(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Bohong


__ADS_3

"Mami!"


"Yee ... Mami datang!"


Suara teriakan anak yang tak asing lagi di telingaku saat pintu mobil baru saja kubuka. Kutautkan alis melihat bahwa Daisha baik-baik saja.


"Sayang ... kamu gak kenapa-kenapa?" tanyaku dengan jongkok sambil mengusap surai hitam miliknya.


"Enggak Mi, emangnya Daisha kenapa?" Daisha menatapku dengan bingung.


Kutatap tajam ke arah Pak Raditya yang kebetulan baru saja keluar dari dalam mobil.


"Pak, katanya Daisha sakit. Ini, dia baik-baik aja, kok," ketusku sembari bangkit menatap dengan tak senang ke arah Pak Raditya.


"Ya ... kalau saya jujur, emangnya akan dikasih izin sama keluarga kau? Apalagi tadi Abang kau sudah sangat tak suka saat menatap saya."


"Lagian, 'kan emang salah Bapak!"


"Bukan salah saya, tapi ini emang sudah takdir. Masuk! Biar lukamu saya obatin," potongnya dan masuk lebih dulu mendorong koper milikku.


Aku menggerutu dengan mulut yang komat-kamit, memegang tangan Daisha dan masuk ke dalam rumah entah milik siapa.


"Mami, kita akan tinggal di sini, ya?" tanya Daisha mendongak.


"Buat sementara aja Sayang. Nanti, kita pulang lagi kok."


"Oh ... sampe Mami lulus kuliah, ya?"


"Iya, Sayang."


"Sini dulu!" titah Pak Raditya membuat aku terhenti sebentar dan berjalan ke arah sofa.


"Kamar saya di mana Pak?"


"Kau sekamar aja sama Daisha, kamar di vila ini sedikit karena memang saya tak suka terlalu banyak kamarnya."


Kuanggukkan kepala tanda paham dan melihat sekeliling rumah yang hanya satu lantai.


"Eh, Bapak mau ngapain?!" Kuelakkan wajahku saat tanganya ingin mendarat.


"Menurutmu, saya mau ngapain ha?" Pak Raditya menunjukkan kapas yang sudah berisi dengan obat merah di tangannya itu.


"Saya bisa sendiri!" Kuambil alih kapas yang ada di tangannya begitu saja.


Beberapa kali aku meringis sebab merasa sakit, perlu bantuan handphone juga agar bisa melihat kamera untuk tahu di mana saja lukanya.

__ADS_1


"Mami, biarin Papi aja yang bantuin biar obatnya rata kena ke yang sakitnya," saran Daisha yang berada di tengah-tengah kami.


"Dengar? Anak kecil aja tau, gak usah geer saya akan suka sama kau segala deh Azal. Anggap aja ini permintaan maaf saya atas apa yang saya lakukan ke kau meskipun ini tidak sebanding."


"Dih, siapa juga yang mau geer sama Bapak? Udah tau, kagak ganteng juga!" cibirku yang tak terima dikatain geer padanya.


"Apa? Wah ... kau orang pertama yang mengatakan bahwa saya tidak ganteng."


"Karena, cuma saya yang matanya sehat gak minus kayak mereka semua," gumamku melihat ke arah lain.


Tangannya mulai mengoleskan obat ke wajahku, entah memang dia sengaja menekan atau memang sakitnya luar biasa.


"Pak, pelan-pelan dong! Sakit tau!" omelku memegang pergelangan tangannya menahan sakit.


Seketika, tatapan kami bertemu karena ulahku yang lancang memegang pergelangan tangannya meskipun hanya refleks.


Tak sampai beberapa menit, aku langsung memutuskan kontak mata secara sepihak juga melepaskan tanganku di pergelangan tangannya.


Suara dering handphone-nya menyelamatkan diriku dari suasana canggung tadi, "Sebentar, saya angkat telepon dulu," kata Pak Raditya bangkit dari tempat duduk.


Kuanggukkan kepala dengan canggung dan mengambil kapas serta kembali mengobati wajah sendiri.


"Sini, Daisha bantu Mami," ucap Daisha yang ingin membantu diriku dalam mengobati wajah ini.


"Wah ... makasih, Sayang."


Ia melirik ke arah belakang dan membuat aku terciduk tengah memperhatikannya, kubuang pandangan ke arah lain dengan cepat.


