Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 101 Penyempurnaan Ikatan


__ADS_3

Shanum mengusap lehernya, dia merabanya. Suatu energi berdenyut di leher tersebut. Dia penasaran ingin melihat sesuatu yang berada di sana.


"Kau tidak perlu cemas. Itu hanya tanda berpasangan. Semua yang sudah menikah di duniaku pasti akan memilikinya." Khan ternyata memperhatikan perilaku Shanum, meski mereka sebelumnya sibuk berkeliling kepada keluarga dan para tetua serta dewan bangsawan dari Klan Batbayar.


"Apakah tanda ini permanen." Shanum masih memegang sisi lehernya itu.


"Tanda itu akan menghilang jika salah satu pasangannya telah meninggal dunia atau mereka berpisah dan mengucapkan mantra pemutus hubungan," jawab Khan, sembari membimbing Shanum untuk duduk di bangku yang telah disediakan untuk mereka.


"Jadi ada mantra seperti itu? Tapi mengapa informasi yang aku dapatkan berbeda ya? Ikatan di antara kita tidak bisa diputuskan oleh mantra pemutus apa pun?" tanya Shanum meneruskan pembahasan tentang ikatan tadi.


"Mantra itu hanya untuk pasangan biasa, Shasha. Pasangan yang memiliki ikatan jiwa seperti kita memang tidak dapat dipisahkan. Aku juga baru tahu tentang hal itu dari Eej."


"Ya, hanya kematian yang dapat memisahkan kita," gumam Shanum.


"Bahkan setelah kematian pun salah satu pasangan yang ditinggalkan tidak akan bisa mencari pasangan lagi. Eej mengatakan bahwa ia dan Ayahku juga pasangan sejiwa."


"Sebentar, jika orang tuamu pasangan sejiwa, bagaimana dengan nenek buyutmu. Aku dengar dalam mimpi, kakek leluhurku mengatakan nenek buyutmu juga merupakan pasangan satu jiwa dengan kakek buyutmu."


"Ya, Nekhii memang memiliki ikatan itu juga dengan pasangannya. Dan ikatan itu terpisah ketika suaminya wafat. Kalung jiwa itu memilih diriku saat berhubungan dengan Ayahnya Khan." Eej mendadak berada di dekat Shanum, ia duduk di sebelah gadis itu.


"Kalung yang sangat indah. Ini pasti kalung jiwa dari Klan Batbayar. Aku menyadarinya dari warna yang dipancarkannya." Eej menyentuh kalung di leher Shanum.


"Ya, ini kalung jiwa milik Klan Batbayar. Aku senang ternyata tidak perlu mencari Nekhii untuk bertanya tentang kalung jiwa ini, karena ada Eej yang bisa kutanyai."


Eej tersenyum. "Ya, aku mendengar kalian berdua membicarakanku. Memangnya apa lagi yang ingin kau ketahui Shanum?" tanya wanita itu.


"Em, tadi Khan mengatakan kepadaku bahwa jika salah satu pasangan wafat, pasangan yang ditinggalkan tidak akan bisa mencari pasangan lagi. Mengapa?"


"Karena jiwa itu tidak akan pernah tertarik dengan yang lain. Pasangan jiwa yang ditinggalkan akan selalu merasakan kehampaan jika dipaksa untuk mencari pasangan lagi. Hal itu tentu tidak adil untuk pasangannya yang baru, dan dapat menimbulkan konflik."


"Apakah ada yang dipaksa untuk berpasangan lagi, Eej?"


"Ada, jika pasangan yang ditinggalkan itu belum memiliki keturunan. Dia pasti disuruh menikah kembali hanya untuk mendapatkan anak. Tapi biasanya hal ini berlaku untuk pria, dan wanita yang masih bisa melahirkan anak."


"Oh begitu."


