(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Pengasuh Mencurigakan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku langsung memilih untuk mengerjakan kewajiban sedangkan Daisha makan dengan minta ambilkan pada Kak Kamelia.


"Jam berapa kalian akan ke rumah barunya nanti?" celetuk Mama saat aku baru keluar dari kamar.


"Ini deh Ma, makan dulu. Baju juga udah diambil semuanya, udah di susun."


"Biar Mama antar nanti."


"Eh, gak perlu Ma."


"Mama mau liat rumahnya juga."


"Gak repotin, 'kan Ma."


"Kau belum keluar dari rumah ini, tapi bahasamu sudah seperti orang asing saja. Sejak kapan seorang Ibu merasa direpotkan oleh anaknya, ha?" omel Mama padaku.


Aku menghampiri Mama dan memeluknya, aku tahu Mama se-sensitif ini akibat tahu bahwa kami akan pergi.


"Makasih, ya, Ma. Ana akan sering ke sini, kok."


"Gak ke sini-sini juga gak masalah!" terang Mama dengan ketus. Aku hanya tertawa menanggapi ucapannya.


Berjalan ke ruang makan melihat Diasha yang sudah selesai dengan makannya, "Wah ... Princess Mami udah selesai aja makannya, nih!" pujiku dan duduk di bangku sambil mengambil piring serta mengisinya dengan lauk-pauk.


"Hehe, iya, dong Mi. Harus banyak makan biar cepat besar."


"Daisha mau cepat besar emangnya?"


"Iya, Mi."


"Kalau besar emang mau jadi apa?"


"Jadi Kakak yang baik, Daisha biar bisa jaga adik nantinya."


"Adik Dara?" tanyaku yang masih tak paham dengan kalimat dia.


"Enggak dong, Mi," ujarnya dan berjalan mendekat ke arahku, "adik di sini." Tangannya mengusap perutku yang masih datar membuat aku kaget dan berakhir dengan tertawa melihat kalakuan randomnya itu.


Barang-barang sudah dimasukkan semua ke bagasi mobil, Kak Kamelia akhirnya ikut juga mengantarkan aku karena dia ingin melihat rumah kami.


Aku yang membawa mobil ke rumah sebab agar tak ada yang bertanya-tanya belok ke mana dan ke mana lainnya.


"Nanti, Kak Daisha pulang tempat Nenek lagi, 'kan?" tanya Dara yang duduk di belakang bersama dengan Daisha dan Kak Kamelia.


"Nanti, Kakak akan main-main ke sana, kok."


"Bener, ya?"


"Iya, dong!"


Aku hanya tersenyum melihat mereka dari kaca spion, masuk ke kompleks perumahan dan melirik ke arah Mama.


Di depan rumah sudah ada sopir, dua pembantu dan satu baby sister. Meskipun, aku belum tahu orangnya yang mana sebab jumlahnya ada 3 orang wanita.


Mereka tersenyum menatap ke arah kami yang keluar dari mobil.

__ADS_1


"Selamat datang Bu!" ujar mereka serentak saat aku dan lainnya mulai turun.


"Terima kasih semuanya, Pak. Tolong angkatin, ya."


"Baik Bu."


Lainnya juga ikut membantu membawa barang yang sekiranya kuat untuk dia bawa ke dalam rumah.


"Kenapa sampai tiga orang wanita? Itu, apa-apa aja tugasnya?" tanya Mama yang berada di sampingku.


"Pembantunya dua Ma dan pengasuh Daisha satu, aku soalnya mau kembali ke butik udah lama banget ditinggalin."


Mama hanya diam dan mengangguk, masuk ke dalam rumah sambil mengandeng Daisha. Begitu masuk ke dalam rumah.


Mama langsung melihat-lihat bangunan ini, aku pun juga sama sebab belum melihat hasil akhirnya kemarin.


"Bagus, ya, Ana," puji Kak Kamelia.


"Iya, Kak. Alhamdulillah."


"Jadi, dulu kau tidur di mana saat kerja di sini?" tanya Mama menatap ke arahku.


"Apa? Ana pernah kerja di sini?" ucap Kak Kamelia kaget.


"Hehe, iya, Kak. Aku pernah kerja di sini sebagai pengasuh Daisha," ungkapku menatap Kak Kamelia, "itu Ma." Kutunjuk ke arah kamar yang sekarang menjadi kamar utamaku dan Mas Raditya.


"Gimana ceritanya kau malah jadi pengasuh Daisha?"