"Yaudah, sampai bertemu besok malam," ucap Pak Raditya sebelum mengakhiri panggilan dengan orang yang ada di sebrang.


Berjalan kembali mendekat ke arah kami, "Gimana? Udah baikan?"


"Lumayan, Pak."


"Oke, di sini ada satu pembantu. Jadi, kau tak perlu repot untuk bersih-bersih karena tugasmu hanya mengasuh Daisha.


Urusan kuliah, kau akan kuantar jemput nantinya. Mungkin, jika Daisha tidak terlalu lelah dia juga akan ikut menjemputmu nanti."


"Ha? Gak usah Pak, saya naik taksi aja. Lagian, ini 'kan di kotanya jadi pasti banyak taksi atau gojek yang bisa langsung ngater ke kampus.


Kalau tempat nenek saya, karena masih perkampungan jadi susah buat transportasi seperti itu masuk," kataku menolak tawaran darinya.


"Saya melakukan ini karena sudah berjanji pada keluargamu tadi, jadi tak perlu merasa tak enak apalagi baper dengan sikap saya."


Aku langsung menaikkan sebelah bibirku, lama-lama sangat muak mendengar ucapan dirinya yang sangat percaya diri ini.

__ADS_1


'Dih, sok ganteng amat dah jadi manusia. Pantasan aja susah laku lagi, padahal dah lama menduda juga,' batinku menatap ke arah yang lain.


"Kalau mau mencaci seseorang di depannya langsung dan bersuara, jangan di dalam hati doang. Gak kedengeran soalnya," celetuk Pak Raditya yang membuatku kaget.


"Papi, nanti malam kita jalan-jalan, yuk! Daisha pengen jalan-jalan di sini deh," ajak Daisha membuat aku menatap bocah tersebut yang tengah memelas pada Papinya.


"Mmm ... ayo!"


"Yee ... Mami ikut juga, ya," ajak Daisha yang menatap ke arahku juga.


"Eh, Mami gak usah ikut deh. Daisha pergi sama Papi aja," tolakku dengan cengengesan.


"Hiks ... Daisha maunya sama Mami, ayo, dong Mi! Kita pergi sama-sama, biar kayak orang-orang. Ada anak, ibu dan ayahnya."


"T-tapi--" Aku melihat ke arah Pak Raditya, laki-laki itu mengangguk seolah memberi isyarat untuk aku menerima ajakan putrinya.


Kuhela napas panjang dengan bahu yang merosot, "Yaudah, Mami ikut deh," kataku dengan nada pasrah.


"Yee ... sayang sama Mami!" Daisha memelukku dan seketika tak ada air mata buaya yang sempat ia keluarkan.


"Oh ... sama Papi gak sayang, nih?" tanya Pak Raditya seolah merajuk.


"Sayang sama Papi juga!" Daisha beralih memeluk Papinya yang sempat cemberut karena cemburu olehku.


Aku tertawa melihat tingkah laki-laki itu, padahal sebelumnya ia terlihat seperti laki-laki yang enggan untuk bercanda.


Ternyata, dia begitu humoris bahkan suara tawanya sekarang menjadi candu di telingaku. Eh ... apa yang baru saja kupikirkan.


Ayolah, Ana! Jangan mau kejebak sama duda meresahkan ini, masih banyak laki-laki yang lajang di luaran sana.


"Mami!"


"Mami!"


"Mami!!"


"Eh, iya, ada apa Sayang?" tanyaku saat tersadar dari lamunan yang memikirkan Pak Raditya. Sangat tidak penting sekali.


"Mami lagi mikirin Papi, ya?" goda Daisha sambil menunjuk ke arahku.


"Enggak, Mami tadi cuma lagi mikirin soal kuliah aja," jawabku dengan menetralkan wajah agar bisa biasa saja saat digoda Daisha.


"Oh ... Daisha pikir, Mami lamunin Papi. Padahal, Papi ada di sini buat apa dilamunin?"


"Astaga ... ini anak kecil udah bisa ngomong kayak gitu, ya? Siapa yang ngajarin, sih?"

__ADS_1


Kugelitik perutnya yang membuat Daisha memberonta sambil meminta ampun, tawa memenuhi ruangan ini membuat rasa sakit di wajahku seketika hilang.


__ADS_2