"Oh satu lagi, Eej. Aku menemukan keanehan. Mengapa kalung jiwa yang muncul padaku dari Klan Batbayar, bukan kalung jiwa milik Klan Altan?" tanya Shanum lagi.


Eej tersenyum kembali. "Karena kalung jiwa milik Klan Batbayar sudah memilih wanita yang seharusnya memilikinya, yaitu dirimu. Aku juga tidak mengerti cara kerja kalung itu. Tapi aku yakin kalung dari Klan Altan akan muncul juga suatu saat nanti." Eej mengusap lengan Shanum.


"Lagipula, kau memiliki darah seluruh klan, Shanum. Jika kalung itu hanya muncul berdasarkan darah, bisa-bisa seluruh kalung jiwa dalam semua klan berkumpul hanya kepadamu saja. Kasihan kan nanti pasangan jiwa lainnya, tidak akan mendapatkan jatahnya," seloroh Eej sambil terkekeh geli.


"Cukup Eej, kau memonopoli pengantinku." Pria itu menarik tangan Shanum. "Dan kau, Nyonya Khan, kau tega sekali melupakan suamimu tepat di hari pernikahan. Sepertinya suamimu ini sangat perlu menghukum dengan adil." Khan menggeram, lalu mendadak menarik Shanum dalam pelukannya dan mulai menggendongnya.


Sorak-sorai terdengar ramai dari seluruh penjuru tempat pesta itu. Mereka semua menggoda Khan dengan berbagai kata-kata ledekan.


Shanum tersipu malu, ia menyembunyikan wajahnya pada kehangatan dada Khan. "Maafkan kami, sepertinya istriku ini lelah. Jadi kami perlu pergi ke kamar." Ucapan Khan tentu saja mendapatkan reaksi riuh susulan dari para tamu. Terlihat jelas sekali pria itu hanya beralasan untuk segera membawa mereka keluar dari pesta.


Astaga, Adri. Jangan mengucapkan hal memalukan seperti itu.


Shanum mengucapkannya dalam ikatan mereka. Gadis itu sangat malu mendengarkan kata-kata dusta itu.


Biarkan saja, Sayang. Aku memang sudah tidak sabar untuk membawamu ke kamar kita. Karena aku ingin segera menuntaskan ritual terakhir dalam ikatan jiwa kita.


Shanum menelan ludah dengan susah payah. Dia tahu apa maksud suaminya barusan. Pria itu langsung meminta haknya sebagai suami di malam ini juga. Meski hal yang wajar bagi seorang suami melakukan hal itu. Shanum tetap saja merasa takut.


Sesampainya di kamar, setelah melalui perjalanan panjang menelusuri lorong-lorong kastil. Khan menurunkan Shanum di pinggir ranjang dengan hati-hati. Gadis itu melongo saat melihat ranjang yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar. Dan juga lilin-lilin beraneka warna yang menghiasi seluruh ruangan. Suasana itu tampak romantis di matanya.


"Kau yang melakukan ini, Adri?" tanya Shanum terperangah.


"Ya. Lebih tepatnya aku yang meminta mereka menghiasnya seperti ini," jawab pria itu.


"Oh, Adri... Aku tak bisa berkata-kata. Sudah cukup kaget aku menerima pesta pernikahan impianku, bahkan sekarang kamar pengantin kita juga dihias dengan sangat cantik."


"Melihat wajah bahagiamu, sudah lebih dari cukup untukku, Shasha." Pria itu berkata dengan lembut.


"Ya ampun, bisa diabetes aku lama-lama, Adri. Kata-katamu sungguh manis."


Khan tersenyum. "Oke, cukup sekian rayuannya. Sekarang kita langsung saja ke intinya, kau mau mandi terlebih dahulu, apa hanya berganti pakaian saja tanpa mandi?" tanya Khan.


"Tentu saja aku memilih mandi." Shanum menjawab dengan cepat.

