
Shanum bergerak-gerak gelisah di kursinya. Berulang kali ia melihat ke arah jam tangannya. Gadis itu juga menggigit bibirnya sembari menatap kosong, seakan-akan pikirannya sedang berada di tempat lain.
Pak Reno mengerutkan keningnya tanda heran. Sejak lima belas menit yang lalu dia memperhatikan Shanum sudah bersikap gelisah seperti itu.
"Ada apa, Shanum? Mengapa kau gelisah sejak tadi?" Pak Reno menghentikan kegiatannya memeriksa berkas skripsi Shanum. Pria itu melepas kacamatanya lalu menatap Shanum dengan pandangan menelisik.
"Em, tidak ada apa-apa Pak. Apakah Pak Reno sudah selesai memeriksa skripsinya?" Gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia gelisah karena dia sudah melewati batas waktu yang dia janjikan kepada Khan. Ia khawatir pria itu mencarinya dan menerobos masuk ke ruangan ini.
"Oke, kita sudahi saja dulu. Pikiranmu sepertinya sudah berada di tempat lain. Dan jangan lupa..." Tiba-tiba ucapan Pak Reno terpotong, terdengar suara ketukan di pintu.
"Jangan lupa tiga hari lagi saya tunggu perbaikannya," lanjut Pak Reno. Shanum menganggukkan kepalanya. Tak berapa lama ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih kencang. "Siapa sih, tidak sabaran sekali," gerutu pria itu.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Shanum. Gadis itu menuju pintu dan membukanya. Dan betapa kagetnya gadis itu saat menemukan Khan sudah berdiri sambil bersedekap di depan pintu.
Wajahnya terlihat dingin dan kaku. Shanum menelan ludah. Yang dia takutkan sejak tadi akhirnya terjadi.
"Mengapa kau tidak mengangkat teleponku, Shasha. Dan ini sudah lewat jauh dari waktu yang kau sebutkan kepadaku," desaknya.
Shanum tidak sempat menjawab. Mendadak Pak Reno bertanya, "Siapa itu Shanum?" Gadis itu melirik ke samping. Ternyata kepala Pak Reno sudah berada menempel di pundak Shanum.
Khan langsung meraih dan menyentak Shanum mendekat ke arahnya. Dia tidak mau gadisnya berada sangat dekat dengan Pak Reno. Shanum ingin memberontak dan menginjak kaki pria itu. Tapi sebelum sempat dia melakukannya, Khan mendekap gadis itu erat.
"Jangan pernah berani melakukan yang saat ini sedang kau pikirkan, Shasha," desis Khan pelan.
Shanum tidak jadi melakukan tindakannya itu. "Lepas rangkulanmu, Adri. Kita punya penonton," bisik Shanum sembari melotot. Khan melonggarkan rangkulannya. Shanum langsung berbalik menghadap ke arah Pak Reno.
Pak Reno memperhatikan Khan dengan pandangan menelisik tajam. Bibirnya mengetat keras.
"Maaf Pak, ini teman saya. Saya sebenarnya ada janji dengannya. Dan ini sudah lewat dari waktu janjian kami," ucap Shanum sembari meringis.
"Gadis ini tunanganku, bukan hanya sekedar teman," sahut Khan sembari mendongakkan dagunya.
Shanum mendesah keras. Ingin rasanya dia menendang pria bodoh ini. Keadaan bisa bertambah kacau dengan informasi yang dia berikan barusan. Shanum berusaha menarik perhatian Khan dengan menyikutnya.
Adri, apa yang sudah kau lakukan. Dia sudah pernah melihat wajahmu yang asli waktu vicall, ingat! Dan sekarang kau mengatakan aku tunanganmu. Bagaimana mungkin aku memiliki dua orang tunangan di waktu yang berdekatan.
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut lewat ikatan mereka, Shanum menatap tajam pada Khan. Pria itu tidak merespon reaksi Shanum. Dia kembali beralih melihat ke arah Pak Reno dengan pandangan dinginnya.
"Tunangan?" Pak Reno melihat ke arah Shanum dengan pandangan bertanya. "Kau sebenarnya memiliki berapa orang tunangan Shanum?"
