Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 43 Pengagum Rahasia


__ADS_3

Saat Shanum terbangun pagi ini, dia berbaring di ranjang dengan ibu berada di dekatnya, wajahnya menunjukkan kelegaan, sementara pikirannya dipenuhi kecemasan.


"Ibu, sedang apa di sini?" Shanum mengerutkan keningnya.


"Pagi, Sayang," katanya, tersenyum sambil bergerak mengambil segelas air putih dari meja di samping tempat tidur. "Di minum dulu airnya ya." Ibu menyodorkan gelas tersebut kepada Shanum.


Dengan wajah bingungnya, gadis itu mengambil gelas itu, dan meminum isinya hingga tandas.


"Bagaimana perasaanmu, Nak?" tanyanya.


"Aku baik-baik saja, Ibu. Tapi... Ibu belum menjawab pertanyaan Shanum tadi."


Ibu tersenyum dan menghela napasnya. Baru Ibu mau membuka mulutnya, Ayah sudah memotong, "Biar Ayah saja yang menjawab, Bu."


Tiba-tiba ayah muncul di dalam kamar sambil membawa baki berisi makanan. Dia meletakkan baki tersebut di meja sudut ruangan kamar itu.


"Sudah bangun, Princess." Ayah mendekat ke arah ranjang dan duduk di depan Shanum.


"Sikat gigi dulu ya, terus sarapan. Ayah sudah membuatkan roti panggang, omelet dan susu untukmu."


Shanum memanyunkan bibirnya. "Loh, kok cemberut. Nanti Ayah jelaskan sambil kamu makan." Ayah menarik tangan Shanum dan menepuknya lembut.


"Em, iya deh. Tapi janji ya, Ayah tidak boleh ingkar janji," kata gadis itu. "Iya. Ayo buruan ke kamar mandi!"


Shanum segera meloncat bangun dari ranjangnya. "Hei, pelan-pelan, Nak. Nanti kau jatuh," ucap Ibu sambil menggeleng.


"Maaf Bu, tapi Shanum sudah penasaran. Jadi mau segera mendengar penjelasan Ayah." Gadis itu melesat menuju ke kamar mandi.


Mendadak terdengar suara sesuatu yang jatuh dari dalam kamar mandi. Ayah langsung berlari menuju pintu kamar mandi. Diikuti Ibu yang terlihat cemas.


Ayah mengetuk pintunya dan berteriak. "Princess, suara apa itu? Kau baik-baik saja kan?" tanya Ayah. Pintu lalu terbuka. Shanum tampak meringis sambil mengusap-usap bokongnya.


"Apa yang terjadi, Nak? tanya Ibu.


"Itu, tadi Shanum terpeleset lalu jatuh, Bu."


"Astaga, makanya jangan lari-lari di dalam ruangan. Apalagi di kamar mandi," sahut Ibu sambil menghembuskan napasnya.


"Kamu tidak apa-apa, Princess?" Ayah melihat ke sekujur tubuh putrinya itu. "Shanum tidak apa-apa. Cuma kaget dan sedikit nyeri saja."


"Ya sudah, dilanjutkan sikat giginya, dan hati-hati. Jangan sampai terjatuh lagi," kata Ayah.


Shanum menutup kembali pintu kamar mandinya. Sedang Ayah duduk di kursi yang berada di dekat meja sudut itu. Ayah mengambil roti bakar dan cangkir berisi kopi. "Ibu, ayo sini sambil ikut sarapan. Ayah membuat roti panggangnya banyak.


Ibu sedang merapikan tempat tidur Shanum. "Iya, Ayah, nanti saja. Buat Ayah dan Shanum saja. Ibu nanti saja sarapannya."


Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Ayah dan Ibu menoleh ke arah Shanum. Gadis itu mendekati ayah dan duduk di sampingnya.


"Shanum sudah siap mendengarkan ini, Ayah." Dia mencomot sehelai roti panggang dari piring dan mulai memasukkan ke mulutnya.


