
Shanum membeku saat ia mendekat ke arah Khan dan mendengar kata-kata pria itu. Memang dia yang meminta untuk kembali ke vila. Namun saat pria itu mengatakan dia tidak ingin melihatnya berada di sana perasaannya langsung berdenyut nyeri.
Pria itu marah...
Emosi yang menguasai Shanum seketika menghilang, yang tertinggal hanyalah rasa penyesalan. Ia mengakui memang sudah keterlaluan, dan ia perlu meminta maaf kepada pria itu. Tetapi saat ia melihat wajah Khan yang dingin dan kaku itu, mulutnya terasa berat untuk mengatakannya.
"Kau yakin ingin kembali ke vila, Shanum?" tanya Sergei, mendadak muncul di samping gadis itu. Shanum masih terpaku memperhatikan Khan bangkit dibantu oleh Abdan. Khan tidak menggubris tatapannya kepada pria itu.
"Shanum..." Sergei memanggil lagi seraya menyenggol bahu gadis itu. Shanum menoleh dan terlihat gelagapan sendiri. "K-kau berbicara padaku?"
Sergei menatapnya dengan pandangan khawatir. "Ya, aku bertanya kau jadi kembali ke vila?" Shanum tidak langsung menjawab, ia mengeluarkan suara *******. Shanum merasa mendadak merasa lelah, tapi ia tetap harus memikirkan pertanyaan Sergei tadi dengan seksama.
Dia sendiri bingung dengan tingkahnya. Sejak ia mengenal Khan, perasaan dan pikirannya sering menjadi tidak sejalan. Akal sehat yang biasanya selalu menjadi prinsip kesehariannya dalam bertindak, seolah-olah menghilang tak berbekas. Ia menjadi lebih sering menggunakan perasaannya yang acap kali tak terkontrol.
Shanum merasa malu sendiri, padahal kedua orang tuanya sudah mengajarkannya untuk berpikir dahulu sebelum bertindak. Seperti kejadian barusan, ia bertindak spontan tanpa berpikir dengan akal sehatnya. Ia dengan mudahnya melakukan kekerasan terhadap pria yang dicintainya. Kesabaran yang selalu ia agung-agungkan menguap terbawa angin.
Kini hanya ada kesedihan yang ia rasakan, ketika melihat amarah di mata pria itu. Pancaran matanya terlihat sendu ke arah Khan, namun ia berusaha menutupinya.
"Em, sepertinya tidak jadi. Aku berubah pikiran." Shanum berkata pelan. "Aku ingin membantu kalian membekuk para penjahat itu," tambahnya lagi.
"Ahh, wanita dan pikirannya yang membingungkan," gumam Sergei sembari berdecak.
"Yang Agung, Shanum tidak jadi kembali ke vila. Dia akan ikut bersama kita," kata Sergei. Pria itu menatap ke arah Khan dengan tajam. Sepertinya Sergei tidak suka melihat sikap pria itu terhadap Shanum.
"Aku rasa kita bisa segera pergi sekarang. Jullian dan Abdan, kalian yang akan menemani Yang Agung. Sedangkan aku akan menjaga Shanum. Kuharap tidak ada yang berkeberatan. Bagaimana?"
Jullian dan Abdan mengangguk, begitu juga dengan Shanum, seraya diam-diam melirik ke arah Khan. Pria itu tidak mengatakan apa pun. Wajah tampannya masih tertutup oleh ekspresi dinginnya yang biasa. Shanum menghela napasnya. Dia tidak bisa membaca pria itu lewat ikatan mereka, pria itu memblokirnya. Jadi gadis itu benar-benar kehilangan kontak dengannya.
"Ayo, Shanum." Sergei menarik siku gadis itu dan tangannya tetap berada di sana sambil mereka melangkah menuju hutan. Samar-samar Shanum merasa ada yang menggeram di belakang mereka. Tapi saat ia menoleh suara itu menghilang.
"Kau tidak apa-apa, Shanum?" bisik Sergei di dekat telinganya. Pria itu menatapnya dalam jarak yang dekat sekali. Shanum menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
Sedangkan Khan yang melihat kedekatan antara Sergei dan Shanum merasa geram. Darahnya terasa mendidih di pembuluh darahnya. Pria itu tidak suka melihat Sergei dekat-dekat dengan Shanum.
"Kau mau melihat sulap Shanum?" Pria itu tersenyum nakal ke arah gadis itu.
"Sulap?"
Shanum mengerutkan keningnya bingung. Dia heran, mengapa saat mereka sedang serius mendekati musuh, pria itu malah bertindak konyol menawarkan sulap.
