
Bibir Khan ingin tersenyum ketika mendengar kata-kata Shanum. Pria itu sangat mengerti gairah yang dirasakan gadisnya, karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Gairah itu menyerang dua kali lipat sejak dia bersumpah dalam pernikahan. Kata-kata kuno yang diucapkannya saat itu di hadapan ayah Shanum sepertinya berhubungan dengan ikatan mereka.
Kini ikatan mereka semakin kuat, dan takdir itu tak dapat dirubah. Khan malah sangat bersyukur, karena menjadi orang yang beruntung dapat menemukan belahan jiwanya.
"Sini," ujar Khan, memegang bahu Shanum. "Biar kubantu kau berdiri."
"Kau sekarang suamiku," bisik Shanum, memandang Khan dari atas ke bawah saking takjubnya ketika mereka berdiri.
"Kau benar-benar suamiku."
Khan kembali menyelipkan ujung rambut hitam Shanum ke belakang telinga. "Ya, itu benar."
"Kau yakin sudah menjadi suamiku?"
"Kita sudah membahasnya," jawab Khan.
Hening.
"Sayangnya aku kecewa, Adri." Shanum tiba-tiba melontarkan kata-kata tersebut.
Bingung, Khan mengerutkan dahi. "Apa?"
Shanum mendongak untuk melihat wajah Khan. "Aku melewatkan upacara pernikahannya, dan aku sangat kecewa."
Khan mendesah.
Dia baru menyadari maksud dari ucapan gadisnya itu. Sekarang ia harus berusaha merubah rasa kecewa itu dengan kebahagiaan. Khan tidak ingin ada satu alasan pun yang dapat membuat Shanum meninggalkan dirinya.
"Kau ingin kita menikah kembali?" tanya Khan. Pria itu meraih dan menangkup pipi Shanum dengan tangan kuatnya. Gadis itu tidak mampu bergerak. Yang dapat ia lakukan hanyalah membiarkan Khan mengangkat kepalanya hingga ia menatap mata tajam yang ia yakini dapat membaca jiwanya.
Shanum gemetar dalam pelukan Khan. Kemudian, pria itu mengangkat Shanum ke dalam pelukannya dan berjalan menuju pintu.
Awalnya, Shanum tidak bisa berpikir dari balik rasa menyenangkan yang ditimbulkan oleh lengan kuat yang mengelilinginya dengan hawa panas itu, ditimbulkan oleh seorang pria yang benar-benar mengangkatnya, dan dengan begitu mudah untuk melakukan itu. Tapi ketika mereka memasuki lift, Shanum tiba-tiba tersadar.
"Stop, Adri!" kata Shanum sembari berontak meminta turun. "Memangnya kau mau membawaku ke mana?" bentak Shanum.
Khan berhenti dan memandang Shanum dengan lembut. "Kau meminta pernikahan kembali, maka kita akan melakukannya. Aku akan membawamu ke orang tuamu. Lalu kita bisa bersumpah lagi," kata Khan singkat.
"Kurasa tidak," kata Shanum dengan nada kesal.
Khan menatapnya dengan bingung. "Tapi tadi kau bilang..." Khan berhenti sebentar dan memandang Shanum, merasa heran.
"Tidak, aku ingin kembali ke kamar. Sekarang turunkan aku sebelum aku benar-benar marah!"
Enak saja Khan mengambil keputusan sepihak untuk menikah kembali tanpa persiapan terlebih dahulu.
Dan pernikahan itu hanya sebatas bertukar sumpah di depan ayah dan ibunya, tanpa pesta, tanpa pakaian pengantin, dan tanpa tamu-tamu undangan. Memangnya pernikahan impian Shanum itu seperti orang yang sedang membeli sepatu. Kau pilih sepatumu, sudah sesuai, lalu tinggal bayar di kasir. Sungguh menggelikan!
Perjalanan cinta mereka saja sulit, penuh lika-liku, masa acara pernikahan harus segampang itu. Hati Shanum menjadi kesal dibuat oleh Khan yang sangat tidak peka terhadap keinginannya.
Kemudian, yang membuat Shanum terkejut, Khan menurut. Merasa sedikit lebih baik begitu kakinya menyentuh lantai dengan aman, Shanum menekan tombol lift untuk kembali ke lantai atas.
