpa konsep keadilan. Apakah itu salah?"
"Tidak, itu tidak salah. Dan aku mengerti." Khan mendekat ke arah Shanum, ia mengusap pipinya sekilas dengan ujung jemarinya. Matanya menatap dalam padanya. Senyum ikut merekah di bibir Shanum mendengar kata-kata pria itu.
"Dia akan bisa melaluinya, Sergei. Gadisku ini kuat, dan aku percaya kepadanya." Khan menoleh sekilas ke arah Sergei. Kemudian kembali berpandangan dengan Shanum.
Sergei berdeham sembari terbatuk-batuk kecil. "Em, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Yang Agung."
Khan menoleh kembali dan menyeringai. "Sekarang kita bisa berpiknik di pinggir sungai ini. Kalau di antara kalian ada yang ingin berenang silahkan lakukan. Tapi menurutku sebaiknya tidak. Kalian lebih dibutuhkan tetap waspada mengawasi keadaan sekeliling sungai."
Ketiga pria yang ada di sana melongo mendengar ucapan Khan. Sedangkan Shanum, ia langsung mendekat ke arah Khan dan mengecup pipinya dengan cepat. Gadis itu lalu kembali menjaga jarak.
Khan seketika menjadi kaku. Dia menolehkan kepalanya bagaikan robot, dan menemukan gadis itu sedang tersenyum nakal ke arahnya, dengan mata yang berbinar bahagia.
"Aku senang akhirnya bisa berenang juga. Aku merindukan berenang di sungai ini," kata Shanum. Khan langsung menggeleng sembari terkekeh geli. mendengar celotehan Shanum.
"Kalau begitu ayo, aku akan menjagamu dari pinggir sungai." Khan melangkah sembari memberikan isyarat untuk mengikutinya. Dia mengajak gadis itu menuju pinggir sungai yang lebih dangkal.
Seketika Shanum berhenti melangkah ketika pemahaman mulai terbentuk di kepalanya. Dia menoleh dan melihat ke arah Khan. Dalam benak Shanum ikatan mereka berbicara bahwa pria itu melakukan hal ini untuk dirinya. Sejak musuh mulai mengganggu, dia mengurungkan niat untuk berenang seperti dirinya. Pria itu tahu dia memimpikan berenang di sungai itu.
Shanum langsung menubruk Khan, dan melingkarkan lengannya di pinggang pria itu. Khan tersentak mundur karena tidak siap menerima lontaran tubuh Shanum. "Aku bahagia menjadi kekasihmu, Adri," bisiknya.
Khan merasakan hatinya menghangat menerima pelukan dan kata-kata Shanum. Dia membalas merangkul dengan erat. "Aku juga sangat bahagia, Shasha."
Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya seraya tersenyum menatap ke arah pria itu. Dia tidak mau membuat Khan tersiksa oleh desakan insting berpasangan mereka, jika terlalu lama memeluknya.
Khan merasa kehilangan ketika tubuh gadis itu menjauh darinya. Tapi ia mengerti, mereka tidak boleh berpelukan terlalu lama. Reaksi ikatan itu sewaktu-waktu dapat kembali dan membuatnya kesusahan mengendalikannya.
Saat ini, dalam pandangannya pria itu, ia melihat Shanum melangkah langsung ke balik salah satu batu besar yang berada di dekat sungai. Dia membuka jaket hoodienya, di dalamnya ia sudah memakai pakaian renang yang terbuat dari bahan lycra berwarna hitam.
Baju itu jatuh di atas paha dengan panjang lengan hingga ke bawah siku. Bawahannya, satu set dengan atasannya merupakan legging sport, yang cukup sopan menutupi tubuhnya. Shanum mengambil karet rambut, dan mengikat rambut dalam gulungan di puncak kepalanya.
Tengkuknya yang mulus terlihat di mata Khan, dan pria itu meneguk ludahnya. Dia langsung berbalik menatap ke arah sungai. Berusaha menormalkan denyut jantungnya yang menggila. Sungguh luar biasa dampak ikatan berpasangan ini, hanya dengan melihat tengkuk mulus saja dia bergairah.
