
Kami sampai di ruangan yang menurutku spesial, beda dari ruangan yang lainnya. Kalau ruangan pada umumnya hanya ada orang berjaga di dalamnya saja.
Sedangkan ruangan ini, ada orang yang berjaga di luarnya menggunakan seragam serta senjata api yang melekat pada pakaiannya.
Diperiksa terlebih dahulu dan harus tetap memiliki waktu, 30 menit waktu yang setidaknya lumayan lama.
Ceklek!
Pintu dibuka oleh polisi dan di dalam masih ada polisi lainnya yang berjaga, kaki di borgol menyatu dengan tempat tidur pasien.
Kakiku terasa berat, wajah yang dulu membuat aku benci menatapnya kini berubah menjadi iba.
"Mama?" panggil Daisha membuat Mama Clara yang sedang fokus menatap putrinya menatap ke arah kami.
Ia segera bangkit dan menyeka air matanya, memeluk diriku begitu erat beralih ke Daisha, "Terima kasih, terima kasih kalian sudah datang," ucapnya memegang bahuku.
Kuanggukkan kepala, "Bagaimana pun, dia tetap Mama Daisha," jawabku tersenyum padanya.
Daisha berjalan ke arah ranjang di mana wanita itu tertidur, Mas Raditya memilih duduk di sofa kosong dekat dengan polisi.
Sedangkan aku berjalan mendekat ke arah Clara yang masih betah memejamkan matanya, "Mama?" panggil Daisha kembali memegang tangan pucat itu.
Ia berjalan ke arah Mas Raditya meminta boneka yang dipilih Daisha memang untuk Clara, "Ma ... ini Daisha bawa boneka buat Mama, Mama bangun dong. Katanya rindu sama Daisha, kok malah tidur gitu?"
Kuusap kepala Daisha menguatkan dirinya agar tak menangis histeris di ruangan ini, "Mama, Daisha sayang sama Mama, kok. Daisha udah maafin kesalahan Mama, sekarang Daisha udah kelas 3 lho Ma.
Mama gak mau liat Daisha? Daisha sekarang tumbuh jadi wanita cantik kata Mami, kayak Mama dan Mami deh wajah Daisha hehe."
Jari yang hanya diam seketika bergerak dan air mata mengalir dari sudut matanya yang masih tertutup.
Perlahan, mata Clara terbuka dan menatap lurus ke atas, "Mama? Mama udah bangun?" seru Daisha naik ke atas bangku dan mendekatkan tubuhnya ke wajah Clara.
"Sayang? Kamu datang ke sini?" tanya Clara dengan pelan.
"Iya, Ma. Daisha datang sama Mami dan juga Papi."
Dengan susah payah, Clara melihat keberadaan-ku yang ada di dekat kakinya sengaja memberi jarak agar ia dan Daisha jadi leluasa.
"Daisha bawa boneka untuk Mama, Mama bisa peluk bonekanya seperti Mama peluk Daisha. Mama sembuh, ya, biar kita bisa main-main nanti."
__ADS_1
Boneka diletakkan Daisha di atas perut Clara dan melingkarkan tangan wanita itu ke boneka, Clara hanya mampu menangis melihat perlakuan putrinya itu.
"Sayang ... maafin, Mama, ya."
"Mama gak ada salah, buat apa minta maaf sama Daisha? Mama jangan nangis, Mama harus cepat sembuh, ya."
"Tapi, Mama banyak salah sama kamu. Mama udah buat kamu koma begitu lamanya akibat Mama. Mama minta maaf, ya."
"Ma ... semua orang pernah buat salah termasuk Mama, jadi gak perlu minta maaf. Tanpa Mama minta maaf, seorang anak akan memaafkan orang tuanya lebih dulu, kok."
"Makasih, Sayang. Makasih banyak, Mama bangga punya anak sebijak dan sedewasa kamu."
Tangan direntangkan Clara dan Daisha masuk ke dalam pelukan wanita yang terbujur lemas dengan tubuh dipasangi berbagai macam alat.
"Ana ...," panggilnya membuat aku mendekat dan langsung menyeka air mata.
"Iya?" tanyaku berada di belakang Daisha agar ia mudah melihat ke arahku.
"Saya minta maaf untuk segala kesalahan yang saya perbuat, saya tau bahwa gak mudah memaafkan saya.
