Wanita Penguasa Klan Altan

Wanita Penguasa Klan Altan
Chapter 128 Tak Bisa Berpaling


__ADS_3

Shanum masih terpaku di tempat dengan kaki gemetar, muak karena kecewa. Sambil menelan ludah melewati tenggorokannya yang panas, dia mendorong dirinya untuk menatap ke arah Khan. Matanya memandang mata Khan dan melihat pancaran kengerian di sana.


"Shanum! Kau tidak apa-apa?" Eej memotong kontak mata keduanya. Wanita itu sembari melemparkan tatapan tajam ke arah putranya itu, sebelum membawa Shanum menjauh bersamanya. Shanum yang masih dalam keadaan linglung mengikuti begitu saja.


"Kau lihat, Shanum. Pria itu tidak pantas untukmu. Berulang kali ia menyakitimu."


Shanum mendengar suara Avraam berteriak keras dari arah belakang punggungnya. Dan ia juga mendengar bentakan tajam dari Chinua, mengatakan pada Avraam untuk menutup mulut busuknya itu. Kemudian tidak terdengar lagi suara pekikannya. Sepertinya Chinua berhasil membungkam pria itu.


Selama kakinya melangkah, Shanum tetap diam seribu bahasa. Pikiran dan ekspresi wajahnya terlihat kosong. Efek perlakuan Khan tadi tampaknya membuat wanita itu syok.


Eej membawa Shanum ke tenda miliknya. Setelah berada di dalam lutut Shanum melemah dan Eej menangkapnya, menurunkannya ke lantai dan memeluknya sementara ia menangis.


"Maafkan putraku, Shanum. Meski aku malu sudah berulang kali mengatakan hal ini kepadamu." Eej mendesah seraya merenggangkan pelukannya.


"Putraku itu memang suka lepas kendali. Terutama jika berkaitan dengan orang yang ia cintai," tutur Eej sambil menatap Shanum dengan suara lembut, mencoba menenangkan menantunya itu.


Lengan yang Shanum lingkarkan di tubuhnya sendiri mengencang. "Apakah kau berkeberatan jika mengantarkanku keluar dari tempat ini, Eej?"


"Astaga, tidak. Tentu saja tidak, Shanum." Lalu Eej menghela napas dalam. "Tapi, apa kau yakin?" tanya Eej dengan ragu, mengkhawatirkan reaksi putranya jika mendengar Shanum akan pergi. Putranya itu akan semakin terpuruk dan dia tahu akan seberapa hebat Khan menyiksa dirinya sendiri.


Pengalaman dengan Sarnai ratusan tahun yang lalu cukup menjadi contoh berat keterpurukan putranya. Entah bagaimana untuk kali ini, jika dengan pasangan jiwanya. Mungkin putranya itu akan bertindak ratusan kali lipat lebih menyedihkan dibandingkan saat dengan Sarnai.


Shanum mendongak menatap Eej, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku kecewa dan... takut."


Eej mendesah, mata coklatnya gelap dan serius. "Kurasa kau harus memutuskan apakah kau akan sanggup menerimanya. Beberapa kesalahan memang tidak selalu bisa diperbaiki. Kau hanya perlu memilih, ingin terus maju atau menghindar."


"Eej..." Shanum mengulurkan tangan dan menyentuh bahu wanita itu. Bagi Shanum, Eej sudah seperti ibunya sendiri. Dia menyayangi wanita itu.


Eej menangkap tangannya dan meremasnya. "Aku ada di sini kalau kau membutuhkanku. Meski Khan putraku, aku tetap akan menegurnya jika dia bersalah."


Khan sedang duduk termenung ketika Shanum mendatangi tendanya. Pria itu menatapnya dan kesedihan menghunjam perutnya. Bukan untuknya, tetapi untuknya. Shanum tidak pernah melihat orang seputus asa itu, sehancur itu.


Kesuraman dalam matanya yang indah membuatnya takut. Tidak ada kehidupan dalam dirinya. Khan pucat pasi dengan bayang-bayang gelap di wajahnya yang tampan.


"Apa yang kau lakukan?" bisik Shanum dengan nada suara gugup.


Khan berdiri menjauh, berbalik memunggunginya, seolah-olah ia ingin berada sejauh mungkin dari Shanum. "Sebaiknya kau tidak berada di sini."


