
Setelah mendengar pengakuan Khan, Shanum tertegun. Tidak ada satu kata pun yang melintas di benaknya. Pikirannya mendadak macet dan kehilangan orientasinya.
Shasha...
Pria itu mencoba memanggilnya lewat ikatan mereka. Namun Shanum belum bisa merespon. Dia masih terbaring di atas ranjang dengan pandangan menerawang kosong.
"Shasha..." Kini suara Khan beralih terdengar di depan pintu kamar. Suaranya keras memanggil Shanum dengan nada cemas. Dia juga mengetuk pintu berulang-ulang.
Akhirnya Shanum bangkit dari posisinya. Gadis itu sudah mulai bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya. Shanum melangkah ke pintu dan membukanya dengan wajah sedih yang berusaha ditutupinya.
Gadis itu tersenyum ke arah Khan. "Kenapa kau berteriak-teriak, Adri? Apakah Sergei sudah datang?" tanyanya.
"Tidak, dia belum kembali. Em, apakah kau baik-baik saja?" Wajah tampan Khan terlihat mencemaskan Shanum.
Gadis itu menghembuskan napasnya. "Aku tidak apa-apa, Adri."
"Tapi tadi kau..." Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya.
"Aku tadi hanya sedang merenung. Biar bagaimanapun aku perlu mencerna pengakuanmu, Adri. Tolong kau jangan terlalu mencemaskanku. Jika memang ini yang terbaik untuk kita, aku akan mendukungmu," kata Shanum membalas ucapan pria itu.
Mata coklat keemasan itu menelisik tajam ke arah Shanum, sepertinya dia masih meragukan ucapan Shanum. Dan gadis itu berusaha memasang wajah tak terbaca selagi dia menutup pintu kamar.
Shanum menahan diri untuk tidak memikirkan--membayangkan akan berpisah dengan pria di hadapannya itu. Ia juga tidak ingin pria itu tahu betapa tidak inginnya ia berjauhan dengannya.
Khan masih mengamatinya, dan kini pandangannya mulai santai. Bibir pria itu melengkung membentuk senyum lega.
Shanum ikut tersenyum dan melewati pria itu menuju ke dapur. Ia menuang air putih dari teko ke sebuah gelas, lalu menyesapnya. Ada sesuatu yang bergerak dalam diri gadis itu. Sesuatu yang terus menggelung putus asa saat ia melirik Khan mendekat dari sudut matanya.
Oh, Tuhan ia ingin memeluk pria itu dan memohon padanya agar tidak pergi. Tapi harga dirinya tentu saja berkeberatan dengan itu.
Shanum berusaha bersikap biasa, meski ia menegang di balik konter. Khan berdiri di sampingnya dan berkata, "Kita harus bersiap pergi. Jullian barusan mengirimkan pesan."
Shanum menganggukkan kepalanya sembari meletakkan gelas di konter. "Aku sudah siap. Kau tidak jadi berubah wujud menjadi wanita?" tanya Shanum.
"Dia akan... Aku sudah membawa pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan," sahut Sergei menjawab pertanyaan Shanum untuk Khan. Tampaknya pria itu sudah kembali dengan Jullian.
Khan melihat ke arah Sergei dengan tatapan keras. "Ingat, kau sudah bersedia. Dan jika kau berubah pikiran katakan sekarang. Berarti kau boleh membawa bokongmu itu kembali ke hotel," kata Sergei dengan ketenangan yang tidak senada dengan tatapannya. Seakan-akan setiap ototnya bersiap menghadapi konfrontasi yang akan dilakukan Khan.
"Memangnya barang apa yang kaubawa kemari?" tanya Khan dengan nada suara datar. Tampaknya pria itu masih setengah hati mengikuti penyamaran menjadi wanita ini.
Sergei mengedipkan matanya kepada Shanum, sebelum dia melangkah mengambil sebuah tas berukuran sedang yang ia letakkan di samping meja ruang tamu.
Pria itu mulai mengeluarkan barang bawaannya satu per satu, dan memberi isyarat kepada mereka untuk mendekat.
Shanum melihat setumpuk pakaian wanita dengan berbagai model dan warna-warna lembut. Ada cardigan, turleneck, blouse, kemeja, hoodie, kaos, cargo pants, jeans, dan jumpsuit. Semuanya berukuran Khan dan Sergei, jika melihat dari besarannya.
"Aku membawa yang tidak terlalu feminim. Jadi tidak ada dress di sini. Dan juga warna pink. Aku tahu kau pasti menolak untuk memakainya, begitu juga denganku," kata Sergei sembari terkekeh.
