(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Calon Kakak Ipar


__ADS_3

Sesuai dengan janji Abang kemarin, hari ini dia menemani aku ke salon dan shopping. Tapi, aku memilih untuk perawatan wajah saja.


"Abang tumben banget, lho, mau nemenin aku. Biasanya juga, cuma ngasih uang aja," kataku yang curiga.


Mama tak ikut dengan kami, karena katanya habis ngajar mau langsung nanya soal tahan yang ada di luar kota.


Beliau sangat semangat, bahkan semangatnya melebihi kaum anak muda saja.


"Ya, emangnya ada yang salah, ya? Kalau Abang nemenin kau Ana buat perawatan?" tanya Abang dengan tersenyum.


"Nah-nah-nah, makin aneh aja tau. Abang mau ngasih tau apaan, sih? Kenapa senyum segala?" cercaku menunjuk ke arahnya dengan tubuh berada di hadapannya.


"Udeh, deh! Kau bawel sekali Ana, sebelum perawatan lebih baik kita makan dulu, yuk!" ajaknya dan merangkul bahuku.


"Bukannya kita tadi udah makan, ya?" tanyaku dengan mendongak melihat ke arahnya.


"Gak papa, makan lagi biar kau kuat menunggu lamanya nanti proses perawatannya," jelas Abang dan hanya kutatap dengan aneh.


Sesampainya di cafe dan memesan makanan, aku masih menatap Abang dengan penuh curiga. Pasti, ada udang di balik bakwan mangkanya dia bisa sebaik ini padaku.


Kulihat ke arah kanan, kiri, atas juga bawah. Eh, liat apaan di bawah? Yakali ada orang muncul dari bawah tiba-tiba, gabut bener dah tu orang!


'Siapa, sih, yang ditunggu Abang?' batinku menatap sinis ke arahnya.


"Sorry, ya, kita telat," ungkap seseorang yang baru saja datang dan berdiri di samping Abang.


Aku yang kebetulan melihat ke arah kiri langsung menatap ke sumber suara, seorang wanita dengan pakaian yang cukup modis dan ... seorang anak?


"Hay, Papi!" sapanya pada Abang yang sudah berdiri lebih dulu.


Wanita yang di samping Abang menatap ke arahku dengan senyuman, ia merapikan bajunya yang lumayan terbuka dan menunjuk ke arahku.


"Ini Ana?" tanyanya melihat ke arah Abang dan mendapati anggukan.


Anak kecil tadi langsung Abang gendong dan dengan riangnya bercerita di gendongan Abang, sedangkan aku berdiri dengan perlahan kaget dengan apa yang kudapatkan hari ini.


"Hay ... saya Kamelia," ucapnya mengulurkan tangan ke arahku.

__ADS_1


Dengan perasaan yang campur aduk, kusambut ulurannya itu, "Ana," kataku memperkenalkan diri.


"Ayo, duduk-duduk!" suruh Abang dan aku kembali duduk.


"Jadi, Ana. Dia ini Kamelia dan ini anaknya Dara, dia merupakan desainer yang cukup terkenal. Kau, 'kan ingin membuka butik.


Jadi, bisa belajar dari dia. Abang udah nanya soal itu dan dia sama sekali tidak keberatan untuk mengajarimu," jelas Abang memberi tahu maksudnya.


"Cuma itu?" tanyaku dengan menaikkan sebelah alisku.


"Cuma itu? Maksudnya?" tanya Abang dengan wajah yang beneran bingung atau hanya pura-pura saja.


Aku hanya diam melihat keadaan saat ini, mulutku sangat ingin marah dan memaki Abang atas kejutan yang ia berikan.


Jika dari awal dirinya ingin mengenalkan aku dengan calonnya, kenapa tidak diberi tahu? Setidaknya aku bisa menguatkan diri untuk bisa sok akrab dengan wanita yang akan bergelar Kakak iparku ini.


"Papi, Tante itu siapa?" celetuk anak perempuan yang duduk di pangkuan Abang.


Papi? Kutatap lekat ke arah anak itu, dia sama cantiknya seperti Daisha. Ya ... Daisha, aku sudah sangat lama tidak berjumpa apalagi ngobrol dengannya.