Dadanya terasa diremas kuat. Pria itu tidak menerima kehadirannya. Sepertinya hanya dia yang ingin menyelesaikan masalah ini.


"Apakah kau mengusirku?" tanya Shanum serak. "Tidakkah kau berutang penjelasan padaku," tambahnya dengan langkah semakin mendekat. Shanum menatap punggung pria yang ia cintai itu dengan muram.


"Itu sebelum aku melecehkanmu seperti tadi!" bentak Khan, menunjukkan tanda semangat pertama selama lebih dari satu jam ia menyendiri di dalam tenda tanpa mau berbicara satu patah kata pun, kepada siapa pun.


Shanum mendengar dari Eej, pria itu sedang menunjukkan gelagat awal proses menyiksa dirinya sendiri. Dan jika bukan karena permohonan Eej untuk menyelamatkan putranya itu, mungkin Shanum belum berani menunjukkan dirinya seperti ini. Mendatangi pria yang nyaris melecehkannya karena amarah di muka umum.


"Kau tidak menyadarinya, Adri. Semua itu juga berawal dari kata-kataku. Jadi kita sama-sama bersalah di sini."


"Kau tidak akan menjadi korban lagi, Shasha. Tadi itu aku melukaimu dan... yang nyaris kulakukan padamu..." Khan memukul meja yang ada di hadapannya hingga terbelah dua. Lalu bahunya membungkuk dengan cara yang membuat Shanum semakin khawatir.


"Kalau kau melakukan itu, berarti Avraam menang, dan kita kalah. Pria itu telah berhasil memisahkan kita. Apakah itu yang kau inginkan?"


Shanum melihat kata-katanya menerjang Khan. Ikatan di antara mereka mendadak menyala, seolah-olah ada yang menghidupkan ikatan itu setelah sebelumnya meredup, hingga bisa menyingkirkan semua bayangan menjauh dari jiwa mereka.


"Kalau kau meninggalkanku sekarang, kurasa ini akan lebih mudah bagi Avraam untuk memenangkan tantangan itu tanpa bersusah payah."

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku tetap berada di sisimu setelah semua yang kulakukan tadi? Kenapa kau ingin aku tetap berada bersamamu?" Khan berbalik dan menatap Shanum dengan kerinduan yang begitu besar sampai air mata Shanum terbit kembali.


"Aku lebih memilih terbunuh oleh pria itu daripada menyakitimu, Shasha."


Shanum menggigit bibir hingga darah kembali membasahi bibirnya. "Kau tidak akan mengulanginya lagi, Adri. Aku percaya padamu."


"Kau tidak yakin, Shasha," katanya serak. "Aku bisa melihatnya di wajahmu. Aku takut. Takut pada diriku sendiri. Takut kembali menyakitimu dan melakukan sesuatu yang akan menghancurkan kita berdua."


Khan benar. Dia masih setengah percaya. Setelah berulang kali disakiti olehnya.


Aku tahu sisi dirinya yang kasar dan gelap itu akan selalu ada di sana. Kegelapan yang muncul karena mengalami kekecewaan dan pengkhianatan. Menjalani percobaan pembunuhan berkali-kali dari musuh-musuhnya. Dan rasa takut kehilangan karena pernah ditinggalkan oleh orang yang dicintai.


Hubungannya dan Khan memang penuh drama dan emosional, menakjubkan dan diluar nalar. Ikatan jiwa yang menyatukan mereka juga membuka hal-hal yang membuat keduanya rapuh dan berbahaya. Dan hal itu akan memburuk tanpa kepercayaan.


Kini Shanum mengetahuinya, ia disadarkan dengan sangat keras oleh keadaan dan rasa takut yang terpancar dari wajah Khan.


Khan menyisirkan tangan ke rambutnya. "Shasha, aku--"


"Aku tidak menyalahkanmu, Adri."


Khan menggeram. Ia menatap Shanum dengan tatapan yang mirip tatapan frustasi. Shanum tidak tahu apakah tatapan itu untuknya atau untuk dirinya sendiri. "Bagaimana kau bisa mengatakannya?"


"Karena itulah kebenarannya."


"Kau tidak mengerti. Aku sudah berulang kali menyakitimu. Bahkan sekarang aku sudah mempersiapkanmu untuk menjadi janda, Shasha. Kemungkinan aku hidup dalam pertarungan itu masih belum bisa dipastikan."