Sekarang mereka bertatapan, dan agak sejajar, itu pun kalau ada orang yang bisa sejajar dengan seorang pria yang memiliki kekuatan dan otoritas yang begitu alami. Tiba-tiba dampak sepenuhnya dari kehadiran Khan menghantam Shanum lagi.
Meski masih dongkol dengan pria itu. Shanum tetap saja merasa tak percaya impiannya itu menjadi nyata. Walau prosesnya yang aneh dan tanpa persetujuannya tetap tidak disukai oleh Shanum.
Oh Tuhan, ia dan Khan telah benar-benar menikah. Lagi-lagi gadis itu bergumam dalam hati. Kini ia yakin, karena Khan tadi sempat memperlihatkan memorinya saat mengucapkan sumpah di hadapan ayahnya, dan juga disaksikan oleh orang-orang yang sebagian besar tidak ia kenali.
"Aku tidak mengerti, Shasha?" tanya Khan akhirnya. Pria itu sibuk berpikir, mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan Shanum.
Saat lift terbuka, Shanum langsung melesat menuju kamar rawatnya tadi, diikuti oleh Khan di belakangnya.
Setelah sampai di kamar kembali, Shanum duduk di samping tempat tidur. Gadis itu menatap Khan dengan ekspresi tegang.
Dan Khan menelan kepedihan yang membuat tenggorokannya tercekat, wajahnya tampak keruh. "Kau boleh melakukan apa pun sesuai kehendakmu. Katakan saja apa yang kau mau."
"Kalau begitu, aku mau kau pergi."
Khan menurunkan lengan ke samping tubuhnya. "Kecuali itu," desahnya lelah.
Frustasi, Shanum mulai berjalan mondar-mandir. Hormonnya akhirnya kembali terkendali dan pikirannya menjadi lebih jernih, ia begitu menginginkan sebuah solusi. Tapi betapa pun kerasnya ia berusaha, sepertinya tidak satu pun yang muncul.
Bagaimana menjelaskan kepada pria itu bahwa ia ingin sebuah pengakuan. Yang tentu saja harus diketahui oleh semua orang. Dia tidak mau pernikahan mereka ditutup-tutupi seolah ada skandal yang harus disembunyikan dari mata dunia.
__ADS_1
Rasa sakit yang parah mulai berdenyut di pelipisnya. Tampaknya efek jatuh tadi mulai terasa. Tubuhnya masih lemah, ia tidak berani menggunakan kekuatan penyembuhnya. Mungkin dia akan minum obat saja setelah ini.
"Aku harap kau tidak..."
Mendadak Shanum mendengar Khan berbicara. Dan suara Khan menghilang, tidak membentuk satu kalimat utuh.
Shanum membalikkan badan untuk melihat Khan, ingin tahu lanjutan kata-kata pria itu. Tapi hingga beberapa waktu yang berlalu, Shanum tak jua mendengar lanjutan ucapannya.
"Apa?" tanya Shanum.
Pria itu menelan ludah. "Aku harap kau tidak membatalkan pernikahan kita," ulang Khan. "Meski sebenarnya Ayahmu berkata pernikahan ini hanya sementara." Ekspresi cemas dan setengah marah di wajah Khan memberi tahu Shanum bahwa pria itu tidak suka merasa tak berdaya.
Pernikahan sementara...
Dalam mimpinya sekalipun tidak pernah terbersit bahwa ia akan menikah secara kontrak. Karena Shanum tidak suka mempermainkan ikatan yang seharusnya sakral itu.
"Apakah Ayah mengatakan alasannya memutuskan hal tersebut?" tanya Shanum curiga.
"Tidak. Tapi kurasa dia masih tidak menyukaiku," jawab Khan sembari mengangkat bahu.
"Apa kau menyetujui keinginan Ayah tersebut?" tanya Shanum lagi.
"Tentu saja tidak." Khan menggeleng dengan keras.
"Jadi, apakah kau akan meninggalkanku?" Mengulang pertanyaannya tadi.
Shanum tampak berpikir. Kemudian dia berkata, "Untuk saat ini tidak. Tak tahu nantinya." Sembari mengendikkan bahunya.
Khan merasa lega. Setidaknya untuk saat ini dia masih bisa menahan Shanum di sisinya.