Apalagi, kamu harus menderita akibat ulah saya yang terlalu ambisi dan iri kepada orang lain. Maafkan saya, terima kasih sudah menjadi Mami yang terbaik untuk Daisha.
Saya yakin, bahwa dia pasti tak akan pernah mau melihat apalagi memaafkan kesalahan yang saya perbuat selama ini padanya."
"Saya sudah memaafkan segala kesalahanmu, Mbak. Sehat, ya, agar bisa bermain sama Daisha kembali serta belajar menjadi Mama terbaik untuk dia."
Wanita itu menggelengkan kepala dengan lemah, senyum yang tertampil tanpa luntur sedari tadi terus ia pasang.
"Kenapa Mbak? Mbak gak mau jadi Mama yang terbaik buat Daisha?"
"Kau ... sudah menjadi Mama dan Mami terbaik untuk dirinya, jadi tak perlu ada saya di antara kalian.
Saya bahagia melihat Daisha datang menjenguk saya, melihatnya saja sudah membuat saya sangat bahagia, kok."
Aku hanya terdiam mendengar apa yang ia katakan, ditariknya napas panjang seolah kesusahan dalam bernapas.
Tak tahu penyakit apa yang di deritanya, rasanya kurang sopan jika aku menanyakannya pada Mama Mbak Clara.
Secara, dari tadi wanita itu hanya menangis tersedu-sedu di sisi kiri anaknya dengan menutup mulutnya.
__ADS_1
"Mas Raditya mana?" tanyanya yang kesusahan melihat ke arah Mas Raditya.
"Mas," panggilku. Ia berdiri dan mendekat ke arah kami, aku berniat kembali menjauh tapi tanganku di tahan olehnya.
"Tetaplah di dekatku," pinta Mas Raditya dan kutatap lekat ke arahnya. Ia memegang pinggang -ku lalu melihat ke arah Mbak Clara.
"Hehe, hay, Mas. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, aku baik dan sehat seperti yang kau lihat."
"Hehe, aku yang gak sehat sepertinya di sini. Sebenarnya, aku malu untuk bertemu denganmu. Dengan apa yang terjadi pada kita dahulu.
Tentang berbagai kesempatan yang kamu berikan untukku, kesempatan memperbaiki kepercayaan agar bisa merawat Daisha.
Namun, lagi-lagi aku mengecewakan dirimu juga Daisha. Kayaknya, kalau ada orang yang kubuat paling tersiksa, itu kayaknya dirimu dan Daisha Mas.
Maafkan aku atas segalanya meskipun aku tau itu pasti sangat sulit, maafkan karena kebodohan diriku ini.
Aku menyesal, sangat menyesal sekarang karena sudah melalaikan kebaikan dirimu juga segala kesempatan yang selalu kau berikan padaku Mas."
"Iya, tak mengapa. Kau tenang saja, aku sudah lama memaafkan dirimu bahkan semenjak kau pergi meninggalkan aku.
Sekarang, Allah sudah mengganti segalanya. Allah sudah memberikan seseorang yang terbaik untuk hidupku pengganti kekecewaan yang kau berikan padaku dulu," jelas Mas Raditya menatap lekat ke arahku.
Kualihkan pandangan setelah 5 menit netra kami bertemu, Mbak Clara mengalihkan pandangannya ketika Mas Raditya melakukan hal itu.
"Ya, selamat buat kalian berdua. Kalian cocok dan serasi, aku doakan agar kalian selalu bersama-sama selamanya, ya."
"Aamiin, terima kasih atas doamu. Semoga kau juga bisa segera sembuh dan mencari cinta sejatimu itu."
Mbak Clara mengangguk dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut matanya, ada perasaan tidak enak melihat dirinya seperti itu.
"Ma ... Clara mau tidur," ucapnya pada Mamanya yang ada di sampingnya mengalihkan pandangan dari kami.
"Tapi, Sayang? Itu, ada Daisha lho."
"Udah, Ma. Sudah cukup, kok."
"Baiklah kalau begitu, kami pamit pulang dulu Tante. Permisi," pamit Mas Raditya lebih dulu keluar dari ruangan ini dengan tersenyum ke arah Mama Mbak Clara.
__ADS_1
Sedangkan aku menyalim dan memeluk Mbak Clara terlebih dahulu meskipun ia enggan melihat ke arahku.