Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 21 Sang Pelacak


__ADS_3

Rumah kayu sederhana yang berdiri jauh di tengah-tengah hutan sangat berbeda dengan Abbasid. Rumah itu sudah tua dan sesak, dengan perabotan usang karena di makan usia.


Terdapat beberapa lukisan yang sudah mulai memudar dan tirai kain usang di jendela, tapi tidak satu pun bisa menyembunyikan kelembapan yang perlahan merusak kayu, atau kerumunan tikus yang mengambil alih loteng. Rumah itu tadinya adalah milik seorang wanita tua yang bernasib sial bertemu dengan Chinua dan Xanadu. Wanita tua itu dibunuh oleh Chinua dan dikuburkan di kebun belakang rumah kayu itu.


Sebenarnya, hal-hal positif tentang rumah ini hanyalah lokasinya yang terpencil dan cukup jauh dari Astrakhan sehingga Chinua bisa melanjutkan pencariannya tanpa diketahui. Berbaring di tempat tidur di salah satu kamar, Chinua mencoba mengabaikan bau jamur lembap yang memenuhi udara.


Untuk saat ini, dia terlalu lelah untuk melanjutkan memperbaiki sekelilingnya. Setelah membersihkan rumah kayu ini dari debu tebal yang menguasai seluruh rumah.


Kekuatannya sudah banyak digunakan untuk membuka portal yang cukup besar untuknya dan Xanadu, melindungi rumah ini dengan sihir perlindungan benar-benar menguras tenaganya. Dia butuh waktu beberapa hari untuk mengembalikan kekuatan penuhnya. Tentu saja bahkan dengan hanya sedikit kekuatannya yang tersisa, Chinua masih mampu membunuh sebagian besar musuh.


Menyesap teh Chamomile hangat dengan madu yang membantu meringankan rasa lelahnya, Chinua mengawasi Xanadu memasuki kamar dengan langkah kaki pelan dan tangan meraba-raba sekitarnya. "Ahli pelacak dari wilayah Yuan itu sudah tiba," kata Xanadu serak, mata butanya terarah langsung ke Chinua.


"Bagus. Antar dia kemari," perintah Chinua. "Kau masih terlalu lemah. Kau sebaiknya menunggu."


Chinua mendesis mendengar saran tersebut. Wanita tua buta itu terus mengoceh dan mengeluh sejak Chinua memanggil ahli pelacak itu.


"Aku memberimu perintah, Wanita Tua," bentak Chinua. "Bawa ahli pelacak itu kepadaku," lanjutnya lagi. Si peramal tua itu tetap diam dengan muram di ambang pintu, wajah cantiknya mengeras dengan perasaan tidak senang. "Kita tidak butuh ahli pelacak itu kalau kau tidak gegabah hanya mempercayai satu orang."


Chinua melempar cangkir berisi teh ke arah peramal tua yang menjengkelkan itu. Cangkir itu pecah membentur pintu saat Xanadu dengan mudah mengelak ke samping, kekeh tawanya menggema di seluruh ruangan. Chinua tidak senang ketika mantranya tidak dapat mengungkapkan apa-apa. Dia tidak bisa melacak Batu berada di mana, hanya kegelapan yang terlihat.


"Sudah kubilang, Wanita Tua Buta, aku tidak punya pilihan. Makanya aku membutuhkan bantuan ahli pelacak itu untuk mengetahui keberadaan Batu saat ini dan juga melacak mangsaku itu." "Kau bahkan tidak tahu kalau Batu masih hidup atau tidak. Bisa saja mantramu tidak bisa melihatnya karena pria itu sudah mati," ucap Xanadu. "Itu tidak penting sekarang, bukan begitu?" "Ya." Wanita tua itu menggelengkan kepala.