Wajah Khan berubah serius, saat ia melihat setumpuk pakaian yang di letakkan Sergei di atas meja. Dengan posisi mereka semua yang sudah duduk bersila di lantai beralaskan karpet, Shanum mengambil salah satu dan membuka lipatannya. Ia menyodorkan ke arah Khan sembari memantaskannya ke tubuh pria itu.
__ADS_1
"Menurutku sebaiknya kau mencobanya. Kau boleh menggunakan kamarku," saran Shanum. Gadis itu lalu bangun dan membawa seluruh pakaian itu.
"Omong-omong, bagaimana dengan dirimu, Sergei?" tanya Shanum sembari menoleh ke arah pria itu.
"Aku sudah memiliki pakaianku sendiri. Nanti bergantian saja aku memakainya, setelah Yang Agung selesai," jawab Sergei dengan seringai nakalnya.
Shanum mengangguk dan kembali melangkah menuju pintu diikuti oleh Khan yang berjalan di belakangnya. Pria itu tidak bersuara, dia mengikuti saja apa yang dikomandokan oleh Shanum.
Khan masuk ke dalam kamar dan Shanum menunggu di luar. Ketika pria itu telah selesai mencoba salah satu pakaian dan membuka pintu kamar, untuk memperlihatkannya pada Shanum dan mereka yang berada di sana.
Khan melangkah ragu keluar dari pintu kamar. Dia mengenakan baju turleneck lengan panjang coklat tua yang menutupi jakun prianya, dipadukan dengan jumpsuit berwarna coklat muda. Saat melihatnya, Shanum mengganggukkan kepalanya, tanda ia setuju dengan pilihan itu.
Kemudian Khan mencoba semua pakaian yang ternyata sungguh pas dikenakan olehnya. Shanum tak percaya Sergei bisa sangat tepat memprediksi ukuran Khan, dan tidak ada satu pun yang meleset. Pria itu ternyata benar-benar pengamat yang luar biasa.
Namun ada satu kendala yang terjadi saat itu yang harus terjadi. Khan menolak mentah-mentah dengan wajah dingin. Pria itu tidak suka saat ia harus memakai rambut palsu berwarna pirang panjang sepunggung yang disodorkan Sergei.
Shanum tersenyum geli melihat ekspresi wajah Khan. Pria itu melihat rambut palsu itu dengan wajah muak. Dia mendorong rambut palsu itu tidak mau memegangnya. Seolah-olah tangannya akan terbakar jika memegangnya.
"Bagaimana jika aku merubah rambutku saja menjadi panjang dengan sihir?" tawarnya.
"Tidak bisa, mereka pasti akan menyadarinya. Jika kau tidak mau menggunakan rambut itu berarti kau harus memakai aksesoris rambut. Untungnya rambutmu tidak terlalu pendek, jadi cocok kalau memakainya." Sergei lalu mengeluarkan sebuah bando lucu dengan motif pita dan bunga.
"Astaga..." Shanum langsung membekap mulutnya. Dia tersengal menahan tawa. Dan Khan langsung menggeram marah. Mata pria itu berkilat keemasan, dia mengepalkan tangannya.
"Oke, melihat reaksimu, sepertinya kita urungkan saja niat kita ini sebelum di mulai. Karena aku sudah tahu hasil akhirnya, yaitu kegagalan dan kesia-siaan," sindir Sergei dengan celaan di matanya.
"Sudah, bagaimana kalau kita cari jalan tengahnya saja. Sebentar, aku akan mencari aksesoris lain yang tidak terlalu mencolok." Shanum langsung bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar.
Shanum mendekati Khan yang sedang duduk di sofa. Dengan senyum di bibir, ia memberi isyarat meminta izin untuk memegang rambut Khan. Pria itu menganggukkan kepalanya sebagai respon setujunya. Shanum tetap berdiri di hadapannya, dan mulai meraih helai rambut pria itu.
Khan tampak tegang saat Shanum merapikan rambutnya. Ketika gadis itu menyusurkan jemarinya di rambut Khan, Shanum menyadari bahwa pria itu menelan ludahnya. Dan dia juga merasakan suatu percikan bergemuruh di ikatan mereka.
Perut Shanum mengencang dan dadanya tiba-tiba berdebar-debar hanya dengan menyentuh rambut pria itu yang terasa lembut di jemarinya. Entah mengapa aktivitas memegang rambut menjadi tindakan yang sungguh erotis di pikiran keduanya.
