
"Sayang, belajar yang baik, ya. Mami mau ke kantin dulu, ya."
"Iya, Mami."
Kulambaikan tangan dan menatap punggung Daisha yang masuk ke dalam kelasnya, berjalan ke arah kantin.
Sekolahnya tidak terlalu besar dan kantin berada di samping gedung sekolah ini, jadi cukup mudah bagiku untuk tahu di mana letak kantin.
Langkahku sempat berhenti kala melihat di dalam kantin banyak ibu-ibu yang pasti sedang menunggu anaknya.
'Hadeuh ... masuk atau enggak, ya? Tapi, gue laper lagi,' batinku bingung.
"Eh, Maminya Daisha!" sapa seseorang dengan sedikit berteriak membuat aku mendongak melihat ke arahnya.
Kutampilkan senyuman agar dikira ramah padahal gak juga, "Mampus dah gue," gumamku dengan wajah yang mulai panik.
"Sini, Mami!" ajaknya yang masih duduk di kantin.
"Hehe, iya, Buk!" jawabku menggaruk tengkuk yang tidak gatal sambil berjalan masuk ke dalam kantin dengan malas.
"Oh, ini toh Mami Daisha," kata salah satu ibu-ibu yang aku tidak tahu dari mana mereka tahu namaku.
"Iya, Buk. Hehehe, salam kenal nama saya Ana," ujarku mengulurkan tangan dan dijabat oleh mereka satu per satu.
Mereka mengucapkan nama masing-masing yang sudah pasti tidak kuingat kembali namanya, "Yaudah kalau gitu, Buk. Saya ke depan dulu, ya. Mau pesen makanan soalnya," pamitku tidak betah lama-lama berada di dekat mereka.
"Lah, emangnya gak masak Mami? Jadi, Papi sama Daisha makan apa?" tanya mereka membuat aku membalikan badan.
"Masak, kok, Buk. Kan, ada Bibik tadi. Cuma, lagi pengen aja rasain makanan kantin. Ini, 'kan kantin buat makan, mangkanya saya makan karena udah masuk sini.
Masa, duduk dan masuk ke kantin tapi gak beli apa-apa kesian yang punya kantin Buk. Warungnya keliatan rame tapi cuma buat tempat ghibah doang," sindirku dengan halus sambil tetap tersenyum ke arah mereka.
"Mari, Buk!" pamitku ketika melihat tatapan mereka seolah tidak suka dengan apa yang kukatakan barusan.
Padahal, tidak ada yang salah di kalimatku barusan. Kuayunkan kaki menuju depan kantin untuk bertanya makanan apa saja yang ada.
"Buk, ada apa aja, ya, di sini?" tanyaku karena tidak melihat ada buku menu.
__ADS_1
Lagian, sekolah Daisha di sini tidak se-elit sekolah di kota sana. Ya, tentu saja hal semacam itu tidak ada.
Bahkan, waktu di kota tidak ada waktu seorang ibu yang bergosip di kantin sambil menunggu anak-anaknya.
Mereka pasti langsung pulang atau pergi ke kantor, bahkan mengantarkan anaknya saja terkadang susternya yang di suruh.
Sistem ambil sendiri pesanan cukup membuatku jadi kaget, kubawa satu piring nasi goreng dan teh manis hangat.
Di meja masing-masing yang terdiri empat meja dan setiap meja ada empat bangku, sudah ada kerupuk yang di masukkan ke dalam toples.
Kubuka dan mengambil kerupuk itu untuk teman makan, ibu-ibu tadi ternyata belum juga pulang. Mereka masih ada dengan mulut yang bercakap-cakap.
"Lah, Mami Daisha. Kok, makan itu, sih? Nasi goreng itu banyak minyaknya, lho. Nanti, makin banyak minyak di wajah Mami," sindir salah satu dari mereka kambali dan kulirik ke arahnya.
"Oh, iya, gak papa Buk. Daripada ntar blus-on saya ketebalan kek habis KDRT suami. Mending banyak minyak di wajah saya, lumayan bisa buat masak di rumah," ujarku meladenin ucapannya itu.
Kumasukkan nasi ke dalam mulut dengan cepat, sudah tidak sabar ingin pergi dari sini, "Toh, masih muda kali Mami Daisha. Masa, gak make-up, sih?
Nanti, suaminya pergi ke wanita lain, lho. Kalau Maminya kayak gini mulu."
"Enggak dong, Buk. Aman Papinya Daisha, mah. Gak akan pergi ke lain-lain soalnya udah saya jampi-jampi biar tetap sama saya aja,"ejekku tersenyum puas bisa menanggapi ucapan-ucapan unfaedah dari mereka.