"Tadi malam itu kamu mengingau sambil menyebut nama seseorang. Yang membuat Ayah dan Ibu panik, kau menjerit-jerit juga sambil menangis."


"Dan kau terangkat dari atas kasur, dari seluruh tubuhmu muncul cahaya berwarna keemasan," sambung Ibu.


"Betul, Ayah dan Ibu sampai tidak berani mendekatimu," kata Ayah dengan cemas.


"Apa yang kau mimpikan sebenarnya, Nak?" tanya Ibu.


Shanum membeku. Dia menggelengkan kepalanya. "Shanum tidak ingat, Ibu-Ayah."


Ayah dan Ibu saling bertatapan. "Biasanya Shanum ingat kalau ada mimpi yang datang. Tapi kenapa sekarang tidak ya?" ucapnya dengan lirih.


"Kau membuat kami takut, Nak. Kami seperti melihat salah satu adegan film horor," kata Ayah sambil terkekeh geli.


"Ayah takut tapi kok malah tertawa." Shanum mendengus.


"Ayah menertawakan diri Ayah sendiri dan juga ekspresi Ibumu, Princess."


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Shanum.


"Saat itu perut Ayah sampai mulas saking takutnya. Dan ekspresi Ibumu sungguh lucu, dia melotot, mulut menganga, sambil memukul-mukul Ayah."

__ADS_1


"Itu ekspresi kaget, Ayah. Jadi wajar dong." Ibu memutar bola matanya. Shanum menutup mulutnya dengan tangan, dia berusaha menahan tawanya.


"Ayah juga sama, wajah pucat pasi, mulutnya juga menganga lebar. Terus Ibu dorong Ayah ke depan supaya Ayah menghampiri Shanum kok malah jadi terus mundur. Ujung-ujungnya tangan Ibu malah ikut ditarik." Ibu tersenyum geli sambil melipat selimut di atas ranjang.


"Huahaha..." Shanum tidak sanggup lagi menahan, dia tertawa terpingkal-pingkal. Ibu menghentikan kegiatannya melipat. Dia menoleh ke arah putrinya. Lalu ikut terkekeh geli. Sedangkan ayah wajahnya memerah menahan malu.


Shanum mencolek ayahnya lalu mendekatkan wajahnya ke depan. "Tidak perlu malu Ayah. Wajar kok kalau Ayah dan Ibu takut. Shanum malah bersyukur kalian tetap berada di sisi Shanum, tidak lantas lari terbirit-birit."


"Em, sebenarnya Ayah tadinya sempat berpikir begitu sih," akunya sambil cengar-cengir.


"Oo, jadi Ayah menarik tangan Ibu itu mau mengajak melarikan diri, begitu ya. Terus membiarkan putrinya begitu saja menjerit-jerit." Ibu berkacak pinggang sambil melotot pada ayah.


"Itu reaksi refleks, Bu. Tapi kan tidak kulakukan. Aku juga tidak mungkin meninggalkan putri kita menderita begitu," sanggah ayah.


Ibu menghempaskan dirinya duduk di atas ranjang sambil bersungut-sungut. Sedang Ayah diam membeku.


"Ibu--Ayah, kalian jangan bertengkar dong. Sekarang Shanum tidak apa-apa kok. Maaf, karena Shanum kalian jadi kerepotan," ucap Shanum pelan. Wajahnya terlihat memelas sedih melihat reaksi Ibu dan Ayahnya.


Ibu menghela napas mendengar ucapan Shanum, ia menatap Ayah. "Baiklah, maafkan Ibu ya, Ayah." Ibu mendekati ayah dan mengecup punggung tangannya. Ayah sontak berdiri, lalu mendekap Ibu, ia mengecup dahi Ibu.


Mata Shanum berkaca-kaca melihat sikap mesra keduanya. Dia jadi kembali teringat pada Khan. Oh, Tuhan, sampai kapan dia akan tersiksa seperti ini.