Shanum menarik napas tajam. "Mengapa aturan Duongan Sakhai ini tidak bisa dirubah? Bukankah kalian para pemimpin klan seharusnya memiliki kewenangan untuk merubahnya. Terutama tentang aturan bertarung hingga kematian menjemput salah satu dari kalian itu."


"Aturan itu tidak bisa dirubah. Karena sejak saat Avraam mengucapkan kata Duongan Sakhai, mantra pengikat tentang aturan pertarungan itu sudah bekerja."


Shanum terpana, lalu ia menggeleng keras. "Kalian penghuni dunia sihir ini memang sekumpulan orang gila. Sampai-sampai pertarungan saja harus diberikan mantra pengikat."


"Ya. Dan sayangnya aku harus menerimanya," desah Shanum lelah.


"Sepertinya tanpa sadar kau terkesan oleh pria yang bernama Avraam itu, hingga tidak menginginkannya berakhir dalam kematian, Shasha," kata Khan pahit.


"Hentikan tuduhanmu itu, Adri. Aku tahu kau kecewa dan terluka, tapi melampiaskan tuduhan tak berdasarmu padaku hanya akan membuatmu lebih terluka, Adri."


"Aku tidak ingin dua orang bersaudara terbunuh salah satunya hanya karena ambisi tolol tak bermanfaat," sahut Shanum dengan suara teredam menahan amarah.


Shanum berjalan menghampiri Khan, ingin menyingkirkan rasa takutnya dengan sentuhan. Wanita itu merasa suaminya terlalu menjaga jarak dan jauh darinya. Seolah ikatan di dalam jiwanya sudah menggeram sejak nanti meminta kedekatan dengan pasangannya.


Khan mengangkat sebelah tangan seolah-olah ingin mencegahnya saat Shanum semakin mendekat. "Aku tidak bisa, Shasha."


"Jangan melawanku dalam hal ini, Adri. Tolonglah. Aku akan cemas setengah mati kalau kau bersikap seperti ini."


"Kau akan lebih cemas lagi kalau aku tetap berada di sisimu." Khan menatap Shanum, terlihat tersesat, marah dan dipenuhi kerinduan mengerikan.


Matanya memohon maaf pada Shanum, tetapi ia tidak akan menerimanya apabila ia mencoba memaafkannya. Pria itu sedang menghukum dirinya sendiri, seperti prediksi Shanum tadi.


Shanum memaksa mendekat dan menggenggam tangannya, mencekal tangannya ketika ia ingin menarik lepas genggaman tersebut.


"Kita pasti bisa melewati ini, Adri," Shanum berjanji pada Khan dengan nada suara penuh keyakinan.


"Aku mencintaimu. Dan tidak akan sanggup menerima andaikata kau menjauh dariku."

__ADS_1


Khan bergeming. Rahangnya mengeras. Matanya terlihat berkabut menahan kecamuk dalam jiwanya.


"Please, Adri. Hentikan menyiksa dirimu seperti ini, karena aku juga ikut merasakannya."


Khan menyerah, ia membiarkan Shanum menarik genggaman itu, beralih menjadi melingkarkan tangan di pinggangnya. Wanita itu menghela napas lega, ketika menemukan kehangatan tubuh Khan kembali kepadanya.


"Kita tidak akan membiarkan pria itu menang, Adri. Meski dia adalah sepupumu, aku tetap tidak akan rela dia menghalangi kebahagiaan kita."


"Shasha." Khan merengkuh Shanum dalam pelukannya. Pelukannya membuat napasnya tersekat. "Maafkan aku. Aku tersiksa. Tolonglah. Maafkan aku... Aku tidak bisa kehilangan dirimu." Tangannya yang gemetar membelai tulang punggung Shanum.


Seolah semua rasa sakit dan ketakutan meledak keluar dari diri pria itu. Dia sudah tidak mampu lagi menutupinya dari Shanum.


"Kau tidak akan kehilanganku. Karena aku sudah memilihmu, Adri. Semua hal, baik dan buruknya dirimu sudah kuterima dengan lapang dada."


Mata Shanum terpejam, memusatkan perhatian pada rasa Khan. Aromanya. Mengingat bahwa sebelumnya ia pernah nyaris kehilangannya, dan untuk kali ini ia bertekad, siapa pun tidak akan pernah ia biarkan memisahkan dirinya dari suaminya.