Biar gak kek norak gitu dia Buk, kayak anak gadis gitu jadinya kesannya. No norak-norak club!" paparku tersenyum dengan mengatupkan bibir agar memperlihatkan lipstik yang kupakai.
Mereka mengerutu sambil komat-kamit, melihat tidak ada lagi perlawanan. Aku kembali meneruskan sarapan pagiku.
Suara langkah seseorang berhenti tepat di depan meja, aku melihat ke arah sepatunya dan mendongak untuk melihat siapa dia.
Padahal, sepertinya masih ada meja yang kosong tadi. Kenapa, dia malah berhenti di mejaku. Mana sepertinya laki-laki pulak.
"Lah, kok Bapak di sini?" tanyaku dengan suara kecil.
Ibu-ibu tadi tahunya aku adalah Mami kandung Daisha, jadi aku tidak ingin mereka mendengar aku memanggil Pak Raditya dengan sebutan seperti itu dengan intonasi yang keras.
Bisa-bisa, semakin di hina aku nanti sama mereka. Atau bahkan ... dikira pelakor karena panggilan Daisha yang sedikit aneh untuk seorang pengasuh.
"Nih, buat kau Azal!" terangnya sembari meletakkan kresek di atas mejaku.
__ADS_1
Aku langsung membukanya untuk melihat apa isi di dalamnya, ada dua box di dalam kresek. Pak Raditya duduk begitu saja tanpa kusuruh.
"Saya udah makan, Pak!" protesku melihat ke arah nasi goreng yang sudah sisa sedikit.
"Tidak papa, makanlah yang banyak agar kau gemuk dan mereka tidak menggosipinmu karena bentuk tubuhmu yang kurus itu," jelas Pak Raditya dengan wajah yang kurang suka.
Kulirik ke arah mereka yang ternyata sesekali melihat ke arah kami, "Nyebelin, 'kan, Pak?"
Ia menatap ke arahku dan mendekatkan tubuhnya, "Mereka berkata apa saja padamu selain yang tadi?"
"Ha?" tanyaku yang kaget dengan apa yang dikatakan Pak Raditya, "bapak denger apa yang mereka katakan sama aku barusan?"
"Hanya kebetulan," ucapnya dan duduk dengan tegap kembali melirik-lirik ke arah kantin ini.
"Wih ... Mami Daisha beruntung banget, ya. Punya suami yang baik banget, dianterin makanan dong ke sekolahan," puji mereka kembali berulah.
"Ya, alhamdulillah banget Buk. Dapet suami kayak suami saya ini, udah; baik, ganteng, rajin dan tentunya kaya," ungkapku menekan kalimat terakhir.
"Kaya ... kok gak kerja, sih, Buk? Ini 'kan masih waktunya di kantor."
"Walah, Bu-ibu. Kan, suami saya yang punya perusahaannya. Jadi, dia bisa kapan aja dong masuk dan keluar di kantor itu.
Bos mah bebas, Buk! Gak kayak karyawan yang sakit aja harus sok-sok kuat buat kerja atau yang udah ngantuk harus terpaksa segar buat masakin bosnya," sindirku sekalian ke Pak Raditya dengan melirik ke arahnya.
"Ya, ampun. Artinya, bosnya ndak disiplin dong?"
"Salah, Buk! Bos rajin suami saya mah, bahkan subuh aja kadang udah kerja atau kadang lembur sendirian di tempat kerja.
Gak pernah tuh ngajak karyawannya lembur padahal masih lumayan banyak karyawannya yang belum nikah."
"Beneran, Buk? Masih ada lowongan kerja di tempat suaminya, gak? Soalnya, suami saya kebetulan baru di PHK," ucapnya dengan cengiran.
"Aduh ... Buk, saya ikut prihatin, ya. Tapi, sayangnya belum ada lowongan kerja lagi di perusahaan semua saya. Semoga segera dapat lowongan, ya, di tempat lain," jawabku dengan tersenyum puas mengalihkan pandangan dari mereka itu.
Kulihat ke arah Pak Raditya yang mengulum senyum melihat ke arah samping, "Ngapain senyum gitu, Pak?" tanyaku dengan ketus.
"Enggak, gak papa. Kau sangat rajin melawani orang-orang seperti mereka Azal."
__ADS_1
"Kesel saya tuh liat manusia kayak gitu!" jawabku dan memasukkan nasi goreng ke dalam mulut dengan tidak pelan.
"Atau ... Bapak baper, ya, sebab saya akui sebagai suami tadi?" sambungku menunjuk ke arahnya dengan wajah mengintrogasi membuat senyuman yang tadinya ada langsung menghilang.