Shanum berusaha berkonsentrasi dengan jepit yang akan dia sematkan di salah satu sisi dari rambut Khan. Meski tangannya mulai gemetar, ia tetap memaksa menyelesaikan tugasnya. Dan setelah jepit itu terpasang dengan sempurna Shanum langsung menjauh sembari mendesah lega.
Namun mendadak tubuhnya ditarik kembali oleh Khan. Pria itu menyurukkan wajahnya di perut Shanum dan berdiam di sana. Sedangkan Shanum tentu saja terkesiap kaget merasakan kedekatan mereka.
Sergei memutar bola matanya. "Kalian ini tidak selesai-selesai ya bermesraannya. Apa waktu tiga puluh menit tadi masih kurang," gerutu Sergei.
"Diam! Aku hanya minta waktu sebentar untuk menenangkan diriku," sahut Khan dengan suara teredamnya. Shanum tidak tahu pria itu berbicara kepadanya atau untuk membalas gerutuan Sergei. Khan masih tetap dengan posisinya, malah kini semakin erat mendekap Shanum.
Wajah Shanum bersemu merah mendengar ucapan Khan. Dia tersenyum malu ke arah Sergei yang dibalas dengan cengiran pria itu. Gadis itu tidak bisa berkutik selama Khan masih menahan pinggangnya.
"Baiklah sebaiknya sekarang giliranku yang berganti pakaian," ucap Sergei. Shanum mengangguk, memberi isyarat kepadanya untuk berganti pakaian seperti Khan tadi di dalam kamarnya.
Setelah Sergei menghilang ke dalam kamar, Shanum masih tidak berkutik di posisinya. Dia takut jika bergerak sedikit saja akan memancing reaksi yang ditakutkan oleh keduanya. Bukannya Shanum antipati terhadap reaksi itu. Tapi sekarang waktunya belumlah tepat bagi mereka untuk meneruskan reaksi tersebut.
Kemudian Shanum merasa belitan di pinggangnya merenggang. Khan perlahan melepaskan lilitannya pada pinggang Shanum. Gadis itu juga mundur menjauh dari Khan. Dia berdeham dan berkata, "Kau tidak apa-apa, Adri?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," jawab Khan dengan nada lembut.
"Aku tidak bermaksud..." Shanum menatap Khan sembari meringis. Dia tahu pria itu pasti tadi tersiksa mengendalikan gejolak yang ada di dalam darahnya.
"Tidak masalah, Shasha. Untuk saat ini aku bisa mengatasinya." Khan lalu menyentuh jepit di rambutnya yang dipasangkan Shanum tadi. Lalu ia beranjak menuju cermin yang berada pojok ruangan itu. Khan mematut penampilannya, dan mengusap wajahnya tampak frustasi.
Shanum tersenyum geli melihat gerak-gerik pria itu. Dia sangat tahu pria sejantan Khan, akan merasa sangat terhina untuk melakukannya. Jika dia bisa memilih mungkin tidak dengan mengenakan pakaian dan atribut wanita.
"Bagaimana dengan penampilanku?"
Tiba-tiba keduanya mendengar suara Sergei. Mereka langsung menoleh melihat ke arah pria itu yang sedang menyeringai dengan penuh percaya diri. Dan dia sedang memegang ponselnya, pria itu tampaknya sedang berbicara dengan seseorang lewat Vicall.
Shanum langsung melongo melihat penampakannya. Sergei terlihat sangat bergaya wanita namun tidak kehilangan nuansa prianya. Dia mengenakan gaya berpakaian street style. Gaya berpakaian ini menggunakan oversized outfit yang dipadukan dengan warna-warna monokrom dan denim.
Sergei sungguh cerdik memilih gaya berbusananya. Dia mengenakan celana berbahan denim longgar, dipadukan dengan kaos warna laut di bagian dalam, dan di luarnya menggunakan jaket denim yang warnanya senada dengan celananya. Sungguh cocok juga dengan warna matanya yang sebiru lautan. Sedangkan aksesoris yang dipilihnya adalah scarves yang dibentuk, diikat melingkari lehernya.
"Lihat Shanum, ini Diva." Sergei memperlihatkan layar ponselnya kepada Shanum. Pria itu ingin dia menyapa sahabatnya. Dan saat gadis itu melihat ke dalam layar, Diva sedang tertawa terbahak-bahak di sana.
"Hai, Sha... Astaga, kau pasti sudah lihat kan, bahkan dia lebih cantik dariku saat berdandan sebagai wanita. Meskipun dia sudah memilih busana dengan hati-hati agar tetap ada unsur maskulinnya. Aku tetaplah kalah pamor." Lalu Diva kembali tertawa hingga mengeluarkan air mata.
