(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Pindah Rumah


__ADS_3

"Sayang, di sekolah nanti jangan jajan sembarangan, ya. Jangan bicara dan mau ikut sama siapapun!" tegasku pada Daisha memperingatinya.


"Sayang, kau sudah berkata seperti itu sebanyak 10 kali," celetuk Mas Raditya yang tengah mengancingkan kemejanya di depan kaca.


Aku berdecih dan menaikkan sebelah bibir menanggapi ucapannya, "Baik, Mami," jawab Daisha dengan senyuman penuh ketulusan.


"Sayang, bantuin aku merapikan pakaian dong," pinta Mas Raditya.


"Rapihin aja sendiri!" ketusku meninggalkan dirinya dan mengandeng tangan Daisha ke luar dengan membawa tasnya.


"Kan, inilah sebabnya aku ingin lama-lama di Bali," gerutu Raditya menatap pintu yang sudah tertutup kembali.


"Selamat pagi semua!" sapaku ketika sampai di rumah makan yang sudah ada penghuninya kumpul semua.


"Pagi!" jawab mereka secara tak serempak. Daisha duduk di bangku kosong, kuoleskan roti dengan selai lalu memberinya makan sarapan.


Kubuatkan bekal untuknya nanti di sekolah, "Dara? Sudah dibuatkan bekal sama Mama?"


"Belum Tante."


"Oke, dua bekal buat kalian berdua."


"Pagi," sapa Mas Raditya yang baru keluar dari kamar.


"Pagi, eh, Bro. Lu kagak dibuatkan bekal juga? Gue aja dibuatkan bekal sama Adik kesayangan gue, tuh. Artinya, dia lebih sayang gue dong dibanding lu," ujar Bang Dikta memanas-manasi.


"Apaan, sih?! Enggak, ya, mana ada Bang Dikta aku buatin bekal!" timpalku melihat senyuman Mas Raditya berbeda setelah mendengar candaan dari Bang Dikta.


Mas Raditya hanya tersenyum tanpa menjawab apa-apa, seharusnya dia sudah tahu bahwa Bang Dikta sangat suka bercanda.


"Enggak, kok, Raditya. Dikta bohong," ucap Kak Kamelia membuat Raditya menatap ke arahnya dengan helaan napas yang keluar secara kasar.


Kumasukkan bekal ke dalam tas Daisha sedangkan anak itu masih sarapan, berpindah ke tas Dara dan memasukkan ke tasnya juga.

__ADS_1


Plak!


Kupukul bahu Bang Dikta sebelum berpindah duduk di sebrangnya, dengan menggerutu sedangkan dia mengadu kesakitan.


"Kalian ini, ubah kebiasaan jelek itu. Jangan sampai candaan yang kalian buatkan ke saudara sendiri akan menjadi bumerang pada keluarganya," terang Mama menasehati.


"Denger tuh!" gumamku menatap tajam ke arah Bang Dikta.


Mas Raditya meneguk teh buatan Mama dan menatap ke arah Mama, "Ma ... Raditya mau ngasih tau sesuatu," katanya membuat aku yang tak tahu apa yang akan dia katakan menjadi penasaran plus kaget.


"Iya, katakan Raditya. Ada apa?" tanya Mama dengan tersenyum.


"Raditya, Daisha dan juga Ana akan pindah dari rumah ini karena rumah kita sudah selesai di renovasi Ma," ungkap Mas Raditya tiba-tiba membuat mataku seketika berembun.


Kulirik ke arah Bang Dikta yang ada di sebrangku, seketika wajahnya berubah menjadi sendu sedangkan Mama menahan tangisannya.


"Bukan bermaksud saya menjauhkan Mama dari Ana, kita akan sering-sering ke sini, kok. Cuma, saya merasa lebih nyaman ketika sudah menikah memilih hidup terpisah dari orang tua," sambung Mas Raditya memberi penjelasan agar tak terjadi kesalahpahaman.


Mama menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar, menatap ke arah menantunya ini.


Mama mohon ketika kamu hidup bersama dan jauh dari kami nanti, jangan sampai membentak apalagi bermain tangan padanya.