"Aku sudah siap. Kau kenapa, Adri?" Shanum merasakan keanehan terjadi pada pria itu. Khan terlihat frustasi dan dia takut hal itu terjadi karena pelukan tadi.
"Aku tidak apa-apa," balas Khan dengan suara serak. Pria itu berusaha tersenyum tipis untuk menutupi perasaannya.
"Kau yakin, Adri? Ini bukan karena pelukan tadi?" desak Shanum. Khan menggeleng. "Ayo, jika kau mau berenang. Setelah ini kita harus kembali ke hutan itu." Khan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oke." Shanum lalu mendekati bibir sungai dan mencoba mencelupkan ujung kakinya terlebih dahulu. Setelah dirasa ia menyukai airnya yang tidak terlalu dingin, secara perlahan ia memasuki kedalaman sungai itu.
"Aku bersyukur kau tidak trauma lagi dengan peristiwa tenggelam tempo hari," kata Khan dari pinggir sungai. Shanum menoleh sembari berenang tidak jauh dari tempat Khan berdiri. "Aku belajar mengatasi rasa takutku dengan mencoba berenang di kolam renang saat di mansionmu."
"Oh, ya? Mengapa aku tidak mengetahuinya?" Khan mengerutkan keningnya dengan heran.
__ADS_1
"Aku memang sengaja berenang saat kau sedang pergi ke kantor. Aku tidak mau melihat wajah cemasmu saat melihatku menggigil ketakutan, atau tiba-tiba merasa sesak napas," jawab gadis itu sembari tersenyum.
"Astaga, Shasha, hal itu berbahaya! Aku curiga kau melakukan hal itu tanpa adanya kehadiran kedua sahabatmu yang menemanimu." Khan memicingkan matanya tampak gusar.
"Ya, aku juga tidak mau membuat mereka cemas," jawabnya pelan.
Rahang Khan mengetat, pria itu terlihat marah. "Jangan pernah melakukan hal berbahaya itu tanpa pengawasan orang lain, Shasha. Aku ingin kau berjanji kepadaku!"
"Hei, hal itu sudah berlalu. Aku sudah melewati masa-masa itu. Dan untuk apa kau menjadi marah?" Gadis itu cemberut lalu berenang menjauh. Dia tidak suka melihat wajah gusar pria itu yang ditujukan kepadanya.
Khan menghembuskan napasnya. Dia menghampiri batu terdekat lalu duduk di atasnya. Pria itu mengawasi pergerakan Shanum. Dia tahu tidak seharusnya ia melampiaskan kekesalannya kepada gadis itu.
Tapi dia kecewa karena gadis itu tidak melibatkannya. Khan ingin mendampinginya melewati krisis itu. Ia juga ingin menjadi orang pertama yang melihat gadis itu sembuh dari traumanya.
Di samping itu, Khan juga merasa cemas atas keselamatan gadis itu, hingga menguasai seluruh pikirannya, mengaburkan akal sehatnya.
Dia tidak ingin mengalami lagi detik-detik menegangkan saat petugas medis harus melakukan CPR pada Shanum. Melihat wajah pucatnya dan bibirnya yang membiru. Sedemikian dalamnya perasaan Khan terhadap Shanum.
Shanum berenang selama lima belas menit di sungai itu. Namun sampai dengan selesainya Shanum berenang, Khan tetap tidak berkata apa-apa lagi kepada Shanum. Dia hanya mengamati dalam diam. Dan setelah gadis itu telah naik ke daratan lagi, pria itu pergi menghampiri Jullian dan Abdan.
Khan seakan-akan menghindar darinya, dan hal itu membuat Shanum semakin kesal. Pria itu bukannya meminta maaf kepadanya, tetapi malah memilih bersikap mengacuhkannya.
Setelah Shanum selesai berganti pakaian di balik pohon besar di pinggir sungai. Sergei mengumumkan sudah waktunya mereka menikmati makanan yang sudah dibawa oleh Jullian dan Abdan.
Mereka makan di atas tanah beralaskan rumput yang rimbun dan kering. Jullian membantu menumbuhkan rumput dengan mengeluarkan kekuatan alamnya. Dan dalam waktu yang singkat, alas duduk dari rumput yang empuk mulai bermunculan dari dalam tanah.
