(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Meninggalkan


__ADS_3

Aku kembali ke bangku undangan dengan senyum yang mengembang, mencari keberadaan suami tercinta(h) pake 'h' biar lebih alay. Hahaha.


"Kamu kenapa?" tanya Mas Raditya dengan wajah datar menatap istrinya.


"Bahagia dong Mas."


"Lah, 'kan Ayu nikahnya sendirian. Kenapa malah bahagia?"


"Jadi ...." Kuceritakan panjang kali lebar padanya dengan senyum yang mengembang hingga akhir cerita, "jadi, gitu ceritanya Mas."


"Oh," jawabnya singkat, padat dan minta di skakmat!


Plak!


"Kenapa, sih?" tanya Mas Raditya dengan wajah kesal mengusap bahunya yang kupukul.


"Mas, aku jelasin panjang kali lebar. Mas, malah cuma jawab 'oh' doang. Enteng banget tuh bibir!" cetusku menatap tajam ke arahnya.


"Lah, terus? Gue harus jawab apa? Bagus, dong kalau dia gak jadi pengantin tunggal."


"Tau, ah! Terserah kamu aja Mas!" ketusku dan mengalihkan pandangan.


Memang benar, salah satu uji mental itu bukan hanya tinggal dengan mertua atau punya tetangga yang kepoan. Akan tetapi, nikah sama yang lebih tua juga salah satu uji mental yang sangat luar biasa.


Apalagi, untuk wanita yang gak bisa diam serta humor receh seperti aku. Hmm ... makan hati tiap hari dah.


Para undangan mulai berdatangan, Papa Ayu sibuk memberi tahu penghulu juga MC. Mungkin, memberi tahu bahwa mempelai pengantinnya berubah nama.


Meskipun rada sedikit mirip, tapi tetap saja berbeda. Intinya, hati-hati deh sama inisial 'R' kebanyakan, sih, nyakitin!


Salah satunya suamiku, dong? Eh, enggak ... dia 10% isial 'R' yang gak nyakitin wanita, mungkin sih.


Acara dimulai oleh MC, aku merasa deg-degan juga terharu dengan pernikahan yang bisa dibilang melenceng dari rencana ini.


"Ana," panggil Mas Raditya yang tak kurepons.


"Ana!" panggilnya kembali lagi dengan sedikit mendekat ke arah telingaku.


"Ana!"


"Apa? Mas mau minta maaf sama aku? Udah, tenang aja! Udah aku maafin, kok," jawabku penuh dengan percaya diri.


Bagaimana pun, dia suamiku. Gak mungkin lama-lama ngambek sama dia, mana tahan aku dan dia pasti gak tahan aku diemin lama-lama.

__ADS_1


"Apaan, sih? Orang saya mau nyari toilet di mana? Mau buang air kecil ini," ungkapnya dengan berbisik dan melihat sekitar takut ada yang mendengar ucapannya barusan.


Aku terdiam seketika menatap laki-laki yang sepertinya sudah menahan dari tadi, menghela napas dalam-dalam dan jangan lupa membuangnya.


"Yuk!" ajakku bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangan ke arahnya.


"Saya bisa jalan sendiri, gak perlu gandengan," katanya menolak diriku ini.


Berjalan lebih dulu dengan mencebik, kaki sedikit kuhentak-hentakkan tanda kesal melihat kelakuan suami satu ini.


"Ada gak sih yang mau tukar tambah suami? Aku mau, deh. Suaminya yang kayak di cerita-cerita gitu, seru kayaknya," gumamku melirik ke arah belakang di mana dia berada.


Kami masuk ke dalam rumah Ayu, karena hanya ada di dalam toiletnya. Jadi, terpaksa kami masuk ke dalam.


"Mas mau saya temani di dalam juga, gak?" tanyaku menggoda dirinya.


"Gak perlu!"


"Gak papa, biar saya temani juga."


Aku berniat masuk ke dalam, tapi dia lebih dulu menahan jidatku agar tak masuk ke dalam toilet.


"Ini rumah orang Azal! Jangan macem-macem, deh!" tekan Mas Raditya, "tunggu di luar aja!"


"Eh, Ana? Ngapain di sini?" tanya Mama Ayu yang kebetulan ada di dapur.