Bagaimana kabarnya sekarang di sana? Apakah dia sudah menemukan Mami baru dan bahagia bersama dengan keluarga barunya itu?


Kukunci pintu kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya, di lain sisi aku ingin marah pada Abang dengan kejutan yang tak kuharapkan seperti ini.


Di sisi lain, apakah aku tega membuat anak kecil yang sudah berharap memiliki seorang Ayah baru menjadi sedih dan kecewa hanya karena aku?


Abang juga punya kehidupan dan pilihannya sendiri, bukannya aku juga yang kemarin bilang bahwa biar ada suara tawa di rumah yang menemani Mama?


Seharusnya, aku bisa menerima ini. Aku bukannya sudah terbiasa ditinggal pergi karena keadaan?


Kenapa aku kembali lemah? Aku harus bisa, Abang berhak bahagia dengan wanita pilihannya itu.


Setelah berperang dengan pikiran sendiri, kucuci wajah dan memasang bedak kembali. Syukurnya, aku membawa bedak tadinya setidaknya bisa menutupi wajahku jika habis menangis.


Kuhela napas panjang dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, keluar setelah merasa lebih baik dan berjalan ke arah meja tadi.


Mereka berdua menatap ke arahku dengan wajah yang harap-harap cemas sedangkan aku membalas dengan senyuman.

__ADS_1


"You, okey?" tanya Abang saat kujatuhkan bobot kembali ke tempat dudukku semula.


Aku tersenyum dan menaikkan kedua alisku, "Mmm ... Kak Kamelia," ujarku mencoba mencairkan suasana.


Aku tahu bahwa dia pasti merasa tidak enak sebab aku pergi begitu saja tadi, "Iya, Ana."


"Hubungan sama Abang, apa?" tanyaku melihat ke arah Abang.


"Mmm ... kami hanya teman biasa," jawabnya dengan sedikit gugup.


"Really?" tanyaku kembali menatap ke arah Dara yang disuapi Abang dengan makanan yang dipesannya tadi.


"Jadi, Ana. Dia ... adalah calon istri Abang," jelas Abang sedangkan Kamelia membulatkan matanya mungkin panik.


"Mama udah tau?"


"Sudah, dan Mama udah ngasih izin juga restu," jawab Abang kembali.


Aku tersenyum melihat anak Kamelia yang begitu lahap makan, bangkit dan mengusap pipinya sebentar.


"Sayang, kamu ke situ dulu, ya," suruh Kamelia pada Dara ke arah bola-bola yang disediakan cafe ini.


"Hati-hati, ya, Sayang," titah Abang membiarkan Dara bermain di situ.


Setelah dia sampai ke tempat itu, mereka berdua menatap ke arahku, "Ana ... aku tau kalo aku gak pantas buat Abang kamu. Seperti langit dan bumi, itulah kami.


Apalagi kau yang begitu agamis sedangkan aku terbuka seperti ini, aku sama sekali tidak masalah jika memang kau tidak memberi restu pada kami.


Mungkin, memang bukan Abangmu jodohku. Aku gak masalah, aku tidak akan memaksa sesuatu apa pun itu," jelasnya padaku.


Aku terdiam dan menatap ke arah Dara yang sedang asyik bermain bola, mengalihkan pandangan ke arah mereka.


"Bagaimana mungkin aku bisa tidak memberi restu pada kalian? Sama aja aku mengambil kebahagiaan seseorang yang tidak tau menau soal ini.


Abang suka dengan Kak Kamelia juga dia menerima status Kak Kamelia, lantas atas dasar apa aku bisa melarang kalian untuk bersatu?


Toh, yang menjalani rumah tangga nantinya adalah kalian. Bukan aku, jadi semua itu terserah pada Abang dan Kak Kamelia," tuturku tersenyum sedangkan Kak Kamelia dan Abang terpancar kebahagiaan di wajah mereka mendengar ucapanku barusan.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap mereka berdua serempak. Aku tertawa melihat respons mereka, seolah jawaban dariku begitu penting dan berartinya.


__ADS_2