
Suara tangisan terdengar sampai ke kamar, aku yang sudah selesai mandi dan bersiap langsung berlari keluar kamar.
"Sayang, kamu kenapa?" pekikku.
"Daisha kenapa?"
Bersamaan dengan aku yang sampai ke sofa, pintu terbuka dan menampilkan Pak Raditya yang masuk dengan wajah panik.
"Ada apa ini?" tanya Pak Raditya membuat aku menaikkan bahu. Aku berjalan ke depan Daisha karena ia tak menoleh ke arah kami yang ada di belakangnya.
"Daisha, kamu kenapa?" tanyaku mengusap pipinya yang sudah dibanjiri air mata bahkan bedaknya sudah hilang.
"Hiks ... hiks." Ia tak menjawab dengan terus sesenggukan. Aku melirik ke arah Pak Raditya yang berdiri di samping sofa.
Naik ke atas sofa dan duduk di samping Daisha, kudekap ia agar bisa lebih tenang. Itu yang kulihat di film-film drama saat wanitanya sedang menangis pasti laki-lakinya memeluk wanita itu.
"Sayang, udah jangan nangis, ya. Ada Mami di sini," kataku mengusap rambutnya.
"Kau tinggalkan dia sendirian Azal?" tanya Pak Raditya membuka suara.
"I-iya, Pak. Saya tadi mandi sebentar dan dia sendirian di sini."
"Kenapa kau ceroboh sekali, sih? Kalau dia kenapa-kenapa saat sendirian, gimana? Sekarang, liat 'kan bahkan entah apa yang terjadi padanya sehingga dia menangis seperti ini!"
Aku terdiam mendengar suara Pak Raditya yang marah padaku, mungkin memang salahku karena meninggalkan dia sendirian.
Seharusnya, aku membawa Daisha ke kamar saja. Daisha bisa menungguku saat mandi di tempat tidur.
"Maaf Pak, saya gak tau kalo dia takut sendirian begini. Lain kali, Daisha gak akan saya biarin sendirian," ucapku merasa bersalah.
"Ini bukan salah Mami, kok, Pi," ucap Daisha dengan sesenggukan.
"Tadi, Daisha liat di tv. Kelincinya punya Mami dan Papi, sedangkan Daisha cuma punya Papi doang."
"Sayang ... Papi, 'kan pernah bilang," ujar Pak Raditya mengusap wajahnya kasar karena tahu penyebab Daisha menangis.
"Kan, sekarang udah ada Mami Azaleana Pi."
Aku terdiam dan tak paham dengan maksud mereka, kenapa jadi bawa-bawa aku?
"Sayang, nanti Papi akan cari wanita lain, ya. Azal terlalu ceroboh buat menjadi seorang istri," bujuk Pak Raditya yang lagi-lagi menghinaku.
"Bapak kenapa, sih, ngehina saya mulu? Ngatain saya ceroboh mulu kerjaannya! Emangnya, mulut Bapak itu gak bisa digunakan untuk berucap kalimat yang bagus, ha?" tanyaku dengan emosi.
Aku bangkit dari tempat duduk dan meninggalkan mereka berdua, masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makanan tadi.
Meskipun sebenarnya aku ingin masuk ke kamar sambil nangis-nangis dan ngehidupin musik sedih.
__ADS_1
Tapi, ada tugas yang harus tetap kujalankan karena hanya ini satu-satunya sumber uangku mana aku udah dikasih pinjam mobil pulak.
"Kan, Papi sih buat Mami ngambek! Pokoknya Daisha ngambek juga sama Papi kalo Papi gak minta maaf sama Mami!"
Makanan sudah kuletakkan ke tempatnya masing-masing, tak lama Daisha datang dan langsung memeluk kakiku.
"Mami, maafin Daisha, ya," katanya dengan mata yang berbinar.
"Daisha emang punya salah apa? Hmm?"
"Gara-gara Daisha Mami sama Papi jadi bertengkar."
"Gak papa, kok. Mami yang harusnya minta maaf, seharusnya gak bertengkar di depan Daisha. Sekarang, jangan nangis lagi, ya."
Daisha mengangguk dan dengan cepat mengusap wajahnya menghilangkan jejak air mata.
Aku meletakkan piring, gelas juga sendok. Membuang sampah bekas makanan tadi dan mengajak Daisha untuk menonton televisi kembali.
"Eh, Daisha punya PR, 'kan?" tanyaku saat dirinya sudah fokus ke kartun.
