
Semakin lama, adegan yang ada di layar televisi semakin aneh. Hingga benar saja apa yang kupikirkan.
"Ih, 'kan kamu Mas! Aku dah nebak pasti ini film gak baik!" ketusku sambil menutup mata.
Tak ada sahutan sedangkan suara televisi masih terdengar, kubuka perlahan mata dan menatap ke arah Mas Raditya.
"Mas, kenapa kamu Mas?"
Televisi dimatikan dan ia menatap ke arah diriku dengan begitu dekat, "Mas, ih! Nanti malem aja Mas!"
"Aku mau hari ini ... Sayang," bisiknya.
Aku tak bisa lagi menolak ajakan dirinya, bagaimana pun aku akan berdosa ketika selalu saja menolak dirinya.
***
Selesai salat, segera kubuka mukena agar tak basah, "Tunggu sebentar Sayang," titah Mas Raditya yang melihat diriku.
Kulihat ia berjalan mengambil sesuatu dari meja dan kembali lagi, "Biar saya bantuin, ya," katanya memegang haidrayer.
Rambutku dikeringkan oleh Mas Raditya, aku hanya diam dan menatap lurus ke depan.
"Kamu lapar?" Kugelengkan kepala tanda jawaban.
"Nanti, habis isya baru kita dinnernya, ya."
"Iya, Mas. Gak papa, kok," jawabku sambil mendongak menatap dirinya.
Ia tersenyum dan mengusap pipiku, "Gadis pintar!" pujinya membuat semu merah di pipiku kembali hadir karena ulahnya.
Peralatan salat belum kurapikan, kata Mas Raditya biar di situ saja sebab sebentar lagi juga akan kembali salat.
"Kita nonton film, yuk!" ajaknya ketika telah selesai mengeringkan rambutku juga rambutnya.
"Gak!" tolakku mentah-mentah.
"Hahaha, kenapa Sayang?" tanyanya menghadap ke arahku.
"Nant, entah film apa aja yang kamu liatkan ke aku Mas!"
"Lah, bagus bukannya, ya? Jadi, kalau kamu habis liat film romantis. Kamu bisa langsung praktek, 'kan sama pasangan kamu ini," usul Mas Raditya.
"Ck! Itumah mau kamu aja!" cetusku dengan kesal.
"Hahaha, yaudah-yaudah. Kamu aja yang pilih filmnya, nih!" Mas Raditya memberi remod-nya padaku yang masih duduk di bawah sajadah.
"Kenapa masih di situ? Gak bisa jalan?" sambung Mas Raditya melihat diriku dari atas hingga ke bawah.
"Itu ... sepreinya sama selimut ganti dulu, jorok!" Kualihkan wajah karena malu.
__ADS_1
"Ohh, tunggu bentar, ya!" Mas Raditya mengerjakan apa yang aku suruh. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk menghilangkan darah yang ada di seprai.
Bangkit dari tempat duduk ke atas ranjang, "Aww," gumamku meringis merasa sakit di suatu titik.
Dengan pelan aku duduk di ranjang dan bersandar, menghidupkan televisi juga mengambil makanan yang belum habis terletak di nakas.
Mas Raditya datang memencet telepon yang ada di nakas, "Mbak, tolong bawakan seprei serta selimut baru, ya, untuk kamar saya."
"Baik, Mas."
"Oke, ditunggu!" Ditutup kembali panggilan, kudengar tak ada pergerakan membuat aku melihat ke arahnya terlebih dahulu.
"Kenapa Mas?" tanyaku saat ia ternyata berdiri dengan menatap ke arahku lekat.
Dirinya mendekat pelan dengan pasti, aku langsung menjauhkan tubuh takut dia akan melakukan hal macam-macam.
Cup!
"Kau begitu manis, Istriku!" pujinya menjauhkan kembali tubuhnya dan masuk ke dalam toilet.
Kugerjapkan mata melihat punggung yang sudah masuk ke dalam toilet tersebut sambil menggelengkan kepala.
"Ihh ... Mami cantik banget!" puji Daisha dari sebrang sana. Kami tengah melakukan video call dengan aku yang sembari memakai make up sedangkan Mas Raditya merapikan alat salat.
"Enggak, kamu lebih cantik dibanding Mami, Sayang," kataku menggoda Daisha, "oh, iya, sekolah gimana? PR ada?"