Shanum juga ikut tertawa, dan ia memperhatikan kembali gerak-gerik Sergei yang memukau selayaknya wanita itu. Rambutnya yang berwarna perak pucat di bawah telinga beri jepit berwarna senada. Ia masih tidak percaya, pria itu bisa berubah sesuai perannya. Ia ibarat bunglon, akan berubah dengan tempat di mana ia berpijak.
"Sialan kau Sergei! Mengapa kau memilihkanku pakaian yang lebih feminin. Sedangkan kau sendiri perpaduan keduanya." Khan menggeram kesal merasa tidak terima.
"Oh kau ingin berpakaian sepertiku, boleh saja. Tapi kau harus mengenakan mascara dan lip balm rasa strawberry, seperti ini," ucap Sergei sembari mengedip-ngedipkan bulu mata lentiknya. Bulu mata itu memang sudah panjang dan lentik. Pemberian maskara semakin mempertegas keindahannya. Ia juga ikut mengulum-ngulum bibirnya yang seksi dan terlihat basah mengkilat.
Shanum sempat terpesona melihat hal itu, tapi kemudian ia menggeleng, dan tertawa geli melihat tingkah absurd pria itu. Sedangkan Khan tampak meringis jijik, dengan hidung berkerut dalam. Shanum yakin pasti Diva yang sudah meminjamkan perlengkapan make up miliknya.
"Huh, sudah kuduga! Nyalimu pasti menjerit takut mendengarnya kan," kata Sergei dengan nada sinis.
"Ini tidak ada hubungannya dengan nyali, Sialan!" ucap Khan dengan nada keras. Pria itu mulai kesal mendengar nada meremehkan dalam suara Sergei. Dengan karakter searogan Khan, pastinya ia akan langsung tersulut jika dipancing.
"Sudah... sudah! Saat ini bukan ajang pamer siapa yang paling total dalam menyamar menjadi wanita. Karena hal itu tidaklah penting. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana jika pancingan ini tidak berhasil. Mungkin kita harus memikirkan rencana cadangan." Shanum mengangkat alisnya sembari menatap serius ke arah kedua pria itu.
"Kalau tentang itu, aku sudah punya rencana cadangan. Dan tadi sudah kudiskusikan juga dengan dia." Khan menunjuk Sergei dengan isyarat mengangkat dagunya. Dan Sergei membalas ucapan Khan dengan mengendikkan bahu tidak peduli.
"Nanti di perjalanan aku jelaskan," sambung Khan lagi dengan senyum ke arah Shanum. Gadis itu tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Ayo sebaiknya kita segera berangkat," kata Sergei seraya melangkah menuju pintu. Diikuti oleh Shanum dan Khan. Sedangkan Jullian, pria itu akan menyusul bersama Abdan. Mereka akan muncul dengan penyamaran, dan tentunya menggunakan teleportasi ke vila Shanum.
Selama dua jam lebih perjalanan ditempuh ke tempat yang mereka tuju. Shanum bersyukur tidak ada kendala berupa kemacetan yang menghadang mereka. Saat tiba di depan pagar vila miliknya, ia melihat Pak Maman sudah bersiap membuka pagar.
Tadi sekitar lima menit sebelum mendekati vila, Shanum langsung menelepon penjaga vilanya itu. Makanya saat ini mobilnya tinggal melaju memasuki area vila.
Perjalanan dari pintu gerbang menuju ke vila juga lumayan jauh. Mobilnya harus melewati sederet pohon pinus yang menjulang tinggi di sepanjang kanan-kiri jalan. Shanum membuka jendelanya, dan menikmati hembusan angin sejuk yang menerpa wajahnya.
Mata gadis itu bercahaya melihat pemandangan dari kaca depan mobil. Ia jadi merasakan antusiasme yang meluap-luap di dalam hatinya saat kembali ke vila ini. Shanum sangat suka berada di tempat itu.
Tempat ini merupakan ruang pelariannya untuk melepaskan tekanan yang sering dirasakannya, yang berhubungan dengan mimpi buruknya. Dan teringat dengan mimpi itu sudah lama sekali dia tidak mengalaminya kembali.
__ADS_1
Meski pikirannya bersorak riang, hati kecilnya tetap saja merasa waspada. Dia masih curiga suatu saat mimpi itu akan kembali. Entah membawa penglihatan tentang masa depan ataupun kilas balik masa lalu yang tersembunyi.