
Kami sampai di toko peralatan gambar, kuikuti ke mana perginya Daisha sedangkan Raditya hanya berdiri di samping meja kasir.
"Mi, Mami suka warna apa?"
"Hitam."
"Kok hitam sih Mi?"
"Gak tau, Mami suka aja sama warna itu."
Daisha hanya ber 'oh' setelah mendapatkan jawaban yang tak jelas dariku, kami berada di rak pensil cet.
Setelah selesai memilih buku gambar dan pensil cet, aku membawa barang Daisha serta tangan satunya lagi menggenggam tangannya.
"Daisha!" teriak seseorang membuat langkah kami yang sudah dekat dengan kasih terhenti.
Daisha melepaskan tangannya dan berjalan ke arah anak perempuan yang sepertinya adalah teman sekelasnya Daisha.
Aku yang tak mengenal anak itu hanya menatap ke arah mereka saja, kulirik juga ke arah Raditya. Laki-laki itu juga hanya diam sambil melihat ke arah mereka.
"Kamu sama siapa?"
"Sama Mami aku, dong!"
"Emangnya kamu punya Mami?"
"Punya, kok." Daisha mendongak ke arahku diikuti oleh temannya tadi, "itu Mami aku."
Aku tersenyum dengan kikuk, kalau sudah seperti ini ceritanya. Aku yang akan malu karena hampir beberapa orang sudah mengenali aku sebagai Mami Daisha.
"Sayang," panggil suara wanita menghampiri kami.
"Mama, Daisha punya Mami sekarang, lho," adunya mendongak ke arah orang tuanya itu.
Wanita tersebut langsung melihat ke arahku dari atas ke bawah membuat aku sedikit risih, kutatap wajahnya dengan sinis.
"Beneran Mami kamu Daisha?"
"Iya, Tante."
__ADS_1
"Ck! Ternyata selera Pak Raditya gak tinggi-tinggi banget," gumam wanita itu membuang wajah yang masih dapat kudengar dengan jelas ucapannya.
"Maksudnya gimana, ya, Buk?" tanyaku dengan menaikkan satu alisku sambil bersedekap dada.
"Ehem! Udah selesai belanjanya, 'kan? Ayo, kita pulang sekarang!" potong Raditya yang tiba-tiba datang.
Kuanggukkan kepala melirik ke arah dirinya, "Ayo, Sayang. Gak usah berteman dengan orang yang sok merasa hebat di sini," sindirku meraih satu tangan Daisha sambil melirik ke arah wanita tersebut.
Ia terlihat sebal dengan apa yang kukatakan, aku tersenyum tipis melihat hal tersebut. Setidaknya, aku menang perdebatan ini.
Perjalanan menuju mobil, Raditya jalan lebih dulu dengan wajah yang di tekuk. Aku tahu bahwa dia pasti mendengar apa yang kami bicarakan tadi.
"Daisha, kamu gak boleh bilang ke orang-orang lagi kalo dia itu Mami kamu!" tegas Raditya saat berada di samping mobil miliknya yang terparkir.
"Emangnya kenapa Pi? Daisha gak salah, 'kan? Mereka aja yang terlalu kepo, jadi Daisha bilang aja kalo ini Mami Daisha," jawab Daisha sambil memegang tanganku.
Raditya jongkok untuk menyamaratakan tinggi mereka, ia memegang bahu anak tersebut sedangkan aku hanya melihat perdebatan yang terjadi di depanku antara anak dan ayah.
"Sayang, kamu hanya akan membuat Papi malu jika mengatakan bahwa dia adalah Mami kamu. Kamu liat, dia sama kita itu beda. Dia hanya bekerja sama kita!"
Kumajukan bibir mendengar penuturan yang dia katakan, ternyata di otaknya masih saja menilai bahwa aku adalah seorang pemulung.
Gaya ondel-ondel kok dibanggakan, gak banget! Aku bisa aja kayak gitu. Tapi, ogah banget itu namanya mempermalukan diriku sendiri," celetukku yang tak terima dikatain.
Raditya menghela napas dan mengusap wajahnya, "Lagian, Mami kayak gini aja udah cantik, kok. Dari tadi banyak cowok yang liatin Mami, tuh ...," tunjuk Daisha dengan menggunakan mulut yang ia monyongkan.
Aku melihat ke arah yang dia tunjuk, ada beberapa laki-laki yang tengah berkumpul ternyata menatap ke arahku.