Karena, dia tak pernah mendapatkan perlakuan yang sangat buruk dari kami. Jika pun pernah, itu sebab dia yang memang harus diajari dengan sedikit kasar," jelas Mama dan diangguki oleh Mas Raditya.


"Saya udah kenyang, Dara ikut sama Daisha aja. Saya duluan semuanya. Assalamualaikum," potong Bang Dikta yang pergi dari ruangan makan.


Tangannya terlihat mengusap mata saat akan meninggalkan ruangan makan, kulihat ke arah piringnya bahkan rotinya masih tersisa.


Mas Raditya melirik ke arahku seolah mempertanyakan apakah yang dia ucapkan sudah benar.


Kuanggukkan kepala dan mengusap bahunya, "Gak papa, dia cuma rada gak rela kalau adiknya ini pergi," kataku menenangkan.


Entah mengapa, mengantarkan Mas Raditya untuk pergi kerja kali ini serasa berat. Ada perasaan yang menyuruhku untuk tetap tinggal di sini dan membujuk dirinya.

__ADS_1


"Nanti setelah menjemput Daisha, kamu langsung pulang ke rumah kita aja, ya. Aku juga udah pamit sama semuanya tadi," titah Mas Raditya kuangguki.


Ia mengusap kepala lalu mengecup kening, kucium tangannya dengan takzim dan melambaikan tangan hingga mobil yang dikendarainya tak terlihat lagi.


Kutatap bangunan yang memang baru sebentar kutempati. Namun, setidaknya di sini ada orang yang kusayangi.


Melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan susah ada Mama serta Kak Kamelia yang duduk di sofa.


"Abang kamu begitu karena dia gak mau kamu pergi, bukan berarti dia marah atau benci dengan suami kamu," kata Mama menjelaskan.


"Iya, Ma. Ana paham, kok. Bang Dikta begitu bukan karena benci tapi sebab sayang sama kami."


"Ya ... walaupun begitu, sudah seharusnya sebagai istri kamu ikut ke mana pun suami kamu pergi."


Kuanggukkan kepala dan melihat ke arah anak Kak Kamelia yang sedang tertidur, "Rindu dong Tante nanti sama kamu, Sayang," paparku mengelus pipi ranum miliknya yang gembul.


"Kamu boleh datang kapan aja, Dek. Atau ... kami nanti yang main ke sana, 'kan gak pernah main ke sana, sih."


"Nah, iya! Kakak main-main ke sana, ya. Udah-udah, ngapain pada melow gini, coba? Ana cuma pindah rumah bukan alam, jadi slow aja deh.


Oh, iya, Ana mau masak. Ada request?" tanyaku menatap satu per satu ke arah Mama dan Kak Kamelia.


"Eh, gak jadi! Mau masakan kesukaan Bang Dikta juga Mas Raditya aja deh, spesial buat mereka berdua," potongku ketika Mama dan Kak Kamelia dengan semangatnya akan memberi requestnya.


Aku segera bangkit dan berjalan ke arah dapur dengan bersenandung untuk melihat stok bahan dapur apa saja yang masih ada dan sudah habis.


Kudengar gerutuan Mama tapi pura-pura tak mendengarnya dengan tersenyum, bukankah aku memang anak sedikit 'nakal' dikenal dikeluarga ini?


Kubuka kulkas dua pintu yang banyak di review para artis dan selebgram dahulu, tapi bagi kami biasa saja.


Tak ada yang perlu di 'wow' kan dari ciptaan manusia ini, pada akhirnya apa yang diciptakan manusia juga akan rusak bahkan diciptakan Allah juga akan mati.


Jadi, tak perlu berlebihan menanggapi sesuatu hal itu. Mau kulkas satu pintu, dua pintu, tiga pintu atau setengah pintu sama saja. Selagi gunanya untuk menyimpan makanan bukan uang. Nah, kecuali kalau menyimpan uang baru luar biasa tuh kulkas.

__ADS_1


"Ya, Allah. Nih kulkas gedenya doang, tapi isinya apa pun gak ada," gerutuku sambil berkacak pinggang membuka kedua pintu kulkas.


"Mau Kakak temenin belanjanya?" celetuk Kak Kamelia yang datang dari belakang, "Kakak udah lama gak jalan-jalan juga soalnya."


__ADS_2