(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Ngambek Mode On


__ADS_3

Alarm handphone-ku berbunyi, kukucek mata dan melihat sekitar di mana Mas Raditya masih terpejam.


Tangan terulur mengambil handphone yang ada di nakas untuk mematikannya, perasaan aneh tiba-tiba saja hadir.


Mataku melotot kala melihat apa yang kurasa aneh tadi terjawabkan, "Bisa-bisanya aku lupa, emangnya ngelakuinnya dalam keadaan gak sadar gitu?" gerutuku memukul kepala pelan.


Kulihat di bawah ranjang ada baju milikku, kuambil dan sedikit bergeser dengan palan berniat untuk pergi ke kamar mandi.


"Mau ngapain Sayang?" tanya seseorang dengan suara serak.


Tubuhku mematung seketika, kubalikkan badan dan menutup matanya menggunakan tanganku, "Mas, jangan liatin ih! Aku mau mandi, udah adzan tuh. Gak denger kamu?" ketusku.


"Haha, ngapain di tutup segala? Aku udah melihat semuanya juga," jawab Mas Raditya menurunkan tanganku.


"Aish! Mesum banget, sih! Udah, ih! Aku mau mandi," potongku dan segera turun dari tempat tidur.


"Oke! Aku juga mau ikut mandi," celetuknya tak tinggal diam.


"Lho-lho, kenapa malah mau ikutan juga?" tanyaku menatapnya.


"Aku juga mau salat Sayang, kita mandi berdua aja, ya. Biar cepat selesainya," putusnya berjalan mendekat ke arahku.


"Gak, enggak! Makin lama yang ada nanti!" tolakku dengan menggelengkan kepala cepat.


"Lah, katanya tadi mau mandi, 'kan? Di sini cuma ada satu toilet Sayang, biar menghemat waktu, lho," bujuknya dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Enggak, ih! Mas, enggak!" pekikku saat dia menggendong aku membawa ke kamar mandi ala bridal styel.


Dengan terpaksa kukalungkan tangan ke lehernya, daripada jatuh nantinya lebih baik terima saja deh.


"Sayang, sini, deh!" titah Mas Raditya saat kami sudah selesai melakukan salat Subuh berjemaah.


"Apa, Mas?" tanyaku mendekat.


Ia menepuk pahanya yang tertutup sarung, "Berbaring dan jadikan bantal kepala aku," suruhnya.


Seketika aku langsung berbaring dengan senyuman, tubuh yang masih berbalut mukena pun menatap ke arah wajahnya itu.


Tangannya terulur mengusap tanganku, diraih mushaf yang ada tak jauh dari sajadah. Mas Raditya membacakan ayat suci dengan mengusap kepalaku.


Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Seketika aku langsung teringat dengan surah Ar-rahman.


Tanpa sadar, air mata mengalir dari sudut mataku. Posisi sekarang yang aku merasakannya sering kali kulihat di film bahkan video.


Siapa sangka, sekarang aku malah merasakan posisi ini. Posisi yang banyak membuat kaum jomlowati iri.


"Shadaqallahul adzim," ucap Mas Raditya yang kuikuti. Dirinya menutup Al-quran lalu mengecup keningku.


"Mau aku salawatin, Sayang?" tanyanya dengan senyum manisnya ini.


Hari yang sudah cerah seketika semakin cerah dengan senyuman yang dia tampilkan pagi ini padaku.


Kuanggukkan kepala, "Mau Mas," jawabku membalas senyumnya.


"Allahumma Sholli Wa Salim 'Alaa


Sayyidina Muhammadin

__ADS_1


Adaddama Fil 'Ilmillahi Sholata


Daimata Bidawamin Mulkillahi


Lil Abi Wal Ummi Huququn Wajibun


Antal Minal Anna Biha Mutholabun


Innadaya Kafashri'u Murobbiya


Waaghfiru Inkhotafaka Mushliyan


Allahumma Sholli Wa Salim 'Alaa


Sayyidina Muhammadin


Adaddama Fil 'Ilmillahi Sholata


Daimata Bidawamin Mulkillahi


Allahumma Sholli Wa Salim 'Alaa


Sayyidina Muhammadin


Adaddama Fil 'Ilmillahi Sholata


Daimata Bidawamin Mulkillahi


'Alaika Antal Taftahilla Allahumma


Maghma Yakun Malan Yakunu


Ma Adasa Bidwaliu Fissaqor


Allahumma Sholli Wa Salim 'Alaa


Sayyidina Muhammadin


Adaddama Fil 'Ilmillahi Sholata


Daimata Bidawamin Mulkillahi


Allahumma Sholli Wa Salim 'Alaa


Sayyidina Muhammadin


Adaddama Fil 'Ilmillahi Sholata


Daimata Bidawamin Mulkillahi"


Lirik lagu; Lil Abi Wal Ummi- Salawat.