"Em, dia bukan tunangan saya Pak. Pria ini melantur... yah, dia salah bicara. Dia tunangan dari teman saya, bukannya saya." Shanum mencoba berkilah sembari tertawa cengengesan.
"Betulkah?" Pak Reno memicingkan matanya tanda curiga. "Tapi tadi bukan itu yang saya dengar," desaknya.
"Em... maaf, kami permisi dulu Pak. Ada keperluan lagi yang harus kami lakukan." Shanum langsung menarik tangan Khan untuk segera pergi dari hadapan pria itu. Untungnya Khan menuruti Shanum dan menutup mulutnya.
"Tunggu!" Pak Reno menghentikan mereka berdua. "Mengapa dengan dia kau bisa membuka diri kembali, Shanum? Jika kau telah putus dengan pria yang waktu itu, mengapa kau tidak mencariku? Apa kekuranganku? Apakah karena aku produk lokal, bukan produk impor seperti mereka?" tanya Pak Reno.
Oh, Tuhan...
Alasanku tadi sepertinya masih tidak mempan mengecohnya. Sekarang dia malah berasumsi sendiri. Dia kira aku menyukai barang apa, sampai ada produk lokal dan impor segala.
Shanum menghela napasnya, sambil berkata-kata dalam hati, yang tentu saja bisa didengar oleh Khan melalui ikatan mereka. Gadis itu langsung menoleh ke arah Khan. Dia melihat pria itu mengetatkan rahangnya, dan matanya berkilat menahan amarah.
Dia menghinaku. Sialan pria itu!
Sabar, Adri. Bukan itu maksudnya. Dia mengira aku hanya menyukai pria asing.
Iya, aku mengerti. Tapi tetap saja ucapannya itu menyinggung harga diriku.
"Mengapa kau tidak menjawabku, Shanum?" desak Pak Reno sambil bersedekap.
"Masalah perasaan tidak bisa dipaksakan, Pak," jawab Shanum sekenanya. Hanya itu jawaban yang terlintas di pikirannya.
"Omong kosong! Aku ingin tahu, apa kelebihan dia yang tidak ada di diriku. Coba sebutkan?!" kejar Pak Reno.
"Sudah, Shasha. Tidak usah dengarkan dia. Sebaiknya kita pergi." Khan menarik lengan Shanum dan mengajaknya untuk segera pergi dari sana.
"Tunggu, aku sedang bicara pada Shanum, kau tidak perlu ikut campur. Kau pria dengan warna rambut kuning seperti sapu begitu. Lalu bulu mata panjang dan wajah yang menyerupai wanita. Kurasa kau hanya bermodalkan muka saja, tapi otakmu nol besar. Jangan-jangan kau hanya ingin menumpang hidup dengan gadis ini."
Astaga...
Adri, jangan! Kau harus sabar, jangan dengarkan dia.
Shanum tampak panik dan mengirimkan telepati ke Khan. Ia semakin cemas dan gelisah saat melihat ekspresi Khan. Pak Reno sudah berhasil memprovokasinya.
Khan dengan wajah dingin dan kakunya terlihat semakin mengerikan. Pak Reno sudah memancing lawan yang salah. Dan itu membuat Shanum semakin pusing dan gugup.
Mudah-mudahan tidak sampai terjadi pertumpahan darah di sini, akibat mulut Pak Reno yang keterlaluan itu.
Maafkan aku, Shasha. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Pria itu sudah melucuti harga diriku secara terang-terangan. Dan bagiku, hal itu harus dibalas dengan hukuman yang setimpal. Karena kehormatanku sebagai pria dipertaruhkan di sini.
Oke. Tapi aku mohon, kalau pun kau harus memberinya pelajaran, tolong jangan yang ekstrim dan membahayakan jiwa. Aku tidak mau kau berurusan dengan hukum di sini.
Tenang saja, aku mengerti. Kau harus percaya padaku.
"Shanum, kenapa kau hanya diam dan saling bertatapan dengan pria itu? Jawab pertanyaanku tadi?" desis Pak Reno kesal. Wajahnya semakin memerah menahan amarah.
__ADS_1
"Dan jika kau ingin tahu apa kelebihanku yang membuatku dipilih olehnya, kau boleh menantangku. Apa yang kau ingin aku lakukan? Silahkan ajukan saja, aku tidak takut," tambahnya sembari tersenyum sinis kepada pria itu.
