(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Feeling Seorang Kakak


__ADS_3

Hari pertama aku kembali ke butik, selesai salat Subuh aku langsung bergegas ke dapur melihat Bibik sedang membuat sarapan apa.


"Bik, siang nanti Daisha akan mulai les privat jadi tolong suruh makan dulu baru bawakan bekal buat dia, ya."


"Baik Buk."


"Kalau Mas Raditya, dia bisa beli makan siang di kantin. Jadi, gak usah banyak masak makan siang. Pas malam aja nanti baru banyak, ya. Soalnya saya juga akan makan di rumah," jelasku dengan tersenyum.


"Baik Buk."


"Yaudah kalau gitu, saya ke kamar dulu, ya. Mau siap-siap."


"Silahkan Buk," katanya dengan tersenyum. Kutepuk pelan bahu Bibik lalu pergi meninggalkannya sendiri.


Saat akan kembali ke dapur, kulihat kamar Ade sudah terbuka dan menatap ke arah kamar Daisha.


'Dia udah di kamar Daisha? Cepet banget, padahal jam 6 juga bisa ke situ,' batinku berjalan mendekat ke arah kamarnya.


'Oh, iya, aku harus naruh CCTV kecilnya ke kamar dia sama Daisha, ya?' sambungku bergegas ke kamar untuk mengambil CCTV-nya.


CCTV-nya sudah dihidupkan dan terhubung langsung ke handphone-ku, kulihat Mas Raditya masih bergulung di bawah selimut sehabis salat tadi.


Keluar kembali dengan perlahan dan berjalan ke kamar Ade, melihat situasi terlebih dahulu baru masuk ke dalam kamarnya.


Kulihat tempat yang sekiranya tak akan terlihat olehnya, mengedarkan pandangan mencari posisi yang pas.


Aku tersenyum saat melihat ada satu tempat yang sekiranya cocok untuk meletakkan CCTV-nya. Setelah selesai, dengan cepat aku keluar agar tak ada yang tahu.


Suara denting sendok saling bersahutan di ruang makan, Daisha sekarang sudah tak terlalu manja sebab dirinya tahu bahwa ia sudah besar.


Padahal, aku tak keberatan jika dirinya masih minta disuapkan makan olehku. Memangnya kenapa? Gak salah, dong.


"Sayang, belajar yang baik dan jujur, ya. Jangan bandel tapi jangan mau diinjek-injek orang juga, ya."


"Belajar jujur Mi?" beonya mengulang kalimatku.


"Iya, dengan tidak mencontek saat ada tugas dari guru. Itu salah satu belajar jujur juga."


"Oh, Daisha, 'kan pinter Mi. Ngapain harus nyontek sama orang lain?" tanya Daisha dengan tertawa.


"Nih, anak. Gak boleh sombong kayak gitu, ih," tegurku tertawa.


"Becanda Mi."


"Itu sifat sombongnya, kayaknya dari Papi, ya?" tebakku membuat Mas Raditya yang tadinya tersenyum seketika mendatarkan wajah.

__ADS_1


"Eh, malah aku. Kamu kayaknya."


"Ih, aku adalah wanita paling ramah bahkan," belaku tak terima dengan tuduhannya.


"Hahaha, Mami sama Papi malah bertengkar. Kalian itu adalah dua orang yang baik dan gak sombong, kok. Mangkanya, Daisha juga jadi anak baik dan imut."


Kami tertawa di ruang makan pagi ini dengan pembicaraan yang tak jelas, Daisha terlebih dahulu pergi diantar oleh sopir ditemani Ade.


Tak lupa aku memberi tahu padanya bahwa akan mulai les privat sesuai keinginan anak itu, aku hanya mengikuti apa yang dimaunya saja.


Mendengar suara mesin mobil pergi dari halaman rumah, aku langsung mendekatkan kursi ke Mas Raditya dan melihat ke belakang kami.


Karena, takut jika sampai Bibik mendengar pembicaraan ini. Bukan aku tidak percaya padanya juga.


Namun, ada baiknya biar hanya aku dan Mas Raditya yang tahu soal kecurigaan ini.


"Mas, aku tadi udah letakkan CCTV-nya di kamar Ade. Tinggal kamar Daisha aja yang belum."


"Kapan kamu letakkan?"


"Tadi subuh pas lagi ngecek dapur apa Bibik sudah bangun atau belum."


"Yaudah, sekarang pasang di kamar Daisha. Semoga apa yang ditakutkan tentang Ade itu semua gak benar, ya."


"Aamiin, semoga cuma perasaan aku aja Mas. Oh, iya Mas. Kamu tau, gak? Daisha belakangan ini sifatnya jadi aneh gitu, iya, gak sih?" tanyaku meminta pendapat.