"Ya, kau perhatikan mataku baik-baik." Sergei berhenti melangkah. Dia memberi isyarat kepada Shanum untuk mengikuti instruksinya, melihat ke arah matanya.
Shanum otomatis berhenti dan melihat serius ke arah pria itu. Bola mata indah Sergei yang berwarna biru itu bergerak-gerak, lalu saling bertemu di pinggir mendekati hidungnya. Mata itu persis seperti penampakan mata orang yang juling.
Melihat hal itu, Shanum memutar bola matanya sembari terkekeh geli. "Aku sudah serius loh, ternyata hanya memperlihatkan mata juling. Aku juga bisa," ledek Shanum. Mata Shanum lalu mengikuti seperti yang dilakukan Sergei tadi.
"Jangan ikuti aku, nanti kau tidak cantik lagi." Sergei tersenyum smirk. Shanum langsung terdiam saat mendengar kata-kata pria itu. Dia merasa hawa dingin seketika bertiup di sekelilingnya. Dan hal itu membuat bulu kuduknya merinding.
__ADS_1
"Kenapa kau mendadak diam, Shanum?" tanya Sergei dengan senyum nakalnya. Shanum melirik ke arah Khan yang berada tidak jauh darinya. Dia merasa pandangan pria itu semakin dingin menatapnya dan Sergei.
"Aku belum selesai. Sekarang perhatikan aku lagi," lanjut pria itu. "Sergei, tolong jangan bercanda lagi. Aku tidak mau membuat Khan semakin marah," bisik Shanum di telinga Sergei.
"Biarkan saja. Bukankah dia mengacuhkanmu. Jadi kau tidak perlu juga menggubrisnya juga," jawab Sergei. "Sekarang kau lihat mataku lagi."
Shanum menghela napasnya. "Kau yakin, ini tidak akan berakhir buruk?"
"Tidak, percaya saja padaku." Sergei lalu kembali memberi isyarat dengan kedua jarinya untuk menatap matanya. Gadis itu mengikutinya, dia melihat mata pria itu berkilat iseng.
Shanum tidak tahu apa maksud Sergei? Wajah tampannya yang seperti malaikat itu mulai bercahaya. Lalu dia mengusapnya, dan cahaya dari wajahnya berpindah ke dalam telapak tangannya. Mengapa wajahnya bisa bercahaya bagaikan kunang-kunang? Shanum melongo takjub.
Lalu pria itu memutar cahaya tersebut dengan kedua belah telapak tangan menjadi berbentuk bola. Kemudian bola cahaya itu dilemparkannya ke atas. Shanum mengikuti pergerakan bola tersebut dengan pandangan matanya. Bola itu bergerak naik, lalu kembali turun setelah berada pada salah satu titik.
Sergei merentangkan tangannya ke atas, lalu menjentikkan jarinya. Bola cahaya itu mendadak berhenti bergerak. Sekeliling mereka langsung bersinar terang. Shanum melihat bergantian ke arah bola cahaya itu dan wajah Sergei. Gadis itu terpana.
"Bagaimana?" tanya pria itu.
Shanum bertepuk tangan sembari mendesah keras dan berkata, "Sebuah pertunjukkan yang luar biasa. Kau harus mengajarkan triknya padaku. Bagaimana caranya? Ayo katakan?" Shanum tersenyum lebar ke arah Sergei dengan wajah penuh antusias.
Sergei mendekati Shanum. "Kau yakin ingin mempelajarinya dariku. Padahal kekasihmu itu wajahnya sudah nyaris retak sejak tadi," bisik pria itu dengan terkekeh geli.
Shanum langsung melihat ke belakang. Dia memandang Abdan sedang tersenyum tipis dan Jullian masih dengan wajah tanpa ekspresinya. Sedangkan Khan, rahang pria itu mengetat, wajahnya tampak keruh. Tatapan tajamnya di arahkannya ke Sergei bukan ke dirinya. Seakan-akan dia ingin mencabik-cabik pria itu.
Cahaya terang yang kini menaungi mereka semakin memperlihatkan kejelasan ekspresi pria itu. Jantung Shanum langsung mencelos melihat ekspresi Khan. Namun gadis itu juga bingung, apa yang menyebabkan pria itu marah kepada Sergei?
Sergei mengangkat bahunya. "Sama-sama Shanum. Jika nanti kau ingin menuntut ilmu padaku, dengan senang hati aku akan membantumu." Sergei menarik siku Shanum, mengajaknya kembali melangkah.
Namun mendadak tangan pria itu ditarik dan dihempaskan dengan kasar. Keduanya serentak menoleh. "Jauhkan tangan kotormu itu darinya!" desis Khan dengan mata berkilat marah. Sergei mengangkat alisnya seraya tersenyum mengejek.
