(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Realistis Bukan Matre


__ADS_3

"Selamat pagi Papi!" seru Daisha menyapa Raditya yang baru bergabung di meja makan.


"Pagi Sayang," sahutnya dengan merapikan pakaian kerjanya.


Aku hanya fokus menatap ke arah Daisha sambil menyuap sarapan untuknya dan untukku juga.


"Papi, biar dibantuin Mami aja pasang dasinya biar rapi. Papi mah gak rapi pakai bajunya," saran Daisha memandang ke arahku.


Mataku membulat mendengar saran bocah tersebut, kualihkan pandangan menatap laki-laki yang masih memegang dasinya sambil berdiri.


"Oh, gak perlu Sayang. Bukan rapi yang ada, malah makin berantakan," ujarnya membuatku kesal.


"Ck! Cuma masang dasi doang," gumamku sedikit berdecih. Kuletakkan sendok yang dari tadi kupegang dan bangkit berjalan ke arahnya.


"Awas!" sinisku mengambil alih dasi yang belum juga terpasang.


Dengan teliti kupasangkan dasi di lehernya, tak ada berontak dari Raditya, "Siap," ucapku sambil menepuk tangan ketika merasa sudah selesai memasang dasinya.


Mundur satu langkah menatap ke arah Raditya dengan mendongak sambil tersenyum bangga atas apa yang baru saja kulakukan.


'Mampus, ngapain lu segala sok masangin dasi nih orang!' batinku merutuki kelancangan yang baru saja kulakukan.


Laki-laki itu menatap lekat dengan wajah datar padaku, hal itu membuatku menjadi salah tingkah dan merasa bersalah. Entah sejak kapan dia menatap diriku seperti itu.


"Yee ... Mami pinter banget!" celetuk Daisha dengan suara yang nyaring membuat aku menatap ke arahnya.


"Ehem! Hehe, makasih Sayang," jawabku dengan cengengesan menggaruk tengkuk yang tak gatal serta berjalan kembali ke bangkuku.


Perasaan canggung pun hadir karena kecerobohan yang kubuat, "Kau mau ke mana?" tanya Raditya yang duduk di depan kami.


"Mau kuliah Pak," jawabku sembari fokus mengelap mulut Daisha yang sudah selesai sarapan.


Diam, tak ada lagi pertanyaan membuat aku mengalihkan pandangan menatap ke arah Raditya. Sorot matanya menatap lekat ke arah Daisha membuat aku menautkan alis.


"Kenapa Pak?" tanyaku kembali mana tahu aku salah dalam mengurus anaknya.


"Oh, tidak papa. Gimana dengan Disha nanti kalo kamu kuliah? Dia pulang sama siapa?"


"Bapak."


"Lah, buat apa saya gaji kau kalo saya yang jaga dia?"


"Cuma bentar Pak, sebagai seorang Ayah bukan hanya bertugas mencari nafkah. Tapi, harus dekat juga dengan anak. Apalagi Daisha anak satu-satunya Bapak sekarang. Gak tau, sih, beberapa tahun ke depan," paparku dengan suara pelan di kalimat terakhir.


"Maksud kau sekarang itu apa?"

__ADS_1


"Ya, pasti Bapak akan menikah lagi suatu hari nanti, 'kan? Masa enggak, pasti iya dong," candaku menunjuk ke arahnya yang berwajah datar.


"Jangan bercanda! Saya tidak suka dengan sebuah candaan!" tegurnya padaku dengan suara yang dingin.


"Emm, maaf Pak," hentiku sambil sedikit menunduk.


Kulirik ke arah arloji sekilas, mataku membulat ketika melihat jarum jam menunjuk ke angka delapan pagi.


"Pak, saya harus pergi sekarang. Kelas pertama saya jam tengah sembilan!" panikku dengan cepat memakai tas ransel yang sudah kuletakkan di atas meja tadi.


"Yaudah kalau gitu, Daisha biar sama saya aja perginya," potong Raditya yang kuanggukkan.


"Salim Mi." Daisha mengulurkan tangannya padaku yang sudah berdiri dengan tas terpasang di punggung.


Kuulurkan tanganku dan tak lupa mengecup puncuk kepalanya, "Jadi anak yang baik di sekolah, ya," pesanku sambil mencolek hidungnya dan diangguki Daisha sambil tersenyum.


"Siap Mi!"


"Daa ... assalamualaikum!" salamku dengan teriak dan berlari keluar dari rumah.


"Waalaikumsalam!" teriak Daisha yang masih bisa terdengar oleh telingaku.


"Pagi Pak!" sapaku pada sopir yang tengah asyik bersiul dan membersihkan mobil yang biasa dibuat ngantar Raditya.


