Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 70 Gadis Dalam Ramalan


__ADS_3

Mata coklat keemasan Khan tampak berpendar lebih terang. Dia maju selangkah ke arah Sofia dan berhenti. "Mengapa tidak bisa?" desak Khan sembari mengawasinya dengan tajam.


Shanum melihat Sofia semakin gugup. Matanya bergerak-gerak melihat ke arah lain, dia tidak berani menatap langsung mata Khan ataupun Shanum, dan tetap diam membisu.


Gadis itu berpikir pastinya ada yang harus ditutupi oleh wanita itu dari mereka. Dan dia maklum jika Sofia berusaha melindungi orang yang memberi perintah. Jika ia membocorkan informasi, tentunya wanita itu akan langsung dicap sebagai pengkhianat oleh klannya.


Gadis itu mencoba memutar otak, untuk dapat memancing jawaban dari bibir wanita itu. Kalau pendekatan langsung tanpa basa-basi Khan tidak berhasil, bagaimana jika ia membuat pendekatan yang lebih halus. Shanum mengganti posisinya dari berlutut menjadi duduk bersila di sebelah Sofia. Lalu ia mengangkat salah satu tangannya, membuat suatu kibasan di udara, dan menghilangkan ikatan yang mengunci wanita itu.


Sofia menarik napas dalam saat dadanya terasa lebih lega. Lalu mengangkat kedua tangannya dan menggerakkannya di depan wajah. Masih merasa tak percaya ia menunduk melihat ke arah dadanya, merabanya, dan menemukan tidak ada ikatan di sana.


Kemudian sembari memiringkan kepalanya ke arah Shanum, ia bertanya, "Mengapa kau membuka ikatanku?" Matanya menyala penuh rasa heran. "Kau tidak takut aku akan menyerangmu kembali?"


"Tidak." Shanum menjawab dengan tenang sembari tersenyum tipis. "Aku yakin dapat melawanmu, jika kau kembali menyerang. Yang aku inginkan hanyalah semua masalah ini selesai tanpa kekerasan. Aku sangat menginginkannya hingga aku tak punya ruang untuk rasa takut. Walau yang terburuk mungkin saja masih mengintai, tapi aku sudah bersiap untuk menghadapinya."


Sofia tersenyum menyeringai. "Sepertinya banyak orang akan menyukaimu, jika mereka mengetahui kebaikanmu. Termasuk juga aku," katanya, sambil menggerakkan tangan dan badannya yang kaku ke kiri serta ke kanan.


"Dia tidak membutuhkannya! Gadis ini hanya boleh menyukaiku," suara Khan terdengar keras, tajam, dengan wajah dingin dan kakunya yang biasa.


Sofia tertegun, lalu ia terbahak keras, bahkan ketika Shanum melongo ke arah Khan. "Aku juga suka pria posesif," katanya sembari mengerling nakal ke arah Khan. Pria itu mendengus ketika mendengar ucapan Sofia dengan mulut terkatup rapat.


"Sepertinya aku harus mengikatmu lagi," gerutu Shanum bersiap mengangkat tangannya. Sofia terkekeh geli sembari menahan tangan Shanum. "Kalian ini memang sungguh pasangan yang sempurna, sama-sama posesif."


Wanita itu tersenyum ke arah Shanum. Saat melihat wajah gadis itu masih ditekuk kaku dia berkata, "Aku hanya bercanda, Shanum. Jangan dimasukkan ke dalam hati."


Shanum menurunkan tangannya kembali, serayamenghembuskan napasnya karena lega. Dia tidak suka jika harus mengikat kembali Sang Jenderal itu.


Sofia lalu menatap Khan dengan pandangan tajam. "Aku tidak bisa mengatakan siapa saja yang mengejar Shanum. Terutama orang yang sudah mengutusku. Karena aku terikat sumpah pengabdian kepadanya. Yang aku tahu, semua ini berawal dari ramalan kuno yang sudah berakar selama ratusan tahun di seluruh Klan."


Shanum mengerdip, keningnya berkerut dalam menandakan kebingungan sedang menguasainya. "Aku bukan anggota salah satu klan. Mengapa mereka datang mengejarku?" tanya Shanum.


"Mereka mengira, Shanum adalah gadis yang diramalkan tersebut," tebak Khan. Pria itu ikut duduk bersila di samping Shanum. Tak berapa jauh dari posisi mereka, Sergei tampak mengamati dengan posisi menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon yang masih tegak berdiri.