Shanum menggeleng ke arah Sergei. Dia tidak ingin hal ini berkembang menjadi rumit. "Hentikan, Adri! Apa maksudmu ini?" Shanum menatap tajam ke arah pria itu.
"Aku tidak suka dia menyentuhmu," jawab Khan dengan nada suara dingin. Shanum mengangkat dagunya. "Bukankah kau mengatakan tadi tidak mau melihatku. Jadi anggap saja aku tidak berada di sini." Gadis itu lalu memberikan isyarat kepada Sergei untuk tidak mengindahkan Khan.
Tetapi memang pada dasarnya pria itu sengaja ingin memprovokasi Khan, dia malah menyeringai dan memandang Khan dengan isyarat tantangan. Khan menggeram, namun tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia membalikkan badannya dan berjalan kembali ke tempatnya semula dengan wajah penuh emosi.
Shanum menarik jaket Sergei, mengajaknya kembali melangkah. "Ternyata dia masih bisa cemburu, Shanum," bisik pria itu sembari tersenyum geli. Shanum menatap tajam ke arah Sergei seraya memberi isyarat untuk menutup mulutnya. Pria itu terbahak, "Oke, aku akan berhenti mengganggunya."
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Semakin masuk ke dalam hutan, mereka melihat pemandangan mengerikan dari hutan itu. Bola cahaya Sergei menerangi dan mengikuti setiap langkahnya. Pohon yang mereka lewati sepenuhnya terlihat jelas banyak yang hangus terbakar. Bahkan ada beberapa yang masih mengeluarkan asap.
Shanum merasa ingin mencekik mereka yang bertanggung jawab atas hal ini. Hutannya yang indah dengan warna kehijauan berubah menjadi hitam berbalut abu.
Meski banyak pohon yang sudah habis terbakar, anehnya tidak ada sinar matahari yang menerangi sekeliling mereka. Jika tidak ada bola cahaya Sergei yang menerangi dan mengikuti, hutan akan tampak remang-remang cenderung gelap.
"Apinya kan sudah padam, dan menyisakan onggokan pohon yang hangus. Tetapi mengapa tidak ada sinar matahari yang masuk ke hutan ini, Sergei?" tanya Shanum. Gadis itu heran melihat penampakan sekelilingnya.
"Mereka memang menyalakan api hanya untuk memancing kita menuju ke sungai itu. Dan keremangan dalam kabut ini merupakan salah satu sihir mereka juga. Kita tunggu saja dan lihat, apa mau mereka sebenarnya?" sahut Sergei dengan wajah menahan amarah. Pria itu juga tidak menyukai tindakan para pengacau itu yang sengaja membakar hutan hingga nyaris tak bersisa.
__ADS_1
"Wah... wah, akhirnya kalian muncul juga. Kami sudah menunggu cukup lama di sini." Seruan itu diucapkan dalam Bahasa Inggris yang fasih dan terdengar dari kegelapan di samping kanan Shanum, mengirimkan sinyal bahaya ke dalam otaknya. Mereka semua menoleh dan berbalik ke arah asal suara itu.
Sosok yang muncul mengenakan jaket panjang bertudung. Dia masih berdiri di balik bayang-bayang kabut. Jika menilik dari jenis suaranya, yang sedang berbicara itu adalah seorang wanita. Shanum memicingkan matanya, mencoba melihat wajah orang tersebut.
"Dan aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan Jenderal besar dari Klan Bataar di sini." Sergei membalas sapaan orang tersebut, namun dalam Bahasa Mongolia.
Sosok tersebut membeku saat mendengar ucapan Sergei, tetapi kemudian dia tertawa keras. Suara tawanya terdengar merdu di telinga Shanum. Sungguh bukan suara yang cocok untuk seorang Jenderal yang biasa berkutat dengan kekerasan dan intrik politik. Suara itu lebih sesuai menjadi seorang biduan.
"Psst... Sergei, kau yakin dia seorang Jenderal. Suaranya sungguh indah, tidak sesuai dengan jabatannya," bisik Shanum.
"Ya, dia Sofia, Jenderal Klan Bataar. Percayalah, suaranya itu merupakan pemikat musuh untuk dapat masuk ke dalam perangkapnya. Kau tidak boleh lengah, sebab dia berbahaya."
Wanita itu memberi isyarat tangan dan di sisi kiri dan kanannya muncul beberapa sosok pria. Kemudian mereka keluar dari bayang-bayang. Kini terlihat lebih jelas di mata Shanum, wanita itu memiliki wajah natural Asia yang sungguh manis.
