
Kak Kamelia terpaksa harus cecar karena sesuatu hal yang aku juga tidak paham karena gak dikasih tahu Mama buat mengetahui hal itu.
Mama menyuruh aku untuk membawa Dara selama proses cecar berlangsung, Bang Dikta berada di luar kota.
Terpaksa, Mama menelpon dia agar pulang dan menemani Kak Kamelia melahirkan. Kata Mama saat seperti ini seorang istri sangat membutuhkan dukungan seorang suami.
Jadi, Mama terpaksa menelpon Abang agar pulang segera mungkin, "Sayang, kita di sini aja, ya," kataku melepaskan genggaman dan duduk di taman rumah sakit yang berada di depan bangunan ini.
Meskipun berada di depan bangunan, tapi taman ini dingin sebab terlindungi oleh pohon yang mungkin sengaja di tanam.
"Tante ... Mama kenapa?" tanya Dara dengan wajah polos yang tidak tahu hal seperti ini.
"Adek Dara udah mau keluar," jawabku mengusap rambutnya yang duduk di sampingku.
"Wah ... iyakah, Tante? Kapan Dara bisa ketemu sama Adek?"
"Mmm ... kita sama-sama doa aja semoga Mama dan Adek bayi segera keluar dari ruangan itu dan sehat."
"Iya, Tante.
"Yaudah, Dara main-main deh. Tante pesenin makanan, ya?"
"Okey, Tante!" Dara turun dari bangku dan bermain di taman dengan melihat bunga juga ikan yang ada di kolam kecil.
Kubuka handphone untuk memesan makanan, sesekali kulirik ke arah Dara memastikan ia tidak terlalu jauh bermain.
"Ehem!" dehem seseorang membuat aku mendongak.
Handphone-ku hampir terlepas dari genggaman saat melihat seseorang yang sekarang berdiri di hadapanku.
Kulihat ke arah belakang, kami masih di rumah sakit persalinan. Apakah? Wanita kemarin mau melahirkan? Atau ... cek kandungan? Dugaan-dugaan lainnya memenuhi pikiranku.
"Apa kabar Azal?" sapanya dengan panggilan yang tak berubah bahkan setelah ia pergi begitu saja.
Kugelengkan kepala tak percaya dan bangkit dari duduk dengan susah payah, "Dara ... Sayang!" panggilku dengan tangan mengulur ke arah ponakan sedangkan mataku menatap dirinya tetap.
"Iya Tante?" tanya Dara saat tanganku sudah menggenggam pergelangan tangannya.
"Ayo, Sayang. Ayo kita pergi," ajakku dan berniat meninggalkan taman secepat ini.
"Azal!"
__ADS_1
"Azal!"
Panggilan darinya tak kuhiraukan, bahkan aku berjalan dengan setengah berlari membuat aku lupa bahwa sedang bersama dengan Dara.
"Tante, Om itu manggil siapa? Azal itu siapa?" tanya Dara mendongak dan tetap mengikuti arah langkah kakiku.
"Jangan diliatin Sayang, dia orang aneh!" titahku menghapus air mata yang turun kembali akibat ulahnya.
Ternyata, usahaku gagal. Pak Raditya tidak menyerah begitu saja mengejar kami hingga ia bisa menghadang membuat langkahku menjadi terhenti.
"Om, ngapain ngehalangi jalan kami? Kan, bisa jalan di pinggir," tutur Dara yang tak tahu menau.
"Sayang ... maafin Om, ya, Om ada urusan sama Tante kamu," ucapnya sedangkan aku sudah mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Om, 'kan dari tadi manggil Azal. Tante Dara namanya Ana, bukan Azal," protes Dara yang membuatku mengalihkan pandangan menatap anak di sampingku ini.
Pak Raditya yang setengah membungkuk langsung menegapkan kepalanya kembali, sekilas kulihat ia menghapus air mata.
Apakah dirinya menangis? Menangis sebab bertemu denganku? Hahaha, tentu saja tidak. Ia pasti menangis karena sedang deg-degan menunggu istrinya cek kandungan.
"Azal, kenapa kau menghindar dariku? Kenapa waktu kita bertemu di mall kau malah pergi begitu saja?
Kutatap nyalang ke arahnya yang seketika hadir kebencian, "Salah? Coba Bapak pikir sendiri kenapa saya menghindari Bapak, gak mungkin saya dekat dengan seseorang yang sudah punya istri!"