Rasa mual mendera Shanum mendengar jawaban Khan. Berarti ke depannya, ia akan dikejar oleh semua klan. Kengerian apa lagi yang harus dialaminya terkait ramalan itu? Meski ia berkata siap menghadapinya, ia tetap merasa ngeri harus menghabiskan seluruh waktunya berada dalam ancaman kematian.


"Dan apa isi ramalan itu?" desak Shanum. Tidak mungkin dia terlibat dalam sebuah ramalan yang dapat mengancam jiwanya, tanpa mengetahui apa isi dari ramalan itu sebenarnya. Shanum memperhatikan wajah Khan dan Sofia. Dan ia melihat wajah Khan yang menyiratkan ekspresi tegang.


Shanum memicingkan matanya. "Kau tahu tentang hal ini?" Gadis itu melihat Khan mendadak gelisah. Shanum tersenyum hambar. "Jadi kau lagi-lagi tidak berterus terang kepadaku, Adri?" Shanum mulai gemetar, bukan karena rasa takut, namun lebih karena rasa kecewa yang menguasai hatinya.


Gadis itu berusaha menahan diri untuk tidak memperlihatkan rasa kecewanya. Dia menatap mata Khan dengan pandangan datar tak terbaca. Menutup akses ikatan mereka dan tidak mengindahkan gejolak yang ia rasakan di dalam pikirannya.


"Shasha," panggil Khan serak. Pria itu beringsut mendekati Shanum. Gadis itu menegakkan punggungnya, wajahnya mendongak ke arah Khan. Dia membalas tatapan pria itu, mengisyaratkan bahwa ia menunggu jawaban darinya. Tetapi saat Khan hanya diam membeku tidak mengucapkan sepatah kata pun, Shanum berdecak dan mendesaknya kembali, "Katakan, Adri!"


"Sebaiknya aku saja yang menjelaskan tentang ramalan itu," potong Sofia dengan senyum dipaksakan. Wanita itu terlihat gelisah berada dalam situasi yang semakin dingin dan kaku itu.


Khan mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Sofia untuk tidak melanjutkan apa yang ingin ia katakan. "Aku harus meluruskan hal ini terlebih dahulu." Khan melihat Shanum, netra matanya terlihat berkilat aneh.


"Yang pertama kali ingin kujelaskan adalah; aku tidak pernah tahu adanya keterkaitan antara ramalan itu dengan dirimu. Lalu yang kedua, aku tidak pernah terpikir soal ramalan itu, Shasha. Apalagi saat diriku selalu terbayang-bayang akan dirimu. Jangankan ramalan, kegiatanku saja banyak yang terbengkalai karena merindukanmu."


Wajah Shanum seketika memerah menahan malu. Dia tidak menyangka pria itu bisa-bisanya mengatakan hal pribadi seperti itu di depan banyak orang dengan suara lantang. Dengan ekspresi serius, tanpa senyum dan rasa canggung sedikit pun.

__ADS_1


Dan benar saja, reaksi Sofia sungguh lucu. Dia terperangah, karena melihat perbedaan yang kontras antara ucapan dan ekspresi pria itu. Kata-kata Khan sungguh manis, tapi wajahnya minim ekspresi. Sofia lalu terbatuk kecil, wajahnya langsung terlihat bingung.


"Em, sebaiknya aku memberi privacy kepada kalian berdua, dan akan menunggu di tempat lain. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam," ucapnya sembari meringis.


"Tidak, kau tetap di sini. Sekarang giliranmu yang bercerita tentang ramalan itu. Aku sudah mengatakan bagianku. Kini aku ingin mendengar tentang ramalan itu menurut versi klanmu, berikut alasan Klan Bataar mengincar kekasihku," potong Khan dengan nada suara tegas.


Sofia melirik Shanum, dan melihat gadis itu menunggu kata-katanya. "Baiklah," desah Sofia. "Dahulu kala, saat peramal terkenal dari Klan Batzorig masih hidup. Dia bilang, suatu saat di masa depan dari tanah yang jauh di seberang lautan, akan muncul seorang gadis yang dalam darahnya mengalir keturunan dari keempat klan. Gadis itu akan mewarisi kekuatan khusus dari masing-masing klan tersebut, dan juga memiliki kekuatannya sendiri yang unik. Kekuatan yang sungguh kuat dan tidak akan ada yang menyamainya." Mata Sofia terlihat menerawang jauh sambil menceritakan awal mula ramalan itu.