"Pertama-tama aku ingin menantangmu panahan," ucap Pak Reno dengan senyum sombongnya.
"Boleh, di mana kita harus bertanding." Khan menyeringai kepada pria itu sambil bersedekap.
"Di kampus ini ada lapangan panahan, jadi kita bisa bertanding di sana." Pak Reno menjawab dengan ketus.
"Oke, tunjukkan kepadaku tempatnya," sahut Khan. Lalu Khan memberikan isyarat kepada Pak Reno untuk melewatinya dan berjalan terlebih dahulu.
Pak Reno berjalan melewati keduanya dengan penuh percaya diri. Dan mereka mengikutinya dalam jarak yang tidak terlalu dekat. Karena Shanum berjalan sambil menghubungi kedua sahabatnya untuk bertemu dengannya di lapangan panahan.
Tentunya banyak pertanyaan dari keduanya. Namun Shanum bisa membungkam mereka dengan penjelasan lengkap saat berada di lapangan panahan nanti. Gadis itu lalu menutup pembicaraan. Dia menaruh kembali ponselnya di dalam saku celananya.
Shanum menoleh ke arah Khan saat merasa tangannya diraih dan digenggam olehnya. Khan melirik sembari tersenyum lembut, lalu dia mengecup jemari Shanum. "Percayalah padaku," ucapnya lagi dengan pelan.
Shanum membalas dengan senyum lemah, dia tetap merasa gugup menghadapi ajang unjuk kelebihan ini.
Tapi dia percaya pada pria itu. Tidak mungkin Khan melakukan perbuatan yang akan merugikan dirinya sendiri. Dan juga ada Sergei di sini.
Pria itu bisa membantu untuk menghentikan waktu. Jika nanti situasi mulai menjadi berbahaya, pria itu tinggal menjentikan jarinya, dan semua hal bisa dihentikan.
Sesaat kemudian lapangan panahan sudah terlihat di hadapan mereka. Pak Reno langsung berlalu dari hadapan mereka.
Dia memerintahkan berbagai macam hal kepada pria yang berada di sana. Tidak mengherankan, kampus ini milik pria itu. Jadi dia bisa berbuat sesuka hatinya terhadap segala sesuatu yang berada di dalamnya.
"Hei, Shanum," panggil Farah dengan suara keras. Shanum tersenyum dan melambai ke arah mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Farah dengan ekspresi penasaran. "Iya, mengapa tiba-tiba kalian menjadi harus berada di lapangan panahan?" sambung Diva.
Kemudian Shanum menceritakan dengan singkat kepada mereka kejadian di depan ruangan Pak Reno. Diva dan Farah terkejut luar biasa. Sedangkan Sergei hanya terkekeh geli. "Dia tidak tahu siapa, Khan Adrian. Berani sekali dia menantangnya panahan." Sergei tertawa semakin keras.
"Ada apa? Kenapa kau tertawa geli begitu?" tanya Diva heran.
"Sebagai seorang pemimpin Klan Altan, tentunya Khan Adrian sudah belajar memanah sejak dia masih memakai popok. Dan di dunia kami, menguasai seni memanah itu wajib dilakukan," ucap Sergei.
"Jadi berdasarkan penjelasanmu tadi, seharusnya kekasih Shanum ini bisa menang dong." Farah menunjuk Khan dengan senyum smirknya.
"Harusnya. Kecuali Yang Agung sengaja mengalah," ledek Sergei.
Khan mendengus. "Tidak ada dalam kamusku mengalah kepada orang yang sudah menghina kehormatanku."
"Kehormatan?" tanya Diva.
Diva dan Farah berpandangan. Mereka bingung mendengar ucapan Khan. Karena tadi memang Shanum tidak menceritakan semuanya kepada mereka.
Shanum bertanya melalui ikatan mereka. Khan menganggukkan kepalanya tanda ia mengizinkan Shanum menceritakannya kepada para sahabatnya dan juga Sergei.
