(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Cantikan Aslinya


__ADS_3

Kembali, aku dikejutkan dengan hal-hal romatis yang diberikan oleh Mas Raditya. Bahkan, bulir bening sudah siap untuk menetes jika aku berkedip.


"Gimana? Kau suka?" tanya Mas Raditya berpindah tempat jadi di sampingku.


Meja yang dibuat jadi berbeda dari yang lainnya, dengan lilin serta bunga mawar dan tamplak meja serta ... ada kotak juga di atas serta makanan.


"Lah, kau kenapa nangis Sayang? Kau tidak suka dengan tempat dan dekorasi mejanya? Biar kita pindah aja ke tempat yang lain," ucap Mas Raditya melihat aku meneteskan air mata.


Dengan cepat aku menatap ke arahnya dan menggeleng, memegang tangannya itu, "Bukan Mas, aku suka kok. Cuma terharu aja dapat kejutan seperti ini dari kamu," ungkapku.


Mas Raditya membawa aku ke dalam pelukannya, ia juga mengecup beberapa kali kepalaku.


"Aku tak bisa berjanji soal membahagiakanmu, tapi aku akan berusaha untuk melakukannya itu," jelas Mas Raditya memegang kedua bahuku.


Kuberi anggukkan dan menghapus air mata, "Yaudah, yuk, kita duduk!" aja Mas Raditya dan mempersilahkan aku untuk duduk terlebih dahulu.


"Terima kasih," ucapku.


"Sama-sama."


Tangan Mas Raditya terulur mengambil kotak kecil yang ada di atas meja tadi, aku hanya menatap ke depan untuk melihat apa isinya.


Sebuah kalung dengan mainan inisial di dalamnya, "Ini, ada inisial nama kamu juga nama aku. Agar kamu selalu ingat bahwa ada aku di hidupmu dan ada kamu di hidupku."


"Aku pakein, ya!" sambung Mas Raditya dan kuangguki. Ia memakaikan kalungnya ke leherku dan membantu memasukkannya ke dalam kerudung.


Kalung telah terpasang di leherku, kulihat terlebih dahulu kalung yang diberikan Mas Raditya dan menatapia yang sudah duduk kembali ke bangkunya.


"Kamu suka?'' Kuanggukkan dengan cepat kepalaku menjawab pertanyaan darinya.


''Aku suka banget, mas. Makasih, yah.''


''Itu, sebagai kado dari aku untuk pernikahan ita waktu itu, aku, 'kan belu kasih kau kado,'' ungkap Mas Raditya membuatku tersenyum getir.


''Lah, kenapa?'' tanya mas raditya melihat wajahku yang berubah ekspresi.


''Aku, gak ada kado buat kamu, Mas,'' paparku merasa tak enak hati.


Tangannya mengenggam tanganku yang ada di atas meja, kutatap dirinya dengan wajahku yang sedih.

__ADS_1


''Kamu, mau menjadi istri serta ibu sambung buat dasiah aja udah jauh sangat istimewa kadonya. gak, ada yang bisa menandingi kado yang kamu berikan pada saya,'' ungkap Mas Raditya.


Sekali lagi, aku dibuat jatuh cinta dengan perlakuannya padaku. Ternyatamemang benar, ya. Bahwa ... cinta bisa hadir seiring dengan selalu bersamanya kita pada pasangan.


''Yaudah, yuk, kita makan!'' sambung Mas Raditya mengajak aku untuk makan malam.


Kuanggukan kepala dan kami akhirnya makan bersama. Ada, tiga jenis makanan yang datang ke meja kami. Kata Mas Raditya ini semua rekomendasi dari pihak restoran jadi sudah pasti akan enak.


Ya ... meskipun menurutku tak terlalubegitu, karena setiap lidah seseorang pasti berbeda, bukan?


Angin malam masuk ke dalam pori-poriku dan menerpa kerudung serta gamis yang aku pakai. Mataku, menatap ke depan di mana ombak pantai yang ikut tergulung akibat anginnya.


"Mas, ayo kita pulang!" ajakku yang melihat wajah Mas Raditya sudah pucat.


"Y-yuk!"


Bangkit dan membantu Mas Raditya untuk bangkit, beruntung dirinya memakai jas jadi tak terlalu tipis bajunya.


"Lain kali, kalau kamu gak kuat sama angin malam. Gak usah ajak aku ke tempat yang beginianlah, lihat kamu, 'kan jadinya kayak begini," omelku berjalan keluar restoran.


"Ya, di sini bagus Sayang. Mangkanya aku ajak kamu ke sini."


