(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Berhenti Kuliah


__ADS_3

"Ana!"


"Ana!"


Sayup kudengar pekikan seseorang memanggil namaku, membuat mataku terbuka. Setelah kujelaskan pada Nenek soal kejadian dan kenapa Daisha memanggil aku Mami.


Nenek menyuruhku untuk tidur sedangkan ia akan mengobati wajahku, jika aku terbangun takutnya aku malah meringis karena kesakitan.


Brak!


Pintu kamarku dibuka dengan kasar sedangkan aku masih terbaring mengumpulkan nyawa, bahkan kerudung saja tak ada di kepalaku.


"Kau kenapa Ana? Siapa yang membuat ini?" tanya Abang yang duduk di pinggir ranjangku. Ya ... aku tak salah orang, Abang dengan wajah paniknya kini berada di hadapanku.


"Abang sama siapa ke sini?"


"Sama Mama dan Papa."


"Siapa yang ngasih tau?"


"Nenek. Sekarang kau jawab, kenapa bisa jadi begini?"


Aku mencoba bangkit dan bersandar, Abang yang melihat membantu aku untuk bersandar. Aku tersenyum melihat perlakuannya dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku.


Jujur, aku masih kepikiran dengan tasku itu. Secara, semua uangku ada di situ. Bagaimana nanti untuk bayar bulanan kuliah dan untuk jajanku?


Tangan Abang terkepal bahkan urat-uratnya sampai timbul akibat mendengar cerita dariku.


"Bang, ini semua gak salah siapa-siapa. Jangan membenci siapapun apalagi Pak Raditya, dia juga gak tau soal semua ini."


"Tapi, kalo dia gak datang ke kehidupan kamu! Semua ini pasti gak akan terjadi, wajah kamu gak akan sampe memar seperti itu!"


"Bang ... gak perlu kayak gitu, gak ada yang salah dan gak ada yang datang. Ini semua udah takdir yang gak bisa dielakkan."


"Kau suka dengannya?" tanya Abang tiba-tiba membuat aku kaget dan gelagapan.


"K-kenapa Abang nanya begitu?"


"Kau melindungi dia seolah menunjukkan kau ada rasa padanya, apakah kau suka dengan dia?"


"Enggak Bang, cuma Ana gak mau aja masalah ini terus berlarut-larut."


"Kau yakin soal itu?"


"Soal apa?" tanyaku yang tak paham Abang tengah membahas ke arah mana.


"Soal perasaanmu itu."

__ADS_1


"Ya, iya. Lagian, kenapa juga Ana bisa suka sama dia."


"Yaudah kalau gitu, ayo keluar! Ada Mama dan Papa di depan."


"Abang ... gimana?" tanyaku membuat Abang berhenti saat sudah akan keluar.


"Apanya?" tanyanya melihat ke arahku.


"Abang gimana sama pacar Abang itu?"


"Hmm ... sudahlah, Abang memang sepertinya terlalu buta hingga tak melihat bahwa dia tak baik untuk Abang."


"Bukan buta, emang kalo orang lagi mengenal cinta. Beuh ... langsung bego dan lupa segalanya, sih, Bang," ejekku bangkit dari tempat tidur dan memakai kerudung instan.


"Jadi maksud kamu? Abang bego, gitu? Kamu ngatain Abang?" tanya Abang tak terima dengan wajah kesal.


"Hahaha, emang itu kenyataannya, 'kan?" tanyaku dengan tertawa.


"Dih, gak sopan banget, ya, kamu!"


"Aw ... Bang! Sakit tau!" gerutuku saat tanganya sengaja menekan pipiku yang memar.


"Haha, rasain itu!"


"Ihh ... nyebelin!" pekikku memukul bahunya.


Kami akhirnya keluar dari kamar bersama-sama, aku juga sudah mulai kuat untuk berjalan sendiri. Bukan berarti sebelumnya kakiku terluka. Hanya saja, kakiku tak mampu lagi berdiri akibat bergetar hebat karena kejadian tadi.


"Mm ... gak papa Ma, cuma jatuh doang."


"Jatuh apa sampe segitunya? Ayo, kita ke rumah sakit!" ajak Mama dengan panik sambil bangkit dari sofa.


"Ma ... udah diobatin sama Nenek, kok, ini tadi."


"Gak, ayo kita ke rumah sakit agar sembuhnya lebih cepat. Kamu baru ke sini udah kayak gini aja, gimana kalo seminggu tinggal di sini?


Bisa-bisa, Mama bukan cuma dapat kabar bahwa kamu habis diculik. Tapi, mungkin dapat kabar bahwa kamu udah gak ada lagi!


Pokoknya, kamu pulang sama kami. Gak ada tinggal di sini segala, berhenti aja kuliah kalau gak bisa pindah lagi!"