"Well, sepertinya aku harus terus meyakinkan istriku ini, bahwa aku bisa membuatnya tidak sanggup meninggalkanku," sahutnya dengan senyum menggoda yang seksi.
Senyum itu...
Shanum terpesona. Pria itu sungguh tampan jika tersenyum. Betapa ia berharap Khan tidak pernah tersenyum seperti itu kepada wanita lain, karena senyuman pria itu bisa membuat dunia berhenti sesaat.
"Kau tampan jika tersenyum, Adri," ucap Shanum. Mendengar kalimat pujian itu, senyum Khan menghilang. Pandangannya lebih tertuju kepada Shanum seperti seekor pemangsa kelaparan yang baru menemukan makanan berikutnya.
Oh tidak lagi! Dia salah sudah memancing pria itu.
"Em, sebaiknya kau pergi untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa aku sudah sadar." Shanum berusaha mengalihkan desakan itu dengan mengusir pria itu pergi.
"Aku tidak bisa pergi, meski ingin," bisik pria itu menggamit tangan Shanum untuk mengecup punggung jemarinya.
Arus listrik seakan merambat di punggung Shanum. Dan sebelum ia sempat bergerak, Khan sudah memeluknya dan memberinya ciuman yang panas dan mengacaukan jiwa.
Secara naluriah, Shanum memejamkan mata dan menikmati kehangatan mulut Khan, napas pria itu. Rasa yang ditimbulkan oleh lengan Khan yang memeluknya erat-erat ke dada, membuat kepala Shanum berputar-putar karenanya.
Oh, pria ini tahu caranya mencium! Kelihaian bibir Khan tidak dapat digambarkan. Ini sudah ketiga kalinya pria itu menciumnya. Dan ia selalu saja kehabisan napas. Khan menjauhkan kepalanya dari kepala Shanum sambil menggeram pelan. Gadis itu mendengar pria itu mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Dengan wajah yang menunjukkan kejengkelan dan keengganan mendalam, Khan melepaskan Shanum dan melangkah mundur.
"Maafkan aku. Semua rasa ini sangat sulit aku kendalikan." Khan memandang Shanum dengan campuran ekspresi malu serta bergairah.
Astaga...
Semakin lama pikiran Shanum semakin berbahaya. Suara pria itu begitu memikat. Bagaimana mungkin Shanum tidak menyadarinya selama ini? Bagaimana mungkin Khan membuat suaranya menjadi begitu erotis?
Apa karena aksennya yang berat dan kental?
Bukan, ada sesuatu yang lebih dari itu, tapi seumur hidup pun Shanum tidak dapat menemukannya. Dia hanya mencurigai hal ini berkenaan dengan ikatan itu.
"Apa kalian akan saling memandang seperti itu terus, hingga tak menyadari keadaan di sekeliling kalian?" cetus Eej sambil menghela napas, lalu ia menggelengkan kepala.
Dengan pipi panas, Shanum menoleh ke arah ibu mertuanya itu dan memperhatikannya sedang menyeringai ke arah mereka.
"Sejak kapan kau berada di sini, Eej?" tanya Khan.
"Em, sepertinya sejak adegan dirimu menghabisi bibir gadis itu, Nak," jawabnya terus terang tanpa jengah sedikit pun.
Khan mengangkat sebelah alisnya. "Kau melihatnya?" Seharusnya pria itu malu memiliki penonton. Tapi Shanum melihat tak ada ekspresi itu di wajah Khan.
Eej menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Dan apakah kau datang sendiri?" tanya pria itu lagi.
"Ya, aku datang sendiri," beo wanita itu, terlihat tertarik kepada pertanyaan Khan.
Khan menarik napas lega. Jika mertuanya ikut datang juga bersama ibunya, Khan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Kemungkinan Shanum akan dibawa pergi dari dirinya pasti akan segera terjadi.
Sedangkan dari sisi Shanum, gadis itu rasanya ingin menguburkan kepalanya di suatu tempat mendengar ucapan ibu pria itu. Tapi Khan tanpa malu terlihat biasa saja.
Eej melangkah mendekati Shanum. "Bagaimana keadaanmu, Shanum? Putraku tidak berbuat yang aneh-aneh kan terhadapmu?" Eej berusaha mengalihkan suasana canggung itu dengan melemparkan pertanyaan kepada Shanum. Walaupun pertanyaan kedua wanita itu tetap saja membuat Shanum teringat gejolak yang masih ia rasakan terhadap Khan.
