
"Ya, Allah! Kamu kenapa Nak?!" pekik Nenek ketika sampai di rumah melihat keadaanku.
Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, "Ana gak papa, Nek. Nek, minta tolong dong bayarin ongkos gojeknya. Kasian si Bapak nungguin dari tadi."
"Oh, iya. Maaf, ya, Pak," kata Nenek tersadar dan langsung membuka dompet menyerahkan uang ongkos ojekku tadi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, ya, Buk. Semoga cucunya cepat sembuh," pamit gojek dan kubalas anggukan.
"Aamiin."
"Kamu kenapa, sih? Kenapa bisa jadi begini?"
"Nek-nek, masuk dulu ke dalam, ya. Ini sakitnya makin menjadi, lho."
"Huft ... ya, udah tunggu bentar. Kamu ada-ada aja, deh. Baru juga sampe di sini udah begitu aja, apa kata Mama dan Papa kamu kalo tau kamu begini, coba?" omel Nenek sambil membuka pintu.
"Ya, jangan dikasih tau merekalah Nek," cicitku melihat ke arah lain.
Plak!
"Enak aja jangan dikasih tau, kamu juga ada-ada aja! Bisa-bisanya kayak gini padahal baru aja sampe!" cerca Nenek setelah memukul bahuku.
Aku langsung mengusapnya dengan memajukan bibir, padahal sakit di wajah saja belum sembuh sudah ditambahi bahu pulak.
Lebih baik aku diam daripada akan ada lagi bagian yang dipukul nenekku ini. Badanku di papah nenek masuk ke dalam rumah.
Tin!
Suara klakson mobil membuat kami berhenti untuk masuk ke dalam, mataku menyipit merasa asing dengan mobil di depan ini.
Apa mungkin Clara datang ke sini? Atau bahkan anak buahnya untuk membalas dendam apa yang aku lakukan tadi.
"Mami!" teriak seseorang begitu keluar dari mobil berlari ke arahku.
Mataku membulat ketika melihat siapa yang datang, Daisha. Ya, anak tersebut kini ada di sini sambil memeluk kakiku erat.
Tak lama, Raditya juga keluar dari mobil berjalan dengan tegap ke arah kami, 'Mampus!' batinku yang panik.
"Mami, wajah Mami kenapa?" tanya Daisha menatap iba ke arah wajahku.
"Oh, mmm ... ini, Mami jatuh tadi," ucapku berbohong dengan menutupi wajah sebisa mungkin dengan tangan.
"Kalian siapa?" tanya Nenek yang memang bingung sambil menautkan alisnya.
"Assalamualaikum, Nek. Saya Raditya dan ini anak saya Daisha," salam Pak Raditya dan tersenyum ramah ke Nenek.
"Waalaikumsalam, ada urusan apa ke sini?"
"Mau jemput Mami!" timpal Daisha yang membuat Nenek semakin bingung.
__ADS_1
"Siapa Mami kamu?"
"Kau kenapa Azal?"
"Emmm ... ceritanya panjang Pak. Yaudah, Nek. Kita masuk dulu, yuk!"
"Eh, iya-iya. Yaudah, kita masuk dulu, yuk!" ajak Nenek pada Pak Raditya juga Daisha.
"Biar saya aja yang bantu Ana Nek," potong Pak Raditya mengambil alih memapah tubuhku.
Aku kaget dengan apa yang dikatakan Pak Raditya, "Yaudah kalau gitu, Nenek masuk duluan, ya."
Tubuhku akhirnya dipegang oleh Pak Raditya, "Maaf, ya, saya izin."
"Pak, saya kayaknya bisa sendiri deh."
"Kamu risih saya pegang?"
"Mmm ...."
"Yaudah, setelah ini saya akan buat kamu gak risih dipegang sama saya dan gak ngerasa berdosa."
"Dih, apaan, sih Bapak!" ketusku memukul bahunya dengan emosi.
"Kan, kau duluan yang menyentuhku Azal. Artinya, aku udah boleh buat memegangmu."
Tanganku dinaikkan ke bahunya, tangannya memegang tanganku. Daisha berjalan di depan kami.
"Kau sebenarnya kenapa Azal?" tanya Pak Raditya sambil mendudukkan aku di sofa ruang tamu.
"Clara Pak," jawabku singkat dengan mencari posisi terbaik untuk duduk.