__ADS_1


"Sudah dapat kutebak dengan tepat. Ayo sekarang aku bantu kau melepaskan gaun pengantin itu. Pasti susah untuk melakukannya sendiri."


"Em, terima kasih. Tapi tidak perlu, Adri. Aku sanggup melakukannya sendiri," jawab Shanum dengan pipi memerah menahan malu.


Khan mencubit dagu Shanum dengan lembut. "Aku hanya membuka kancingnya saja. Nanti kau bisa melepaskan pakaiannya di kamar mandi. Atau kau ingin aku melucutinya sekalian di sini?" Khan tersenyum smirk.


"Ihh, tentu saja tidak." Shanum mengerucutkan bibirnya. Wajahnya semakin merah padam.


Khan pun tertawa geli. "Oke, aku cuma becanda." Lalu pria itu menyuruh Shanum membalikkan badan dengan isyarat tangannya, menjadikan Shanum memunggunginya. Shanum menurut, dan Khan mulai membuka kancing yang terdapat pada gaun pengantin itu satu persatu.


Khan tahu ia seharusnya tidak menyiksa diri dengan melakukan semua hal ini. Chinua tadi sempat menawarkan pelayan pribadinya untuk Shanum. Tapi Khan menolaknya, ia hanya ingin berdua saja bersama istrinya, tanpa adanya kehadiran orang lain.


"Oke, sudah selesai." Khan memberikan pengumumannya. Kemudian ia ikut membantu membimbing Shanum ke dalam kamar mandi.


"Aku akan memakai kamar mandi di kamar sebelah. Jadi tidak perlu terburu-buru." Khan maju selangkah lalu mengecup kening Shanum.


"Aku harap kita bisa menuntaskan ritual ikatan berpasangan itu malam ini." Pria itu menyeringai saat ia melihat Shanum membeku.


Kemudian dengan terburu-buru dan tampak gugup, Shanum segera mundur ke dalam kamar mandi. Ia segera menutup pintunya tanpa merespon dengan kata-kata. Suara tawa Khan terdengar geli dari balik pintu kamar mandi. Shanum menghembuskan napas.


Kemudian melangkah mendekati kaca wastafel, ia menatap wajahnya ke dalam cermin dan terkekeh geli. Dia menyadari tingkahnya sungguh konyol, seharusnya ia sudah siap melakukan hal yang diminta Khan tadi. Karena seorang istri sudah pasti harus melayani suaminya.


Namun, entah mengapa Shanum sangatlah gugup dan juga malu. Shanum menggelengkan kepalanya, ia harus segera bergegas. Tidak mungkin ia berlama-lama di sini. Menunda-nunda sesuatu yang tidak akan mungkin dihindari lagi. Dia sudah bersumpah, dan akan menepati sumpahnya tersebut.


Setelah berada di kamar mandi kurang lebih lima belas menit, Shanum keluar dari tempat itu. Dia menyampirkan gaun pengantinnya di atas kursi meja rias. Dan menemukan Khan sudah duduk di sisi tempat tidur. Pria itu sudah mandi dan berganti pakaian. Pria itu memperhatikan gerakannya dalam diam.


"Em, aku melupakan baju gantiku. Jadi aku memakai bathrobe yang tersedia di kamar mandi," ucap Shanum sembari merapatkan bathrobe yang digunakannya dengan tangan sedikit gemetar.


Khan mendekat ke arah Shanum, mengulurkan tangan, dan meletakkan satu jari di bawah dagu gadis itu, mendongakkan wajahnya. Begitu tatapan mereka bertemu, Khan tahu ia tidak akan melepaskan Shanum meskipun dunia meledak di sekeliling mereka. Ia ingin mengklaim Shanum dengan hasrat menggebu yang mengejutkan dirinya sendiri.


"Pakai saja. Bathrobe itu bersih. Dan menurutku, kau tidak perlu berganti pakaian lagi. Nanti juga pakaian itu akan dibuka kembali olehku," ucap Khan dengan suara serak.