"Oh, ini Tante. Nungguin suami saya," jawabku tersenyum.


"Oalah, kirain lagi ngapain di sini. Yaudah, Tante ke depan dulu, ya. Oh, iya, makasih banyak udah membujuk Ayu.


Tanpa ada kamu, mungkin Tante juga keluarga udah malu gara-gara laki-laki itu. Maafkan juga karena Ayu hampir aja nikah sama cowok yang kamu mau dulu."


"Haha, itu kisah lama kali Tante. Saya gak masalah juga, kok, kalau sekarang yang nikah sama Ayu itu dia.


Perasaan saya udah sepenuhnya buat suami saya tercinta, Tante. Jadi, Tante tenang aja gak perlu bilang kayak gitu," kataku memegang bahu Mama Ayu.


"Yaudah kalau gitu, Tante ke depan dulu, ya."


"Iya, Tante. Silahkan."


Ceklek!


Tak lama pintu terbuka menampilkan Mas Raditya yang berjalan keluar dari kamar mandi, "Udah?" tanyaku basa-basi.

__ADS_1


Ia hanya mengangguk dan berjalan lebih dulu meninggalkan aku, "Dih, dasar! Main ninggalin aja," cetusku melihat punggung yang menjauh, "gimana kalau aku kerjain aja dia?"


Ide jahil terlintas di benakku, aku memilih untuk tak keluar dari rumah ini dan membantu para warga atau bahkan saudara Ayu yang sadang menyiapkan makanan untuk tamu.


"Buk, saya bantuin boleh, ya?" tanyaku meminta izin terlebih dahulu.


"Ya, ampun Neng. Udah cantik gitu, masa di dapur sih? Ke depan aja, ndak papa, kok. Kita bisa ngerjain," tolak mereka yang pastinya merasa gak enak.


"Gak papa, kok, Buk. Lagian, saya lebih suka bantu-bantu gini."


Kulepas hells dan silent handphone memasukkan ke dalam tas, duduk di atas tikar yang dibentang mereka.


"Jadi, apa nih yang bisa saya bantu?"


"Ini, Neng potongin buahannya, ya."


"Eh, ada salad buah, ya, Buk?"


"Ada atuh Neng, ada bakso, cilok sama rujak juga nanti."


"Wah ... emang rezeki anak sholehah itu gak akan ke mana, ya, Buk. Ada porsi spesial, 'kan buat saya?" tanyaku tanpa malu sambil mulai memotong-motongi buahan.


"Ada dong pastinya, Neng. Tenang aja!" jawab si Ibuk sambil berbisik membuat aku tertawa. Sebelumnya aku sudah cuci tangan, cuci tangan yang disediakan mereka di sini.


'Rasain, kecarian dah lu Mas! Lagian, siapa suruh manggil lu, Azal segala? Mana diemin gue lagi, dikira gue apaan di diemin? Patung?' batinku kesal padanya.


"Azal ke mana, ya?" tanya Raditya pada dirinya sendiri yang mulai gelisah. Acara sudah dimulai dan dirinya sudah sepuluh menit duduk di kursinya kembali.


Tapi, Ana tak kunjung datang atau bahkan berada di sisinya. Ia mengambil handphone dan menelpon nomor wanita itu.


"Aish! Ke mana sih nih cewek?" gerutu Raditya panik.


Ia melihat ke kanan, kiri juga belakang mencari keberadaan istrinya. Bahkan, ia terus menatap orang yang keluar-masuk dari pintu rumah Ayu.


Akad sudah dimulai dan gema, 'sah' juga memenuhi acara ini.


"Palingan, dia ikut nganter Ayu keluar kali, ya?" tebak Raditya menautkan alisnya mencoba berpikir positif.


Ayu keluar dengan beberapa bridesmaid di belakangnya, Raditya menyipitkan mata untuk melihat satu per satu wajah wanita yang ada di belakang Ayu.


"Ish! Di mana lagi nih cewek, malah ngilang lagi!" Raditya bangkit dari bangkunya dan mencari keberadaan Ana yang entah di mana.


"Ditelpon-telpon juga malah gak diangkat lagi, di mana sih nih orang?" Raditya terus menelpon Ana dan masuk kembali ke dalam rumah Ayu.

__ADS_1


__ADS_2