Shanum berdeham. "Sudah lebih baik, Eej. Meski masih sedikit lemas." Gadis itu menjawab dengan nada suara malu-malu. Dia tak berani menjawab pertanyaan kedua dari wanita itu, karena itu terlalu pribadi.
"Dan apakah putraku berbuat yang aneh-aneh, Shanum?" ulangnya. Eej tetap mengejarnya dengan pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
Khan terdengar mendengus keras. "Cukup, Eej. Jangan membuatnya bertambah malu. Lagipula Shanum sudah menjadi istriku. Memangnya ada larangan seorang suami bersikap intim kepada istrinya?" Pria itu langsung merespon. Dia mengerti, Shanum merasa risi untuk menjawab pertanyaan itu.
"Tidak sih. Aku hanya merasa kasihan dengan Shanum. Dia baru sembuh dari sakitnya. Jangan sampai dia kembali tumbang hanya karena melayani napsumu yang tak terkendali itu, Nak."
Wajah Khan kontan memerah. "Em, aku tidak seperti itu, Eej. Masa kau menganggapku serendah itu," kilah Khan dengan suara pelan. Shanum rasanya ingin tertawa melihat wajah malu pria itu yang sangat jarang terjadi. Dan gadis itu sebenarnya merasa rikuh dibicarakan seperti itu oleh keduanya, seolah-olah dirinya tidak berada di tempat itu.
"Syukurlah kalau hal itu tidak terjadi." Wanita itu lalu mendekati Shanum. "Boleh aku melihat bekas lukamu, Shanum," kata Eej seraya tersenyum.
Shanum menganggukkan kepalanya. Dia lalu menggeser pakaian pada posisi bahunya. Proses itu dibantu juga oleh Eej. Wanita itu menarik kerah Shanum ke samping, lalu menurunkannya, dan untungnya kerah pakaian yang dikenakan Shanum cukup lebar dan elastis, jadi lebih mudah untuk digeser.
Saat kulit mulus itu terpampang di hadapan keduanya. Eej terpana, begitu juga dengan Khan. Wanita itu dengan cepat mengembalikan posisi pakaian Shanum ke tempat semula. Dia tidak ingin kerah pakaian itu menjadi sobek oleh ulahnya.
Eej menoleh ke arah Khan. Dia berdecak kagum. "Apa yang sudah kau lakukan padanya, Nak. Bukankah seharusnya racun itu meninggalkan bekas? Apakah kekuatanmu ternyata sangat kuat, hingga tidak meninggalkan bekas sedikit pun padanya?"
Khan menggeleng. "Aku juga tidak tahu. Semuanya kulakukan sesuai petunjuk Chinua." Khan membalas pandangan heran ibunya dengan kebingungan yang tak bisa ditutupi.
"Err, mungkinkah semua itu terjadi karena campur tangan kekuatanku juga, Eej? Atau ikatan di antara kami. Sebab saat dalam ketidaksadaran, aku bermimpi bertemu dengan leluhurku, kakak dari Chinua. Dia mengatakan bahwa aku harus percaya kepada pasangan jiwaku. Karena kami saling melengkapi secara sempurna." Mendadak Shanum ikut mengemukakan pikirannya.
Eej terdiam lalu menatap ke arah Shanum dan beralih ke putranya. "Mungkin saja hal itu terjadi. Dengan kata lain, kalian saling melengkapi."
Eej menepuk pundak putranya. "Tugasmu cukup berat kedepannya, Nak. Kau harus meyakinkan Ayah mertuamu itu. Tapi kurasa kau pasti bisa melakukannya," bisik Eej di telinga Khan.
"Princess, kau sudah sadar." Tiba-tiba terdengar suara terkesima dari arah pintu. Mereka semua menolehkan kepala, dan melihat Dimas serta Raisa sudah berdiri di depan pintu dengan wajah syok bercampur bahagia.
Shanum yang melihat orang tuanya berada di dekatnya langsung menghambur ke arah mereka. Tubuh gadis itu disambut dengan antusias oleh keduanya. Mereka berpelukan erat bertiga.
"Kau sudah sehat, Nak? Apa yang kau rasakan?" Raisa bertanya seraya memeriksa tubuh putrinya itu.