"Istri? Siapa? Saya belum menikah lagi Azal."
Aku hanya diam dan berdecih, melihat ke arah lain, "Atau ... kau mengira wanita yang memanggil aku Mas itu adalah istriku? Hahaha, dia itu sepupuku dan sudah menikah.
Meskipun baru beberapa bulan dan aku ke sini juga sebab menemani dia cek kandungan, suaminya kebetulan ada di kota ini juga.
Itu sebabnya aku pulang membawa dia, kenapa gak sama dia ke sininya? Karena kebetulan kerjaan suaminya banyak.
Daripada dia kenapa-kenapa karena belum tau sama kota ini, mending aku temani aja dia ke sininya," jelas Pak Raditya meluruskan kesalahpahaman yang sudah terjadi di pikiranku.
"Ke mana Bapak 3 tahun? Kenapa sama sekali tidak pernah memberi kabar bahkan hanya sekedar mengasih tau kalau Daisha sudah siuman dari komanya?"
"Maaf soal itu, bukan saya gak mau ngasih tau kamu. Tapi, begitu sampai di sana handphone dan juga berkas penting saya di dalamnya hilang.
Mungkin, lebih tepatnya jatuh bukan di curi tapi naasnya sepertinya diambil oleh yang mendapatkan.
Bahkan, saya sudah mencari nomor kamu di handphone Mama juga orang yang saya kenal tapi tetap aja gak ada yang tau.
__ADS_1
Lalu, beberapa bulan setelah di sana. Saya kembali ke Indonesia karena mau memberi tau kamu soal Daisha yang sudah siuman dan berniat meminta nomor kamu kembali.
Sebab, kami belum bisa pulang karena Daisha masih masa penyembuhan. Tapi ternyata, kalian sudah pindah setelah acara pernikahan Dikta berlangsung."
Aku mendengarkan dengan seksama cerita Pak Raditya yang ternyata dugaanku selama ini salah. Bahwa, Pak Raditya tidak mencariku. Bahkan, dia sangat-sangat mencari keberadaanku.
"Saya ingin mencarimu sampai ketemu karena saya yakin kau pasti tetap akan ada di kota ini, tapi kantor Papa ada kendala dan butuh bantuanku.
Papa ditipu habis-habisan oleh rekan kerjanya, sehingga membuat fokusku menjadi teralihkan dengan kasus itu," sambungnya kembali menceritakan kejadian lampau.
Air mataku menetes mendengar satu per satu penjelasan Pak Raditya, bahwa di balik semua ini ada ujian yang tengah ia hadapi.
"Mami?" panggil seseorang membuat aku melihat ke arah lorong tepat di kananku.
Aku tersenyum menatap wajah anak yang kukira ia akan lupa denganku, ternyata dirinya masih saja mengenali diri ini.
"Mami!" pekik Daisha berlari ke arahku. Aku langsung memeluk tubuhnya erat, anak yang dulunya begitu pendek sekarang sudah begitu tinggi.
"Hiks ... Daisha kangen sama Mami," ujar Daisha menangis di pelukanku dengan pelukannya yang jauh lebih erat.
"Dan ... kami pulang kembali ke Indonesia juga sebab Daisha, dia udah gak tahan untuk bertemu kembali padamu Azal.
Setiap malam dia pasti akan bermimpi dan kadang sampai menangis sangking rindunya denganmu," papar Pak Raditya yang kulihat ke arahnya dengan mendongak.
"Mami, dia siapa?" tanya Daisha setelah pelukan terlepas dan menunjuk ke arah Dara.
"Kenalin, ini Dara. Dara, ini Daisha," ujarku memegang bahu Dara dan membawanya ke sampingku berhadapan dengan Daisha.
"Kamu anak Mami aku, ya?"
"Ha? Ini Tante aku," jelas Dara yang pasti tidak paham dengan situasi saat ini.
"Mami aku Tante kamu?"
"Sejak kapan Tante aku nikah dan anaknya kamu?"
Aku terkekeh mendengar pembicaraan mereka yang sepertinya harus diberi penjelasan meskipun akan sedikit sulit nanti.
Menghapus air mata dan berdiri, kulihat ke arah Pak Raditya yang tersenyum dengan manis menatap ke arahku.
Hal itu tentu saja membuat aku malu dan mengalihkan pandangan ke arah dua bocil ini.
__ADS_1