
"Daisha, Sayang! Sayang!" panggilku begitu sampai di rumah setelah seharian bergelud dengan pekerjaan di butik.
"Mami!" pekik Daisha keluar dari dapur sedangkan aku berjalan ke arah kamar miliknya.
"Lah, ngapain di dapur?" tanyaku berjongkok mengusap bahunya.
"Buatin ini untuk Mami!" tunjukkan padaku dengan menggunakan kotak bekal di mana ada goreng pisang.
"Hahaha, siapa yang masak?" tanyaku melihat ke arah pisang lalu menatap dia.
"Diasha dong!"
"Widih, Mami coba, ya," kataku mengambil salah satu pisang gorengnya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum menatapku.
"Wih ... ada apaan, tuh? Kok, Papi gak dikasih?" tanya Mas Raditya masuk ke dalam rumah.
"Pisang goreng buatan Daisha, Papi mau coba?"
"Mau dong, enak gak?"
"Gak tau, Mami lagi cobain," celetuk Daisha langsung menatap ke arahku yang sebelumnya mendatarkan wajah sebab merasa pisang gorengnya aneh.
"Hehe, e-enak kok. Iya, enak. Cuma ... boleh Mami kasih saran biar pisangnya nanti lebih enak?"
"Boleh Mi."
"Tepungnya jangan dibuat tepung beras Sayang, keras banget jadinya rasanya. Beli aja tepung instan, ya."
"Oh, oke Mi."
"Yaudah, letakkan di meja makan sisanya. Mami sama Papi mau bersih-bersih dulu, oke? Kita juga mau nanya gimana di sekolahnya tadi, tapi Mami mau mandi dulu biar gak bau."
"Hehe, oke Mi!"
Kukecup Diasha baru bangkit dan berjalan ke kamar lebih dulu meninggalkan Mas Raditya, mengambil baju ganti serta handuk langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Gimana cara aku ngasih tau Mas Raditya soal hasil periksa dokter tadi, ya?" gumamku bingung.
"Mmm ... pas mau makan malam atau pas lagi kumpul di ruang keluarga? Atau ... selesai salat?" sambungku kembali.
"Arkkk ... udah, ah! Di mana aja cocok kok aku kasih tau hasilnya, yang penting gak di saat mereka lagi sedih aja."
Sekitar lima belas menit aku di dalam kamar mandi, keluar sudah ada Mas Raditya di atas ranjang yang sedang fokus menatap handphone genggamnya.
"Mas," panggilku memegang bahunya membuat ia mendongak.
"Hmm ... iya, Sayang?" tanyanya menaikkan sebelas alis.
"Mandi sana, oh, iya, gimana soal perusahaan?"
"Udah aman, alhamdulillah. Semua terkendali dengan baik, kok."
__ADS_1
"Huft, aku yakin sih kamu pasti bisa menyelesaikan ini semua."
"Ya, berkat doa kamu juga dong tentunya."
Ting!
Suara notifikasi dari handphone Mas Raditya membuat ia menatap ke arah handphone, yang tadinya tersenyum seketika menjadi datar.
"Kenapa Mas? Pesan apaan?" tanyaku menatap ke arah Mas Raditya sebab ingin melihat handphone-nya tak terlihat olehku.
"Ha? Gak papa, Sayang. Cuma pekerjaan doang," gelagapnya menampilkan senyum terpaksa, "Mas mandi dulu, ya."
"Mmm ... ya!" Kuanggukkan kepala meski merasa seperti ada yang ditutupi, Mas Raditya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Kuhela napas dan berusaha agar berpikir positif, tak perlu curiga apalagi berpikir yang enggak-enggak.
Bagaimana pun, Mas Raditya pasti akan bisa menyelesaikan masalah di perusahaannya. Aku yakin dengan laki-laki hebat itu.
Kututup pintu kamar dengan pelan dan mengayunkan langkah ke dapur untuk membantu Bibik mempersiapkan makam malam kami.
"Bik, tadi siang masak apa buat Daisha?" tanyaku saat Bibik sudah menyelesaikan masakannya hanya tinggal meletakkan di tempat saja.
"Masak sup ayam Buk, sama buah-buahan dan juga cemilan gitu."
"Tadi, Bibik bantuin dia masak pisang?"
"Iya, Buk. Tapi, gak dikasih bantuin dia mau sendirian yang masaknya."
"Baik Buk."
Kulihat sekitar ruangan ini mencari seseorang, "Bik, ke mana Ade? Kok dari tadi saya gak liat dia?"
"Tadi katanya mau pergi sebentar, Buk. Saya juga gak tau mau ke mana."
"Baru aja keluarnya?"