"Aku akan menyakitimu lagi, Shasha. Jika aku gagal dalam pertarungan ini."


"Shhh... Kita akan baik-baik saja, Adri. Percayalah."


Khan menoleh dan mencium kening Shanum dengan lembut. "Aku takut apa yang akan terjadi padaku nanti akan membuatmu hancur."


"Aku akan tetap utuh, Adri." Kulit Shanum menggelenyar di bawah belaian tangan Khan di punggungnya. "Karena aku yakin, kau akan kembali kepadaku."


Khan berhenti sejenak, napasnya menerpa bibir Shanum dengan keras. Lalu ia menarik kepalanya kembali, menggantikannya dengan jemarinya. "Maafkan aku telah membuat bibir ini terluka."


Bersamaan dengan usapan lembut Khan di permukaan bibirnya, Shanum merasakan hembusan hawa sejuk menenangkan masuk ke dalam lapisan bibirnya. Lalu rasa perih di bibir itu seketika menghilang.


Kedua sejoli itu saling berpandangan dengan ekspresi takjub.


"Apakah kau memikirkan apa yang juga kupikirkan, Sayang?" ucap Khan serak.


Shanum mengangguk. "Ya, kau sudah menyembuhkan luka di bibirku, Adri."


"Dan bagaimana bisa aku melakukan itu?" tanya Khan lagi masih dengan wajah heran bercampur kagum.


"Kau pasti bisa melakukannya, jika kau kini menyerap kekuatanku, Adri."


Khan tersenyum lebar. "Kalau begitu aku yakin pasti akan memenangkan pertarungan ini."


Shanum tersenyum tipis. Dia menutup ikatan di antara mereka lalu berkata dalam hati, Ya, Adri. Kau pasti akan menang. Dan aku akan memastikan hal itu.


Sepanjang malam Shanum tidak bisa tidur nyenyak. Dia selalu bergerak gelisah dalam tidurnya, bahkan rengkuhan erat suaminya tidak bisa menghentikan kegundahannya.


Shanum bermimpi dia berjalan di tengah padang ilusi dan berputar-putar tersesat di dalamnya tanpa menemukan jalan keluar. Entah bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di tempat itu. Semua itu menimbulkan banyak tanda tanya dalam benaknya. Jika semua itu hanyalah mimpi, mengapa ia merasakan kabut itu seolah berusaha menelannya ke dalam kehampaan.


Shanum kalut, kekuatan sihirnya tidak bisa membantunya sama sekali. Kekuatan itu mendadak menghilang, seolah kabut itu menarik habis kekuatannya hingga tak bersisa.


Dalam ketakutannya, Shanum berteriak memanggil nama Khan berulang kali hingga tenggorokannya serak. Namun, semua itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka, ia tetap tidak berhasil keluar dari kabut tersebut.


Dalam setiap langkah cepatnya, Shanum merasa kesunyian dalam kabut itu seolah mencekiknya, dan membuatnya menyadari bahwa keputusasaan yang dirasakannya dapat mematikan jiwa dan raganya dengan cepat.


Shanum tidak sanggup lagi melangkah, ia terduduk lemas di dasar padat yang penuh oleh kabut. Ia menggigil, seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali. Dia mulai merasakan bayangan-bayangan ketakutan yang tersembunyi dalam jiwanya muncul ke permukaan. Shanum mulai mengalami fase halusinasi, pengaruh dari kabut tersebut.


Dan di saat ia merasa bahwa kegilaan akan segera menelannya bulat-bulat, ia mendengar sebuah suara. Suara pria yang seolah memberikan sebuah kekuatan padanya untuk bangun dan kembali melangkah.

__ADS_1


Shanum bergerak dengan pelan, ia mengikuti alur tuntunan suara tersebut dan berakhir di pinggir hutan yang berbatasan dengan padang ilusi. Dia menoleh ke belakang dan terpaku, bergerak di antara kabut Shanum melihat gambaran sosok yang sedang menatapnya lekat.


"Tolong selamatkan putraku dari kehancuran. Aku percaya, hanya kau yang bisa melakukannya. Putraku itu sama sepertiku, ia dapat menaklukkan Padang Ilusi ini." Pria itu melancarkan senyum tipis, lalu bergerak masuk kembali ke balik kabut.


__ADS_2