"Oh iya, Ayah--Ibu, Shanum katanya memanggil-manggil nama seseorang. Apa kalian mendengar jelas namanya?" tanya Shanum ingin tahu. Ia kembali mengambil roti panggang dari piring.


Ayah menoleh, lalu bertatapan dengan ibu. Kemudian Ayah mendengus, bibirnya mencibir, "Siapa lagi, ya pria yang bernama Khan itu. Sepertinya kau merindukan pria itu," kata Ayah terlihat kesal.


Shanum terdiam. Wajahnya terasa panas. Dia memegang kedua pipinya sambil menunduk. "Ayah kan, anaknya malu itu," kata Ibu.


Ibu menghampiri Shanum. Ia duduk di samping Shanum. Gadis itu masih menunduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Nak, hei... Ibu sama Ayah mengerti kok. Anak Ibu sudah mulai dewasa, jadi wajar kalau mulai tertarik dengan lawan jenis. Tidak perlu malu." Ibu mengusap rambut gadis itu dengan sayang.


Shanum menurunkan tangannya, dia mendongakkan wajahnya. "Tetap saja Shanum malu dan juga kesal, Bu. Kenapa Shanum masih saja mengingat pria itu?"


"Nak, masalah hati memang cukup susah untuk dilupakan. Pesan Ibu buat Shanum, jangan jadi pendendam ya, Sayang. Kau harus belajar memaafkan dengan ikhlas. Mungkin dengan memaafkannya, kau akan bisa merelakan dan melanjutkan hidupmu."


Shanum mengangguk. "Iya, Bu. Shanum akan belajar untuk memaafkannya." Shanum lalu memeluk Ibunya dengan erat. Dia merasa sangat beruntung memiliki orang tua seperti mereka. Yang begitu pengertian dan penyayang.


Shanum menggeleng. "Shanum juga tidak tahu, Ayah, dan baru kali ini terjadi." Gadis itu bingung, tidak biasanya ia tidak bisa mengingat mimpi-mimpinya. Apakah ini merupakan firasat yang akan datang, jika pria itu berada dalam bahaya. Oh tidak, dia tidak mau terjadi apa pun pada pria itu. Dia bertekad untuk menghubungi Sergei dan meminta pria itu mencari tahu tentang keadaan Khan, dan meminta pria itu berhati-hati.


Melihat wajah Shanum yang keruh, ayah berkata, "Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Sekarang Ayah harus bersiap-siap ke kantor. Kamu hari ini ke kampus, Princess?"


"Iya, Ayah," jawabnya.


"Kalau begitu kamu juga harus bersiap, Nak," kata Ibu.


"Kami tinggal dahulu ya. Kamu benar kan tidak apa-apa?" Ibu menatap Shanum ingin tahu.


"Iya, Bu. Percayalah, Shanum baik-baik saja."


"Oke." Ibu dan ayah menatap putri kesayangan mereka itu dengan lembut. Ayah ingin mengambil baki bekas sarapan tadi, namun dicegah ibu. "Biar Ibu saja yang membawanya, Ayah." Ayah mengangguk. Lalu mereka berdua keluar dari kamar Shanum.


Selepas itu Shanum bersiap-siap untuk berganti pakaian, ia ada bimbingan hari ini. Saat sedang asyik berkutat dengan bedak, dan pelembab bibir, dia mendengar suara ponselnya berbunyi.


Shanum mengerutkan keningnya, ia melihat di layar ponselnya tertera nomor tidak dikenal menghubunginya. Siapa ya? Mau tidak diangkat takutnya penting.


Merasa penasaran, akhirnya Shanum mengangkatnya. "Halo..." Hening... Gadis itu mengernyit. Tetap tidak ada suara yang menjawab. Dia hanya sempat mendengar suara kesiap napas saat ia mengucapkan kata Halo, saat di awal tadi. "Halo, ini siapa ya?" Masih tidak ada suara sahutan dari sisi si penelepon.


