
Ting!
Suara notifikasi chat masuk ke handphone, aku yang tengah sibuk dengan laptop untuk membuat desai baru baju mengalihkan perhatian sebentar.
"Bu, kurir pembawa makan Ibu sudah datang," ujar salah satu karyawatiku.
"Oh, ini uangnya. Es-nya nanti kalian bagi-bagi aja tinggalin rasa cokelat buat saya!" titahku dan mengulurkan uang ke arahnya.
Dirinya masuk dan mengambil uangnya dengan wajah senyum, ya, mungkin sebab akan dapat free boba.
Setelah ia pergi, kembali kubuka pesan yang tadi sempat masuk.
[Selamat, ya, atas lamaranmu. Ana ... aku boleh bertemu denganmu dan menjelaskan segalanya?] pesan dari Ayudia.
Ia rupanya sudah melihat statusku di Instagram yang baru ku-posting padahal acara lamarannya sudah seminggu yang lalu.
[Boleh] balasku seadanya dan mematikan paket data.
Seharusnya, dirinya tahu aku jam segini ada di mana. Jadi, tak perlu kuberi tahu keberadaanku padanya.
"Permisi Buk," kata karyawatiku kembali dengan tangan yang membawa kresek makanan untukku.
"Terima kasih, ya." Ia meletakkan di atas meja milikku.
"Es sama jajannya sebagai syukuran karena Ibu dilamar, ya?" rayunya yang sepertinya juga tahu soal itu.
"Haha, apaan, sih, kamu! Gaklah, emangnya baru pertama kali ini saya bagi-bagi jajan sama kalian, ha?" omelku memajukan bibir ke arahnya.
"Hehe, enggak juga sih Buk. Yaudah kalau gitu, saya pamit keluar, ya!"
"Iya, makasih, ya!"
"Sama-sama calon pengantin," ucapnya sedangkan aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar panggilan itu.
Setelah kepergiannya, aku memilih untuk makan mengisi perutku yang kosong. Pekerjaan yang menumpuk membuat aku sampai lupa dengan makan.
Namun, syukurnya urusan pernikahan sudah selesai semuanya bahkan undangan hanya tinggal menunggu jadi saja.
Aku tahu bahwa ini adalah moment sakral, tapi tak perlu sampai yang mewah banget undangannya.
__ADS_1
Toh, orang hanya peduli pada hari dan tempat di mana dilaksanakannya acara. Mereka gak akan menyimpan lama-lama surat undangan. Baca, ya, habis itu buang.
Tak lupa sebelum makan aku berdoa dan memilih menonton drakor agar semakin asyik makannya, sekitar dua puluh menit.
Nasiku sudah habis dan esnya sisa setengah lagi, kucuci tangan dan mengambil air putih.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan pintu membuat aku menebak bahwa yang datang, "Masuk!" titahku ketika tebakanku benar.
Berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan ini, duduk di sampingnya sedangkan ia terlihat malu bertemu denganku.
"Ana ... sebenarnya ak--"
"Kalau kau datang ke sini cuma mau minta maaf dan bahas soal kau dan Rian, mending gak usah deh. Gak penting!" potongku membuat ia menatap ke arahku.
"Tapi, Ana. Aku benar-benar gak bermaksud buat menikung dan nyakiti hati lu."
"Iya, udah gak masalah. Gue gak masalah, kok, soal itu. Udah lupain aja."
"Lu udah maafin gue?"
"Makasih, Ana! Maafin gue, ya, sekali lagi gue minta maaf!" Ayudia memeluk tubuhku, meskipun sedikit lama tapi tetap saja kubalas pelukannya itu.
Setelah itu, ia mengambil sesuatu di dalam tasnya yang aku sudah yakin pasti surat undangan, "Lu datang, ya, gue mohon!" mohon Ayudia menangkup kedua tangannya di depanku.
"Iya, tapi maaf gue gak bisa jadi pendamping lu. Gue juga datang sebagai tamu, karena urusan gue banyak," kataku tanpa basa basi melihat undangan yang di letakkan Ayudia di pahaku.