Shanum menelan ludahnya, dia terpaku diam. Setelah momen panjang yang membuat seluruh sarafnya menegang kaku, Shanum tersenyum mengangguk sembari memperlihatkan wajah malu-malunya.


Khan meniadakan jarak di antara tubuh mereka, menarik Shanum merapat, ibu jarinya membelai kulit selembut kelopak bunga itu.


Ekspresi Shanum merupakan perpaduan keberanian dan sesuatu yang lebih rapuh, yang membuat Khan merasa sangat protektif. "Kau sudah siap?" desaknya.


Gagasan itu membuat Khan merasa kecewa. Wajahnya mengeruh. Namun ia menyembunyikannya. "Andaikata kau meminta demikian, aku tidak bisa memaksamu. Aku tidak mau ada penyesalan, jadi aku kembalikan kepadamu untuk memilih."


Mata Shanum menyala. Pria di hadapannya ini, suaminya ini, memberikan seluruh keputusan berada di tangannya, meski Shanum tahu hal itu sangat menyiksanya. Anehnya Shanum merasakan sebuah gelora hasrat merambat dalam darahnya. Dia menjadi menginginkan pria itu, dan semakin parah sekarang, setelah mendengar kalimat tulusnya.


Shanum meraih tangan Khan dan meremasnya. "Lakukan, Adri! Aku sudah siap." Shanum tidak bisa berkelit lagi.


Kelegaan membuat dada Khan mengembang. Sejenak ia sempat takut Shanum akan berubah pikiran. Khan meluncurkan tangan ke tengkuk Shanum, di bawah rambutnya, dan menekankan bibirnya pada bibir Shanum. Tubuh Khan sudah bereaksi dengan hasrat yang ia tahu tidak bisa menunggu lagi.


Setelah selesai mencium Shanum, Khan menjauhkan diri. "Jangan cemas, aku akan bersikap lembut, percayalah."


Shanum tersenyum, ia berusaha menutupi kegugupannya dari Khan. Tapi pria itu tentu saja tahu. Mereka satu jiwa, segala hal yang dirasakan Shanum, jika gadis itu tidak menutup aksesnya, Khan dengan mudah dapat membacanya.


Pria itu membimbing Shanum untuk duduk di pinggir tempat tidur. Kemudian ia melepaskan tangan Shanum dan berbalik untuk menghadapnya. Mata besar Shanum terbuka lebar. Bibirnya masih membengkak akibat ciuman tadi.


Khan berusaha mengendalikan diri. Shanum masih polos. Sebenarnya ia nyaris takut untuk menyentuh Shanum. Tidak yakin apakah ia bisa menahan diri. Khan mengumpat tanpa suara. Ia tidak pernah setegang seperti ini. Meski dalam pertarungan sekalipun.


"Lepaskan pakaianku," perintah Khan dengan lembut. Lagi-lagi Shanum merasa kikuk. Dia menarik napas dalam, lalu segera mengembuskannya. Khan sempat berpikir Shanum akan menolak. Tapi ia akhirnya mulai berkutat dengan kancing-kancing pakaian tidur yang Khan kenakan, perlahan melepas satu persatu. Jemarinya menyapu kulit Khan yang panas dengan belaian seringan bulu.


Khan mengertakkan rahang. Ketika melihat ujung lidah Shanum terjulur, dan cara gadis itu menggigit bibir bawah saat berkonsentrasi, sebulir keringat muncul di kening Khan. Kemudian saat tangan mungil Shanum mulai merambat ke dekat karet celananya, pria itu menahan napasnya.


Sekarang, Khan merasa tidak tahan lagi. Ia meraih tangan gadis itu, mengangkat keduanya dan menempelkan ciuman di tengah-tengah setiap telapak tangan, hingga membuat Shanum terkesiap keras. Perlakuan Khan itu menimbulkan rasa hangat yang menggelegak dalam darah Shanum.


