(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Mandiri


__ADS_3

"Kau cemburu, ya, Azal?" tanya Pak Raditya membuka suara saat kami sudah di perjalanan menuju pulang.


Saat aku pamit, tak lama ia mengejarku. Bahkan, niat untuk makan di luar batal karena mood-ku yang buruk juga Daisha sudah tertidur.


"Dih, ngapain juga cemburu saya Pak?" tanyaku dengan sedikit ngegas sambil menatap ke arahnya.


"Kalau gak cemburu, biasa aja dong. Gak perlu ngegas kayak gitu."


"Lagian Bapak aneh banget, pengen banget saya cemburuin, ya?" selidikku dengan menaikkan sebelah alis.


"Ck! Gak ada rasa bangga sama sekali dicemburuin orang kek kau Azal."


"Sadis bener tuh kalimat," cicitku mengalihkan pandangan ke arah lain.


Hening pun menyelimuti mobil hingga kami sampai di depan rumah, Pak Raditya berlari membuka pintu samping dan mengangkat Daisha di pangkuanku.


Aku terdiam sejenak di dalam mobil sambil memijit pahaku yang dirasa kebas akibat memangku Daisha terlalu lama.


"Ada apa?" tanya Pak Raditya yang ternyata kembali lagi untuk melihatku.


"Gak papa Pak, cuma kebas doang, kok," jawabku tak menoleh ke arahnya.


"Perlu saya gendong juga?" Pertanyaan yang membuatku langsung mengalihkan pandangan dan menatap ke arahnya dengan menautkan alis.


"Saya cuma becanda, lagian kau kayaknya lebih berat daripada saya. Mana kuat gendong kau Azal," sambungnya dengan nada seperti menghina.


"Enak aja! Saya cuma 45kg, ya, Pak!" kesalku menatap tajam ke arahnya.


"Kurus sekali, kurang gizi, ya?"


"Ck! Terserah Bapak deh!" ketusku dan bangkit dari kursi. Aku berjalan lebih dulu tak lupa menutup pintu mobil.


Kuhentakkan kaki sambil melongos masuk ke dalam rumah ini, kamar menjadi tujuan utamaku saat ini.


Segera kututup rapat pintu kamar, masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan berganti pakaian.


Setelah merasa semua selesai, aku kembali keluar dan menuju ke kamar Daisha. Tak kulihat ada Pak Raditya di dalamnya.


"Sayang, kita makan, yuk!" ajakku mengusap pelan pipinya.


Sebenarnya tak tega membangunkan Daisha. Hanya saja, sudah waktunya makan siang dia pasti lapar.


Beberapa kali kubangunkan hingga akhirnya ia menggeliat dan membuka matanya, aku langsung membantu membuka seragam sekolah menggantikannya dengan baju sehari-hari.


"Mami, kita udah lama sampe di rumah?" tanya Daisha saat rambutnya tengah kuikat ulang.


"Lumayan, Sayang. Daisha ngantuk banget, ya, sampe nyenyak banget tidurnya?"

__ADS_1


"Hehe, iya, Mami. Tadi di sekolah banyak banget belajar, sampe buat Daisha capek."


"Ada PR?"


"Ada Mami."


"Yaudah, ntar kita kerjakan bareng-bareng, ya."


"Oke Mi!" seru Daisha.


"Permisi paket!" pekik seseorang dari arah pintu utama. Aku dan Daisha saling pandang mendengarkan teriakan itu.


"Paket siapa, ya, Sayang? Kita ke depan, yuk!" ajakku meletakkan sisir karena rambut Daisha sudah kembali rapi seperti awal.


"Yuk, Mi!"


Kami berjalan membuka pintu kamar Daisha dan saat yang bersamaan Pak Raditya sudah lebih dulu membuka pintu rumah.


Ia mengambil box yang sepertinya berisi makanan, "Terima kasih, ya, Pak!" ucap Pak Raditya kembali menutup pintu utama.


"Papi, itu apa?" tegur Daisha membuat Pak Raditya yang sudah berjalan ke arah dapur berhenti dan melihat ke belakang.


"Eh, Sayang. Ini buat makan siang kita, Bibik mendadak harus pulang kampung karena anaknya sakit," jelas Raditya sambil menunjukkan kantong plastik itu.


"Lama Bibik perginya Pi?"


'What? Empat hari dia bilang cuma? Mau makan apaan empat hari ke depan? Masa, semuanya beli cepat saji, sih? Mana gue gak tau masak, lagi. Tau, sih, tapi yang instan-instan,' batinku yang tak tahu akan jadi apa rumah ini empat hari ke depan tanpa adanya Bibik.


