(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Menunggu


__ADS_3

"Sayang, pokoknya kalo nanti mereka ngapain-ngapain kamu. Kamu langsung telepon Mami, ya.


Mami akan langsung datang dan lindungi Daisha kok. Mami sayang sama kamu, Nak. Jadi, gak perlu takut kalau nanti kenapa-kenapa, ya.


Lagian, Mama Clara itu tetap Mama Daisha. Dia yang lahirin Daisha ke dunia ini, jadi Daisha tetap harus berperilaku yang baik kalau sama dia, ya," terangku menasehati Daisha sambil mengelus kepalanya.


"Iya, Mami. Daisha akan tetap berbuat baik sama Mama, kok."


"Bagus, ini baru anak Mami namanya!" pujiku mencubit hidungnya pelan.


Tak lama, suara pintu ruangan Daisha terbuka dan dua orang tadi kembali lagi tetap bersama dengan anak buahnya.


Hanya saja, kali ini anak buahnya membawa tas yang entah apa isinya, "Maaf, tadi saya keluar secara tiba-tiba bukan karena iri atau cemburu dengan kalian yang sebentar lagi akan menikah.


Cuma, saya bahagia atas diberi izin merawat Daisha membuat saya langsung keluar dan menyuruh asisten saya untuk menyiapkan baju saya agar bisa tidur di sini."


"Ya, saya harap yang menjaga benar-benar dirimu bukan malah asistenmu," sindir Pak Raditya sedangkan aku mulai turun dari ranjang Daisha.


"Oh, tenang aja. Bagaimana pun aku seorang ibu dan wanita, tak mungkin aku tidak bisa mengurus Daisha."


"Baik kalau begitu, kami akan pergi dari sini dan kembali lagi besok. Saya harap, kau tidak membawa Daisha tanpa sepengetahuan saya.


Bagaimana pun, hak asuh jatuh ke tangan saya dan saya bisa melaporkan dirimu atas kasus penculikan berencana!" tegas Pak Raditya dengan mengancam Bu Clara.


Ia berjalan memeluk Daisha dan mengecup singkat, entah apa yang diberi tahu Pak Raditya pada Daisha.


Aku pun tak ingin ketinggalan untuk pelukan perpisahan, sejujurnya aku ingin ada ketika Daisha sakit seperti ini.


Padahal waktu itu saat Daisha sakit, Bu Clara sudah merawat dirinya selama seminggu. Apa itu masih kurang?


"Sayang, Mami pulang dulu, ya. Daisha cepat sehat!"


"Iya, Mami."


"Kalau gitu, Mami sama Papi pulang dulu, ya, Sayang. Assalamualaikum," salam Pak Raditya melambaikan tangan berjalan ke arah pintu dengan aku yang juga mengikuti dari belakangnya.


Aku berjalan di samping Pak Raditya dengan menautkan alis bingung, saat menatap ke arahnya tanpa sadar dia juga menatap ke arahku.


"Kau kenapa Azal? Kenapa keliatan bingung begitu?" tanyanya yang paham dengan kebingungan padaku.


"Bapak tadi ngapain manjat kayak gitu? Emangnya lagi apa?" tanyaku menggaruk kening yang terasa gatal.


Ia berhenti sebab mendengar pertanyaanku, "Saya menyadap CCTV agar bisa dilihat dari handphone saya, jadi saya akan tau apa saja yang mereka lakukan nanti pada Daisha melalui handphone saya," jelas Pak Raditya membuatku mengangguk paham.


"Udah paham?" sambungnya.


"Udah, kok, Pak," jawabku mengangguk.


"Yaudah, yuk, pulang!" ajaknya berjalan lebih dulu meninggalkan aku.

__ADS_1


"Dih, gak ada inisiatif untuk klarifikasi dari omongannya tadi di dalam, gitu? Seenak jidat banget ngebaperin orang!" gerutuku berjalan di belakangnya dengan menghentak-hentakkan kaki.


"Kau kenapa?" tanya Pak Raditya berhenti dan melihat ke arahku.


"Ha? Gak papa, Pak," terangku tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Lalu, kenapa jalan kau begitu Azal?"


"Gimana Pak?" tanyaku sok tidak tahu.


"Hm ... lupakan," jawabnya memilih untuk kembali berjalan.


Aku mengepalkan tangan dan meninju-ninju angin seolah-olah menumbuk dirinya, sangat menyebalkan sekali.


"Kau naik taksi aja gak papa? Soalnya, saya masih ada urusan di tempat kerja," papar Pak Raditya sambil mengenakan kaca mata hitam miliknya.


"Iya, gak papa kok Pak. Nanti saya naik ojek aja."