Shanum menghela napasnya. "Iya, tadi itu Pak Reno sempat menghina Adri. Dia mengatakan rambutnya seperti sapu. Dan wajahnya seperti wanita. Terus yang lebih mengerikan lagi dia berkata, Adri hanya menumpang hidup kepadaku. Dia menuduh Adri tidak punya kelebihan, hanya bermodalkan paras wajahnya saja."
"Oh Tuhan..." Diva terkejut sambil membekap mulutnya.
"Wow, tidak kusangka ternyata Pak Reno mulutnya sejahat itu." Farah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rambut berwarna seperti sapu dan wajah seperti wanita." Sergei mengulang kata-kata Shanum sembari tergelak keras.
Khan tersenyum kecut mendengar tawa keras dari Sergei. Sedang kedua sahabat Shanum akhirnya ikut terkekeh geli.
Untuk Shanum, dia berusaha menahan tawanya. Biar bagaimana pun dia tidak mau menambah kekesalan Khan.
"Dan menumpang hidup katanya tadi. Dia tidak tahu hartamu itu tidak terukur. Sungguh penghinaan yang luar biasa menurutku, Yang Agung. Kau harus memberi pelajaran pada pria ini," kata Sergei sembari menyeringai. Seakan-akan Sergei ikut mengipasi situasi agar menjadi semakin memanas.
Diva menyikut badan pria itu sembari melotot. "Jangan memperkeruh situasi, Igei."
"Ciee, yang sudah punya panggilan kesayangan," goda Shanum.
Diva mengerling ke arah Sergei sambil tersenyum malu-malu.
Khan juga ikut menarik pinggang Shanum. Dia tidak mau kalah untuk memamerkan kemesraannya juga. Shanum menyandarkan belakang kepalanya di dada Khan.
"Oh, please! Kalian ini tidak kasihan padaku apa. Hanya aku di sini yang tidak punya pasangan." Farah mengerucutkan bibirnya sembari mendesah sedih.
"Kau dekati saja Pak Reno. Dia kan belum punya pasangan," usul Diva. Yang disambut gelengan kepala oleh Sergei ke arah Diva.
"Yang benar saja. Tidak mungkin mau dia sama aku. Cinta matinya kan sama Shanum," sahut Farah sambil memutar bola matanya.
Mendengar ucapan Farah, Khan berdeham dan mengangkat alisnya. Dia menatap tajam ke arah Farah. Gadis itu bukannya menciut malah menatap balik dengan pandangan berani.
"Iya, aku tahu, Shanum milikmu, Sir. Tapi kan kenyataannya memang Pak Reno masih tergila-gila pada kekasihmu itu," kata Farah sembari mencibir.
Percakapan mereka terhenti mendadak, saat melihat Pak Reno menghampiri kelompok mereka dengan beberapa orang yang mengikuti di belakangnya. Orang-orang itu membawa perlengkapan memanah dalam sebuah tempat khusus.
Pak Reno mengisyaratkan mereka untuk meletakkan perlengkapan itu di atas tanah yang agak berjauhan.
"Silahkan kau mengambil posisimu. Aku memilih di sebelah sini." Pak Reno mengambil posisi di sebelah kanan. Berarti tinggal tersisa satu tempat lagi yaitu di sebelah kiri untuk ditempati.
Shanum, Farah, Diva menyingkir ke arah kiri, posisi Khan berada. Begitu juga dengan Sergei. Sedang di sudut Pak Reno, mendadak muncul para mahasiswa lain yang tertarik untuk melihat kegiatan yang mereka lakukan.
"Kalian boleh ikut menonton, tapi tolong dalam jarak yang aman. Dan jangan berisik." Pak Reno memberikan arahan tegas kepada para penonton, yang saat ini berdiri terlalu dekat dengannya.
__ADS_1
Dan para penonton itu segera bergerak mundur, dibantu diarahkan oleh para pria yang membawa wadah anak panah tadi.
Tidak terkecuali dengan Shanum dan para sahabatnya. Mereka juga mengikuti arahan, menjaga jarak dengan Khan.
"Baik kita segera mulai," ucap Pak Reno. Pria itu memakai pelindung dada dan pelindung jari. Kemudian dia mengambil busur dan anak panahnya. Dia mencoba merenggangkan dan mengembalikan busur ke arah semula.