Shanum terkekeh geli. "Aku baik-baik saja, Ibu. Jangan pegang-pegang seperti itu, rasanya geli," protes Shanum.
Kemudian Raisa ikut tertawa. "Syukurlah, Nak. Ya Tuhan, Ibu sangat senang melihat kau bisa sembuh dari racun itu."
"Oke, kalau begitu, kita bisa segera mempersiapkan kepulangan ke rumah. Ayah sudah tak sabar untuk kembali ke tanah air," sambung Dimas dengan wajah gembira.
Suasana hening.
Shanum langsung melepaskan pelukannya. Lengannya terkulai ke samping tubuh.
"Maaf Ayah, Shanum tidak bisa. Putrimu ini sudah memiliki suami. Jadi mulai saat ini, di mana pun Khan berada, Shanum akan ikut." Gadis itu menjawab dengan lugas.
Wajah Dimas langsung memucat. Pria itu menatap tajam ke arah Khan. "Kau pria Berengsek, aku bilang padamu pernikahan ini hanya sementara! Mengapa kau berani-beraninya menyentuh putriku di luar perjanjian?!" bentak Dimas dengan geram.
"Ayah!" Shanum memanggil dengan ekspresi kaget.
Khan memberikan isyarat kepada Shanum untuk diam, agar dia saja yang memberikan penjelasan kepada Dimas. "Aku tidak pernah melakukan hal itu, Sir. Dan aku tidak pernah merasa menyetujui soal pernikahan sementara itu." Pria itu menjawab dengan nada tenang. Kalau pun terjadi pertentangan di dalam hatinya, Khan tidak memperlihatkannya.
"Halah, kau pasti berbohong. Dan dasar pria kurang ajar, tahu kau berkelit seperti ini aku akan meminta perjanjian tertulis saat itu," ucap Dimas dengan rahang mengetat menahan amarah.
"Tidak Ayah, dia tidak berbohong. Aku mengatakan semua hal tadi kepada Ayah, karena aku menginginkan pernikahan ini," sahut Shanum memotong pembicaraan Ayahnya dengan Khan. Gadis itu tidak mau ayahnya berprasangka buruk kepada Khan, dan terus mendesak pria itu.
"Tapi... bukankah pria itu sudah banyak menyakitimu, Princess?" Dimas menatap tak percaya ke arah putrinya itu. Suaranya berubah menjadi melunak. Sungguh berbeda dengan nada suaranya saat berbicara dengan Khan tadi.
Shanum menghela napasnya. Dia lalu mengedarkan pandangannya. Melihat kepada semua orang yang berada di sana. Semuanya menatap dengan ekspresi yang berbeda-beda. Yang pasti Shanum harus meluruskan hal ini, agar tidak semakin berkembang ke arah yang tak terkontrol.
"Shanum dan Khan terikat secara jiwa Ayah. Kami tidak bisa membatalkannya. Hanya kematian yang bisa memutuskan ikatan itu. Ikatan jiwa ini tidak menjelaskan bagaimana bisa memilih kami berdua. Yang pasti aku dan Khan juga tidak terpaksa. Kami saling membutuhkan Ayah. Bahkan perasaan kami mungkin lebih dalam dari itu. Aku tidak bisa hidup tanpanya, meski tanpa ikatan jiwa ini. Sudah sejauh itu perasaanku kepadanya." Shanum menarik napasnya. Perasaannya membuncah, terutama saat ia mendengar ucapan Khan dalam ikatan mereka.
Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu. Dan aku juga tak bisa hidup tanpa dirimu disisiku.
Mata pria itu memancarkan ekspresi dalam yang terasa membakar seluruh tubuh Shanum. Khan tersenyum tipis, dan makna senyuman itu tersampaikan kepada Shanum. Gadis itu menelan ludahnya, tenggorokannya mendadak terasa kering.
__ADS_1
Kemudian Shanum beralih kembali kepada Dimas. Dia belum menyelesaikan menceritakan seluruh isi hatinya. Jadi lonjakan gairah itu masih harus menunggu.
"Andaikan kau tetap memisahkan aku dengannya, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada diriku. Mungkin saja kegilaan akan menggerogoti diriku sepanjang hidup, atau terjadi hal buruk lain. Apakah itu yang kau inginkan terjadi kepadaku, Ayah?" tanya Shanum dengan wajah sedih.