Ia tampak diam dan menunduk, "Sekarang kita gini, ya. Pecah hanya karena soal laki-laki," ucapan yang keluar dari mulutnya sedikit mengangguku.
"Maksudnya?" tanyaku dengan nada yang sedikit tinggi.
"Ya ... lu lupain semua kebaikan gue hanya karena gue mau nikah dengan orang yang lu cintai tapi gak cinta balik sama lu.
Seharusnya, sebagai teman dan sahabat lu itu dukung sama siapapun gue nikah, dong! Lu gak bisa paksain keadaan agar berpihak pada lu.
Dan urusan kenapa gue gak kasih tau lu, itu juga bukan urusan lu. Apa gue gak berhak punya privasi soal hubungan gue? Apa semua hal harus gue kasih tau ke lu?" geram Ayudia dengan wajah marah.
Kugelengkan kepala yang terkejut dengan sikap Ayudia sekarang, "Lu bilang apa? Lu punya hak, 'kan? Dan menurut gue, gue punya hak bahkan datang atau enggaknya ke nikahan lu.
__ADS_1
Kalau lu datang ke sini cuma mau mancing keributan, mending pulang aja deh. Gue lagi gak mau berdebat dengan lu.
Dan keputusan seseorang itu gak bisa lu ganggu gugat, 'kan? Seperti keputusan lu untuk bisa berbicara seperti tadi juga menyebunyikan soal hubungan kalian.
Awalnya, gue gak masalah banget, lho. Lu mau nikah sama siapa aja bahkan jika akhirnya nikah sama Pak Raditya sekaligus.
Karena, gue tau bahwa jodoh itu hanya Allah yang tau. Artinya, gue harus terima merelakan bahkan perasaan gue ke Rian itu udah lama gak ada.
Seharusnya, lu gak perlu takut kenalkan gue balik sama dia sebagai dia calon suami lu. Tapi, ternyata lu setakut itu dia akan gue rebut.
Seolah bertahun-tahun kita temenan itu gak ada artinya di mata lu, gue kira lu paling mengerti gue. Ternyata gue salah Ayudia, gue salah menilai seseorang yang kuanggap paling mengerti gue!"
Aku bangkit dan pergi meninggalkan Ayudia sendirian di ruanganku, rasa kecewa yang amat banyak kuterima dari Ayudia.
Ekpektasiku bahwa kami akan kembali dekat setelah bertemu ternyata salah, padahal aku sudah berangan-angan untuk bisa liburan bareng dengan pasangan nantinya.
Ternyata, aku salah besar. Ia beranggapan bahwa aku serendah itu untuk mengambil Rian darinya.
"Saya ke toko depan, ya," ucapku pada salah satu karyawati yang berjaga di kasir.
"Baik, Buk!" Aku berjalan ke luar gedung untuk minum kopi dengan harus menyebrang jalan raya terlebih dahulu.
Saat pikiran seperti ini, aku harus menjauh dari orang-orang yang kukenal dan menenangkan diri agar kebencian tidak semakin dalam pada orang tersebut nantinya.
"Ana!"
"Ana! Maafin gue!" pekik seseorang membuat langkahku yang ingin masuk ke dalam cafe terhenti di depan pintu.
Kubalikkan badan dan melihat di sebrang sudah ada Ayudia dengan pipi dipenuhi oleh air mata.
"Ana! Gue minta maaf, maafin temen lu yang tolol karena cinta ini. Maafin gue Ana," teriaknya kembali yang belum bisa ke sini sebab jalanan masih ramai.
Saat sudah lenggang dan ia hanya melihat ke sebelah kanan, mataku melebar saat mobil truk dari sebelah kiri melaju dengan cepat.
"Ayudia! Lari cepetan!" pekikku yang membuat Ayudia malah panik dan berhenti.
Bruk!
Tubuh wanita itu terpental dengan cukup jauh di jalanan, aku yang melihat langsung kejadian terdiam sesaat.
__ADS_1
"AYUDIA!!!" pekikku berlari ke arah tubuhnya yang sudah terbaring di atas aspal dengan berdarah.