"Gadis itu akan menjadi pasangan takdir dari Yang Agung pemimpin Klan Altan. Gadis ini yang akan merubah susunan aturan tiap klan dan menjadikan Klan Altan sebagai Dinasti tertinggi. Begitulah isi ramalan yang kami dari Klan Bataar tahu selama ini."


Shanum mengerutkan keningnya sambil menatap Sofia. Dia bingung mendengar cerita wanita itu. Karena tentu saja gadis dalam ramalan itu bukanlah dirinya. Bukannya ia tidak percaya dengan dirinya sendiri. Tapi jika ia bisa sampai sehebat itu, hingga dapat membuat suatu Dinasti.


Shanum menggelengkan kepalanya. Rasanya sungguh mustahil itu adalah dirinya. Mereka semua salah mengira Shanum sebagai gadis dalam ramalan itu.


"Maaf, sepertinya kalian salah mengenali orang. Aku bukanlah gadis dalam ramalan itu," kata Shanum datar.


"Ya, sepertinya memang orang yang mengutusku telah salah. Kau bukan gadis itu. Karena kau kekasih pria ini, bukannya Yang Agung dari Klan Altan," jawab Sofia. Matanya terangkat penuh maaf ke arah Shanum.


"Kami mengira kau memiliki hubungan dengan Yang Agung, setelah berita tentang kalian santer terdengar ke seluruh klan. Kau diberitakan tinggal di mansionnya selama berbulan-bulan dan memiliki kedekatan dengannya."


"Emm..." Shanum tampak salah tingkah, dia melihat ke arah Khan dengan pandangan memelas, meminta pertolongan pria itu. Khan menangkap tatapannya dan bertanya kepada Sofia, "Mengapa kalian ingin membunuh gadis dalam ramalan itu?"


Shanum mendesah lega, Khan telah mengeluarkannya dari situasi yang serba salah tadi.


Untuk menghindari kecurigaan Sofia lebih lanjut, gadis itu ikut bertanya, "Ya, mengapa? Gadis itu tidak melakukan hal yang buruk," celetuk Shanum. Dia merasa penasaran juga ingin mendengar jawaban wanita itu.


Sofia mengendikkan bahunya. "Aku juga tidak terlalu mengerti. Maaf, aku tidak bisa menjawabnya," jawab Sofia dengan wajah terlihat polos.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan mencari gadis dalam ramalan itu lagi?" tanya Shanum sembari memperhatikan kukunya. Berpura-pura pertanyaannya itu adalah keingintahuan sambil lalu saja.


"Tentu saja aku akan kembali dan menjelaskan bahwa kau bukan gadis yang dimaksud oleh ramalan itu. Dan tentang mencari gadis itu, sepertinya tidak. Karena banyak sekali yang lebih penting yang harus kuurus dibandingkan mencari gadis yang belum jelas apakah akan muncul di saat ini atau masih beberapa ratus tahun lagi." Sofia menyeringai, mengangkat tubuhnya dan berdiri. Dia menepuk-nepuk jubahnya, menghilangkan debu yang menempel di sana.


Shanum melirik ke sampingnya, dan melihat kemarahan, bukan kekhawatiran berkilat di mata Khan. Dia yakin sekali saat ini pria itu sangat ingin mencekik Sofia dan memintanya untuk mengatakan siapa orang yang memberi perintah itu.


Shanum bangkit dari duduknya, lalu menunduk, ia mengulurkan tangannya ke arah pria itu. Khan terpaku, tapi beberapa detik kemudian dia meraih tangan yang terulur itu. Ketika pria itu telah sepenuhnya berdiri, ia meloloskan jemarinya satu persatu ke rengkuhan jemari Khan, seraya tersenyum manis.


Khan membalas senyum gadis itu dengan seulas senyum yang memabukkan. Pria itu terlihat semakin tampan, dan ekspresi garang sepenuhnya sirna dari wajahnya.