"Gak papa, kamu tenang aja. Gak perlu panik gitu," ucap Mas Raditya tersenyum menatap ke arah wajahku yang pastinya terlihat sangat khawatir.


Kuhela napas kasar dan menariknya dalam-dalam, aku tahu bahwa Mas Raditya tak bisa terkena angin malam seperti itu.


Dia memang selalu bermasalah dengan imun tubuhnya, bahkan dulu ketika masih menjadi pengasuhnya.


Aku pernah mendengar dirinya muntah-muntah serta sakit karena rekannya ada juga yang sakit. Mungkin, setelah ini aku akan menjaga kekebalan tubuh dirinya juga Daisha.


"Gimana, bagus, gak?" tunjuk Mas Raditya padaku. Di dalam mobil ia membuka handphone yang masuk pesan dari restoran tersebut.


Mas Raditya memesan fotografer untuk memfoto kami di restoran tadi, aku tersenyum dan mendekat ke arah Mas Raditya ingin melihat hasilnya.


"Bagus banget, Mas. Aku juga cantik banget di situ," ucapku melihat foto-foto yang di geser Mas Raditya.


Tangannya berhenti membuat aku menatap ke arahnya dengan wajah datar, "Kenapa?" tanyaku bingung.


"Kamu itu emang cantik, Sayang. Mau di mana pun itu!" kata Mas Raditya membuatku tersenyum.

__ADS_1


"Bahkan, kayaknya cantikan aslinya, ya, Pak?" celetuk sopir taksi membuat kami menatap ke arahnya.


Aku tersenyum mendengar ucapannya sedangkan Mas Raditya malah mendatarkan wajahnya akibat mendengar aku dipuji oleh laki-kaki lain.


"Hahaha, makasih Pak."


"Sama-sama Mbak."


Jadilah sampai hotel Mas Raditya hanya diam saja sambil bersedekap dada, aku yang tahu kenapa dia berubah mood hanya menggelengkan kepala saja.


"Ish! Aku mau marah liat tukang sopirnya tadi, coba kalo dia bukan orang tua. Udah aku ajak dia duel di ring sebab memuji istriku!" cetus Mas Raditya duduk di pinggir ranjang dengan mulut yang manyun ke depan.


"Hahah, udah kali Mas. Si Bapak, 'kan cuma bilang kenyataannya," bujukku sambil meletakkan hels ke tempatnya serta tas juga.


"Ya, gak ada yang butuh pujiannya itu. Hmm ... aku kesal banget!" gerutunya yang sudah seperti anak kecil.


Kugelengkan kepala dan melangkah meninggalkannya, duduk untuk menghapus make up serta memakai skincare tak lupa mengganti pakaian terlebih dahulu.


Ketika akan mulai memakai skincare, Mas Raditya mendekat sambil memeluk leherku dan mengendus seperti kucing saja.


"Ish, sana Mas! Ganti baju dulu sama cuci kaki," titahku masih fokus pada wajah.


"Bentar, 5 menit lagi. Aku lagi marah Sayang akibat Bapak tadi, jadi aku tengah meredam emosi aku.


Nanti, kalau kamu liat aku marah. Tolong peluk aku juga bujuk aku baik-baik, ya. Aku kesulitan mengontrol emosi dan hal ini sedikit membantu," bisik Mas Raditya dengan mata yang terpejam membuat tanganku terhenti memberikan skincare di wajah.


Kubalikkan badan dan menatap dirinya, ia berdiri dengan tegap di hadapanku. Kuusap wajahnya serta rambutnya itu.


"Mas, aku akan mencoba menjadi istri yang kamu idam dan inginkan. Namun, jika suatu saat aku melakukan kesalahan.


Tolong tegur aku dengan nada rendah serta tak dengan kekerasan, ya? Apalagi berpikiran untuk mencari wanita lain di luaran sana."


Mas Raditya mengangguk dan memeluk diriku, "Tak akan ada yang menggantikan posisimu di dalam hatiku Sayang. Bahkan, posisi dirinya jauh di bawah dirimu," jelas Mas Raditya yang membuat hatiku bahagia.


Setidaknya, aku tahu bahwa aku tak perlu merasa kalah saing dengannya walaupun terkesan lucu, bukan? Aku cemburu pada seseorang yang wujudnya sudah tak lagi dapat dilihat.


Kulepas pelukan dan menatap dirinya, "Udah, ah. Sana ganti baju, ntar malah Mas langsung tidur aja!" usirku padanya.


"Yaudah, aku bersih-bersih dulu, ya."

__ADS_1


Kuanggukkan kepala dan tersenyum ke arahnya, tangannya terulur mengusap rambutku lalu pergi ke kamar mandi.


__ADS_2