Chinua bersandar kembali di bantal, menolak untuk dikalahkan. Dia harus mendapatkan lagi kekuatannya. Sampai saat itu, dia masih rentan. "Pergi, sambut ahli pelacak itu dan jaga mulutmu. Kalau sampai ada yang lolos satu kata pun dari mulutmu, kau akan ikut dikubur bersama wanita tua pemilik rumah ini di kebun belakang. Sambil meringis Xanadu membalikkan badan.


Sambil menunggu Chinua dengan hati-hati mempersiapkan dirinya. Dia menenangkan ekspresinya dan merendahkan baju untuk menampakkan bahu putih dan salah satu ***********. Dari semua jenis kekuatannya, kecantikan Chinua yang sangat luar biasa adalah yang paling kuat. Tidak terdengar suara apa pun sebelum ahli pelacak itu muncul di ambang pintu.


Ahli pelacak itu adalah seorang pria, tepat seperti yang sudah diprediksi oleh Chinua. Pria itu memiliki wajah bak malaikat, dan rambut berwarna perak. Kulit berwarna perunggu yang sempurna, tubuh berototnya dibalut jins dan sweter. Matanya, bagaimana pun menunjukkan kekuatannya, berwarna biru yang menatap Chinua dengan tajam sehingga wanita itu merasa merinding dibuatnya.


"Your Majesty." Chinua mengangkat tangan memberi isyarat. "Mendekatlah." "Jangan tersinggung, Your Majesty, tapi aku lebih suka di sini saja," kata ahli pelacak itu. "Sebutkan namamu, Tampan." "Sergei Petrov, Your Majesty." "Well, Sergei, aku tidak perlu menggunakan tanganku untuk membunuhmu." Sergei mengangkat bahu saat bersandar di ambang pintu. "Benar, tapi aku lebih suka pemandangan dari sini."


Ruangan itu seketika dipenuhi dengan udara panas. Chinua masih menahan kekuatannya meledak di hadapan pria itu. "Kau memainkan permainan berbahaya denganku," ucap Chinua. Senyum pria itu terlihat santai, menunjukkan bahwa dia tidak takut dengan Chinua.

__ADS_1


"Apakah ada jenis permainan lain?" sahut Sergei, suaranya sangat dalam untuk ukuran makhluk yang terlihat lembut. "Cukup." Menyadari bahwa pria ini kebal terhadap daya tarik seksualnya yang kuat, Chinua dengan tidak sabar menarik bajunya lebih tinggi. Kesempatan Sergei sudah lewat dan ini waktunya untuk bisnis. "Aku memerlukan pelayananmu."


"Kau tahu hargaku?" "Hanya sedikit yang aku tidak tahu, Sergei." Mata biru Sergei mengamati Chinua dengan curiga. Dia merasa seorang ratu tidak mungkin membutuhkan jasanya jika tidak terdesak. "Dan kau bersedia untuk membayar?" Chinua mengangkat bahu. Tidak ada gunanya mengatakan pada pria itu bahwa Chinua berniat membunuhnya setelah pria itu berhasil menemukan mangsanya. "Kau tidak akan ada di sini kalau aku tak mau," kata Chinua lembut.


Sergei terdiam beberapa saat lamanya, keinginan kuatnya untuk mendapatkan bayaran yang besar sedang berperang dengan ketakutannya bahwa ini adalah semacam jebakan. Akhirnya rasa tamaknya mengalahkan akal sehatnya. Mata biru itu memancarkan keinginannya dan dia membungkuk dalam-dalam untuk menunjukkan persetujuan.


"Aku butuh sesuatu dari mangsaku," kata Sergei seraya menegakkan diri. "Sesuatu yang memiliki baunya." Chinua menunjuk ke koper kulit yang terletak di sudut ruangan. Dia sudah mengirim Xanadu untuk menemukan di mana Batu tinggal selama di Astrakhan saat mereka tiba. Mengambil tasnya adalah pekerjaan mudah.