Pria itu sepertinya sedang memeriksa apakah busur yang akan digunakan dapat berfungsi sesuai dengan kriterianya atau tidak. Setelah merasa puas, dia bersiap.
Sedangkan Khan, pria itu langsung mengambil saja busur dan anak panahnya. Dia tidak memakai pelindung dada dan pelindung jari. Karena menurutnya pelindung itu tidak diperlukan. Dia memiliki pelindung lain yang seratus kali lebih baik, yaitu kekuatannya.
Dan sekarang mantra perlindungan itu sudah menyelubungi mereka semua. Terkecuali pria yang mengincar kekasihnya itu. Dia tidak sudi melindungi pria yang sudah menghinanya itu. Khan mengamati sesaat anak panah dan busur di tangannya, lalu kembali menunggu aba-aba.
Para penonton yang berjenis kelamin wanita banyak yang mencuri-curi pandang dan menatap secara terang-terangan ke arah Khan. Pria itu tidak terpengaruh. Shanum juga terlihat santai, dia tidak menggubris para wanita itu.
Bagi Shanum, sosok yang sekarang terlihat bukanlah sosok kekasihnya yang sesungguhnya. Jadi untuk apa dia merasa cemburu oleh hal yang jelas-jelas tidak penting seperti itu.
"Oke, bisa kita mulai?" tanya Pak Reno dengan keras sembari menoleh ke arah Khan.
"Tunggu sebentar, ada yang mau kulakukan terlebih dahulu," teriak Khan. Pria itu lalu melangkah dengan cepat ke arah Shanum. Dia langsung menarik tangannya dengan lembut, dan mengecup jemarinya di depan orang-orang.
"Untuk keberuntunganku," bisiknya pelan. Shanum seketika terkesiap, wajahnya memerah. Khan tersenyum menggoda melihat reaksi Shanum.
Suara mendesah dan ribut juga terdengar ke seantero lapangan. Shanum masih tersipu malu, pandangannya menatap ke arah bawah. Dia tidak berani melihat ke arah lain. Wajahnya terasa panas saat menerima kecupan di jemarinya dari Khan.
Pria itu lalu menyentuh dagunya, mendongakkan wajahnya. "Tegakkan tubuhmu, angkat dagumu. Tidak perlu malu. Aku ingin gadisku tetap memandang dengan bangga ke arahku. Terutama saat aku memenangkan pertandingan ini," kata Khan.
Shanum menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis untuk menjawab permintaan Khan itu.
"Diam! Saya kan sudah bilang tadi, dilarang berisik!" Pak Reno tampak kesal. Rahangnya mengetat menahan amarah.
"Sebaiknya kau segera kembali ke posisimu lagi, Sir. Kejutan yang kau lakukan barusan tampaknya memancing kemarahan dari pihak lawan," celetuk Farah sembari tersenyum geli.
Alis Khan terangkat sempurna. Dia tampak mendengus lalu melangkah menuju posisinya kembali dengan langkah terpaksa.
Shanum tak pernah lepas memperhatikan Khan dari posisinya berdiri. Khan mengerling sembari tersenyum manis ke arah Shanum. Dia dapat merasakan pandangan sayang yang diarahkan oleh gadis itu.
Pria itu menjawabnya dengan ungkapan perasaan cinta manis lewat ikatan mereka. Kiriman itu bagaikan gelombang kejut, yang menggetarkan seluruh sanubari Shanum.
Namun pandangan Shanum terputus, saat ia merasakan seseorang mencoleknya. Shanum menoleh, ia melihat Diva tersenyum heran dan berkata kepadanya, "Aku tidak menyangka, pria itu bisa bersikap seromantis itu."
Shanum mendesah dalam. "Kau pasti akan lebih terkejut lagi saat aku menceritakan betapa manis dan penuh cinta dirinya saat kami bertemu kembali."
"Wow, masa sih? Em, kalau begitu aku tunggu cerita lengkapnya ya." Diva melihatnya dengan pandangan penuh harap.
"Aku pikir-pikir dulu ya. Soalnya kalau untuk menceritakannya kembali... Em, aku tidak yakin sanggup melakukannya. Jantungku takut tidak kuat," jawab Shanum sembari tersenyum malu.