Pak Raditya mengangguk sedangkan aku langsung membuka handphone untuk mencari gojek yang semoga langsung mau mengambil order-ku.


Kupegang handphone sambil menunggu ada gojek yang mengambil, kulirik ke arah kiri Pak Raditya masih berdiri di sebelah mobilnya.


"Lah, Bapak nunggu apa? Saya gak menghalagi mobil Bapak, kok."


"Ya, saya mau nunggu kau sampai naik ojeknya."


"Tak apa, saya masih sempat menunggumu."


Senyum kukulum dan mengangguk, bagaimana caranya tidak baper dengan duda ini coba? Perlakuannya yang begitu manis bahkan bisa membuat semua wanita akan meleleh sepertinya.


Tak lama, ojek yang kupesan akhirnya sampai di hadapanku, "Mbak Ana?" tanyanya sambil melihat handphone menunjuk ke arahku.


"Iya, Pak. Saya Ana," ujarku dengan tersenyum.


"Ini Mbak, helm-nya." Ia menyerahkan helm padaku dan langsung kupakai, melihat ke arah Pak Raditya yang ternyata berjalan mendekat ke arahku.


"Pak, saya pulang duluan, ya. Bapak juga semangat kerjanya!" ungkapku mengepalkan tangan ke arahnya.


"Tunggu!" henti Pak Raditya saat aku sudah akan naik ke jok belakang.


"Kenapa Pak?" tanyaku bingung.


Ia mendekat dan mengapai sesuatu di daguku, "Ini di masukkan dulu, biar helm-nya gak terbang pas Bapaknya bawa motor cepat-cepat."


"Mana mungkin Bapaknya bawa motor cepat-cepat, Pak! Aneh banget si Bapak mah!" gerutuku memajukan bibir.


"Yaudah, naik sana!" titah Pak Raditya.


Aku langsung naik ke jok belakang dan melambaikan tangan ke arahnya, motor pergi meninggalkan kawasan parkir rumah sakit.

__ADS_1


"Siapanya Mbak?" tanya Bapak gojek mengusir kesepian di atas motor ini. Meskipun, gak benar sepi karena jalanan begitu ramai orang.


"Bos, Pak."


"Ohh, kirain calon suami."


"Ya, kalo calon suami mah ngapain saya disuruh pulang naik ojek? Aturannya, dia anterin saya dong, Pak!"


"Iya, juga, sih Mbak. Laki-laki, ya, Mbak. Sangat susah buat melupakan cinta pertamanya."


"Berarti, Bapak masih ingat dong sama cinta pertama Bapak?"


"Ya, ingatlah Mbak. Meskipun pada akhirnya gak bisa memiliki, laki-laki akan tetap ingin dengan cinta pertamanya itu."


Aku hanya menanggapi dengan mengangguk dan ber'oh' ria saja, males banget rasanya jika topiknya percintaan begitu.


"Pak, makasih, ya," kataku sambil memberi ongkos juga helm kembali.


"Jangan lupa bintang limanya, Mbak."


"Aman, Pak!" pekikku sembari mengacungkan jempol ke arahnya.


Berjalan dengan sesekali bersenandung masuk ke dalam rumah, taman di vila ini selalu terawat karena yang punya rumah akan menyuruh tukang kebunnya datang seminggu tiga kali untuk merawatnya.


Jadi, kami tidak perlu repot-repot untuk merapikannya kembali. Aku berniat untuk mulai menyicil skripsi. Wisuda tepat waktu pastinya impian semua mahasiswa/i.


"Assalamualaikum, Bik!" pekikku sambil mengetok pintu.


"Rumah gede, pasang bell aja gak bisa," gumamku yang heran dengan pemilik rumah ini.


"Waalaikumsalam, Neng. Pulang?"


"Iya, Bik. Di sana ada Mamanya Daisha."


"Jadi, Bapak juga di sana?"


"Enggak, Bik. Dia kerja, saya pamit ke kamar dulu, ya!"


"Eh, makan dulu atuh Neng. Kan, belum makan nasi dari tadi pagi cuma roti doang."


"Mmm ... Bibik temani, ya!" pintaku yang malas jika harus makan sendiri.


"Iya, Bibik sekalian mau masak bolu. Buat Non Daisha nanti."


"Oke, Bik! Lets go!" Kurangkul Bibi setelah dikuncinya kembali pintu rumah ke arah dapur.


Kunci di rumah ini hanya dua orang yang memegangnya, itu pun Bibi hanya memegang satu kunci doang yaitu pintu rumah utama.


Sedangkan Pak Raditya, ia memegang kunci semuanya karena takut jika terjadi apa-apa pada kami di kamar dia bisa gampang membukanya.

__ADS_1


__ADS_2