"Ha? Maksudnya Clara?" tanya Pak Raditya menautkan alis.
"Ya, dia datang ke sini dan menjebak saya."
"Clara?" tanya Pak Raditya kembali dengan tak percaya.
"Ya. Mantan istri Bapak itu menyuruh anak buahnya untuk menculik saya, saya dibawa ke bangunan yang sepertinya udah gak berpenghuni.
Dia menampar saya dan mengikat saya di sana, hingga wajah saya seperti ini dibuatnya. Tapi, beruntungnya saya bisa lolos.
Cuma sekarang, saya gak tau apa kabar dia. Soalnya ketika saya tinggalkan dia di bangunan itu, dia pingsan sebab saya pukul pakai kursi di mana saya diikat dia tadi."
Pak Raditya tampak tak percaya dengan apa yang aku katakan tadi, dia tercengang dan menggelengkan kepadanya.
"Kenapa? Bapak gak percaya dengan apa yang saya ucapkan dan lebih percaya dengan wanita itu? Yaudah, terserah Bapak aja!"
"B-bukan begitu, hanya saja saya masih tidak habis pikir kenapa dia melakukan itu padamu Azal."
__ADS_1
"Ya, karena dia berpikir saya sudah masuk ke dalam kehidupan Bapak dan Daisha. Dia gak suka akan hal itu!"
"Kau tak sedang menjelek-jelekkan dia di hadapan saya, 'kan?"
Aku tertawa renyah dan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Raditya barusan, "Jadi, maksud Bapak saya berbohong, gitu?
Orang bodoh mana yang mau wajahnya babak belur begini, ha? Kalau emang Bapak datang ke sini hanya untuk tidak percaya dan menyalahkan saya.
Lebih baik Bapak pergi sekarang juga dari sini! Saya gak butuh Bapak ada di sini, saya gak butuh Bapak bertemu dengan saya! Urus aja istri gila bapak itu!" bentakku yang tak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh Pak Raditya barusan.
Daisha bahkan sampai kaget dengan apa yang kukatakan barusan, suara yang biasanya lembut di telinganya kini meninggi hingga membuat dirinya kaget.
"Mami ... Mami kenapa?"
"Sayang, kamu pulang aja sama Papi, ya."
"Kenapa Mi? Kita pulang sama-sama aja, ya, hiks ...."
"Maaf, Sayang. Mami gak bisa ikut, Daisha pulang aja sama Papi, ya. Mami mau istirahat," potongku meninggalkan mereka di ruang tamu berdua.
Suara tangisan Daisha cukup menyakiti hatiku, tapi apa boleh buat. Hatiku juga sangat sakit dibuat oleh Pak Raditya yang tak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.
Seketika sakit di wajahku hilang berganti dengan sakit atas apa yang dikatakan oleh Pak Raditya barusan.
Apakah aku tak pernah ada benarnya di matanya itu, hingga sudah terluka pun aku tetap tak dapat dipercaya olehnya.
Kututup pintu kamar dengan kasar, tak perduli apakah Pak Raditya akan sakit hatinya dengan perlakuanku barusan.
"Lah, Ananya mana?"
"Dia. Dia masuk ke kamar Nek."
"Kenapa kalian ditinggalkan?"
"Mmm ... Nek, saya pamit pergi dulu, ya."
"Papi, Daisha mau sama Mami hiks ...," rengek Daisha sambil menarik-narik tangan Raditya.
"Sayang, Mami lagi butuh waktu sendiri. Biarin aja dulu, ya."
"Tapi ...."
"Nanti kita ke sini lagi, kok," bujuk Raditya dan mendapatkan anggukan dari Daisha meskipun air mata sudah mengalir di pipinya.
"Kalau gitu, kami permisi dulu, ya, Nek. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Nenek meskipun dengan kebingungan memenuhi pikirannya.
Ia menutup pintu kembali dan memastikan bahwa mobil Raditya sudah pergi dari halaman rumahnya, teh yang tadi dibuat akhirnya dibiarkan begitu saja di meja ruang tamu.
__ADS_1
"Ada apa sih ini sebenarnya? Kenapa juga anak tadi manggil Ana dengan sebutan Mami, aku harus nanya ke Ana langsung," putus Nenek berjalan ke arah kamar Ana.