"Ambillah yang kau butuhkan." Pria itu membuka tas, membongkar pakaian pria ternama sebelum mengambil sebuah sapu tangan pria dari koper yang berantakan. Wajahnya tampak sungguh-sungguh saat menekan sapu tangan itu ke hidungnya.


"Pria itu sudah mati. Untuk apa kau mencari pria yang sudah menjadi abu." Untungnya kekuatan Chinua terbatas. Kalau tidak, dia mungkin telah membunuh pria itu di tempat, karena kelancangannya. "Sergei, bagaimana dia bisa mati. Apakah kau bisa melihatnya?"


"Dia dibakar oleh sebuah kekuatan cahaya keemasan," jawab Sergei. Chinua tampak terperanjat. "Lacak orang yang membakarnya itu. Tapi jangan coba mendekat, begitu kau tahu lokasinya, kau harus kembali kepadaku dengan informasi." Sergei mengangguk dan bergerak kembali ke pintu.


"Sergei." Pria itu berhenti sebentar mendengar nada memerintah Chinua. "Ya?" "Kau lakukan seperti yang kukatakan atau kau akan mengetahui betapa menyakitkannya rasa tidak senangku." Udara semakin panas sampai Sergei susah bernapas. Dia menyentuh tenggorokannya, seolah-olah itu bisa meringankan ketidaknyamanannya. "Sebenarnya, kupikir aku sudah tahu." Dengan sebuah ayunan tangan kekuatan itu berkurang. "Pergi." "Ya, Your Majesty."


Selama eksistensinya yang terkenal dalam bisnis perburuan dan pelacakan, baru kali ini Sergei menemukan konsumen yang tidak hanya cantik namun juga sangat mematikan. Sang Ratu dari Klan Batbayar itu adalah orangnya.


Sergei menyukai wanita, tapi tidak jika dia harus menanggung ketakutan seumur hidupnya menghadapi wanita jenis itu. Keinginannya langsung menghilang dalam sekejap, tidak peduli meski penampilan wanita itu cantik luar biasa. Tipe wanita yang disukai Sergei adalah yang cantik menurut seleranya, lugu, malu-malu dan tentunya tidak mematikan.


Sergei tidak percaya saat arah pelacakannya menuju ke rumah Khan Agung dari Klan Altan. Sergei tampak menelan ludahnya. Jika orang tersebut berada di dalam perlindungan seorang Khan Agung, maka habislah sudah riwayatnya. Karena tidak ada satu pun yang berani mengusik Khan Adrian-Khan Agung dari Klan Altan. Khan Adrian bisa dikatakan sama mematikannya dengan Sang Ratu dari Klan Batbayar.


Sergei mencoba memutar otaknya, apa yang harus dia lakukan lebih lanjut. Dia perlu menyusun rencana lebih matang untuk menyusup ke dalam Klan Altan. Saat Sergei sedang mengendap-endap mengawasi dari balik pohon di luar pintu gerbang kediaman Khan Adrian. Pria itu melihat pintu gerbang perlahan terbuka. Dari dalamnya muncul mobil mewah berwarna hitam yang melaju keluar dari balik pintu pagar.


Sergei terperangah, sekilas dia melihat sosok seorang gadis yang pernah bertabrakan dengannya. Sergei tidak mungkin salah, gadis itu yang selama ini berusaha di carinya. Gadis yang membuatnya terpana, dan merasakan sesuatu. Ternyata dia berada di dalam kediaman Sang Khan Agung, pantas saja Sergei tidak dapat melacaknya. Kediaman Khan Agung dilindungi oleh mantra sihir perlindungan yang sangat kuat. "Luna..." gumamnya.


Sergei teringat dia harus bergegas, jika ingin mengejar Luna-nya. Pria itu lalu mengeluarkan suara siulan dari bibirnya, tiba-tiba muncul seekor burung Elang berwarna coklat. Saat burung itu mendarat tepat di hadapan Sergei, burung tersebut membesar, dan Sergei segera naik ke atas burung Elang tersebut, dan menyelubungi mereka dengan sihir perlindungan. Agar tidak ada mata manusia yang dapat melihat mereka.