Sofia terpaku mengamati perilaku mesra keduanya. Mulutnya merapat dan dia mengerjap-ngerjap beberapa kali. Kemudian Sergei tiba-tiba sudah berada di antara mereka, memotong tontonan Sofia terhadap perilaku keduanya. "Bukankah sebaiknya kau kembali ke klanmu?" sindirnya dengan nada suara dingin.


Sofia menoleh, mengangkat alisnya sedikit. Wanita itu memandangi Sergei dari atas kepala hingga kaki, memindai penampakan pria itu. Seakan-akan wanita itu baru menyadari kehadirannya di tempat itu.


"Rasanya aku mengenalmu. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya wanita itu dengan wajah tertarik.


Ekspresi Sergei terlihat semakin dingin, punggungnya kaku. Perlahan pria itu menampilkan senyum mengejeknya pada Sofia. "Tidak mungkin kita pernah bertemu. Seorang rakyat jelata sepertiku sangat mustahil dapat bersinggungan dengan seorang Jenderal besar dari Klan Bataar."


Sofia mengerjapkan matanya. Dia mendengar nada sanjungan dan hinaan di saat yang bersamaan. Sofia merasa pria di hadapannya ini menyembunyikan sesuatu. Tetapi dia tidak dapat mendeteksinya, ia juga tidak bisa mendesak lebih jauh. Sofia tidak mau berbuat sesuatu yang akan menambah keruh situasi yang sudah terjadi.


Sofia hanya membalasnya dengan mengangkat dagunya dan berkata, "Kurasa kau benar. Aku tidak mungkin pernah bersinggungan dengan orang dari kasta yang rendah." Wanita itu menatap Sergei dengan pandangan mencemoohnya secara nyata.

__ADS_1


Khan memberikan tatapan peringatan kepada Shanum, ketika pria itu melihat Shanum hendak membuka mulutnya. Khan juga mengetatkan rengkuhan jemarinya, dan menggeleng. Shanum mendesah kalah, ia memaksakan diri untuk tidak bereaksi. Ia mengerti, Khan menahannya untuk tidak ikut campur lebih jauh dalam aliran panas percekcokan mereka.


Meski pikirannya tetaplah penasaran. Dia mencurigai ada sesuatu yang pernah terjadi di antara kedua orang tersebut. Tetapi hal itu bisa ditanyakannya langsung kepada Sergei nanti setelah mereka kembali ke vila.


Shanum melihat Sofia menghampiri pasukannya. Dia mengedarkan matanya ke sekeliling para pria yang terluka. Ia melihat lima orang pria terkapar di tanah. Wanita itu menunduk dan memeriksa masing-masing pria itu, dan mendesah lelah.


"Aku akan membantu." Shanum seketika berlutut dan menyalurkan energi penyembuhnya. Sofia tertegun, dia tidak menyangka Shanum mau membantu musuh yang sudah berusaha mencelakakannya. Jika hanya dia yang dibantu mungkin Sofia masih bisa memaklumi. Shanum pastinya ingin mengorek informasi darinya.


"Mengapa kau mau membantu orang yang sudah berusaha membunuhmu?" tanya Sofia dengan ekspresi heran. Wanita itu melirik juga ke arah Khan yang dengan setia mendampingi Shanum. Pria itu tidak melarang tindakan Shanum. Dia hanya memperhatikannya dengan wajah dingin tak terbaca.


Shanum tersenyum. "Aku selalu dididik oleh kedua orang tuaku untuk tidak pernah membalas perbuatan jahat dengan perlakuan jahat lainnya. Kau boleh melawan jika hal itu untuk melindungi dirimu. Tapi jika kau bisa menghindar dan mengalah itu lebih baik."


"Bukankah itu adalah tindakan seorang pengecut?" tanyanya sembari mendengus keras. Wanita itu memperhatikan Shanum sedang berpindah ke pria selanjutnya untuk diobati olehnya.


"Tidak. Pengecut bagiku lebih sebagai tindakan menganiaya tanpa adanya alasan yang jelas, dan hanya mengikuti naluri amarah yang membabi buta." Shanum melirik seraya tersenyum tipis.


"Atau mengikuti perintah membunuh tanpa mengindahkan orang yang akan kau bunuh itu pantas dibunuh ataukah tidak," tambahnya lagi. Sofia memicingkan matanya, menatap tajam ke arah gadis itu. Khan terdengar menggeram melihat tatapan tajam wanita itu ke arah gadisnya. Shanum menyentuh tangan Khan dan menggeleng.