Netra matanya berwarna coklat, dinaungi alis dengan warna senada yang rapi. Hidungnya terlihat mungil, namun sesuai dengan lekukan pipinya yang lembut. Kulitnya berwarna putih, tetapi tidak pucat, tetap ada semu kemerahan seperti wanita yang sedang blushing.
"Tidak menyangka, ternyata aku bertemu dengan orang sebangsa di negara ini. Dan mungkin karena kita sebangsa, bolehkah aku meminta gadis itu?" Wanita itu memberikan senyum berbisanya.
Sergei berdecih dan Khan menggeram sebagai reaksi ucapan wanita itu. "Ooh, sepertinya tidak boleh," lanjut wanita itu sembari tertawa kembali.
Seharusnya Shanum tidak perlu kaget, wanita itu memang menginginkannya, sesuai dengan informasi yang ia dapatkan sebelumnya. Namun mendengarnya langsung dari bibir wanita itu tetap saja membuat tubuhnya bergetar takut.
Wanita itu menelengkan kepala, ia melepas tudungnya dan terlihat helaian hitam panjang rambut yang terlepas dari tudung itu, bergerak mengikuti gerakannya. Kedua mata coklatnya berkilauan di bawah bola cahaya sementara tatapannya tertuju kepada Shanum.
Satu tangannya terangkat ke arah Sergei dan Khan, yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisi Shanum. Jullian dan Abdan masih bersiaga di tempat mereka berdiri. Mereka waspada penuh dengan satu tangan yang terangkat itu, menunggu apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.
"Oww, perlindungan yang menarik, terhadap seorang gadis yang tak berharga." Wanita itu berkata, sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jubah, sementara para anak buah wanita itu tetap bersiaga penuh dengan pedang yang mereka bawa.
Wanita itu menatap Shanum perlahan, lalu mendecakkan lidahnya saat melihat keempat pria itu mengeluarkan pedang mereka dari balik jaket. Pedang itu bisa dilipat seperti pisau, dan juga bisa dipanjangkan mengikuti keinginan. Mereka melapisinya dengan sihir dan pedang itu siap untuk digunakan.
Shanum terperangah kaget, ternyata selama ini mereka membawa pedang yang bisa disimpan di dalam saku. Dan dia tidak pernah menyadarinya sama sekali.
"Sebaiknya kau pergi dari sini," Khan menggeram, berjalan selangkah mendekati wanita itu. Gerakan pemangsa, mata coklat keemasannya meredup dan mematikan. Dia lalu membuka tudung dan mengacungkan pedangnya.
Wanita itu mendecakkan lidahnya lagi. "Bedebah! Ternyata informasi yang kudapatkan tidaklah benar. Kau seorang pria. Dan aku curiga kalian semua juga pria kecuali gadis itu." Wanita itu memicingkan matanya sembari melihat ke arah keempat pria itu. "Dan aku tetap tidak mau pergi dari sini. Aku harus membawa gadis itu, hidup atau mati."
Shanum merasa ada lubang di perutnya. Dia meneguk ludahnya. "Jangan pernah berani menyentuh gadis itu." Mata Khan berkilat tak senang. "Karena dia milikku."
Wanita itu sempat terdiam mendengar ucapan kepemilikan Khan terhadap Shanum. Tapi kemudian ia mengentakkan dagunya ke arah Khan. "Kalau begitu tidak ada jalan lain. Kita harus bertarung untuk mendapatkan gadis itu," katanya.
Shanum terlalu gemetar untuk bicara. Tidak percaya dia akan diperebutkan seperti itu. Dan ucapan Khan barusan, sempat membuat hatinya melonjak senang, setelah sebelumnya merasa nyeri oleh penolakan pria itu. Gadis itu juga sudah bersiap untuk melawan. Sembari memegang untaian kalung yang dikenakannya, ia bergumam dalam hati untuk keberhasilan mereka menghadapi pertarungan itu.
"Silahkan, kami akan meladeni." Mulutnya membentuk garis sadis. "Kau ingin mengatakan pesan terakhir sebelum kematian menjemputmu? Atau kau ingin memilih bagaimana cara kau nanti mati?"
Shanum membeku mendengar kata-kata Khan. Gadis itu tahu, selama ini kekasihnya itu menyembunyikan kebrutalan yang dipoles dengan sangat sempurna. Tapi melihatnya langsung di depan mata seperti ini tetap saja membuat bulu kuduknya berdiri semua.
Bahkan peperangan dengan Chinua saat itu tidak memperlihatkan wujud Khan yang seperti ini. Shanum curiga perilaku itu merupakan akumulasi dari kemarahan yang dialami pria itu hari ini. Dan itu semua adalah karena dirinya.
__ADS_1