Khan menurunkan tangan Shanum, lalu melepaskan genggamannya. Ia berdiri dan menanggalkan atasan pakaian tidurnya, lalu membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai.


Tatapan mata Shanum terpaku intens pada dada Khan. Pipi gadis itu bersemu merah. Khan bisa melihat Shanum mengepalkan sebelah tangan, seolah-olah sedang menahan diri agar tidak menyentuhnya.


Lalu Khan menariknya berdiri, membuka kepalan tangan Shanum, dan meletakkan di tengah dadanya sendiri. "Kau boleh menyentuh tubuhku sesuka hatimu, Istriku," bisik Khan.


Sentuhan Shanum dingin, tapi menimbulkan sensasi membakar yang lebih panas daripada sentuhan paling menggoda sekalipun. Gadis itu mendongak, memandangnya, dan Khan melepaskan tangannya sendiri dari tangan Shanum.


Dengan ragu-ragu, Shanum memulai penjelajahannya. Menyusuri otot-otot di bawah kulit Khan. Pria itu mendesis pelan.


"Apa aku menyakitimu?" tanya gadis itu.

__ADS_1


Khan menggeleng dan terkesima oleh guratan cemas yang tidak dibuat-buat di wajah Shanum. "Tidak. Yang kurasakan justru sebaliknya."


Rona di wajah Shanum kian jelas. Tangan gadis itu kini bergerak ke bawah, menyapu perut Khan yang terlihat seperti roti sobek itu.


Shanum akan menyiksanya, pikir Khan. Pria itu menahan napasnya. Lalu tangan mungil Shanum terlihat gemetar dan ragu-ragu saat mencapai pinggang celana pria itu. Shanum mendongak, menatap pria itu dan menggeleng. "Aku tidak sanggup. Maaf..."


Khan balas menggeleng dan menangkup rahang Shanum, mendongakkan wajahnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sayang."


Khan melepaskan Shanum dan berkata, "Aku ingin melihatmu. Buka bathrobenya."


Shanum menggigit bibir, lalu menggerakkan tangan melepas ikatan bathrobe dan menyingkirkannya dengan perlahan dari tubuhnya.


Khan terpesona. Ia tidak pernah melihat seorang wanita yang menggugah dan sensual seperti istrinya itu. Melihat pandangan takjub Khan padanya, membuat Shanum semakin malu. Secara refleks Shanum bersedekap untuk menutupi tubuhnya.


Dengan lembut, Khan menurunkan tangan Shanum.


"Kau cantik," ucap pria itu.


"Tak seorang pun pernah melihatku seperti ini. Jadi aku merasa risi," kata Shanum dengan gelisah.


"Kalaupun ada yang pernah melihatnya, percayalah... orang itu harus mati!"


Shanum melongo, lalu memutar bola matanya. "Bagaimana jika dia adalah seorang wanita?"


"Berarti wanita itu harus bersumpah kepadaku untuk tidak pernah mengingat-ingat apa yang pernah ia lihat," ucap Khan dengan nada suara tegas.


"Huh, dasar pria posesif."


Senyum geli terlihat di bibir Shanum. "Tapi aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama, jika ada wanita lain yang melihat tubuh suamiku."


Mendengar ucapan Shanum, sisi liar dalam diri Khan meroket. Pria itu menggeram, lalu menghela Shanum ke atas ranjang. Shanum menelan ludahnya, tenggorokannya terasa tercekat, merasa kaget.


"Berbaringlah, Sayang." Kali ini perlakuan Khan lebih lembut. Pria itu berusaha mengekang sisi liarnya tersebut.


Belum saatnya Khan. Istrimu akan lari terbirit-birit jika diperlakukan dengan liar di saat pertamanya.