Sergei memang dapat menaklukkan binatang jenis apa pun. Baik hewan sihir mau pun hewan biasa. Dia dapat berbicara dengan para hewan tersebut. Burung Elang yang sedang terbang ditunggangi olehnya itu adalah salah satu hewan sihir peliharaannya. Mereka terbang mengikuti mobil hitam yang membawa Luna.


Sergei melihat mobil yang membawa gadis itu berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Sergei menepuk pelan burung Elangnya dan berbicara melalui pikirannya dengan burung tersebut. "Kita berhenti di tempat yang aman, Arra."

__ADS_1


"Ya, Master." Burung Elang tersebut memilih mendarat di sebuah taman kota tidak jauh dari pusat perbelanjaan. Sergei melihat sekelilingnya dengan hati-hati sebelum menghilangkan matra perlindungannya. Arra, sang Elang langsung terbang kembali ke angkasa setelah Sergei turun dari punggungnya.


Sergei mencari keberadaan gadis pujaannya. Gadis itu terlihat sedang duduk mencoba sepasang sepatu cantik berwarna putih di konter khusus sepatu wanita. Sergei mengamati gadis itu sambil tersenyum. Lalu Sergei perlahan mendekat, pria itu tersenyum pada penjaga toko yang menunggu di sebelah gadis itu.


Penjaga toko itu tertegun saat melihat Sergei. Setiap wanita yang melihat pria itu pasti akan terpana. Karena tampilan bak malaikat Sergei bisa membuat setiap wanita berhenti mendadak dari setiap kegiatan mereka. Pria itu begitu menakjubkan dan elok. Sergei mengambil kotak sepatu dari tangan penjaga toko itu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Wanita penjaga toko itu tersipu malu lalu pergi dari tempatnya menunggu.


Diva masih tidak sadar jika yang berdiri tidak jauh darinya sudah berganti orang. Saat dia menoleh untuk meminta ukuran sepatu yang sedang ia coba, gadis itu terpana. Diva mendadak menjadi kaku, dia kaget melihat penjaga toko yang melayaninya sudah berganti rupa. "Hallo, Luna," sapa pria itu dengan lembut. Bibir penuhnya membuka dan membentuk senyuman menawan sementara mata birunya tertuju pada Diva.


Diva seketika ingat akan pria itu, sejak ia mendengar panggilan Luna yang diucapkannya. "Sergei?" "Aku merasa tersanjung kau masih ingat namaku, Luna. Dan kau belum berubah sedikit pun. Masih tetap cantik seperti waktu itu ketika kau berada dalam pelukanku." Diva tersipu malu mendengar pujian itu. "Panggil saja Diva. Aku biasa disebut seperti itu." "Oh tidak, bagiku kau adalah Luna." Diva memutar matanya. "Ya, benar. Terserah padamu saja."


"Wah, siapa ini?" Farah tiba-tiba menyela percakapan mereka. Shanum mengerutkan keningnya, dia merasa pernah melihat pria di hadapannya ini. "Stt... pria ini yang waktu itu, saat kita dalam pelarian itu," bisik Shanum pada Farah. Mata Farah membola, ia langsung menatap tajam pria itu.


"Ini Sergei. Dia pria yang waktu itu saat di Izba." Diva memperkenalkan pria itu kepada Farah dan Shanum. "Salam kenal, Ladies," sapa Sergei. "Hai, aku Shanum dan ini Farah." Shanum membalas dengan senyum manisnya, dia hendak mengulurkan tangannya pada pria itu. Namun tiba-tiba tangan Shanum ditarik oleh seseorang.