Mereka senyum-senyum tak jelas, aku langsung membalas senyuman tersebut menebar kecantikan paripurna ini.
Mereka langsung bersorak mungkin salting akibat kubalas perlakuan mereka padaku, suara helaan napas kembali terdengar membuat aku menutup mulut yang sudah ingin tertawa akibat tingkah laku para remaja sepertinya.
"Yaudah, masuk!" titah Raditya setelah berdiri.
Kulambaikan tangan ke arah pemuda tadi, Daisha menekuk wajahnya dengan apa yang baru saja kulakukan.
"Mami! Jangan kayak gitu, gak boleh tau!" peringatnya dengan pintu samping supir sudah terbuka.
"Kenapa Sayang?" tanyaku menautkan alis.
__ADS_1
"Kata Lala, kalo Mamanya digoda sama cowok lain. Papanya kadang suka marah-marah karena cemburu. Nanti, Papi juga gitu," jelas Daisha membuat aku menahan tawa sambil menatap ke arah Raditya yang sudah duduk di bangkunya.
"Ck! Papi gak akan cemburu Daisha sama modelan manusia purba kayak dia," celetuk Raditya dengan bahasa yang cukup menohok hatiku yang bersih dan suci ini.
Aku berdecak kesal, ingin rasanya kusumpal mulutnya itu. Tapi, tak mungkin. Aku masih butuh dengan uangnya.
Terpaksa, rasa sabarku kugunakan kali ini. Mencoba tak menghiraukan dan masuk ke dalam mobil bersama Daisha kupangku.
Di perjalanan menuju rumah, lampu merah menjadi penghalang kami untuk dengan cepat tiba di rumah.
Kulihat ke arah kiri, banyak pengendara yang menunggu warna merah berubah menjadi hijau itu.
Daisha bermain dengan Raditya, 'Eh!' batinku kaget saat melihat salah satu pengendara yang sepertinya kukenal.
Kaca mobil yang mereka turunkan membuatku melihat siapa pengendara mobil tersebut, sepasang kekasih sedang bercanda tawa.
Entah dari dorongan mana, kubuka jendela mobil agar jelas melihat pengendara tersebut. Namun, belum juga selesai kubuka. Pengendara roda empat itu sudah pergi karena lampu yang sudah berubah menjadi hijau.
"Mami kenapa?" tanya Daisha yang ternyata melihat wajah kagetku akibat melihat orang yang ada di lampu merah tadi.
"Ha? Enggak Sayang," jawabku dengan gugup sambil kembali menaikkan kaca mobil.
Sesampainya di rumah, aku langsung membawa Daisha ke dalam. Mencuci kakinya dan meletakkan barang di dalam kamarnya itu.
Dia sudah menguap beberapa kali karena merasa letih berkeliling di dalam mall, "Mami, bacain Daisha cerita dong," pinta Daisha yang sudah berada di bawah selimut.
"Baik, bentar Mami ambil buku ceritanya, ya," kataku bangkit dari kasur berjalan ke rak buku yang hampir semua berisi dengan cerita dongeng.
Kubaca salah satu buku dongeng dengan berada di samping Daisha, hingga baru beberapa halaman anak tersebut sudah menutup matanya.
Kututup kembali buku tersebut dan menatap ke arah depan, "Apa tadi beneran Rian, ya?" tanyaku dengan pelan.
Meskipun tidak memiliki pacar, tapi aku memiliki gebetan. Cukup lama kami dekat hingga detik ini bahkan belum juga ada status yang jelas di antara kami.
Tapi tadi, aku melihatnya dengan wanita lain yang memang lebih cantik dariku. Tawa yang biasanya sebab diriku, kulihat dilakukan oleh orang lain bahkan sepertinya itu bukan gebetan atau bahkan hanya teman Rian doang.
'Kampret tuh si Rian, awas aja kalo ternyata tuh cewek beneran pacarnya. Gue hajar tuh orang ntar di kampus!' batinku memaki dirinya.
Merasa Daisha sudah pulas tertidur, aku keluar dari kamarnya dan menuju kamarku. Masuk ke dalam kamar dan mencari nomor Bestie-ku itu.
__ADS_1
Meskipun sebenarnya cerita padanya gak akan pernah dapat solusi kecuali masalah dan overthingking. Tapi, setidaknya aku bisa berbagi cerita meski dengan orang yang salah.