
Suara kokokan ayam mengusik tidurku, bangkit dan mengucek mata sambil melirik ke arah jam dinding.
"Ha? Telat-telat, astaga Ana!" pekikku dan langsung turun dari ranjang sambil melihat ke ranjang yang sudah kosong.
"Daisha!" pekikku berjalan ke arah kamar mandi untuk mencari anak itu.
Kutempelkan telinga untuk mendengar apakah ada suara air yang mengalir, ''Kok, gak ada, ya?'' tanyaku yang mulai panik.
Dengan cepat aku keluar dari kamar setengah berlari, ''Daisha! Daisha!" pekikku kembali membuat seisi ruangan menggema suaraku.
"Kenapa Mbak?" tanya Bibik menghampiriku.
"Bik, ada liat Daisha, gak?" tanyaku dengan panik memegang tangan Bibik.
"Saya udah liat di kamar mandi, dia gak ada. Ini udah siang, apa dia udah pergi ke sekolah?"
"Hahaha, belum Mbak. Dia ada di taman belakang sama Papinya, Mbak kayaknya sayang banget sama dia, ya. Sampe khawatir kayak gitu banget," tutur Bibik menatap ke arahku sambil tersenyum menggoda.
Bahuku merosot dan mengucapkan lafadz hamdalah ketika mendengar penuturan Bibik soal keberadaan Daisha.
"Dia udah mandi belum, Bik?"
"Mmm ... kayaknya belum deh Mbak."
"Ha? Belum?" Kutatap ke arah jam yang tertempel ke dinding, berlari ke luar rumah dengan menggunakan kerudung pasmina tanpa jarum ini.
Aku hanya asal memakainya sangking khawatir jika Daisha pergi sendirian tanpa ada yang menemani.
"Daisha, kok masih di sini, sih? Kamu juga belum mandi kayak gini lagi,'kan mau sekolah, Sayang,'' gerutuku frustasi menghadapi mereka.
Kedua orang di depanku menoleh setelah mendengar ucapan tadi, Daisha hanya menampilkan cengiran padaku.
"Maafkan Daisha, ya, Mami. Papi yang ajak Daisha tadi," bujuk Daisha yang melihat wajah kesalku.
"Mami cariin kamu ke mana-mana, lho. Ini udah jam berapa? Kenapa belum mandi, 'kan mau sekolah, sih, Sayang!" keluhku merasa letih. Padahal, ini masih pagi.
Namun, mood-ku sudah hancur dibuat oleh Pak Raditya yang mengajak anaknya malah bermain di taman bukannya menyuruh Daisha untuk bersiap ke sekolah.
"Bapak juga! Seharusnya Bapak nyuruh dia buat siap-siap sekolah dong, bukan malah nemani dia bermain kayak gini!" protesku padanya.
Ia bangkit dari jongkok, mereka baru saja memegang kelinci yang entah milik siapa dan dari mana.
"Ya ... dia bilang, dia mau nunggu kau Azal. Mangkanya saya ajak aja dia ke taman sambil nunggu kau bangun," katanya membela diri.
Aku diam dengan menatap tajam ke arah mereka, memegang tangan Daisha berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ayo, kita siap-siap buat sekolah. Udah telat ini!"
Meninggalkan Pak Raditya sendiri yang entah menatap dengan marah padaku juga atau tidak. Masuk ke dalam kamar dan mempersiapkan Daisha.
"Mami, Mami masih marah sama Daisha, ya?" tanya Daisha melihat ke arahku dari pantulan kaca.
Kubalikkan tubuhnya agar bisa menatap ke arahku karena rambutnya sudah kuikat menjadi dua bagian.
"Enggak, kok. Mami udah gak marah, tapi lain kali jangan kayak gini, ya, Sayang. Kalau emang udah bangun, kamu boleh bangunin Mami.
Atau ... kamu langsung mandi duluan aja, biar Mami pas bangun bisa tinggal siapkan baju juga ikat rambut kamu."
"Iya, Mami. Daisha janji gak akan kayak gini lagi!" Daisha mengacungkan jari kelingkingnya padaku dan kusambut dengan jariku juga, kucium pipinya sebentar karena gemas dengan tingkah anak ini.
"Pinter banget sih kamu ... yaudah, yuk, kita pergi sekolah!"
"Mami gak sekolah?"
"Enggak, hari ini kelas Mami kosong."
"Jadi ... Mami bisa temenin Daisha, dong, ya?"