Mereka semua menoleh, dan kaget melihat Khan sedang tersenyum dingin ke arah Sergei, sambil memegang tangan Shanum. Sedang Sergei menelan ludahnya dengan susah payah melihat wajah kaku dan senyum membekukan itu.


Shanum tersenyum resah, dia merasa sedikit tidak nyaman dengan sikap protektif Khan barusan, dan merasa kasihan dengan Sergei. Gadis itu mencubit tangan Khan diam-diam, dan menggelengkan kepalanya.


Khan mengetatkan rahangnya, ia mengerti maksud Shanum. Meski tidak suka, dia tetap mencoba memecahkan ketegangan itu dengan bertanya, "Bagaimana belanjanya? Apakah sudah selesai semua?" Suasana tetap hening, mereka tidak berani menjawab. Intonasi suara Khan lebih mirip introgasi seorang polisi daripada pertanyaan ramah tamah biasa.


"Aku sih sudah," jawab Shanum mencoba memecahkan keheningan. "Aku juga sudah, tapi Diva sepertinya belum selesai," kata Farah ikut menjawab.


"Aku tinggal membayar saja. Tunggu sebentar ya." Diva mengambil kotak di tangan Sergei dan memanggil pelayan. "Bagaimana jika aku yang menemani Luna ke kasir. Apakah boleh?" Sergei menatap ke arah Khan Adrian, seakan-akan meminta izinnya. "Luna?" celetuk Farah sambil terkekeh geli dan menyenggol bahu Diva. "Sttt..." Diva tampak malu dan mencubit pundak Farah.


"Aduh, sakit... Jangan cubit-cubit." "Kamu sih, suka sekali meledekku," protes Diva. "Siapa yang meledek, aku cuma bertanya. Siapa itu Luna?" jawab Farah pura-pura polos. Shanum yang melihat tingkah keduanya tampak memutar bola matanya. Keduanya tidak pernah berubah, seperti Tom and Jerry.


"Oke, kalian tunggu saja di sini. Aku ke kasir dengan Sergei. Ayo Sergei." Diva langsung menarik tangan pria itu. Sergei terdiam kaku, saat telapak tangannya digenggam erat oleh Diva. Sebuah ledakan sensasi mengguncang tubuh Sergei saat disentuh Diva. Sensasi yang sudah lama tidak dirasakan Sergei. Dia pernah merasakan sensasi ini saat mereka pertama kali bersentuhan secara tidak sengaja, dan rasanya masih sama luar biasanya.


"Ayo kita ke kasir," bisik Sergei serak sambil mengetatkan genggamannya. Diva tersenyum cerah dan mereka berjalan bersama menuju kasir. "Astaga, sejak kapan Diva berani menggenggam tangan pria yang baru dikenalnya?" celetuk Farah. "Sepertinya sejak dia bertemu pria itu. Aku mengakui pria itu memang tampan seperti malaikat jatuh dari langit," komentar Shanum.


"Tampan mana denganku, Shasha?" tanya Khan dengan suara geramnya. "Upss..." Farah mengucapkan kata itu saat melihat wajah dingin dan kaku Khan, yang sedang menatap dengan serius ke arah Shanum.

__ADS_1


Shanum tidak merasa gentar, dia malah menatap balik Khan sambil tersenyum smirk. Shanum lalu mendekatkan wajahnya ke arah Khan tanpa melepaskan kontak matanya dengan Khan, dan berkata dengan pelan, "Tetap hanya dirimu Khan."


Wajah Khan langsung berubah, dia tersipu malu. Pipinya terlihat bersemu merah, bahkan memerah hingga ke telinganya. Farah yang melihat adegan itu menggelengkan kepalanya. Farah merasa dia sedang berhalusinasi. Masih tidak percaya seorang Khan Adrian bisa tersipu malu. Pria sedingin kulkas itu, pria yang biasanya berwajah kaku. Sungguh luar biasa kekuatan Shanum dalam merubah pria itu.


__ADS_2