Tanganku terulur mengambil tangan Mas Raditya dan menggengam tangan kekar miliknya itu, urat-urat yang timbul membuatku semakin mencintainya.


"Lah, kamu kenapa malah nangis Sayang?" tanya Mas Raditya mengusap ujung mataku menggunakan tangannya yang sebelah lagi.


Aku ikut menghapus air mata dengan cepat dan menarik cairan yang malah ingin keluar juga dari telingaku.

__ADS_1


"Enggak, Mas. Gak papa, kok. Bagus lagunya," pujiku tersenyum.


"Kalau ada yang sakit bilang, ya, jangan diam aja. Mas gak tau kamu kenapa."


"Iya, Mas. Ana cuma bahagia banget karena bisa dipersatukan dengan Mas, hahaha. 3 tahun yang tak sia-sia."


"Kalau sia-sia gimana?"


"Ya ... paling cari yang lain, apa salahnya? Masa, tetap nungguin Mas sampai duda balik. Hadeuh, kek gak ada aja cowok yang demen sama aing," tuturku dengan mengibaskan tangan di depan wajah.


"Emangnya ada yang mau?" tanya Mas Raditya yang terkesan meremehkan.


Aku langsung bangkit dari pahanya itu dan menatap tajam ke arahnya, "Jadi, Mas meragukan Ana gitu kalau bisa dapat laki-laki yang lain, ha?" tanyaku dengan ketus sambil bersedekap dada.


"Enggak-enggak, bukan kayak gitu," gelagap Mas Raditya.


Kumajukan mulutku menatap emosi laki-laki yang ada di depanku sekarang, "Kita sarapan aja, yuk! Sekalian jalan-jalan, gimana?" tawar Mas Raditya.


"Ngebujuk? Atau ...."


"Enggak Sayang, kita, 'kan ke sini emang mau jalan-jalan. Masa, malah bertengkar kaya gini, sih? Mending kita sekarang sarapan aja, yuk!"


"Lagian, salah siapa? Mas yang nyepelein Ana, tau!"


"Iya-iya, maafkan Mas, ya, Sayang," bujuk Mas Raditya mengusap kepalaku.


'Jangan Ana, jangan leleh cuma karena diusap kepala kamu. Kamu harus ngambek sama dia minimal dua harilah, biar dia gak sepele sama kamu,' batinku menguatkan diri.


Aku bangkit dan langsung membuka mukena, menyusun peralatan salat dan mengganti pakaian di dalam kamar mandi.


Meninggalkan Mas Raditya yang masih ada di ruangan sendirian, "Hadeuh, berabe nih. Bisa-bisa gak ada lagi jatah," gumam Raditya menatap Ana yang masuk ke dalam kamar mandi.


Sekitar lima belas di dalam kamar mandi, aku keluar dari kamar mandi melihat Mas Raditya sudah tidak ada di samping ranjang.


Ranjang bahkan sudah rapi letaknya dan sajadah miliknya tadi juga sudah rapi berada di dekat mukena milikku.


"Sayang, yuk, makan bentar kita! Ini ada buah-buahan," ujar Mas Raditya menunjukkan buah-buahan yang dikupas serta sudah dipotong-potonya.


"Duduk sini dulu, sekalian ini minum susunya," sambungnya.


Aku duduk berhadapan dengan dia, makanan yang kemarin kubeli diletakkannya di atas meja.


"Yang mana mau dibawa? Kita mau ke mana hari ini?" tanya Mas Raditya menopang dagu menatap ke arahku.


'Kalau kayak gini, mah. Udah deh, meleleh deh aku mah,' batinku kembali khawatir akan berhenti ngambek akibat ulahnya.


"Emm ... ke gunung batur atau pantai kristal. Kamu lebih suka yang mana?" tanyaku memasukkan apel ke dalam mulut.


"Aku suka ke mana aja Sayang, mau pantai atau gunung bahkan laut kalau sama kamu aku pasti suka, kok," jawab Mas Raditya sembari memasukkan apel ke mulutnya juga.


"Heleh," protesku dengan memutar bola mata malas mendengar gombalannya pagi-pagi seperti ini.


"Haha, kenapa? Aku serius, Sayang. Atau, kita mau ke dua tempat itu?"


"Enggak, dong. Jaraknya beda dan jauh, satu aja," tolakku dengan cepat.


Mas Raditya terdiam menatap ke arahku, aku menautkan alis melihat dirinya yang malah menatap ke arahku.

__ADS_1


Tubuhnya mendekat ke arahku yang membuat aku malah refleks menjauh darinya, tangannya terulur mengusap bibirku.


"Kamu kayak anak-anak aja, minum susu sampai belepotan gini," ujarnya dan duduk kembali.


__ADS_2