"Udah dikerjain, Mami. Dibantu sama Tante tadi, seru kok Mami jangan lupa oleh-oleh buat Daisha dan Dara, ya."
"Yaudah, Mami. Daisha mau main lagi sama Dara, daa Mi!"
"Daaa Sayang."
Klik
Video call kuputuskan dan menatap pentulan kaca di depanku, wajahku sudah terias dengan rapi make-up yang kuinginkan.
"Nih, kamu mau pakai yang ini, 'kan?" tanya Mas Raditya meletakkan hels dengan 3cm tumitnya itu.
"Makasih Mas."
"Sama-sama."
Kami pun keluar dari kamar, kata pelayan hotel seprei akan diganti pas kami pergi nanti karena mereka tak enak jika kami ada di situ pas mereka merapikan.
"Kita mau ke mana, sih, Mas?" tanyaku saat dia membukakan pintu taksi padaku.
"Makan Sayang," jawabnya dengan senyuman.
Aku langsung masuk ke dalam meskipun dengan pertanyaan yang menyarang di otak ini. Kulihat kota ini ketika malam, sangat indah sekali.
__ADS_1
"Jadi, kamu udah tau besok mau ke mana?" tanya Mss Raditya membuatku mengalihkan pandangan.
"Belum Mas, nanti deh aku liat di google wisata apa yang rame dikunjungi di sini."
"Yaudah, besok kamu kasih tau aku. Biar kita datang ke sana, ya," kata Mas Raditya kubalas dengan angguka.
Tangannya terulur mengusap kepala yang tertutup kerudung pelan, sebab dirinya tahu bahwa aku sedikit kesulitan merapikan kerudung ini tadi.
20 menit di perjalanan, kami sampai di restoran yang langsung menghadap ke pantai. Air pantai yang terlihat begitu tenang di malam ini.
"Mas, kita akan makan di sini?" seruku sambil menutup mulut. Sebenarnya, aku ingin meloncat-loncat sangking girangnya.
Namun, keadaan tak mendukung hal itu. Jadi, lebih baik aku menggunakan cara yang feminim ketika bahagia.
"Iya, kamu tutup mata dulu, ya," titah Mas Raditya mengeluarkan kain.
"Lah, ngapain di tutup segala? Gak keliatan dong nanti aku jalan, Mas!"
"Tenang, ada aku di sini yang akan menjaga kamu. Bentar aja, oke?!"
"Yaudah, deh!" pasrahku dan membiarkan Mas Raditya menutup mata ini menggunakan kain yang sengaja dia bawa tanpa sepengetahuanku.
"Pelan-pelan," titah Mas Raditya sambil memegang tanganku.
Ia menunjukkan arah jalan menuju meja kami, "Ngapain di tutup segala, sih, Mas? Susah tau jadinya jalan, aku takut jatuh ih!"
"Tenang aja, 'kan ada aku. Aku akan jaga kamu sampai kapan pun dan gak akan biarin kamu terluka Sayang."
"Ck! Bulshit!"
"Hahaha, kenapa bulshit?"
"Cowok mah keseringan janji mulu, nepatinya gak tau kapan dan bisa atau enggak."
"Lah, buktinya aku udah menepati jani untuk menikahimu, 'kan? Bahkan, aku tidak ada janji untuk nikah denganmu.
Tiba-tiba aja aku udah nikahi dirimu, artinya aku bisa menepati janjiku dong Sayang."
"Bener, ya? Awas aja kalo kamu gak jagain aku setiap saat!" debatku menunjuk ke arah samping yang entah ada dirinya atau enggak.
"Iya, aku janji akan selalu jaga kamu juga anak-anak kita nantinya."
Kuanggukkan kepala, "Oke! Eh, kita belum sampai juga? Jauh amat, dah! Dah capek aku ini Mas," keluhku.
"Tunggu, kita hampir sampai! Nah, kamu ke sini, ya aku akan bukain penutup matanya."
Mas Raditya memposisikan aku semaunya, aku hanya menurut karena tak tahu apa yang sedang dilakukannya.
"Siap? Satu ... dua ... tiga!" serunya melepas kain penutup mata.
__ADS_1
Kubuka mata perlahan dan mengucapkan bismillah dalam hati takut yang ia berikan padaku berupa binatang atau bahkan hal-hal menyeramkan.