"Panjang Kak, intinya, ya, karena takdir," jawabku tersenyum menatap Daisha.


Setelah berbicara panjang lebar dan melihat-lihat rumah, Mama dan Kak Kamelia pamit untuk pulang sebab hari semakin sore.


"Kalo Kakak mah, aman! Akan selalu main ke sini, kok. Kamu tenang aja."


"Bukannya kebalik, ya? Seharusnya kamu yang main ke tempat Mama bukannya Mama ke tempat kamu!" protes Mama dengan nada ketusnya.


Aku menghela napas dan menggelengkan kepala, "Iya, Ma iya."


Mereka berpamitan untuk pulang, kulihat mobil hingga tak terlihat lagi di lingkungan rumah.


"Kita masuk, yuk!" ajakku pada Daisha yang mengangguk. Saat aku ingin menutup pintu, terlihat tak sengaja ada seseorang bersembunyi di balik tembok pagar.


Alisku tertaut menatapnya, "Siapa itu, ya?" gumamku menatap lekat ke arah tembok itu, "ah, aku salah liat kayaknya."


Kututup pintu dan memilih mengabaikan apa yang kulihat tak sengaja tadi, mungkin hanya perasaanku saja.


"Ibu, kenalin nama saya Asih ditugaskan untuk masak di sini."


"Nama saya Zeta tugasnya bersih-bersih."


"Dan saya ... Ade tugasnya buat jagain Daisha Bu."


"Kamu udah nikah?" tanyaku menunjuk ke arah Ade.


"Belum Bu."

__ADS_1


Aku terdiam sejenak mendengar penuturan darinya, "Masuk ke sini dipilih yayasan, 'kan?"


"Benar Buk."


"Udah berapa kali kerja sebagai baby sister?"


"Tiga kali."


"Terus, yang lainnya kenapa berhenti?"


"Ada yang karena anaknya meninggal sama sakit-sakitan, terus akhirnya dibawa ke luar negri dan di luar negri Mamanya aja yang jaga, gak butuh saya."


"Ha?" tanyaku yang kaget dengan ceritanya. Bahkan kulihat ke arah pembantu mereka menampilkan wajah takut.


"Hehe, bacanda Buk," candanya tertawa.


"Saya gak lagi bercanda!" tegasku membuat dia seketika terdiam.


"M-maaf Buk," katanya dengan terbata-bata.


"Yaudah, karena di sini hanya tinggal kamu yang belum menikah. Saya harap, kamu jangan ganjen apalagi kegatelan dengan suami saya atau dengan laki-laki di kompleks ini!"


"Baik Bu."


"Yaudah kalau gitu, semua bisa kembali ke tempatnya."


"Kita berdua, gak ditanya Buk?" tanya Zeta dengan mengangkat tangannya sudah seperti sedang sekolah saja.


"Gak perlu, yang penting nanti masakannya harus enak dan rumah harus rapi. Saya bisa liat sendiri mulai besok dan masakan mulai nanti malam, kok."


"Baik Buk."


Mereka berdua akhirnya pergi ke dapur di mana ada kamar mereka, "Kamu, ngapain masih di sini?" tanyaku menatap Ade.


"Maaf Bu, di kamar saya pake AC. Saya gak bisa pake AC Buk, gak kuat kedinginan ntar. Bisa pake kipas angin aja, gak?"


"Huft ... yaudah, nanti saya ganti, ya."


"Baik Bu, makasih!"


Kutatap punggung mereka yang sudah menjauh semuanya, kupijit keningku terasa pusing dengan tingkah pengasuh itu.


"Sayang, nanti Kak Ade itu yang akan jadi pengasuh Daisha, ya," kataku duduk di sampingnya sambil mengusap kepala Daisha.


"Dia Mi?"


"Iya, Kak Ade tadi."


"Mami emangnya mau ke mana? Kok, orang lain yang urus Daisha?"


"Gini, kamu, 'kan tau Mami punya butik, 'kan?" tanyaku dan mendapat anggukan, "jadi, Mami mau kembali ngurusin butik Mami. Kalau gak ada yang jaga Daisha, ntar Mami gak bisa kerja dong."


"Emangnya harus kerja, ya, Mi? Kan, Papi udah kerja."


"Gak akan lama kok, Sayang. Nanti, Mami akan kembali yang urus Daisha, kok."

__ADS_1


"Janji, ya, Mi?"


"Iya, Sayang," ucapku mengecup keningnya.


__ADS_2