"Ma ... gak bisa kayak gitu dong."


"Kenapa gak bisa? Siapa yang akan jagain kamu kalau di sini, ha?!" murka Mama yang memang ini untuk pertama kalinya aku terluka seperti ini.


Bahkan, Nenek hanya bisa diam mendengar amarah dari Mama. Aku juga sampai takut dan bingung ingin membujuk Mama bagaimana lagi.


"Ma ... gak mungkin Ana berhenti kuliah, tanggung Ma. Tinggal 2 semester lagi kelar, deh."

__ADS_1


"Mama lebih sayang dengan nyawa kamu dibanding gelar kamu itu, lagian kamu bisa langsung kerja di tempat Papa kalau gak kuliah!"


"Ma ...," bujukku dengan mata yang berbinar.


"Keputusan Mama sudah bulat! Kamu gak usah lagi kuliah dan pulang sama kami sekarang juga!" tekan Mama tanpa rasa iba padaku.


"Sekarang, beres-beres!" sambungnya melepaskan tangannya dari genggamanku.


"Ma ...," bujukku sekali lagi dengan wajah memelas. Jujur, bukan ini yang aku mau. Aku tak ingin berhenti kuliah hanya karena hal ini.


Paham bahwa Mama pasti sangat khawatir apalagi melihat aku seperti sekarang ini. Namun, bukan berarti jalan keluarnya adalah putus kuliah.


"Saya yang akan menjamin dan lindungi Ana selama di sini Tante," potong seseorang yang masuk begitu saja ke dalam rumah Nenek.


Pintu yang kebetulan tak ditutup membuat dia bisa masuk begitu saja dengan mudah. Aku tak percaya saat melihat bahwa Pak Raidtyalah yang datang.


Abang berjalan ke arah Pak Raditya dengan rahangnya yang mengeras, ia melayangkan bogeman mentah ke perut laki-laki itu.


Bugh!


"Kau bilang apa? Ingin melindunginya? Bahkan ini semua gara-gara mantan istrimu! Kalau kau tak ada di dalam kehidupan dia sudah pasti dia tidak akan pernah mendapatkan perlakuan seperti ini!" geram Abang dan ingin melayangkan bogeman lagi padahal Pak Raditya sudah menahan sakit.


"Bang! Udah!" pekikku menahan tangan Abang yang sudah siap kembali mendarat ke perutnya.


"Uhuk-uhuk!" Batuk keluar dari bibir Pak Raditya setelah mendapatkan pukulan itu.


"Pradikta, apa yang kau lakukan!" tegas Papa yang menarik Abang menjauh dari Pak Raditya.


"Dia biang segala masalah ini Pa, dia juga yang membuat Ana jadi jauh dari kita bahkan dia membuat Ana masuk ke dalam masalah rumah tangganya!"


"Jangan ikut campur! Kau tak berhak menilai dia seperti itu, ini semua sudah takdir!" terang Papa dengan marah.


"Tante ... izinkan Ana untuk tetap tinggal di kota ini hingga kuliahnya selesai, dia akan kembali bekerja dengan saya. Saya janji akan menebus semua kesalahan saya sama Ana.


Saya akan menjaga dia dan meluruskan hal itu dengan mantan istri saya, saya berjanji menjamin bahwa kejadian ini gak akan terjadi lagi.


Bahkan, saya malah khawatir jika Tante bawa dia kembali pulang dan masalah belum saya luruskan bersama dengan Ana dan mantan istri saya.


Yang ada, dia tetap diincar oleh mereka dan mereka akan tetap melukai Ana bahkan bisa jadi lebih dari sekarang," jelas Pak Raditya dengan tetap memegang perutnya.


"Apa yang Nak Raditya ucapkan ada benarnya. Lagian, tidak mungkin Ana berhenti kuliah dengan semester yang hanya tinggal beberapa lagi ini. Kesian dia, berikan Raditya kesempatan sekali lagi untuk membuktikan apa yang dia katakan itu."


"Saya mohon Tante, Daisha juga tiba-tiba sakit setelah pulang dari sini. Sebelumnya, saya dan Daisha sudah dari sini.


Namun, sepertinya moment kami datang tidak tepat dan saya kembali membuat kesalahan dengan Ana menyebutkan bahwa Ana pasti salah soal mantan saya yang melakukan kekerasan ini padanya.


Sehingga, Daisha begitu pulang dari sini. Dia langsung sakit Tante dan manggil-manggil nama Ana.

__ADS_1


Saya mohon, Tante. Kasih izin saya buat melindungi Ana."


"Jangan Ma! Dia hanya laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan plin-plan, dia masih sayang sama istrinya. Yang ada Ana nanti akan semakin tersakiti oleh dirinya!" potong Abang menghasut Mama.


__ADS_2