Ia berhenti mengeluarkan kekuatan penyembuhnya, lalu menatap Sofia dengan tenang. Nyalinya tidak menciut meski dipelototi oleh wanita itu.


"Aku memang tidak berpengalaman soal bunuh-membunuh ini. Tapi bagiku, menghilangkan nyawa berharga seseorang tanpa alasan yang jelas tetap saja salah. Aku tidak akan pernah mau dipaksa untuk melakukannya, meski itu merupakan suatu perintah dalam tugas. Jika ada alternatif lain yang lebih baik, aku pasti akan memilihnya. Namun jikapun tidak ada, mungkin aku lebih baik mengundurkan diri dari tugas itu."


Sofia tersenyum hambar. Entah mengapa dia merasa ucapan gadis itu menohok nuraninya. Dia menunduk berpura-pura melihat tangannya, menutupi ekspresi bersalah yang terlihat di wajahnya.


"Tapi, setiap orang memang pernah melakukan kesalahan. Dan setiap kesalahan itu seharusnya dapat menjadi pembelajaran yang berarti untuk berbuat lebih baik di kemudian hari," tambah Shanum.


Sofia seketika mengangkat pandangannya. Ia melihat ke arah Shanum dengan pandangan kagum yang tidak ditutup-tutupinya lagi. "Kurasa kau bukan gadis biasa Shanum. Dan aku merasa bangga bisa mengenalmu."


Shanum mengangkat bahunya seraya tersenyum tipis. Dia sudah selesai mengobati semua pria yang tergeletak tak berdaya tadi. Kini para pria itu sudah mulai bisa bangun dari posisi sebelumnya.


"Lepaskan ikatan mereka!" perintah Khan kepada Jullian dan Abdan. Kedua pria pengawal Khan itu melaksanakan dengan cekatan melepaskan ikatan anak buah Sofia.


Sofia lalu mulai merapal mantra untuk membuka portal menuju ke Samarkand, kota tempat Klan Bataar berada. Wanita itu memerintahkan anak buahnya untuk berbaris memasuki portal. Sedangkan dia sendiri melihat ke arah Shanum seraya tersenyum.


"Sampai jumpa Shanum. Aku berharap pertemuan kita selanjutnya dalam situasi yang lebih baik. Maaf atas perlakuan kami sebelumnya, dan terima kasih," kata Sofia seraya meletakkan tangannya menyilang di dadanya dengan sedikit menunduk, tanda penghormatan antar klan yang biasa dilakukan oleh mereka.


"Sampai jumpa Sofia. Kau masih berhutang memperbaiki hutanku loh. Kuharap kau bisa bertanggung jawab setelah ini." Shanum menjawab dengan wajah serius.


Sofia membeku, namun dia lalu tertawa terbahak-bahak saat dilihatnya Shanum memperlihatkan cengirannya. Gadis itu ternyata hanya sedang menggodanya.


Sofia berdeham. "Aku akan memperbaikinya segera jika kau menghendakinya. Nanti aku akan membawa orang yang memiliki kekuatan alam untuk menumbuhkan kembali pepohonan itu."


"Tidak perlu. Kami bisa mengatasinya sendiri," sahut Khan dengan nada suara dingin.


Sofia berdecak dan menggeleng. "Aku heran denganmu Shanum. Mengapa kau mau menjadi kekasih orang yang sikapnya dingin membekukan seperti itu? Meski wajahnya sangat tampan, aku tetap saja lebih suka yang hangat dan menggairahkan." Setelah berkata seperti itu Sofia langsung meloncat masuk ke dalam portal.


Meninggalkan suasana di sana kembali sunyi. Shanum membekap mulutnya, menahan tawa yang hendak keluar dari mulutnya. Sofia secara sengaja, tanpa wajah bersalah sama sekali meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban padanya.


Wajah dan sikap Khan memang dingin dan kaku dengan orang lain. Tapi Sofia tidak tahu, sikap itu bisa berubah menjadi hangat dan menggairahkan jika hanya untuk Shanum.

__ADS_1


Wajah Shanum bersemu merah saat teringat sikap romantis pria itu dan juga ciumannya yang luar biasa panas. Hingga saat ini hal itu masih dapat membuat jantungnya berdebar kencang, dan menghangatkan seluruh tubuhnya.


__ADS_2