Aku tersenyum dan mengangguk membalas ucapannya yang sepertinya begitu gembira mendengar aku tidak kuliah.
"Ye!! Diteminin Mami sekolah, ye!!" Daisha turun dari bangku dan berteriak sambil meloncat-loncat menunjukkan kebahagiaannya.
"Sayang! Ayo kita pergi cepetan, udah mau masuk sekolah!" pekikku menggendong tubuh Daisha dan keluar dari kamar.
"Pak! Ayo cepetan antar Daisha!" teriakku mencari keberadaan Pak Raditya.
"Lah, Mbak? Gak sarapan dulu Non Daishanya?" tanya Bibik tergopoh-gopoh.
"Bawa sini aja Bik, biar saya suapin di dalam mobil aja!" putusku sambil merapikan pakaian juga kerudung.
"Ini Mbak!" seru Bibik memberikan piring yang berisi roti sudah diberi selai cokelat.
"Terima kasih, Bik." Kugandeng tangan Daisha dan berlari ke luar rumah, tidak ada tanda-tanda Pak Raditya mungkin ia sudah ada di dalam mobil menunggu kami.
Kubuka mobil di belakang dan segera masuk ke dalamnya, di dalam benar saj Pak Raditya sudah menunggu kami di dalam.
Ia juga sama seperti Daisha, membawa sarapan ke dalam mobil, ''Mangkanya lain kali, kalau udah bangun langsung siap-siap bukannya malah liat kelinci entah milik siapa,'' sindirku sedangkan mulut Pak Raditya penuh dengan roti.
Ia menjalankan mobil dengan melihat ke arah belakang penuh hati-hati, ''Kayaknya Pak Parto perlu dibawa ke sini, deh,'' keluhnya yang sepertinya sedikit kesusahan.
"Salah diri sendiri juga!'' ketusku sambil menyuapi Daisha.
__ADS_1
''Mami gak makan?'' tanya Daisha mendongak menatap ke arahku.
"Gak papa, kamu duluan aja Sayang. Nanti, Mami baru makan di kantin sekolah kamu."
"Daisha seneng banget, deh. Ini kali pertamanya Daisha ditemani sekolah, biasanya cuma dianter doang."
"Ya, Mami 'kan karena sekolah juga, Sayang. Sama kayak, Daisha. Masa, lebih pinteran Daisha dibanding Mami, sih?"
"Oh, jadi Mami sekolah biar lebih pintar dari Daisha?"
"Hmm ... enggak juga, sih, tapi setidaknya biar pas Daisha nanya sesuatu Mami bisa jawab pertanyaan itu."
"Kau belum mandi Azal?"
"Udah Pak, emangnya kenapa?"
"Kau belum pake make-up?"
"Cuma pake lipbalm doang, kenapa, sih?"
"Yakin begitu nemenin Daisha?"
"Yakin, lagian 'kan cuma nemenin doang, sih."
"Nanti, udah. Diejekin kau Azal karena gayanya kayak Ibu-ibu banget."
"Emangnya salah, ya?" tanyaku yang jadinya tidak pede karena ucapan Pak Raditya.
"Ya, terserah denganmu aja. Asalkan jangan kau nangis nanti pas pulang karena dihina mereka."
"Dih, Bapak jahat bener dah."
"Lah, jahat kenapa?"
"Itu, doain saya supaya dihina begitu."
Kami turun dari mobil dengan meninggalkan piring di dalam mobil tadi, "Lah, kenapa gak dibawa?" tanya Pak Raditya menatapku.
"Kenapa gak sekalian Bapak kasih saya mangkuk aja, biar bisa dipake buat minta-minta dijalan. Masa, pake piring orang mah gak pernah pake piring."
"Jadi, kau mau tinggalkan piring ini di dalam mobil saya Azal?"
"Sutt ... diam deh, Pak. Berisik banget! Anaknya udah telat, nih! Bye ...."
Tangan Daisha kugandeng berjalan masuk ke dalam sekolah, Daisha juga melambaikan tangannya ke arah Pak Raditya sedangkan aku tersenyum mengejek ke arahnya.
__ADS_1
Hal ini kulakukan agar ia jera, setidaknya jika terjadi ke depannya aku telat bangun. Dirinya bisa langsung memandikan Daisha atau menyuruh anak ini untuk bersiap-siap.
Bukannya malah mengajak bermain entah ke mana-mana saja. Sangat menyebalkan sekali.