Shanum mendengus, lalu mematikan panggilan tersebut. Biarkan saja dia bersikap tidak sopan, peneleponnya sendiri juga bersikap seperti itu. Iseng sekali, menelepon orang tidak bicara apa pun. Shanum memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu kembali bersiap-siap sambil cemberut.


***


Setelah bimbingan, Shanum berjanji dengan kedua sahabatnya untuk bertemu di taman kampus. Ia melambaikan tangannya saat melihat keduanya.


"Hai, tumben sampai lebih dulu di sini, Sha," kata Farah. "Iya nih, biasanya kau bimbingan lebih lama. Kali ini tidak ada sesi curahan hati dan rayuan gombal seperti sebelum-sebelumnya ya." Diva tersenyum geli.


"Iya tidak ada kali ini. Tadi Pak Reno terburu-buru. Dia ada rapat dengan dewan kampus. Tapi aku lega sih, lama-lama risih juga."


"Alah, risih apa senang. Jangan pura-pura, Sha," goda Farah.


"Eh, enak saja. Aku itu tidak punya perasaan apa-apa dengan Pak Reno. Cuma kagum, di catat ya di pikiran kalian," ucap Shanum sambil cemberut.

__ADS_1


"Tapi memang sih, kau harus hati-hati, Sha. Kemarin saja si Cantika sudah mencoba mencari informasi dari kami," ungkap Diva lirih.


"Oh ya, memang dia tanya tentang apa?" tanya Shanum sambil mengerutkan keningnya.


"Dia tanya soal hubungan kamu dan Pak Reno. Sepertinya dia mulai curiga." Diva mengatakannya dengan suara pelan sambil sesekali melihat situasi.


Shanum mengendikkan bahunya. "Terserahlah, aku kan tidak ada hubungan apa-apa dengan dosen itu."


"Tapi kau tetap tidak boleh menganggap enteng masalah ini, Sha. Ingat tidak, Cantika itu pernah membuat seorang mahasiswi mendadak keluar dari kampus karena menjadi korban perundungannya." Farah mengingatkan Shanum.


Shanum menyeringai. "Cantika boleh mencoba, kalau dia berani melakukan itu padaku." Shanum lalu membuat gerak isyarat memotong leher dengan tangannya.


Kedua sahabatnya melongo. Diva lalu menepuk bahu Farah. "Kau lupa, Farah. Shanum kan sakti," bisiknya sambil meringis.


"Ah, iya. Aku lupa. Bisa-bisa Cantika yang jadi korban Shanum ya." Farah memutar bola matanya. Lalu ketiga gadis itu terkekeh bersama.


"Sudah ah, tidak perlu membicarakan Cantika lagi. Aku mau cerita nih, tadi malam ada peristiwa yang membingungkan," kata Shanum.


Kedua sahabatnya diam menunggu kelanjutan kata-kata Shanum. Wajah mereka terlihat ingin tahu. Shanum lalu menceritakannya kembali apa yang diberitahukan oleh orang tuanya.


"Kok bisa ya. Jangan-jangan betul itu suatu firasat, Sha. Nanti aku hubungi Sergei deh ya." Diva tampak berpikir sambil mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari.


"Jangan, biar aku saja yang bicara dengan Sergei," cegah Shanum. Diva mengerutkan keningnya. "Em... kalau kau mau ikut mendengarkan juga boleh kok." Shanum terlihat canggung.


Diva tersenyum geli. "Aku tidak masalah, Sha. Silahkan kau hubungi saja, Sergei. Asalkan nanti kau cerita ya, hasilnya apa."


"Ishh, itu sih sama saja," dengus Farah.


Mendadak suara ponsel berbunyi nyaring. Ketiganya melihat ponsel masing-masing. Ternyata yang berbunyi adalah milik Shanum. Gadis itu melihat nomor yang tertera di layar dan dia tampak tidak senang. Dia menolak panggilan tersebut.