Perlahan Shanum membaringkan tubuh. Tatapannya terkunci pada Khan. Pria itu dengan cepat melepas sisa pakaiannya, lalu ikut berbaring di sebelah Shanum, tubuhnya miring menghadap gadis itu.


Shanum tidak berani bergerak, sangat sadar betapa gugup dirinya saat ini. Apalagi dia menyadari suaminya itu juga sudah melepas seluruh pakaiannya.


Khan menyentuh perut Shanum, merentangkan jemarinya di sana dan nyaris bisa mencakup keseluruhan perut gadis itu dalam rentangan jarinya. Otot perut Shanum berkedut di bawah tekanan telapak tangannya.


"Aku akan menjadikan ini indah bagimu, Shasha. Percaya saja padaku. Oke?"


Shanum mengangguk. Khan bangkit dari posisi berbaringnya. Kini ia bertumpu kepada kedua tangan di atas kasur. Khan menunduk dan kembali mencium gadis itu, lama dan dalam. Ia menaikkan tubuh Shanum sedekat mungkin tanpa membuat diri gadis itu menerima beban tubuhnya.


Shanum begitu lembut dan halus, tetapi gadis itu gemetar di bawah sentuhannya, seperti busur yang tegang.


"Tidak perlu takut, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu." Khan berbisik lembut di telinga Shanum.


Akhirnya Shanum melepaskan seluruh rasa takut dalam dirinya dan menggantinya dengan rasa percaya. Dia percaya pada janji suaminya, percaya bahwa ia tidak akan tersakiti. Shanum menyerahkan diri dengan kepolosan manis kepada suaminya.


Mereka secara alami bersatu-padu dengan mulus. Khan membimbing Shanum, dan gadis itu mengikuti semua arahan Khan. Saat penyatuan itu telah terjadi secara sempurna, sebuah cahaya bergerak mengelilingi mereka. Cahaya itu berasal dari kalung Shanum.


Seiring kemunculan cahaya itu, Khan dan Shanum merasakan suatu kehangatan yang meledak dalam jiwa mereka. Dan ketika rasa itu melingkupinya, untaian mantra kuno berkumandang dari bibir Khan. Lalu berlanjut mengikuti dari bibir Shanum.


Үүрд ​​нэгдсэн. Бие болон сүнс нь хоорондоо холбоотой байдаг. Хэн ч шийдэж чадахгүй.


Shanum mengartikan kata-kata itu dalam bahasa ibunya dan mengulangnya dalam batinnya.


Selamanya bersatu. Jiwa dan raga ini saling terikat. Tak ada yang bisa memutuskannya.


Lengan Khan masih mendekap erat tubuh Shanum sewaktu mereka bergerak berirama. Dan cahaya itu terus melingkupi mereka sejak mantra itu diucapkan.


Kemudian sisa-sisa kendali diri Khan hilang dengan cepat oleh cara tubuh Shanum merespon. Kaki gadis itu membelitnya erat. Dan Khan tidak menyadari apapun lagi, kecuali dentuman cepat jantungnya.


Energi dalam penyatuan sempurna itu membawa Khan jauh ke awang-awang. Dan pada satu titik, mereka berdua bersamaan menggeram. Cahaya itu meledak dan menyebar ke seluruh ruangan, bagaikan pertunjukkan kembang api yang meledak di udara.


Waktu seolah berhenti, untuk menyaksikan keindahan puncak penyatuan jiwa mereka. Dan saat Khan menjejak bumi, dia baru menyadari bahwa peristiwa yang dialaminya barusan sungguh luar biasa, nikmat dan intens.


Khan berguling ke samping dan melihat mata Shanum terpejam. Gadis itu tidak lagi memegang erat lengan Khan, tubuh gadis itu terlihat lemas. Sensasi dingin terasa melanda Khan, meredakan gairahnya, saat melihat bulir-bulir air mata menetes di sudut mata istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang... apa kau baik-baik saja? Apa aku menyakitimu?"


__ADS_2