"Iya, Buk. Jam 5 sore tadi, sepulang Diasha dia langsung pergi."
Kuanggukkan kepala dan menautkan alis merasa aneh dengannya, pasalnya dia baru saja bekerja di sini tapi berani sekali pergi-pergi tanpa izin diriku.
"Yaudah, saya bantuin, ya, Bik!" kataku membantu Bibik meletakkan makanan di meja makan.
Suara pintu terbuka, kulihat siapa yang masuk ke dalam. Terlihat Ade baru saja pulang dengan tangannya penuh belanjaan.
"Ehem!" Aku berdehem membuat Ade melirik ke arahku dan seketika mengubah ekspresinya yang sebelumnya tampak senang sekarang seolah mendatarkan.
"Ibuk, udah lama pulang?" tanyanya dengan berbasa-basi.
"Habis dari mana kamu?" tanyaku tak menjawab basa-basinya.
"Ini, Buk. Dari beli barang-barang, soalnya ada barang saya yang gak ada Buk."
__ADS_1
"Kenapa gak izin sama saya? Lagian, saya belum pulang kenapa kamu malah meninggalkan Daisha?
Kalau terjadi sesuatu sama dia, gimana?" tegasku menatap wanita yang ada di depanku sekarang.
"M-maaf, Buk. Tapi, tadi saya udah titipkan Daisha sama Bibik, kok," jawabnya yang terlihat sama sekali tak terima disalahkan.
"Emangnya tugas Bibik itu jaga Daisha? Kalo tugasnya jaga Daisha juga, buat apa kamu saya kerjakan di rumah kami?"
Ade menaikkan kepalanya dan menatap ke arahku dengan sorot mata yang seolah tak senang di tegur. Aku hanya memilih diam dan tak berkomentar dengan pandangannya terhadapku itu.
"Saya gak masalah kamu mau ke mana aja bahkan keluar buat pacaran pun gak masalah. Tapi, setelah urusan kamu jaga Daisha selesai!
Pas Daisha privat emangnya kamu ke mana? Gak bisa pas itu kamu belanja, ha? Kamu baru di sini, lho, Ade," sambungku masih tak habis pikir ada pekerja yang seperti dia.
Ceklek!
Suara kamarku dan Daisha terbuka, mungkin sebab rumah ini terlalu hening. Ada suara yang sedikit tinggi orang-orang langsung mendengarnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Mas Raditya mendekat ke arah kami.
Ade melirik ke arah Mas Raditya sekilas lalu menunduk seolah menutupi wajah malunya, kutautkan alis menatap perlakuannya yang tak biasa ini.
'Awas lu, ya! Lu berhasil buat gue malu di depan Pak Raditya, lu kira gue butuh banget pekerjaan ini?
Gaji dari nenek peyot itu jauh lebih tinggi dari gaji di tempat lu, kalo gak karena duit di tempat dia lebih gede.
Udah dari lama gue pergi dari sini!' batin Ade memaki Ana.
"Ini, Mas. Ade ninggalin Daisha sendirian ternyata habis pulang dari les tadi, dia nitipin Daisha sama Bibik sedangkan dia pergi belanja," kataku mengadukan perilaku Ade.
"Benar Ade?"
"I-iya, Pak. Tapi, saya pergi juga sebentar Pak. Saya kira, saya gak akan bisa pergi-pergi jika Daisha lagi sekolah gitu.
Jadinya, saya pergi pas dia udah pulang dari les deh. Kebetulan Bibik juga lagi gak sibuk, mangkanya saya titipin ke Bibik," jelas Ade dengan nada bicara yang sangat berbeda serta sorot mata yang berbeda saat berbicara pada Mas Raditya.
"Hmm ... lain kali jangan seperti itu Ade, kamu boleh pergi hanya ketika Daisha sekolah aja, ya."
"Iya, baik Pak."
"Yaudah kalau gitu, kamu balik ke kamar kamu aja."
"Baik, Pak. Kalau gitu saya permisi, mari Bu, Pak," pamitnya dan berlalu ke dalam kamarnya.
Aku menatap punggung yang menjauh dan masuk ke dalam kamar itu, kupijit pelipis merasa sedikit berdenyut melihat tingkahnya.
Mas Raditya merangkul bahuku dan tersenyum, "Udah, kamu jangan terlalu marahin dia gitu. Mungkin dia emang gak tau, ya," kata Mas Raditya menenangkan.
"Aku cuma gak mau Daisha kenapa-kenapa karena dia lalai, Mas," ungkapku menatap ke arah Daisha yang melihat ke arah kami berdua.
"Iya, aku paham kok."
__ADS_1