"Iya, Mi."
"Masih ada waktu setengah jam, kita kerjain, yuk!" ajakku dan diangguki oleh Daisha.
Dia mengambil tas di dalam kamar dan membawanya ke ruang televisi, kami mengerjakannya bersama-sama.
Pak Raditya langsung melihat ke arahku sedangkan aku hanya melihat ke arahnya dengan menggunakan ujung mataku saja.
"Wah, capek, gak?"
"Enggak, kok, soalnya Daisha cuma disuruh bersihin sofa doang."
"Soalnya kalau Daisha bersihin lainnya, berat. Nanti, Daisha gak kuat lagi."
"Hehe, iya Pi. Eh, bentar deh Mi. Kayaknya Daisha ada lupa sesuatu, Daisha masuk ke kamar dulu, ya," pamit Daisha turun dari bangku dan berlari ke kamarnya.
Suasana canggung menyelimuti ruangan ini, tapi sebisa mungkin aku harus biasa-biasa saja.
"Ehem!" dehem Pak Raditya yang tak sama sekali kugubris.
"Apakah kau ada membuka laci di ruangan tengah?" sambungnya mengintrogasiku.
"Gak sengaja," jawabku dengan pelan sambil tetap fokus dengan makananku.
"Kau baca semuanya?"
"Gak sengaja Pak," kataku lagi menatap ke arahnya yang ternyata juga menatapku.
__ADS_1
"Jangan bertanya apa pun setelah ini!"
"Dih, geer banget Bapak! Siapa juga yang akan nanya-nanya?"
"Hmm, terserahmu."
"Kenapa gak Bapak pajang gambarnya?"
"Baru saja kuperingatkan padamu Azal! Kau sudah bertanya!"
"Eh, maaf Pak lupa-lupa," kataku sambil cengengesan.
Daisha kembali ke ruang makan dengan tangannya yang tak membawa apa-apa, aku tercengang melihat tingkah anak ini.
"Daisha dari mana?" tanyaku pasalnya lima menit bahkan mungkin lebih dia pergi tapi tak membawa apa-apa.
"Dari kamar, Daisha lupa meletakkan tas balik ke tempatnya," ujarnya dengan menampilkan gigi rapinya itu.
Aku hanya menggelengkan kepala, jadi dia pergi hanya untuk meletakkan tas doang? Terkadang, aku tak mengerti. Apakah anak dan ayah ini memiliki kelainan?
Pasalnya, mereka beda dari makhluk bumi lainnya. Kuhela napas dan kembali menyuapkan Daisha.
Malam ini Daisha ingin di dongengkan oleh Papinya, aku memiliki waktu me time malam ini. Kuambil handphone dan pergi ke taman depan duduk di sini menikmati malam.
Biasanya, setelah pulang kampus. Aku hanya tinggal rebahan sambil bermain handphone lalu menunggu dipanggil Mama untuk makan.
Sekarang, semua berubah. Aku harus kerja agar bisa memenuhi apa yang kuinginkan, seolah tak ada lagi Azaleana yang manja dan super minta-minta.
Handphone-ku berbunyi, kulihat nama yang tertampil di layar, "Mama?" kataku membaca nama itu.
"Assalamualaikum, ada apa Ma?" tanyaku setelah mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu apa kabar? Sekarang di mana? Kenapa gak ngehubungi Mama? Uang kamu udah habis dari tiga hari yang lalu, lho."
"Hehe, gak papa Ma. Azaleana habis bayar semester dan beli barang yang diperlukan untuk kampus."
"Jadi, kamu gak pernah perawatan lagi?"
"Hahaha, bukannya dulu Mama juga marah kalau Azaleana perawatan mulu? Sekarang, bahkan sudah sebulan gak perawatan. Jangankan perawatan, maskeran aja udah jarang."
"Ya, ampun Sayang. Tapi, gak papa sih. Biar kamu belajar mandiri."
"Hehe, iya, Ma. Terserah sama Mama aja."
"Eh, Sayang. Kamu marah, ya, sama Mama? Maaf, ya, soalnya Abang kamu gak kasih izin Mama buat ngasih kamu uang."
"Gak papa, kok, Ma. Bahkan, kalo dia nyuruh Mama buat gak anggap aku anak lagi juga gak masalah! Udah dulu, ya, Ma. Udah malem, aku mau tidur. Assalamualaikum."
__ADS_1