"Eh, pagi juga. Mau ke mana?"


"Lah, bukannya dia pemulung? Pemulung zaman sekarang kayaknya udah kaya-kaya, ya." Sopir menggelengkan kepala melihat punggung Azaleana yang semakin menjauh dari pekarangan rumah.


"Hadeuh, gak ada lagi ojek," keluhku saat sampai di pangkalan tak ada satu pun sepada motor.


"Naik angkot aja? Tapi, aku gak tau jurusan ke kuliah itu naik yang mana." Kugaruk kepala frustasi, kubuka handphone untuk mencari tahu rute yang harus kulewati ke kampus dan angkot nomor berapa yang akan kunaiki.


"Oke, sabar Azaleana. Kamu pasti bisa hidup dengan kesulitan ini," ucapku meyakinkan diri sambil melihat ke arah kanan dan kiri menunggu angkot lewat.


Aku harus naik angkot dua kali untuk bisa sampai ke kampus, terpaksa ini kulakukan karena tak mungkin jika harus minta antarkan oleh sopir.


Sepuluh menit berlalu, rasa gelisah sudah memenuhi diri. Dari tadi aku mondar-mandir karena sudah ketakutan jika tertinggal mata pelajaran di jam pertama.


"Azal!" panggil seseorang dengan suara yang sudah mulai kukenali.


Aku berdecih dan membuang wajah dengan panggilan yang menyebalkan itu, "Woy, Azal! Sini!" teriaknya kembali dengan kaca mobil dibuka.


"Mami, sini!" teriak Daisha yang muncul dari sampingnya.


Kuayunkan langkah kaki mendekat ke arah mereka, meskipun sebenarnya aku tak ingin sama sekali mendekat akibat kesal dengan panggilannya itu.

__ADS_1


"Ayo, naik!" titah Raditya.


"Lah, saya naik Pak?"


"Iya, masuk cepetan."


"Oke Pak!" potongku dengan cepat dan berlari masuk ke dalam mobil duduk di depan samping sopir.


"Pagi emang jarang ada ojek yang mangkal, besok pake ojol aja," saran Raditya di tengah-tengah perjalanan.


"Ya, kirain ada gitu Pak. Biar cepat, kalo ojol nungguinnya lagi lama belum tentu juga gak macet jalanan, 'kan?"


"Kau harus bilang sama ojeknya kalo gitu kalau kau mau dia jadi tukang antar-jemput."


"Oh, kayak jasa antar-jemput gitu, ya, Pak? Masih ada ya di zaman sekarang? Aku baru tau, lho," ujarku dengan semangat sambil melihat ke arah Raditya.


"Lah, Mbak emang dulu naik apa ke sekolah?" celetuk Sopir membuat aku mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Naik mobil juga, sih, dianterin sama Papa atau Abang."


Pak Sopir malah terdiam mendengar penuturan yang aku ucapkan, aku bersedekap dada sambil menyandarkan punggung.


"Ck! Bapak pasti masih ngira saya anak pemulung, ya? Bapak ... saya bukan anak pemulung, lho. Keluarga saya itu orang yang berkecukupan, kok," jelasku membela diri.


"Terus, kenapa mau kerja?"


"Karena saya butuh duit dan tempat tinggal. Biasalah Pak, saya disuruh mandiri sama keluarga saya."


Hening menyelimuti mobil yang tengah melaju ke arah kampusku, aku yakin lagi dan lagi mereka tak akan percaya dengan apa yang kukatakan.


"Mami, ngapain sih ke kampus lagi?"


"Ya, biar Mami jadi orang cerdas dan pinter Sayang."


"Mami, 'kan udah pinter, gak perlu belajar lagi dong seharusnya."


"Gak boleh merasa pinter apalagi cukup dengan ilmu kita Sayang, kalau bisa seharusnya kita harus terus belajar selagi masih muda.


Juga ... biar Mami bisa dapat pasangan hidup yang sukses juga mapan Sayang. Ntar, Mami tinggal belanja kerjaannya dan suami Mami yang kerja."


"Wah ... Daisha juga mau dong Mami, biar Daisha nanti bisa belanja mainan dan suami Daisha yang bayarin, ya?"


"Aaa ... kamu pinter banget, Sayang. Iya, kayak gitu. Pokoknya Daisha harus pinter dan terus belajar agar nanti dapat suami yang mapan dan kaya, ya!" seruku bahagia saat bocah tersebut paham dengan apa yang kukatakan.


"Jangan ajarin anakku matre sepertimu!" celetuk Raditya dengan wajah marah.

__ADS_1


"Bukan matre Pak. Tapi ... realistis," jawabku dengan santai.


__ADS_2