"Serius, sampai sedahsyat itu rasanya," kata Diva dengan takjub. Shanum menganggukkan kepalanya.
"Ladies, kalian ini malah mengoceh sendiri. Itu sudah mau di mulai. Kau akan menyesal loh, kalau sampai melewatkan penampilan pujaan hatimu itu, Shanum." Farah mencoba memberi peringatan padanya.
"Oh sudah mau dimulai ya." Shanum langsung menghentikan percakapannya dengan Diva, dan beralih melihat ke arah Khan.
Ternyata yang mulai membidik terlebih dahulu adalah Pak Reno. Khan memberikan isyarat pada pria itu untuk memulainya. Pak Reno dengan wajah pongahnya bersiap di posisinya, ia mengarahkan anak panah ke arah papan target berbentuk lingkaran.
Ada total lima papan target di lapangan itu. Dan sesuai instruksi Pak Reno, mereka harus membidik di kelima target tersebut.
Pak Reno memicingkan matanya, tampak memfokuskan arah anak panahnya ke target yang berwarna kuning, yang berada di tengah lingkaran. Target tersebut merupakan titik yang memiliki nilai poin tertinggi dalam pertandingan ini.
Pak Reno melepaskan anak panahnya, dan anak panah tersebut tepat menancap di tengah, di bidang yang berwarna kuning tersebut. Pak Reno tersenyum senang. Dia terlihat bangga.
Lalu pria itu beralih ke papan target selanjutnya. Posisi anak panah melesat dan menancap tetap sama hingga ke papan target kelima. Para penonton bertepuk tangan. Dan Pak Reno tersenyum bangga.
"Silahkan, sekarang giliran Anda," ucapnya dengan nada suara mencemooh. Khan hanya mengangguk. Shanum merasa jantungnya berdebar-debar menunggu hasil bidikan Khan.
Dia tidak tahu bagaimana caranya Khan dapat memenangkan ajang memanah ini. Semua titik tengah berwarna kuning sudah terisi oleh anak panah Pak Reno.
Khan tersenyum tipis, dia mempersiapkan diri. Pria itu terlihat tenang. Tidak terlihat rasa gugup sedikit pun pada wajah pria itu.
Khan melepaskan anak panahnya dengan mantap. Dia terus bergerak ke papan selanjutnya, tanpa melihat apakah anak panahnya berhasil mengenai sasaran.
Sama seperti Pak Reno, Khan juga memakai tas khusus yang melintang di pundaknya, untuk meletakkan anak panah. Setelah selesai, Khan menaruh busur di tempatnya kembali. Penonton telat merespon, karena mereka tidak mengerti siapa yang sebenarnya menjadi pemenangnya.
"Sepertinya kita seri," ucap Pak Reno dengan lantang.
"Kau yakin, coba kau lihat kembali ke papan target itu," sahut Khan sambil mencibir.
Pak Reno mengerutkan keningnya. Tapi dia terlihat penasaran. Pria itu lalu berlari ke arah papan target. Dan dia tersentak kaget saat sampai di sana.
Anak panahnya terbelah dua secara mengenaskan. Anak panah pria itu berada tepat di tengah-tengah, dan merusak anak panahnya. Pak Reno langsung berlari ke semua papan target. Dan kondisi yang sama terjadi pada semua anak panah miliknya.
Malah di papan target yang kelima, terjadi hal yang mustahil. Papan target tersebut nyaris ikut terbelah dua. Pak Reno melihat ke arah Khan dengan memicingkan matanya. "Siapa pria itu?" ucap Pak Reno dalam hatinya.
Khan menghampiri Shanum dengan langkah santai. Dia meraih lengan gadis itu. "Ayo, Sayang. Kita pergi dari sini."
"Tunggu, kita masih belum selesai bertanding," teriak Pak Reno sembari berlari-lari menghampiri Khan.
Khan menatap dingin dan kaku ke arah Pak Reno, dan berkata, "Apa lagi maumu? Aku sudah membuktikan bahwa aku lebih unggul darimu."
"Aku ingin menantangmu kembali untuk bertanding basket three on three besok. Tepat pukul empat sore. Di lapangan tertutup yang ada di kampus ini juga. Dan kau tidak boleh menolak," desak Pak Reno.
__ADS_1