Shanum sudah tidak merasa takjub lagi. Di samping karena suasana hatinya yang sedang kesal, hingga tidak peduli dengan bagaimana rumput itu bisa tumbuh secara ajaib di hadapannya.
Shanum juga ingin segera makan dan kembali ke dalam kamarnya di dalam vila. Gadis itu sudah tidak tertarik untuk berurusan dengan para perusuh itu. Biar para pria itu saja yang bertanggung jawab untuk mengatasinya.
Mereka semua makan dalam suasana muram. Dan hal itu tak lepas dari pengamatan Sergei. Dia memperhatikan tingkah Khan yang mendadak menjadi dingin dan kaku. Sedangkan wajah Shanum pun tidak berbeda jauh, gadis itu terlihat sama kaku dan dingin.
"Ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian berdua bertengkar?" desak Sergei. Keduanya tidak menjawab. Sergei memutar bola matanya dan berdecak sendiri.
"Kalian itu sungguh lucu. Tadi sibuk saling menatap dengan penuh perasaan dan berpelukan dengan hangat. Sekarang malah jadi bersikap dingin dan kaku satu sama lain." sindir Sergei.
"Maaf, aku tidak bisa ikut kalian menjebak para perusuh itu. Jullian, boleh antarkan aku langsung ke vila dengan teleportasimu?" Shanum langsung menyudahi makannya. Perutnya mendadak mual terus berada di tempat itu. Gadis itu bangkit dari duduknya.
Walaupun kata-kata Shanum tetap tidak menjawab langsung pertanyaan Sergei. Namun dari ucapannya pria itu sudah bisa menyimpulkan, kedua kekasih ini sedang bertengkar. Sergei hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sedangkan kedua pria lainnya saling berpandangan dengan ekspresi bingung. Hanya Khan yang tetap diam, wajahnya pun tetap datar dan dingin.
Sergei mendesah lelah lalu berkata, "Apakah Shanum boleh kembali ke vila, Yang Agung?" tanyanya pada Khan.
"Aku tidak perlu persetujuannya," potong Shanum ketus. "Ayo Jullian, antarkan aku." Shanum menoleh ke arah pria itu. Jullian tidak bergerak. Dia melihat ke arah Khan tetap meminta persetujuannya.
"Oke, kalau kau tidak mau mengantarku, Jullian. Aku akan kembali melalui jalan setapak itu, sendiri!" Shanum lalu berderap menuju ke arah hutan.
Namun baru juga beberapa langkah ia sudah dihadang oleh Khan. Pria itu menahan tubuhnya dengan mencekal tangannya. Shanum langsung melotot ke arah pria itu. Dia berusaha memberontak. "Lepaskan aku, kau bedebah tidak punya perasaan," ucapnya dengan suara keras.
Bersamaan dengan selesainya ucapan yang terlontar dari mulut Shanum, secara tiba-tiba warna keemasan muncul dari telapak tangannya. Gadis itu mendorong Khan dengan kuat. Dan pria itu terhempas jauh hingga tubuhnya menabrak semak-semak yang berada di sana.
Shanum tersadar kalau dia sudah bertindak kasar. Dia melemparkan tubuh kekasihnya dengan kekuatannya. Gadis itu membekap mulutnya, saat dilihatnya Khan terhempas menimpa semak-semak itu.
Abdan dan Jullian melesat mendekati Khan setelah mereka menyadari ada sesuatu yang salah telah terjadi kepada pria itu, setelah beberapa detik yang berlalu Khan tidak segera bangun dari tempat ia mendarat jatuh.
Mereka cukup kaget saat melihat pria itu tidak pingsan. Khan malah sedang menatap ke arah langit dengan wajah penuh gores, dan mata berkilat menyeramkan. Kedua pria itu gugup melihat ekspresi Khan.
"Anda tidak apa-apa, Yang Agung?" tanya Abdan dengan wajah takut. Khan menoleh lalu berkata, "Sebaiknya kau antar gadis itu ke vila dengan teleportasi, Jullian. Aku tidak mau melihatnya berada di sini bersama kita."
__ADS_1