"Ya ... kayak lebih dewasa gitu, dia juga gak mau aku suapin bahkan minta di les privat katanya. Bahkan, kemarin pas dia mau minta belikan mainan.


Masa, dia bilang buat bermain sama adik katanya dan ngusap perut aku. Kayak, aneh aja gitu Mas."


"Lah, bagus dong? Eh, katanya anak kecil itu bisa liat kalau di dalam perut Mamanya ada adiknya atau enggak, lho. Dia punya feeling begitu."


"Ck! Kata siapa? Kamu sotoy gini jadinya, Mas. Udah, ah, ayo kita berangkat kerja!" ajakku berniat bangkit tapi terduduk kembali sebab tanganku di tahan dengan keras oleh Mas Raditya.


"Gimana kalau kita wujudkan kemauan Daisha? Dia kayaknya udah siap, tuh. Mumpung lagi sepi," bisik Mas Raditya tepat di samping telingaku.


"Ih! Kamu apaan sih, Mas? Merinding aku denger kamu ngomong, lepas ih! Aku mau kerja!" tolakku mentah-mentah melepaskan tangannya di pergelangan tanganku.


"Ayolah Sayang, sekali aja," bujuknya mengusap wajahku.


"Gak-gak! Ayo, kita kerja!" pekikku yang sudah pergi meninggalkan dia.


"Satu ronde aja Sayang!"


"Noo!"

__ADS_1


"Setengah-setengah!"


"Noo!"


Raditya tertawa sebab berhasil menggoda istrinya hingga membuat wanita itu tak lagi terlihat oleh matanya.


Ia menatap lurus ke depan dengan menopang dagu, "Siapa sebenarnya Ade? Sampai dia melukai Daisha atau Ana, jangan harap dirinya bisa bahagia!" tegas Raditya yang tak main-main.


Aku dan Mas Raditya pergi bersama-sama, "Bik!" panggilku membuat Bibik berlari dengan tergopoh-gopoh.


"Iya, Buk?"


"Jangan lupa, ya, Bik. Buatkan makan siang cuma buat Daisha aja, sama satu lagi kalau ada petugas elektronik yang mau pasang CCTV tolong temenin bentar, ya.


Kasih tau mereka kamarnya yang mana-mana aja harus dipasang CCTV."


"Eh, kamar Bibik juga mau dipasang CCTV, Buk?"


"Haha, enggak kok Bik. Aman, soalnya di kamar Bibik gak ada kamar mandinya, ntar keliatan lagi kalau Bibi ganti baju," kataku bercanda.


"Heheh, atuh si Ibuk mah. Bibik lebih seneng mandi di kamar mandi dapur Buk soalnya daripada di kamar," jelas Bibi menolak kamar tidur yang ada kamar mandinya dan memberikan kamar itu pada Ade.


Setidaknya, aku jadi lebih enak sebab tak akan melihat tubuhnya seperti itu.


"Iya, Bik. Gak papa, yaudah kalau gitu. Saya sama Mas Raditya pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah Bik," pamitku dan berjalan meninggalkan Bibik.


"Baik Buk, hati-hati di jalan!" pekik Bibi sambil melambaikan tangan ke arahku.


Aku tersenyum membalas lambaian tangan Bibik, masuk ke dalam mobil duduk tepat di samping sopir teganteng sedunia.


"Kamu udah pasang CCTV-nya?" tanya Mas Raditya.


"Sudah, dong!" seruku dengan tersenyum lebar.


Kulihat ke arah depan dan kembali menatap Mas Raditya, "Pak sopir? Kok gak jalan juga, sih? Saya ntar telat sampai butiknya, lho," protesku sebab sudah lima menit di dalam mobil tapi mobil tak kunjung hidup atau bahkan dijalankan.


"Maaf, Ibu. Tidak bisa jalan jika Ibu tidak memakai sabuk pengaman, bentar saya pakaikan dulu, ya," jawab Mas Raditya memakaikan sabuk pengaman begitu dekat denganku.


Kutatap wajahnya dengan jarak begitu dekat, setelah sabuk pengaman terpasang ia menatap ke arahku yang masih saja menatap wajahnya itu.


Cup!


Cup!


Cup!

__ADS_1


Tiga kecupan bertubi-tubi diberikannya pada wajahku ini, "Ih, apaan, sih? Jadi ternodai nih wajah pagi-pagi," keluhku sambil menghapus jejak bibirnya.


"Anggap itu sebagai ongkos, Buk. Soalnya taksi ini sistemnya lain dari yang lain," katanya tersenyum puas membuat aku juga mengulum senyum melihat kelakuan randomnya.


__ADS_2