"Loh, kok tidak diangkat, Sha?" tanya Diva.


"Tadi pagi juga ada panggilan dari nomor tak dikenal itu. Setelah aku angkat tidak ada suara yang terdengar menjawab. Cuma hening dan suara napas seseorang. Buang-buang waktu saja meladeni orang iseng."


"Kau yakin nomor yang sama. Coba di cek dulu," ucap Farah.


Shanum mengambil dan memeriksa ponselnya. "Iya benar, sama tuh. Nih, lihat!" Dia menyodorkan ponselnya ke arah Diva dan Farah. Diva meraih ponsel Shanum dan memastikan kembali. Sedang Farah melirik dari sebelahnya.


"Iya benar, sama. Kira-kira siapa ya? Dan apa motifnya?" Diva menimbang-nimbang ponsel di tangannya sambil berpikir. Lalu dia menyerahkan kembali kepada Shanum.


"Kalau menurutku sih, orang itu salah satu penggemarmu, Sha," celetuk Farah.


"Ah, tidak mungkin. Memangnya aku orang terkenal apa punya penggemar." Shanum memutar bola matanya.


Farah tersenyum smirk. "Ada kok, Pak Reno dan Khan Adrian."


"Iya benar, bisa jadi di antara mereka berdua," ucap Diva pelan.


Shanum menatap jauh ke depan ke hamparan rerumputan di taman itu. Dia mencoba menganalisis ucapan para sahabatnya. Angin sepoi-sepoi membawa hawa sejuk yang membuatnya teringat kembali suasana di taman bunga mansion pria itu.


"Begini saja, kalau nanti nomor itu menghubungimu lagi. Kau pura-pura saja menganggapnya Pak Reno. Kau bilang saja begini : Loh, Pak Reno. Bukannya nanti kita mau bertemu. Atau kau ucapkan hal lainnya. Tapi dengan kata-kata yang mesra. Khan itu kan orangnya posesif, biasanya orang yang seperti itu akan merespon." Farah memberikan sarannya sambil menatap Shanum dengan serius.


"Tapi bagaimana jika tetap tidak ada respon?" tanya Shanum.


"Jika begitu, terserah kau mau meladeninya atau tidak." Farah mengangkat bahunya. "Oke, nanti aku coba." Shanum bergumam pelan.


"Eh, omong-omong, aku duluan ya. Hari ini aku ada janji sama Mama, mau beli hadiah ulang tahun untuk Papa," kata Farah.


"Oh, ya sudah. Aku juga mau pulang." Shanum ikut beranjak dari duduknya.


"Iya, aku juga. Sampai besok ya," sambung Diva. Mereka pun berjalan beriringan, menuju ke parkiran mobil mereka masing-masing.


Sesampainya di rumah, setelah Shanum mengganti bajunya, dan sedang bersantai di atas ranjangnya. Dia menerima panggilan lagi dari nomor tidak di kenal itu melalui ponselnya.


Shanum menatap layarnya, dan tersenyum smirk. Dia akan mencoba saran Farah tadi. Dia bangun dari posisi rebahannya, lalu berdeham.


"Halo, dengan Shanum di sini."


Seperti biasa, hanya suara napas yang terdengar. Shanum tersenyum lalu berkata, "Pak Reno, kalau cuma mau dengar suara saya boleh kok. Besok saya akan datang ke ruangan, dan Pak Reno boleh bertanya apa pun. Saya pasti akan menjawab semuanya, tanpa terkecuali." Shanum mencoba mengeluarkan suara mendesah manja, yang sebenarnya membuatnya mual.


"Kau janji... Oke, besok saya tunggu di ruangan saya ya," ucap sebuah suara yang tak lain adalah suara Pak Reno sendiri. Shanum terkesiap, wajahnya memucat. Astaga... mati kau, Shanum! Farah, Sialan!

__ADS_1


__ADS_2