"Ada apa Azal? Kenapa kau melamun kayak gitu? Mau mencoba masak untuk sarapan empat hari ke depan? Eh, tapi kayaknya kau tak tau masak, ya?" cerca Pak Raditya membuat aku emosi.


"Tau, kok, Pak. Tapi, cuma masakan instan doang."


"Seperti mie?"


"Ya, itu juga semua orang tau, kali!"


"Kan, hanya itu yang instan."


"Gak juga kali Pak."


"Yaudah, kalo emang kau tak keberatan. Saya tak masalah mulai besok kau yang menyiapkan makanan pagi kami," potongnya dengan tersenyum menyepelekan.


Ia pergi begitu saja ke dapur dengan membawa bungkusan tersebut tanpa mendengar penolakan dariku.


'Dih, gimana ini coba? Aku taunya cuma masakan instan doang, kalo mereka gak suka, gimana? Tapi, ya, daripada gak ada sarapan sama sekali setiap pagi?


Masa, tiap pagi cuma makan roti pakai selai sama susu tok. Bisa-bisa enek dah perutku ini,' batinku bingung dengan apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


"Mami, Mami kenapa?" tanya Daisha menggoyangkan tanganku membuat aku tersadar dari lamunan.


"Eh, gak papa, kok, Sayang. Yuk, kita makan!" ajakku melihat ke arah Daisha dengan menunduk.


Makanan tadi sudah dipindahkan Pak Raditya ke mangkuk dan piring yang ada, ia tata dengan sebaik mungkin.


Aku duduk di samping Daisha, kuambilkan piring, nasi serta lauk-pauk yang dia inginkan tak lupa untukku juga.


"Kenapa gak dimakan, Sayang?" tanyaku saat suara denting sendok milikku dan Pak Raditya sudah saling mengisi ruang makan ini.


"Mami, kok, gak suapkan Daisha?" sungutnya dengan memajukan bibir.


"Eh, Mami kira Daisha mau makan sendiri," kataku yang memang tak tahu.


"Enggak, Daisha mau disuapkan sama Mami."


"Daisha, jadi anak harus mandiri! Makan sendiri, Azal juga mau makan," potong Pak Raditya membuatku menatap ke arahnya.


"Papi, di sekolah Daisha udah mandiri, kok. Gak minta suapin sama Mami dan ditinggal Mami sendirian. Kalo di rumah, gak papa dong kalo Daisha manja sama Mami sampe minta suapkan.


Papi juga, biasanya bisa pasang dasi sendiri. Tadi pagi malah dipasangkan sama Mami, jadi kita sama," jelas Daisha membuatku membulatkan mata dan melirik ke arah Pak Raditya yang salah tingkah.


"Eh, Sayang. Gak boleh bilang kayak gitu, udah-udah, ya. Sini Mami suapkan," potongku dengan cepat agar tak ada lagi perkelahian antara Ayah dan anak ini.


Daisha menjulurkan lidahnya ke arah Pak Raditya seolah dia menang atas perdebatan mereka tadi, aku hanya bisa menahan senyum agar Pak Raditya tak malu.


Sebenarnya, aku pun malu atas apa yang dikatakan Daisha tadi. Namun, sebisa mungkin kusembunyikan dari mereka semua.


Selesai makan, aku dibantu Daisha membersihkan meja makan. Ia mengelap meja makan dan aku mencuci piring.


Prang !!!!


Gelas jatuh ke bawah lantai dan langsung terpecah begitu saja, aku langsung buru-buru menyusunnya agar tak terkena ke Daisha yang memang mengelap meja makan dengan naik ke bangku.


"Mi, Mami gak papa?" tanya Daisha panik yang malah ingin turun.


"Gak usah turun Sayang, banyak kacanya. Di situ aja!" cegahku dengan cepat memunguti beling-beling yang ada.


"Aw," ringisku saat tanpa sengaja beling tersebut mengenai tanganku membuat darah segar menetes.


"Ada apa?" tanya Pak Raditya masuk ke dalam dapur kembali dengan nada panik.


"Kenapa kau begitu ceroboh, sih, Azal!" sambung Pak Raditya jongkok dan langsung mengambil jariku yang terkena kaca.


Ia memasukkannya ke dalam mulutnya dan menarik tanganku untuk berdiri, ia membuang bekas darahnya itu ke wastafel dan menghidupkan air.


Di bawah air itu jariku dibiarkan terkena air yang mengalir, aku yang diperlakukan seperti ini sontak kaget dan tak percaya.

__ADS_1


Kutatap wajah fokusnya yang melihat ke jariku, ada degub jantung yang begitu cepat bahkan membuatku takut jika sampai terdengar oleh dirinya.


__ADS_2